
Malam hampir larut ketika Sri dan Lucky pulang dari kontrakan Agnes. Lucky lebih memilih pulang ke apartemen dari pada ke mansion karena memang jaraknya yang lebih dekat.
Sri duduk di sofa empuk menghadap ke jendela kaca yang memaparkan bentangan pemandangan lampu kota berkelip di depannya. Lucky ada di kamar. Katanya lagi sibuk memeriksa beberapa berkas yang harus di diskusikan besok pagi.
Sri juga sebenarnya sedang menyiapkan laporan kerja yang harus di rapatkan besok bersama Noah dan rekan sedivisinya. Tapi ia teringat tentang Agnes lagi. Gadis itu sampai pingsan begitu mengetahui kalau Sri ternyata adalah istri Lucky.
Tadi mereka mengantar gadis itu sampai kedepan kontrakannya. Tidak terlalu besar tapi cukup baik keadaannya. Sri berulangkali mengingatkan Agnes untuk tidak cerita pada siapapun tentangnya dan Lucky. Sri hanya tidak mau teman-teman yang lain menjadi bersiap kaku dan akan menjauhinya karena segan.
"Sudah selesai?" Lucky memeluk Sri dari belakang.
Sri sedikit kaget karena melamun. Lalu tersenyum ketika Lucky mengecup pipinya. Pria itu bergerak memutar dan duduk berdesakan bersama Sri di sofa yang sama. Sri hanya terkekeh geli sambil memberi tempat untuk Lucky.
"Mase udah selesai?" Sri balik bertanya.
"Hem" pria itu mengangguk. Mengendusi rambut Sri dalam pelukannya. "Besok jadwal Ku sedikit longgar. Aku bisa memeluk mu sampai siang"
"Hihihi.. tapi Sri Ndak bisa mas. Sri ada rapat jam delapan"
"Ahhg.. Tinggalkan saja rapat itu" Lucky mendesah kesal.
"Ojo Lo mas. Ndak boleh gitu" Sri mengelus pipi Lucky.
"Hmm"
Lucky memutar bola matanya malas. Cemberut istrinya tidak bisa menemaninya sampai siang. Sri mengecupi pipi Lucky gemas.
"Sayang, kenapa teman mu itu sangat takut melihatku? Apa aku begitu menyeramkan?"
"Haha.. malah saking tampannya Mase, sampai mbak Agnes pingsan Lo mas"
"Benarkah?" mata Lucky bersinar senang. Sri tertawa renyah sambil mengangguk. "Tapi dia terlihat takut" masih saja penasaran.
"Emm... Mase tau?"
"Apa?"
Sri bergeser menghadap Lucky. Melipat kakinya bersila. Lalu menangkup wajah tampan suaminya dengan kedua telapak tangannya.
"Mase itu keterlaluan tampan dan gagah. Temen-temen Sri sampe bayangin gimana Mase kalau di ranjang"
"Hah?!" Lucky tercengang.
"He'em"
Sri tersenyum geli melihat wajah Lucky tercengang sambil berpikir. Sri gemas melihat itu. Mengecupi bibir suaminya berulangkali.
"Sampai begitu?"
"Iya. Siapa suruh terlalu tampan!" Sri mencubit gemas pipi Lucky.
"Eh.. kenapa jadi salahku lagi?"
"Makanya waktu itu Sri bilang sama Mase, Ojo tp tp"
"Tp tp? apa itu?"
"Tebar pesona. Soalnya semua mata cuma ada di satu titik. Cuma Mase!"
"Hahaa.. bukan salahku kalau mereka jadi ngiler, sayang. Dan aku juga tidak lihat mereka satu persatu, bukan?"
"Iya sih.."
"Wajah ini masih nomor satu bagiku" Lucky mengelus pipi Sri dengan sayang. "Dan bibir ini, masih canduku yang memabukkan" Mengusapi bibir Sri dengan tatapan lapar. Melu mat dan menjilatinya panas.
