
Nayla langsung memperingati suaminya seusai sarapan karena tidak nyaman hati melihat Putri kecilnya merajuk.
" Mas sih nggak ingat waktu, lihat tuh anak kita jadi merajuk kan "
Asrul malah semakin menggoda Istrinya
" Jangan ikutan cemberut begitu, kamu yang seperti ini malah membuat aku ingin memakan mu lagi disini "
Nayla melongo serta melotot pada suaminya, Ia mendengus kesal dan meninggalkan suaminya yang genit itu.
" Ish ada ada saja, makin tua makin genit saja " Gerutu Nayla sambil melenggang meninggalkan suaminya itu.
Asrul yang melihat Istrinya saat itu hanya bisa tertawa kecil, semua hal yang selalu Ia syukuri selama lima tahun belakangan ini bahwa dirinya di beri kesempatan untuk merasakan kebahagiaan seperti yang Ia rasakan hari ini.
" Sayang ! Sudah siap jalan jalannya sekarang "
Asrul melangkah mendekat pada Putrinya, Ara mengangguk seraya mengangkat kedua tangannya minta di gendong oleh sang Ayah.
" Ayo sayang "
Asrul menggendong Putrinya dan menggandeng tangan Istrinya yang juga sedang merajuk.
Nayla masih ingin protes namun Asrul menggenggam tangannya begitu erat, terpaksa Nayla hanya bisa pasrah. Lagipula Ia lebih mementingkan kebahagiaan Putrinya itu, bagaimana pun juga ini adalah momen yang sangat jarang terjadi. Mengingat keduanya yang sibuk bekerja dan hari ini mereka putuskan untuk meliburkan diri demi Putrinya sebelum besoknya di sibukkan lagi dengan aktivitas Masing-masing.
Hari ini mereka tertawa bersama, mengunjungi banyak tempat yang di sukai Putrinya itu. Bahkan mereka juga memasuki pusat perbelanjaan, ini dia saatnya si Ibu beraksi.
" Sayang ! dari tadi kamu hanya jalan saja, apa nggak kepikiran untuk membeli sesuatu " Tanya Asrul pada Istrinya karena sejak tadi mereka hanya memilih barang untuk Putri mereka.
Nayla tersenyum pada suaminya.
" Nggak ah Mas, takut nanti uang mu habis kalau aku belanja juga "
Kening Asrul berkerut mendengar jawaban Istrinya.
" Sayang, aku tidak akan jadi bangkrut hanya karena Istri ku ini mau berbelanja barang yang dia inginkan "
Nayla bersorak riang, akhirnya keinginan nya terkabul. Sejak tadi Ia menahan diri agar gila belanjanya tidak kumat, tapi ternyata suaminya sendiri yang malah memintanya untuk berbelanja.
__ADS_1
" Benarkah, apa aku boleh membeli sesuatu " Tanya Nayla antusias dan di jawab anggukan oleh suaminya.
" Baiklah, ayo ikut dengan ku "
Asrul mengekor di belakang istrinya memasuki sebuah toko.
" Sayang, kamu ingin beli ini " Tanya Asrul memastikan.
Nayla mengangguk mengiyakan, Asrul bingung melihat tanggapan Istrinya. Bukannya Istrinya sudah punya beberapa barang seperti ini, apa mau nambah lagi begitu pikirnya.
" Bukan buat aku Mas, tapi buat Rena. Bukankah kita belum memberinya apa pun, lagi pula Mas juga waktu acara nggak hadir. Jadi aku kepikiran untuk membelikan satu untuknya "
Setelah selesai berbelanja tempat terakhir yang mereka tuju adalah kuliner. Disini Nayla yang begitu antusias, kebetulan perutnya sejak tadi sudah keroncongan karena lelah berjalan.
Mereka memesan beberapa menu disana dan makan bersama.
" Bagaimana sayang, apa kamu senang hari ini " Tanya Asrul pada Putri kecilnya.
Ara mengangguk namun kemudian menggeleng. Kedua orang tuanya saling pandang setelah melillhat jawaban Putri mereka.
" Senang tapi nggak, memang kenapa sayang " Kali ini giliran Nayla yang bertanya.
" Mas Alwi kemana sih, setiap jalan pasti Mas nggak ikut. Coba kalau Mas ikut pasti lebih seru "
Nayla lagi lagi tersenyum, Ia harus memberi jawaban yang bisa di terima akal kecil Putrinya.
" Sayang, Mas Alwi kan sibuk Nak. Sama seperti Papa dan Mama biasanya, kalau nggak hari libur ya tetap kerja. Tapi Mama janji, nanti kalau Mas Alwi ada waktu kita akan jalan jalan lagi dan bareng Mas Alwi nya ya sayang "
Ara akhirnya mengangguk, begitulah yang dirasakan seorang anak kalau kedua orang tuanya atau keluarga nya selalu sibuk bekerja dan Ia selalu merasa sendiri.
\*\*\*
Sore hari Nayla melanjutkan jalan jalannya namun kali ini tanpa sang suami, Ia hanya membawa serta Putri kecilnya.
" Oma........ ! " Seru Ara yang sudah berteriak ketika memasuki rumah Oma Rossa.
Rossa yang mendengar suara sang cucu segera keluar untuk menyambut kedatangan mereka.
__ADS_1
" Wah sayangnya Oma "
Rossa memberi kecupan di pipi cucu perempuan nya yang begitu menggemaskan.
" Ini buat Ibu dari Mas Asrul, maaf Bu, Mas Asrul nya nggak bisa ikut kemari mungkin lain waktu "
Rossa menerima pemberian anaknya tidak ketinggalan senyum manisnya.
" Kenapa harus repot repot mereka
memberi Ibu. Iya nggak apa apa Nak, maklum juga dia baru saja datang dari luar kota, seharusnya Ia istrahat dulu sebelum nanti kerja lagi "
Nayla manggut-manggut, Ia mengarahkan pandangannya kesegala arah.
" Bu, pengantin baru mana kok nggak kelihatan "
Rossa menujuk ke atas dan Nayla sudah tahu apa artinya.
" Baiklah Bu, aku ke atas dulu. Mau ngasih ini untuk kakak Ipar "
Nayla menaiki anak tangga sedangkan Ara memilih bermain bersama Oma. Nayla lebih dulu memgetuk pintu dan tidak menunggu lama pintu pun terbuka.
" Assalamu'alaikum kakak Ipar, gimana kabarnya hari ini "
Rena tersenyum senang meskipun awalnya Ia terkejut.
" Sudah baik kok, mari masuk " Rena mempersilahkan Nayla agar masuk ke kamarnya.
Rena meminta Nayla untuk duduk di sofa yang tersedia di kamarnya.
" Ah ini untuk mu, pagi tadi kita jalan jalan dan Mas Asrul menitipkan ini untukmu. Sekalian Dia minta maaf karena tidak bisa menghadiri acara kalian kemarin "
Rena tersenyum dan menggeleng cepat.
" Tidak apa apa, tapi ini kenapa harus repot repot belikan ini"
" Nggak apa apa Mbak, hanya sedikit juga "
__ADS_1
Usai mengobrol Nayla langsung pamit keluar