
Erik melajukan mobil miliknya menuju Rumah Sakit terdekat, setelah perdebatan beberapa saat lalu mereka memutuskan untuk tetap membawa gadis yang nampak sangat lemah itu.
Para pihak medis langsung memberi penanganan terbaiknya, apalagi melihat siapa yang datang. Alya berdiri seorang diri agak menjauh dari kerumunan keluarga Erik yang nampak bingung, terlihat dari wajah wajah mereka.
..." Alya, duduklah disini " ...
Erik yang baru menyadari hal itu segera menghampiri Alya dan mengajaknya duduk di kursi tunggu.
Setelah dua hari para Dokter akhirnya memindahkan gadis lemah itu ke ruang rawat, kondisi nya mulai berangsur membaik.
Hendrik melangkah menghampiri gadis itu menatapnya seksama, Ia teringat ucapan Hendra yang mengatakan pada mereka mengenai asal usul gadis malang itu.
..." Bagaimana mungkin kau adalah Dia " Hati kecilnya masih menyangkalnya. ...
Namun tiba tiba pandangan matanya tertuju pada sesuatu. Ya, sesuatu yang serasa tidak asing baginya, dengan tangan bergetar Hendrik meraih benda itu.
Matanya terkesiap melihat benda itu, Ia benar benar mengenali benda itu.
..." Ini..... ini kan kalung milik Dahlia, aku ingat betul kalau dulu aku memberikannya padanya pada saat syukuran tujuh bulan kehamilannya. Kalung ini sepasang dan satu nya ada pada Erik, dan ini ada pada gadis ini. Jadi benar gadis ini adalah..... " ...
Pak Hendrik menutup mulutnya agar tidak membuat kegaduhan, Ia segera keluar dari ruangan itu. Karena tergesa-gesa Ia sampai menabrak Erik yang baru datang bersama dengan Alya.
..." Papa, Papa kenapa. Kenapa terburu-buru begitu " Tanya Erik bingung. ...
__ADS_1
Hendrik mengusap wajahnya gusar, Ia memandang Alya yang berdiri di samping Erik dengan tatapan penuh arti.
..." Alya, maafkan Bapak. Bolehkah Bapak bicara sebentar dengan Erik, kamu bisa menjenguknya di dalam " ...
Alya tersenyum dan mengangguk setuju, Ia pun segera masuk menemani gadis yang di temui nya di tempat Ia di culik. Gadis yang menceritakan banyak hal dan membuat Alya merasa kasihan padanya, setidaknya Ia harus bersyukur karena orang tuanya begitu menyayanginya meskipun tidak bisa menemaninya hingga dewasa dan mengantarkan nya menjemput kebahagiaan menjadi seorang istri.
..." Hai, gimana kabarmu Ren. Hm sebenarnya nama kita sama sih tapi keberuntungan kita berbeda, aku masih beruntung mendapatkan kasih sayang dari Mama dan Papa meskipun hanya sebentar. Tapi kamu jangan khawatir, setelah ini bukankah kamu akan bahagia. Kamu akan berkumpul dengan keluargamu yang sebenarnya. Ada keluarga utuh disana, kamu tidak akan kehilangan kasih sayang, apalagi ada Mas E..... " Alya menghentikan ucapannya. ...
Ada rasa tidak rela di hatinya ketika menyebut nama Erik, namun kemudian hatinya menyangkalnya, Ia tersenyum penuh arti. Ia seharusnya tidak memiliki perasaan seperti saat ini, gadis itu sudah menderita sejak lama dan Ia berhak untuk berbahagia.
..." Kamu akan mendapatkan kasih sayang Mas Erik, dia sangat baik loh. Aku saja senang dan bahagia berada di dekatnya, hm awalnya aku berharap bisa menjadi adiknya tapi..... ! Lucu kan Ren kalau aku berpikir begitu " ...
Ada butiran bening jatuh di sudut matanya, Ia kemudian segera mengusapnya ketika ada suara seseorang disana.
Alya sontak menoleh disana sudah berdiri Erik dengan senyum khasnya. Ia berjalan mendekat namun bukan pada gadis yang tengah berbaring itu melainkan pada Alya.
..." Cie cie..... ada yang akhirnya mau jadi adiknya Mas Erik nih setelah sekian purnama " Goda Erik menaik turunkan alisnya. ...
Alya merona malu, apalagi Erik mengatakan sudah mendengar semua yang Ia katakan. Alya merutuki kebodohannya sendiri karena sudah mencurahkan isi hatinya tanpa memandang sekeliling dimana dirinya berada saat ini.
..." Ish Mas nguping ya, nggak boleh tahu. Itu dosa, mencuri rahasia orang lain " Bibirnya mengerucut membuat Erik merasa lucu. ...
..."Alya, kenapa takdir ini begitu kejam pada kita. Aku sangat berharap kamu yang akan menjadi adikku, dan entah mengapa hatiku sangat yakin hal itu, tapi.... tidak apa Al, apapun yang terjadi kamu akan tetap menjadi adikku, aku akan tetap menyayangimu. Tidak akan kubiarkan hal buruk terjadi padamu " Batin Erik. ...
__ADS_1
Tanpa sadar tangannya mengusap lembut rambut Alya dan memeluknya sangat erat, Ia merasa takut kehilangan. Alya yang mendapat perlakuan itu hanya diam mematung, Ia bingung melihat perubahan Erik, di wajahnya nampak raut kesedihan.
..." Mas..... " ...
Alya menggerakkan tubuhnya agar Erik bisa melepaskannya karena melihat kehadiran Pak Hendrik disana.
..." Mas, lepaskan pelukannya. Lihat disana ada Papamu " Bisik Alya karena Erik tak kunjung melepaskan pelukannya. ...
..." Erik " Panggil Pak Hendrik. ...
Erik menoleh dan menggeleng gelengkan kepalanya pelan.
..." Jangan paksa aku Pa, biarkan aku bersamanya. Beri aku waktu untuk semua ini, aku mohon Pa ! " Pinta Erik, matanya sudah memerah menahan tangis. ...
Hatinya benar-benar sakit untuk saat ini dan hanya Alya yang mampu membuatnya sedikit menghangat. Pak Hendrik mengangguk setuju, sebenarnya Ia pun memiliki perasaan yang sama, namun kenyataan yang ada sekarang ini tidak dapat di pungkiri begitu saja.
..." Alya, pergilah temani Erik. Hibur dia, hatinya sedang sedih " Hendrik tidak tega melihat hati Putra kesayangan nya hancur begitu saja. ...
Nampak olehnya kasih sayang Erik yang begitu besar pada Alya, namun hal itu harus Ia tepis. Erik harus sadar dan bisa menerima kenyataan kalau yang saat ini adalah hal yang seharusnya Ia terima.
Alya yang masih bingung hanya menurut saja, Ia mengangguk setuju dan mengikuti langkah kaki Erik yang sudah menggandeng lengannya lebih dulu.
..." Terimakasih Pa atas pengertian nya " ...
__ADS_1
Erik berkata ketika melewati sang Ayah, sementara Alya tersenyum pada Hendrik sebagai tanda permisi.