"Mas, kerja Sri belum siap" Sri sedikit menolak. Mendorong dada Lucky agar menghentikan aksinya.
"hmm.. Tinggalkan saja itu. Ini lebih penting"
__ADS_1
Lucky menggeram rendah. Langsung merobek baju Sri ganas. Gadis itu terpekik kaget. Entah sudah berapa banyak baju tidur dan pakaian da lamnya yang sobek akibat keganasan Lucky.
Dari robekan baju bagian depannya, menyembulkan gundukan yang masih tertutup bra. Gemas Lucky menaikkan penutup bewarna merah itu. Gundukan indah tak dapat di cegah lagi menantang di depannya.
Segera menyantapnya dengan lahap. Menge mut ujungnya sampai Sri terpekik dan meremas rambut belakangnya karena hujaman rasa hangat di dadanya.
Tubuh Sri selalu menjadikannya pecandu sejati. Tak pernah puas mencicipinya hanya sekali. Di dekat Sri, Tubuh Lucky selalu bereaksi. Jangankan berdekatan, memikirkannya saja sudah membuat tubuh Lucky selalu menegang panas.
Tak jarang Lucky meminta Sri untuk selalu bertelan Jang saja ketika bersamanya. Fantasy Lucky semakin liar ketika Sri menuruti segala yang ia inginkan.
Tubuh mungil Sri mampu membuatnya menggeram panas. Semua gaya telah mereka coba. Menggerakkan tubuh mungil Sri seperti keingannya. miring, telentang, tekuk, di atas, dan tak jarang menggendong sambil menghujamnya tanpa ampun sampai Sri berteriak nikmat.
Dan mulut mungil istrinya yang panas itu selalu dapat memuaskannya. Lucky seperti kesetanan saja jika sudah bersama Sri. Tak tahan menahan hasrat liarnya yang menggebu. Sri terkadang kewalahan menghadapi panasnya Lucky. Stamina primanya tidak gampang di taklukkan.
Seperti sekarang. Sri berada di atas pangkuan suaminya. Lucky menekan pinggul Sri kebawah dengan kencang. Menghujamnya keras sampai mentok. Sri melotot mendapatkan pelepasan yang kedua kali. Menggelepar kenikmatan.
"Aahhgg.. sayang.. kau memabukkan" geram lucky terengah.
Sri tak berdaya ketika merasakan bagian tubuh Lucky masih saja menggeliat di dalam intinya. Menggerakkan lembut sambil menggigiti pundak Sri.
"Maseee.. ampuunn..." Sri mende sah kelelahan.
"Hhhmmm.. jangan memohon kalau inti mu masih berdenyut ketagihan, Sri" desisnya menggeram rendah.
Menggerakkan pinggulnya di bawah Sri. Membuat Sri di pelukannya mengerang dan meremas rambutnya gemas. Lucky menarik bokong Sri lebih melebarkan jalannya. Terasa makin mengetat dan menyedot kencang. Lucky semakin menggeram kenikmatan. Menghujamnya lagi sedikit keras.
Sontak saja Sri terpekik kenjang. Sungguh besar dan keras milik Lucky menggapai setiap dinding otot semua titik-titik nikmat miliknya. Menegakkan tubuhnya lagi, membuat ujung dadanya tepat di depan lucky.
Tak membuang kesempatan, Lucky meraih ke dalam mulutnya. memainkan dengan lidah panasnya. Sri mendongak merem melek. Lucky menyelipkan kedua tangannya di bawah paha istrinya. Mengangkat tubuh Sri lebih keatas. Lalu dia menghujam dengan cepat. Meraih kenikmatannya juga.
Sri sampai meremas rambut Lucky keras. Wajah Lucky mendongak memperhatikan Sri yang meringis menahan nikmat.
"Kamu.. sukaa.. sayaaanghh.. Hmm??"
