Lepaskan Aku

Lepaskan Aku
Ke kocakan Donita


__ADS_3

Erik dan Renata keluar dari tempat di mana di adakan lamaran dadakan, mereka bertemu dengan Donita yang nampak terkejut melihat satu persatu orang yang Ia kenal keluar dari sana.


" Mbak Rena, Mas Erik ! kalian juga ada disini. Ini sebenarnya ada apa sih, kok semuanya ada disini terkecuali aku. Apa ada sesuatu yang serius "


Donita mengejar langkah kaki kedua saudaranya, Ia benar-benar di buat penasaran setelah sebelumnya melihat sang Ayah keluar dari sana kini Erik dan juga Rena yang menyusul.


Melihat kehadiran nya seolah tidak di hiraukan, Donita menghentakkan kakinya.


" Mas dan Mbak ada apa sih "


Erik dan Renata sontak menghentikan langkah nya.


" Diam anak kecil, cepat masuk dan diam, bukankah tadi kamu naik taksi "


Melihat itu Donita akhirnya ikut dan benar saja Ia memilih diam, meskipun kepalanya rasanya ingin pecah karena rasa penasaran nya tapi melihat situasi mencekam seperti itu Ia memilih diam.


Tidak ada percakapan yang terjadi disana, Erik fokus menyetir sambil sesekali Ia melirik bagaimana kondisi adiknya melalui kaca spion.


Begitu juga dengan Donita yang mulai menyadari kalau ada masalah yang serius. Ya Donita bukanlah anak kecil lagi, tahun ini usianya sudah menginjak dua puluh tahun, Ia tahu semuanya.


Mungkin Ia di katakan anak kecil karena tingkah nya selalu bikin semua orang tertawa dan juga Ia adalah anak paling bungsu dari keluarga itu.


Mobil berhenti di kediaman Hendrik, Erik dan juga Donita turun lebih dulu.


" Bawa Mbak mu ke dalam, temani dia dan jangan buat dia marah. Mas harus kembali ke kantor karena ada rapat penting yang tidak bisa di tinggalkan. Mas yakin kamu bisa di andalkan " Pinta Erik dengan suara pelan.


Donita langsung mengangguk mengerti, mendengar pesan Erik Ia tahu kalau masalah saat ini sedang serius.


" Mbak, Ayo ! "


Pelan Donita menyentuh lengan Renata, Ia takut kakak nya itu merasa tidak nyaman. Renata akhirnya turun dari mobil, Ia berjalan seperti orang linglung, bahkan Donita harus super ekstra menjaganya hingga sampai di kamar milik Renata.


" Tinggalkan Mbak sendiri "


Suara tiba tiba dari Renata membuat Donita terkejut, tentu saja Ia tidak mau. Karena Erik sudah berpesan agar menjaga kakak nya dengan baik.


" Tapi Mbak "


__ADS_1


" Nita, biarkan Mbak sendiri "


Donita mundur dua langkah namun hatinya tetap merasa tidak tenang, Ia takut terjadi sesuatu pada saudara perempuan nya itu.


" Mbak, Mbak baik baik saja kan, tidak bunuh diri kan. " Donita bertanya sangat pelan bahkan hampir tidak terdengar.



" Soalnya kalau Mbak bunuh diri nanti Donita yang di marahi Mas Erik " Sambung nya lagi karena melihat tidak ada reaksi apapun dari saudaranya itu.


Rena menghela nafas berat


" Donita ~ tinggalkan Mbak sendiri "


Donita akhirnya memilih pergi setelah kali ketiga Ia di perintahkan untuk pergi oleh Rena.


Di depan pintu Ia berpapasan dengan Hendrik dan juga Marni yang juga penasaran serta khawatir mengenai kondisi Rena.


" Bagaimana keadaan Mbak mu Nit " Tanya Hendrik begitu juga dengan Marni.


Donita mengangkat bahunya pelan, Ia yang tidak mengerti mengenai semua yang terjadi hari ini tidak bisa memberi komentar lebih.


Marni tersenyum menenangkan.


" Sudah Nita, Mbak mu benar. Dia hanya butuh waktu menyendiri saja Nak, nanti juga baik kok "


Marni yang hadir sebagai pelengkap sosok Ibu di rumah itu semenjak Anggun harus mempertanggung jawabkan perbuatan nya di jeruji besok.


" Sudah Nak, kamu pasti belum makan kan. Tadi Bibi dengar dari Papa dan juga Mas mu kalau kamu belum makan karena menyusul mereka kesana kan "


Bohong, Marni bahkan tidak bertemu dengan Erik namun Ia mendengarnya dari Hendrik mengenai hal itu.


" Ayo, biar Bibi siapkan makan siangnya "


Marni menggandeng tangan Donita menuruni anak tangga menuju dapur, Ia duduk di bangku sementara Marni menyiapkan makan siang untuknya.


" Bi, sebenarnya ada apa sih. Kok semua pada kompak diam diaman begini. Bibi jangan bilang aku anak kecil juga, karena aku sudah besar "


Raut wajahnya muram, Donita anak yang punya rasa ingin tahu yang besar. Dia akan bertanya sampai Ia dapatkan jawaban nya, Marni bingung harus memberi jawaban apa pada anak bungsu keluarga itu.

__ADS_1


" Makan dulu baru kita bicarakan lagi "


Donita menggeleng, Ia ingin tahu apa masalah yang tengah di hadapi Kakak perempuannya itu.


" Donita nggak selera makan " Jawabnya merajuk.


Marni menghela nafas dan geleng-geleng kepala, kalau tidak di turuti ya akan seperti itu.


" Gini Nak, Mbak mu itu tidak apa apa, hanya saja ada yang ingin melamarnya ~



" Apa ! melamar Bi ? " Donita yang terkejut langsung berdiri dan berseru nyaring.


Marni mengelus dadanya pelan karena terkejut dengan suara Donita.


" Tapi kalau di lamar kan seharusnya Mbak bahagia bukan sedih begitu. Apa laki lakinya sudah tua, sudah bangkotan "


Marni lagi lagi terkejut, Ia menepuk jidatnya sendiri. Anak bungsu keluarga itu memang benar-benar aneh bin ajaib, limited edition.


" Nak, dengar dulu Bibi belum selesai ngomongnya atuh, main serobot saja "


Donita yang penasaran akhirnya duduk kembali.


" Lanjut Bi " Ia melipat tangannya di depan dada.



" Mbak mu itu bukan sedih tapi Mbak mu hanya terkejut saja karena lamaran nya mendadak. Yakin sama Bibi, tidak lama kok nanti juga baik kembali. "


Donita manggut manggut mengerti, Ia akhirnya melanjutkan makan siangnya sampai habis tak tersisa


🌟🌟🌟


Hai Hai guys, yang cantik dan tampan. Yang baik hati juga, Si nggak pede Andre si baik hati Rena, si ganteng perfect Erik dan si kocak Donita up lagi.


Yuk bagi komennya, bagaimana tanggapan kalian mengenai bab ini ya.


Oh ya, cek juga karya Author yang baru ya, di jamin tidak kalah seru.

__ADS_1


Di tunggu like komennya serta jejaknya yang lain ya. 💋


__ADS_2