Lepaskan Aku

Lepaskan Aku
Tawaran Andre


__ADS_3

Setelah semuanya terbongkar Alya kini tinggal di rumah gedongan itu. Ya, dulu memang dia sudah tinggal disana namun statusnya berbeda. Kini dia adalah salah satu pemilik rumah tersebut.


Meskipun semuanya sudah membaik namun mereka di hadapkan pada sebuah masalah yang cukup besar yaitu cara bagaimana mereka membangun kembali Dirgantara grup yang sudah hampir gulung tikar.


Para pemegang saham banyak yang menarik saham nya dari sana sehingga mereka mengalami kerugian besar. Butuh sebuah perjuangan akan para investor mau mempercayai perusahaan mereka lagi dan mau bergabung kembali.


" Ayo Dek buruan ih, lelet banget " Erik sangat suka mengusili adiknya itu.


Alya yang mendengar itu mendengus kesal, sampai kini Ia belum bisa menerima kalau dia yang terlahir akhir.


" Pasti Bi Marni salah, aku yakin pasti ku yang duluan lahir. Ah I -- Iya sebentar Mas, ih bawel banget " Gerutu Alya.


Erik tersenyum penuh kemenangan mendengar Alya akhirnya memanggilnya dengan sebutan Mas.


" Wah wah, akhirnya adikku yang satu ini mau juga mengalah ya. Bagus, memang harusnya begitu kalau mau jadi Adik yang baik, harus nurut sama yang lebih tua "


Alya semakin kesal di buatnya.


" Sudahlah Mas, ayo buruan, aku nyesel panggil Mas, ternyata makin kesini makin menyebalkan "


Dari jauh Donita hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah kedua saudaranya.


" Kalian kenapa lagi sih, ribut lagi. Masih ngeributin siapa yang lahir duluan, dari pada kalian pusing lebih baik kalian tanya sama Dokter yang sudah membantu persalinan Ibu Dahlia "


Karena dari tadi Alya hanya mengangguk setiap kali Donita bertanya, gadis yang umurnya lebih muda dari mereka itu asal semprot saja membuat keduanya memandang dengan tatapan bodoh.


" Apa sudah aman, kalian tidak akan ribut lagi di jalan. Kalau kalian sudah akur maka ayo sekarang kita berangkat, tapi jika kalian masih mau bertengkar silahkan lanjutkan, aku yang akan menjadi juri untuk menentukan siapa yang jadi pemenang di antara kalian berdua "


Kedua kakak adik itu serempak menatap Donita, sementara Donita nampak santai dengan menyilangkan kedua tangannya di dada.


" Ini semua karena Mas, suka banget usil "

__ADS_1


Alya melangkah cepat masuk kedalam mobil.


" Buruan Mas, Dek. Kalian lambat aku naik taksi nih "


Donita buru buru masuk begitu juga dengan Erik, Ia tidak mau adiknya itu ngambek dan akan sulit untuk di diamkan.


......................


Erik masih bingung, Ia sudah melakukan berbagai car agar menarik mereka yang pernah menanamkan saham mereka namun sepertinya mereka terlanjur tidak percaya.


" Hei bro " Erik terkejut mendengar suara yang terasa tidak asing di telinganya.


Ia menoleh dan benar saja, itu orang yang pernah mengganggu hidupnya di masa lalu.


" Untuk apa kau kemari, apa kau tidak ada kerjaan. "


Orang yang di marahi hanya cengir cengir kuda.


Erik langsung menatapnya dengan tatapan elang yang mampu menikam para musuhnya.


" Calon Istri, hei kalau mau cari Istri jangan disini, sana di pasar malam "


" Hm, ngapain aku harus ke pasar malam kalau disini saja lebih bagus bibit bebet dan bobotnya "


Lagi lagi Erik di buat emosi mendengar ucapan orang di depannya.


" Siapa yang kau maksud calon Istri, cepat pergi dari sini. Apa kau tidak ada kerjaan sehingga mengganggu orang lain yang sedang bekerja "


Bukannya takut Ia malah tertawa terpingkal pingkal.


" Erik, Erik ! bekerja katamu, aku sudah tahu semuanya. Perusahaan ini hampir gulung tikar dan kalian sedang pusing mencari investor yang mau menanamkan sahamnya disini. Jangan khawatir, aku bisa membantu kalian tapi tentu tidak gratis. Aku bisa menanamkan saham disini dan juga mengajak mereka agar kembali percaya dengan kinerja kalian. Jadi bagaimana menurut mu, apa penawaran ku menarik "

__ADS_1


Erik yang tahu kemana arah pembicaraan orang di depannya itu semakin berang.


" Wah sungguh tawaran yang menarik "


Erik mempermainkan pulpen di tangannya sementara orang yang menjadi lawan bicaranya tersenyum senang, akhirnya rencananya mulai menampakan tanda tanda keberhasilan.


" Sayang sekali aku tidak tertarik, cepat pergi dari sini sebelum aku berlaku kasar. Oh ya jangan pernah berpikir mencari Istri disini, karena kami tidak memiliki seseorang untuk kau jadikan calon Istri " Ucap Erik.


Pria yang tak lain adalah Andre akhirnya memilih pergi, namun bukan untuk menyerah. Ia sudah banyak melakukan banyak hal hingga sampai ke titik ini jadi tidak mungkin Ia menyerah begitu saja.


" Baik, aku akan pergi, tapi aku minta kamu pikirkan lagi semuanya. Kamu masih bisa mencari calon Istri lain di luar sana dan lepaskan dia untukku, bukankah itu adalah pertukaran yang sangat menguntungkan, kalau kau berubah pikiran segera hubungi aku karena aku akan selalu menunggu kabar darimu "


Andre melenggang pergi meninggalkan Erik yang masih mencerna ucapan Andre.


" Mencari calon Istri di luar sana, lepaskan dia untukku. Apa maksudnya, apa dia masih berpikir kalau Renata adalah calon Istriku " Gumam Erik.


Erik masih memikirkan tawaran Andre, walau bagaimana pun perusahaan ini adalah hasil jerih payah turun temurun, Ia tidak akan membiarkan gulung tikar tanpa ada usaha, namun kalau syarat nya Ia harus mengorbankan adiknya tentu Ia tidak akan sampai hati.


Pintu ruangan terbuka tidak lama sesudah itu, Erik yang masih memikirkan jalan keluar dari masalah mereka langsung marah marah tanpa melihat siapa yang sedang berada disana.


" Kenapa kau balik lagi, pergi sana jangan pernah kembali lagi. Meskipun perusahaan ini harus bangkrut tapi aku tidak akan menyerahkan adikku padamu "


Renata yang baru masuk dan langsung mendapat kemarahan kakaknya tentu terkejut.


" Mas, Mas kenapa kok marah marah tidak jelas begitu, kalau Mas tidak suka aku ada disini tidak apa apa. Aku akan pulang, tapi tidak perlu marah marah "


Raut wajah Erik langsung mendadak pucat, Ia tidak menyangka orang yang Ia marahi adalah adiknya sendiri. Apalagi melihat raut wajah sedih Renata membuatnya semakin bersalah.


Renata pergi meninggalkan ruangan Erik, Ia berpikir tentang kedatangan Pria yang pernah dekat dengannya.


Renata sempat melihat Andre memasuki ruangan Erik, jadi Ia bisa menyimpulkan kalau sudah terjadi sesuatu yang tidak baik sehingga membuat Erik langsung marah marah

__ADS_1


__ADS_2