Lepaskan Aku

Lepaskan Aku
Kejutan Erik


__ADS_3

POV ANDRE


Setelah mendapat pemukulan dari Pria yang sering jadi pahlawan kesiangan aku bermaksud membawa masalah ini ke jalur hukum, tapi apesnya setelah masuk kedalam kantor untuk mengambil rekaman CCTV rekaman itu raib, aku pulang dengan perasaan kecewa.


Tiba di rumah aku malah di buat heran dengan tingkah orang rumah, tak seorang pun yang khawatir melihat keadaanku bahkan sekedar bertanya kenapa aku sampai pulang dengan keadaan mengenaskan begini. Mereka malah menertawakan penampilanku saat ini.


" Ha ha ha, Mas kamu lucu, dapat topeng dari mana " Suara adik bungsu ku begitu puas menertawakan kesedihanku.


Sejak kapan Ia berada di rumah ini, tapi tidak heran sih, semenjak mereka punya baby mereka sering menginap di rumah Ayah dan Ibu.


" Entahlah Dek, apa itu topeng atau bekas di gebukin seseorang karena ulahnya " Nayla ikut menimpali.


Nampak mereka tertawa senang karena berhasil membuat aku menderita.


" Sudah sudah Nak, Mas mu jangan di godain terus "


Akhirnya suara Ibu membuatku senang ternyata masih ada yang perhatian padaku. Baru saja merasa senang karena Ibu masih perhatian padaku ternyata dugaan ku salah.


" Jangan di godain nanti Mas mu tambah malu karena kalah dalam pertempuran, kalah dan babak belur saja sudah menyakitkan mau kalian tambah lagi dengan menggodanya "


Ketiga wanita itu tertawa renyah menertawakan kondisiku saat ini. Lama lama disini mood ku jadi semakin buruk.


" Apes kali hidupku, punya Ibu adik bukannya mendukung ku mereka malah menentang ku "


Andre teringat akan rekaman CCTV di kantor yang sudah mendukung lagi, Ia yakin bahwa semua itu adalah campur tangan adiknya, siapa lagi yang begitu menentangnya dan mendukung wanita yang Ia benci.


" Tapi kenapa Nayla begitu membela Alya, sementara aku tahu sifat Adikku itu, dia tidak akan sembarangan percaya pada orang lain apalagi sampai membelanya mati matian. Apa aku yang sudah salah menilai selama ini "


Andre merogoh ponsel miliknya yang berada di dalam kantong celananya menghubungi seseorang, ucapan Nayla, Ibu dan juga Erik terus terngiang di benaknya membuatnya memutuskan satu hal ada yang harus Ia lakukan saat ini.


Setelah menghubungi seseorang Ia memilih merebahkan tubuhnya yang sakit akibat bogem mentah dari Erik yang menghajarnya habis habisan karena ulahnya.


***********************************************************************************************


Ting ~~


Bunyi notif di ponsel Andre menandakan ada pesan masuk, dengan segera Ia mengeceknya. Dahinya berkerut dan segera menghubungi si pengirim pesan.

__ADS_1


" Baiklah bawa ke kantor semuanya besok "


~~


" Ya, terimakasih " Klik


Pagi hari di kantor Andre dua orang Pria memasuki ruang kerja Andre, mereka sudah memberi kabar sebelumnya jadi setelah tiba di kantor tidak perlu ijin lagi untuk masuk.


" Mana data yang kalian dapatkan " Tanya Andre.


" Ini Pak " Salah satu dari mereka menyerahkan sebuah berkas dan Andre menerimanya.


Ia memperhatikan dengan seksama apa isi dari berkas itu. Ia sampai menghabiskan waktu yang lama untuk meyakini kalau penglihatannya salah.


" Pak, Pak " Panggil salah satunya karena terlalu lama berdiri.


Hingga panggilan yang ketiga Andre baru teralihkan dari fokusnya.


" Apa ada lagi yang bisa kami bantu " Tanya nya lagi.


" Tidak ada, kalian boleh pergi sekarang. Kalau ada apa apa nanti aku hubungi lagi, ini untuk kalian " Asrul memberikan satu amplop berisi puluhan uang ratusan di dalamnya.


Andre memandangi punggung kedua pria itu sampai hilang di balik pintu, kemudian kembali memfokuskan diri pada beberapa kertas yang ada di tangannya.


