Lepaskan Aku

Lepaskan Aku
RENATA 2


__ADS_3

Erik memperhatikan wajah sang Ayah dan juga wajah wanita yang selama ini sudah merawatnya sejak kecil ada yang aneh begitu pikirnya.


..." Papa sama Bibi kenapa " Tanya Erik penasaran....


Keduanya tersenyum dan kompak mengatakan tidak ada apa apa, Marni mendekat dan berdiri di samping tempat Erik berbaring.


..." Sepertinya kondisi kamu sudah semakin membaik, sebaiknya Bibi pulang dulu cepat sembuh ya "...


Setelah mengatakan itu Marni langsung bergegas keluar dari ruangan itu bahkan langkah nya sedikit di percepat.


Ketiga orang yang berada di dalam ruangan itu memperhatikan sikap Marni yang nampak tak biasa.


" Ada apa Pa, apa ada masalah serius antara Papa dan Bi Marni " Tanya Erik dan lagi lagi Pak Hendrik hanya menggeleng kepala.


Atas bujukan Erik akhirnya Ia bisa pulang juga ke rumah. Erik selalu kepikiran dengan Bi Marni.


" Assalamu'alaikum " Erik mengucap salam ketika tiba di rumahnya bersama Alya.


Tidak terdengar jawaban dari salamnya seperti biasa, hal itu membuat Erik semakin khawatir. Ia mencari ke penjuru arah mencari dimana keberadaan Bi Marni.


" Ah mungkin di kamarnya " Batin Erik


Ia melangkah menuju ruangan yang menjadi tempat istrahat untuk Marni selama ini.


" Tidak terkunci " Gumam Erik ketika memegang gagang pintu kamar Marni.


Erik bergegas masuk memanggil nama Marni di susul oleh Alya yang sejak tadi mengekor di belakang Erik.


Erik tersenyum melihat di atas ranjang ada wanita yang Ia cari.

__ADS_1


" Oh rupanya Bibi disini sedang is.... " Erik menjeda ucapannya ketika melihat wajah Marni yang pucat.


" Bibi "


Erik menempelkan tangannya pada kening Marni dan terkejut karena tubuh wanita itu sangatlah panas.


" Astagfirullah Bi, Bi Marni demam. Al.... bantu Mas, kita harus segera bawa Bibi ke Rumah Sakit sekarang " Erik tampak sangat panik.


Keduanya berlari keluar rumah, Erik mengangkat tubuh Marni sedangkan Alya segera menutup pintu rumah itu.


" Sini Mas, rebahkan disini saja biar aku yang jaga dan Mas bawa mobilnya " Ucap Alya yang sudah lebih dulu masuk seraya menepuk paha nya perlahan.


Erik segera menuruti ucapan Alya dan kemudian duduk di balik setir, melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia tidak ingin terjadi sesuatu pada wanita yang sudah sangat berjasa dalam hidupnya.


" Mas, panasnya semakin tinggi, gimana nih " Alya juga ikutan panik.


Erik kembali menambah kecepatan agar segera tiba di Rumah Sakit tempat dirinya baru keluar dari sana beberapa jam yang lalu.


***


Setelah di tangani para Dokter suhu tubuh Bi Marni akhirnya normal kembali tapi Marni belum membuka matanya, Erik merasa menyesal karena tidak menyadari apa yang sebenarnya terjadi sebelumnya.


" Mungkinkah waktu itu Bibi tidak enak badan makanya Bibi pulang tergesa gesa " Batin Erik


Ia duduk tepat di samping ranjang Bi Marni memandang wajah pucat wanita itu. Dari pemeriksaan Dokter di temukan kalau wanita itu sudah tidak makan dalam beberapa hari terakhir ini.


" Bibi kenapa sih, kenapa Bibi tidak makan. Cepatlah bangun Bi, Erik sangat khawatir melihat Bibi seperti ini " Batin Erik.


Perutnya yang keroncongan sedari tadi akhirnya Ia memutuskan untuk mencari makan sementara Alya kembali lagi ke rumah mengambil pakaian ganti untuk Bi Marni.

__ADS_1


Erik kembali setelah selesai makan siang, tidak lupa Ia membawakan makan siang untuk Marni dan Alya, namun lagi lagi Ia terkejut melihat seorang Dokter dan Suster melangkah tergesa gesa memasuki ruangan tempat Bi Marni di rawat.


" Bibi, Bi Marni kenapa "


Erik semakin mempercepat langkahnya, Ia sangat khawatir dan berdiri mematung di depan pintu ruangan itu. Beberapa Dokter nampak memberikan tindakan, setelah nya nampak mereka saling pandang dan menarik nafas mungkin lega atau apalah itu Erik tidak mengerti.


Mereka keluar beriringan dan nampak mengusap peluh di wajahnya.


" Ada apa Dok, apa terjadi sesuatu dengan Bibi " Tanya Erik


Dokter itu terdengar menarik nafas kasar dan membuangnya kembali.


" Tadi pasien jantung nya melemah, tapi alhamdulillah masih bisa tertolong.Saya permisi dulu, memeriksa pasien yang lain. Oh iya, kalau bisa tolong pasien jangan di tinggalkan sendiri " Pesan Dokter yang merawat Bi Marni.


" Iya Dok, terimakasih "


Dokter itu tersenyum dan melangkah pergi, Erik duduk di samping ranjang memindai wajah wanita yang sangat di hormati nya itu.


Nampak Marni gelisah dalam tidurnya, peluh membasahi wajahnya dan bibirnya bergerak menyebutkan sesuatu.


" Hm..... hf.... Re..... re.... rena jangan pergi Nak, Re.... Renata......! "


Erik terkejut mendengar ucapan Marni dalam tidurnya, Ia mencoba memanggil nama Marni mengguncang guncang tubuh itu agar terbangun.


" Bibi, Bi Mar.... bangun Bi "


Terlihat jelas kekhawatiran Erik pada saat itu namun kemudian Ia mulai tenang ketika melihat Marni kembali tenang.


" Bibi menyebutkan Rena, tapi kenapa. Kenapa Bibi menyebutkan nama Renata di alam bawah sadarnya, apa Bibi juga selama ini merindukan Rena adikku. "

__ADS_1


Sedikit banyaknya Erik tahu masa lalunya karena tanpa sengaja menemukan foto bayi kembar di dalam lemari pakaian Bi Marni. Karena penasaran Ia pun bertanya, awalnya Marni tidak mau mengatakan nya namun karena paksaan Erik akhirnya Bi Marni pun menceritakan semua yang Ia tahu. Sejak saat itu Erik mencari keberadaan sang Adik yang sudah lama terpisah itu.


Beberapa kali Bi Marni mengigau dalam tidurnya dan kembali menyebutkan kata yang sama yaitu Renata.


__ADS_2