
🐝🐝🐝
Ada rasa dimana ingin mengakhiri segala nya karena lelah, namun kasih sayang mereka buat enggan untuk berbuat itu.
Yuk, bagi dukungan nya. Like, rate and fav sebagai penyemangat Author dalam berkarya.
🐦🐦🐦
🐞🐞🐞
Malam hari nya Siska dan juga Bu Dewi mempersiapkan semua barang- barang mereka untuk kembali ke kota di esok hari nya. Rasa nya percuma saja berada di sana kalau tidak ada kejelasan tentang sakit yang di derita Siska.
" Kamu yakin Nak tidak tinggal beberapa hari lagi disini, sambil kita mencari obat kampung yang kata orang sangat muharab untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit "
" Ibu, aku tidak percaya dengan obat- obat kampung. Dokter saja tidak bisa menyembuhkan sakit ku ini, apalagi hanya minuman nggak jelas dari bacaan yang tidak pasti " Sahut Siska.
Bu Dewi tidak dapat berbuat apa-apa apa, Ia hanya bisa memasukkan barang- barang milik nya kedalam koper, agar besok hari ketika akan berangkat tidak kerepotan lagi.
Di dalam kamar Asrul melamun seorang diri, sejak pertemuan nya dengan Nayla Ia sibuk memikirkan cara bagaimana bisa Ia melancarkan ke inginkan nya.
" Bagaimana caranya agar aku bisa menjadi pemenang nya, tidak mungkin kan kalau aku harus kalah dengan Pria tua itu, dimana aku menyembunyikan wajahku ini kalau si tua keladi itu menang. Ah tapi si tua itu kan lebih dari segala- galanya kalau soal harta, tapi jangan salah, aku lebih muda dan tampan pastinya "
Sampai di kantor Ia juga masih memikirkan bagaimana caranya agar rencana nya lancar.
" Rul, apa sudah kamu lihat ponselmu " Tanya Romi yang bingung melihat sahabat nya yang begitu gelisah.
__ADS_1
Bahkan pekerjaan nya di atas meja tak satu pun yang dia sentuh.
" Apa maksudmu dengan ponselku, tentu saja aku melihat nya. Kan aku membawanya kemari " Jawab Asrul.
" Bukan begitu Rul, masalah nya Pak Hendra baru saja menghubungi aku kalau ponselmu tidak aktif, padahal beliau sudah mengirim laporan penting. " Sahut Romi.
" Masa Iya, ponselku aktif kok, memang tidak ada pesan masuk "
Asrul meraih ponsel milik nya dan memeriksanya.
" Astaghfirullah mati total, pantasan tidak ada pesan apa pun yang masuk " Batin nya.
" Kenapa " Tanya Romi lagi mana kala melihat Asrul garuk- garuk kepala.
Asrul segera menyambungkan alat pengisi daya nya ke ponsel milik nya.
"Gara-gara memikirkan semua nya pekerjaan yang lainnya jadi terbengkalai " Batin Asrul sembari menggeleng gelengkan kepalanya merutuki kebodohon nya.
Setelah mengetahui kabar apa yang di sampaikan Pak Hendra, Asrul kembali prustasi. Syarat yang di ajukan Pak Hendra terasa sebuah tantangan bagi nya, dan memang itulah yang dia inginkan beberapa hari belakangan ini.
" Baiklah, kita lihat bagaimana caranya aku memulai nya, semoga semua nya lancar " Gumam Asrul.
Sore hari sepulang kerja Asrul manyambangi Resto tempat Nayla bekerja. Ia memilih tetap berada di dalam mobil menunggu Nayla keluar, karena Ia malas bertemu dengan Pria yang tidak di sukai nya.
Asrul memperhatikan satu persatu yang keluar dari Resto itu demi memastikan orang yang di cari nya.
__ADS_1
Tidak berselang lama nampak Nayla keluar dari sana bersama Pak Burhan dan itu membuat emosi nya naik lagi.
" Sial tua bangka itu, kenapa mereka nampak semakin dekat. Tidak, aku tidak boleh kalah " Gumam Asrul.
" Sayang..... Buba pulang duluan ya, kamu kalau ada waktu nanti main ke rumah Buba sama Kamila ya. Bu Rossa juga ingin ketemu soal nya "
" Iya Buba, nanti kalau ada waktu. Buba hati- hati ya di jalan, tidak usah ngebut "
Pesan Nayla sembari mencium punggung tangan Pak Burhan Ayah kandung nya.
" Sial, pakai cium tangan. Apa sedekat itu kah mereka"
Baru saja Nayla berbalik ingin menuju mobil nya, tangan nya sudah di tarik Asrul masuk ke dalam mobililik nya. Nayla tidak mampu berkutik, Ia mengikuti saja kemauan Pria itu dan duduk manis di kursi depan.
" Mau kemana lagi kamu membawaku pergi " Tanya Nayla malas.
Asrul melajukkan mobil milik nya di jalan raya, kali ini dengan kecepatan sedang. Ia tidak ingin sesuatu terbuang percuma.
" Nanti juga kamu akan tahu " Jawab Asrul sambil tersenyum.
Nayla enggan untuk berdebat, tanpa sepengetahuan Asrul, Nayla mengirimkan sesuatu kepada Ayah nya. Ia harus berjaga- jaga kalau sampai Pria itu berbuat nekat melebihi hari- hari sebelum nya.
Mobil terus membawa Nayla kearah yang Ia kenal.
" Ini kan jalan menuju rumah Mas Asrul, untuk apa Mas Asrul melewati tempat ini. Apa aku akan di ajak kesana, tapi bagaimana mungkin. Ah sudahlah, yang penting tidak ada hal yang serius atau aneh yang dia lakukan padaku. " Batin Nayla
__ADS_1