" Apa ini benar, ah mungkin mereka salah, sedangkan aku dengan jelas jelas melihat pakai mataku sendiri kalau dia bekerja di tempat itu, mana ada yang bisa selamat dari godaan di tempat itu "


Hari berganti hari Alya menjalankan aktivitasnya, mungkin sekarang Ia sudah mulai mendapatkan tempat yang nyaman karena pemilik dari kantor dirinya bekerja sangat memperlakukan Ia dengan baik.


" Hai Al, sore ini kita pulang bareng yuk. Aku mau mengajakmu kesuatu tempat, aku rasa kau pasti akan menyukainya " Ajak Erik yang juga ikut bekerja disana.


Alya mulai berpikir, hari ini Ia enggan untuk pergi. Setelah kembali dari tempat bekerja masih banyak pekerjaan rumah yang menanti. Pasalnya sudah beberapa hari ini Ia sibuk dengan pekerjaan nya sehingga cuciannya menumpuk, bahkan untuk seragamnya besok sepertinya sudah tidak ada.


" Maaf Mas, aku tidak bisa kemana mana hari ini. Maklum lah banyak pekerjaan rumah yang tertunda, lain kali saja ya "


Erik nampak kecewa padahal biasanya dirinya kalau hari jumat selalu ke tempat tersebut, Ia yakin Alya juga akan senang kesana kalau tahu kemana tujuannya.


" Al, ayolah aku mohon kali ini saja " Pinta Erik sedikit memohon.

__ADS_1


Alya menjadi tak enak hati, tapi cuciannya dirumah.


" Ya sudah Mas, aku ikut " Jawab Alya yang langsung di hadiahi senyum merekah oleh Erik.


" Makasih Al, kamu baik banget deh, makasih sekali lagi "


..." Ya ampun Mas, sampai sebahagia itu Mas hanya karena aku mengiyakan ajakan mu. Ya sudah Al, nyucinya nanti malam saja, kalau nggak kering kan bisa di setrika "...


Motor melaju dengan kecepatan sedang membelah jalan Ibukota, Alya memperhatikan nama nama jalan yang mereka lalui.


" Sebenarnya kita mau kemana sih Mas, kok jalannya kemari " Tanya Alya di atas motor.


Bukan tanpa alasan, Ia begitu sangat mengenali jalan itu. Meskipun sudah banyak berubah tapi Ia masih sangat mengingat jalan itu.


" Ada deh Al, sebentar lagi kita sampai "


Setelah melewati belokan pertigaan dan mengambil jalan sempit akhirnya motor yang mereka tumpangi pun tiba disana.


Jantung Alya berdegub kencang setelah turun dari motor, air matanya jatuh tak terbendung. Sudah berapa tahun Ia tidak menginjakkan kakinya di tempat itu.


Dengan langkah gemetar di ikuti Erik di belakangnya Ia memasuki area itu, tak lupa Ia mengucap salam. Setelah lumayan jauh berjalan akhirnya Ia berhenti pada dua buah makam yang berdampingan, lututnya terasa seperti jeli tanpa kekuatan, Ia pun duduk di samping pusara kedua orang tuanya.


" Assalamu'alaikum Ma, Pa..... " Suara Alya tercekat di kerongkongan nya yang tiba tiba terasa kering.


" Ini Alya, maaf setelah sekian lama Alya baru bisa mengunjungi Mama dan Papa "


Alya mulai mencurahkan isi hatinya seperti sedang berbicara pada kedua orang tuanya semasih mereka hidup, hatinya merasa sangat lega setelah lama menangis.


Ia baru tersadar kalau dirinya ketempat itu tidak sendiri.


" Mas Erik " Panggilnya namun tidak ada jawaban.


Di edarkan nya pandangannya kesana kemari namun tidak menemukan sosok yang Ia cari.


" Dimana Mas Erik "


Satu yang membuat nya bingung, kenapa Pria itu mengajaknya kesana, seakan tahu kalau di tempat itu ada rumah terakhir Ayah dan Ibunya.

__ADS_1


" Kenapa Mas Erik membawaku kemari dan sekarang hilang, apa dia juga punya keluarga yang juga di makamkan disini " Gumam Alya.


Lagi lagi di arahkan nya pandangannya kesana kemari namun sosok yang di cari tidak di temukannya.


__ADS_2