"Aahhgg.. maseee.. uuuhh.. mas Luuccckkky..!"
"Aargggghhh.. srriiii..."
š¹
š¹
š¹
Lucky masih tidur lelap. Permainan tadi malam di ulang lagi sampai dua kali menjelang subuh. Sudah tugas Sri untuk selalu melayani suaminya apapun keadaannya. Tak mengeluh dan mempermasalahkan itu. Lucky mampu membuatnya ketagihan dengan sikapnya yang selalu mesra dan panas membara sekaligus.
Hari ini Bu Nuri tidak masuk kerja, karena menunggui suaminya yang sakit. Wanita itu mengirim pesan pada Sri pagi-pagi sekali. Sri memaklumi. Setelah membuat sarapan pagi seadaanya, Sri bergegas mandi dan bersiap.
Menghampiri Lucky di ranjang yang masih tidur. Mengelus pipi suaminya dengan sayang.
"Mase, ayo bangun. Ini udah siang"
Lucky menggeliatkan tubuhnya. Merespon istrinya yang sudah rapi dan harum. Membuka matanya dan tersenyum.
"Hmm.. kamu harum sekali, sayang?" Menarik Sri dalam pelukannya.
"Sri udah kesiangan mas. Cepatan bangun. Ayo sarapan" Sri menggelinjang dalam pelukan Lucky.
"Aku pergi agak siang sayang. Kamu di sini saja" Lucky semakin mengetatkan pelukannya. Mengendus leher Sri gemas.
"Idiiihh... Ndak bosen apa mas, mesum terus?"
"tidak jika dengan mu"
Sri terkekeh. Gombal banget suaminya ini. Maunya mesum terus. Sri menggeser tangan Lucky. Melepaskan pelukan tangan kokoh itu
"Pak Karim udah nunggu di bawah, mas. Sri udah buat sarapan tadi. Sri buru-buru ini udah kesiangan. Mase bisa toh sarapan sendiri?"
__ADS_1
Lucky hanya diam duduk bersila memperhatikan istrinya. Senyum kecil mengembang di bibirnya. Istrinya selalu terlihat menggemaskan.
"Mase! denger Ndak sih?" Sri menatap Lucky gemas.
"Iya.. iya.. Aku dengar"
"Sri berangkat deluan ya mas?"
"Cium dulu" Lucky memonyongkan bibirnya. Meminta jatah ciuman pagi.
"Haduuhh... macem-macem wae toh maaass.."
Dengan mengomel, tapi tetap mendekati Lucky. Mengecup singkat bibirnya.
"Lho? kenapa sedikit?" Lucky mengernyitkan dahi. Menuntut ciuman lagi.
"Iihh.. Ganjen!"
Sri mengecup bibir Lucky lagi. Tapi Lucky langsung menariknya lebih dekat. Menyesap bibir mungil yang merah segar milik Sri. ******* habis sampai lipstick Sri hilang tanpa sisa. Melepasnya dengan gemas. Sri sampai kehabisan napas. Terengah dengan mata terbuka lebar.
"Ganas wae mas. Ora bosen opo Yo?"
"Kita ulang sekali lagi yuk?" Mata Lucky berbinar menggoda.
"Kyaaaaa .."
Sri berlari menjauh. Takut jika Lucky menariknya lagi. Membuat Lucky terkekeh lucu.
"Maaassee.. Sri berangkat dulu.. Mase jangan lupa sarapan yaaa.." teriak Sri dari luar kamar.
"Okeee..." Lucky menjawab seruannya juga dengan berteriak.
Geleng-geleng kepala dan tersenyum geli melihat kelakuan Sri si gadis nakal. Baru kali ini dia berteriak menyahuti omongan seseorang. Jika itu di mansion, pasti mami dan papinya sudah mengatakan itu tidak sopan. Tapi ini sri. Gadis itu selalu apa adanya. Sangat berbeda dengan kehidupan Lucky yang selalu teratur dan menjaga sikap.
