
Erik geleng-geleng kepala ketika melihat Adiknya keluar dari kamar Donita.
" Sudah Mas duga, kamu pasti sembunyi disana. Apa Adik kesayangan mu itu berani melindungimu, bentar dia harus di beri pelajaran "
Erik memutar knop pintu namun dengan cepat Renata menarik tangan Erik dan membawanya turun ke bawah. Ia tidak akan membawa Adiknya dalam masalah, karena memang Adiknya itu tidak bersalah, dia lah yang meminta bantuan.
" Apaan sih Dek, Mas harus marahin Dia biar kedepannya Dia nggak berani berbohong lagi "
Renata mendengus kesal, Ia melepaskan pegangan tangannya dengan kasar.
" Mas, please ! ini hanya masalah kecil dan bukan salah Donita. Aku yang sudah memintanya berbohong "
Erik bukan tidak tahu kalau itu pasti kerjaan kembarannya itu, Ia melakukan itu agar dirinya bisa berbicara dengannya, dan memudahkan untuknya meminta maaf.
" Jadi benar, kamu mengajari Adikmu berbohong. Kakak macam apa kamu ini "
Rena kembali mendengus, belakangan ini Mas nya itu selalu saja membuatnya sebel. Ia seolah sengaja menguji kesabaran nya.
" Lama lama aku bosan Mas, kalau saja ada yang ngajak aku nikah dan membawaku pergi dari sini pasti aku akan langsung Terima. Aku malas tinggal bareng Mas, hidupku nggak pernah tenang karena selalu Mas gangguin "
( versi author dulu ya guys, kalau di marahin ortu atau sebel dengan saudara pasti ucapan nya begitu. Jangan di turut ya, ini hanya sebagai contoh)
Karena kemarahan nya Ia tidak sadar sudah mengucapkan sesuatu yang kelak menjadi bumerang untuk nya dimasa akan datang.
Erik terkejut mendengar ucapan Adiknya yang menurutnya sudah sangat keterlaluan.
" Apa maksudmu Dek, jangan sembarangan kalau bicara. Bagaimana kalau menjadi kenyataan, ucapan itu adalah Doa "
" Biarin, Mas sih nyebelin "
" Gimana kalau yang datang melamar kamu itu adalah orang tua, bahkan seumuran Papa apa kamu akan tetap menerima nya "
__ADS_1
Rena nampak berpikir sesaat, Ia kemudian bergidik ngeri. Masa iya, dirinya yang masih mudah nikah nya sama pria yang mau berumur senja.
" Mana mungkin orang tua, sudahlah Mas jangan suka usilin lagi. Kalau nggak aku akan benar-benar pergi dari sini "
Rena mulai memasang raut tak bersahabat, Ia juga melipat kedua tangannya di dada. Kalau sudah begini Erik tidak akan mempunyai keberanian untuk menggoda saudara kembarnya itu.
" Iya iya sayang, maafin Mas ya. Sebenarnya Mas ingin minta maaf sama kamu soal kemarin. Mas memarahi kamu tanpa sebab, seharusnya Mas melihat siapa yang masuk ke dalam ruangan Mas sebelum Mas marah marah "
Renata menatap wajah Erik sekilas, ada banyak beban disana, betapa inginnya Ia membantu meringankan beban itu tapi Ia tahu kakaknya itu tidak akan mau berbagi masalah dengannya.
" Oh begitukah Mas, lalu apa maksud kedatangan Pria itu ke ruangan Mas, apa ada yang Dia katakan sehingga membuat Mas marah "
Erik terkejut namun berusaha di kendalikan nya, Ia tidak mau adiknya mengetahui semuanya dan menjadi beban untuknya.
" Sudahlah Mas, aku sudah melihatnya. Dia masuk ke dalam ruangan Mas dan aku tau pasti ada masalah penting "
Erik tersenyum mengurai kegelisahan nya.
Renata tahu apa yang harus Ia lakukan, percuma juga memaksa saudara kembarnya untuk saat ini karena itu tidak akan membuahkan hasil apapun.
" Ya sudah Mas, kalau ada apa apa tolong kasih tahu aku-----
" Dan aku juga ya Mas, karena kita sekarang adalah team. Benar kan Mbak " Rena tersenyum menyambut kedatangan Adiknya, hampir saja Ia membuat sang Adik dalam masalah.
Donita menghampiri kedua kakaknya, sejak tadi Ia mendengarkan perdebatan keduanya namun Ia mencoba menyimak saja tanpa berusaha merelai keduanya.
...----------------...
Donita bersama Renata sedang ada di salah satu pusat perbelanjaan di kota itu, mereka berdua sedang asyik memilah milih barang yang akan mereka bawa pulang. Kedua adik dan kakak itu ternyata mempunyai hobi yang sama yaitu makan, mereka membeli begitu banyak snack dan kue kering.
" Hei Mbak, yang ini enak loh. Mbak harus mencobanya "
__ADS_1
Donita mengambil salah satu kue kesukaan nya dan menunjukkan nya pada Renata, Renata pun setuju dan mengambil barang yang sama untuknya.
" Hai calon Istriku, apa kabar "
Kedua gadis kakak beradik itu sontak menoleh.
" K kau " Seru Renata spontan.
Ia tidak menyangka akan bertemu dengan Pria di masa lalunya.
" Mbak Rena, apa Mbak mengenalnya "
Donita yang melihat wajah terkejut kakaknya merasa ada yang tidak beres.
" Rena ---? Sejak kapan namamu berubah Alya " Tanya Andre.
Donita yang melihat itu semakin bingung.
" Maaf Pak, anda siapa dan kenapa anda menganggu kakak saya "
Kini giliran Rena yang ingin tertawa melihat tingkah lucu Adiknya apalagi mendengar panggilan Donita untuk Pria di depannya itu.
" Eh kamu siapa dan kenapa memanggilku Bapak, aku masih ganteng belum terlalu tua tua juga " Andre tidak suka mendengar panggilan gadis teman dari orang yang Ia sukai.
" Benarkah, memang sih nampak masih ganteng. Mbak coba Mbak lihat baik baik, pasti Mbak setuju dengan ku kalau Bapak ini sudah mulai tua, coba lihat saja keriput di bawah matanya " Donita mengatakan penilaian nya tanpa merasa bersalah sama sekali.
Andre semakin tidak suka, Ia mengingat ucapan Ibunya, masa sih Ia sudah nampak tua.
" Kenapa Pak, pasti Bapak adalah salah satu orang yang menolak tua iya kan. Asal Bapak tahu, menjadi tua itu fitrah, semua orang akan mengalaminya "
Astagfirullah mimpi apa Andre semalam hingga hari ini Ia bertemu gadis seperti yang berdiri di depannya saat ini, sudah seperti copyan Ibunya di rumah.
__ADS_1