Lucky bangkit dari tempat tidur dan menyambar selimut tipis. Melilitkan di pinggangnya. Menutupi tubuh polosnya yang belum mengenakan apapun dari subuh tadi. Permainan dengan istrinya sangat panas hingga tidak sempat menutupi bagian penting yang berkeliaran bebas.
Beranjak ke dapur dan melihat menu sarapan yang di sediakan sri. Tersenyum melihat roti isi di piring. Tersenyum hangat mengingat Sri masih sempat membuatkannya sarapan.
Memutuskan untuk mandi dulu. Beranjak ke dalam kamarnya lagi. Membuka selimut dan mencampakkannya ke tempat tidur. Suasana hatinya sedang baik. Asupan cinta yang di berikan Sri sampai beberapa ronde, mampu membuat pikirannya rileks dan tenang.
Sambil bersiul bersenandung mengguyur tubuhnya di bawah shower yang mengucur deras. Embun uap panas dari air shower mulai menyebar menutupi kaca pembatas kamar mandi. Segera menyabuni tubuhnya dan menuangkan shampo untuk rambutnya.
Cklek!
Lucky mendengar suara pintu terbuka dan tertutup. Sedikit mengernyitkan dahi mengira Sri kembali lagi. Sambil menggosok kepalnya yang sudah bershampo, Lucky berteriak memanggil.
"Sayaaang.. kenapa kembali?"
Tapi tidak ada jawaban. Lucky mengernyitkan dahinya. Berpikir mungkin Sri berubah pikiran dan ingin menghabiskan waktu bersamanya sampai siang nanti. Tersenyum membayangkan itu. Mungkin saja Sri ingin memberinya kejutan.
Dengan senyum penuh arti, Lucky melanjutkan ritual mandinya dengan segera. Menggosok rambutnya yang penuh buih shampo. Sampai ia mendengar Sri masuk ke dalam kamar mandi. Lucky tersenyum pura-pura tidak tahu.
Membelakangi pintu dan masih saja menggosok seluruh tubuhnya dan juga wajahnya. Sampai ia merasakan tubuh hangat mendekapnya dari belakang. Gundukan kenyal menekannya hangat. Sejenak ia berhenti bergerak.
"Hhmm.. kamu berubah pikiran, sayang? Masih mau lagi?" Lucky memejamkan matanya karena buih sabun masih ada di wajahnya.
Tangan hangat itu membelai perutnya dan berlabuh pada inti tubuhnya yang mulai menggeliat bangun. Menggeram rendah karena jari lentik itu bergerak mengelus dan mengo Cok agar tongkat bisbolnya berdiri tegak.
"Hehe.. mulai nakal kamu ya"
Tubuh Lucky di balikkan paksa. Kini Lucky menghadap pada Sri. Gadis itu mengucurkan air shower pada tongkat bisbolnya hingga buih sabun lenyap dari sana. Lalu Lucky merasakan sesuatu yang hangat menyapunya sangat lembut membuatnya menggeram dalam ******* tertahan.
Mereka sudah basah-basahan. Kini tongkat yang sudah mengeras sempurna itu merasakan kehangatan yang basah hampir setengah. Tubuh Lucky bergetar nikmat. Membiarkan kehangatan itu menghujam seluruhnya. Bergerak maju mundur.
"Aagghh.. Sriii... aku suka ini"
Mendongak dan mende sah keenakan. Tapi segera ia menarik rambut basah Sri, dan mengernyitkan dahi. Itu bukan rambut istrinya. Rambut Sri lurus dan pendek. Tapi rambut ini panjang dan berombak. Ini aneh!!
__ADS_1
Segera Lucky membasuh wajahnya dengan air. Masih merasakan remasan hangat pada tongkatnya. Segera ia menunduk melihat siapa yang memainkan peran istrinya di bawah tubuhnya.
"Hah!??!!"