OJO NGONO MAS'E

OJO NGONO MAS'E
Ban Kempes


__ADS_3

Merebahkan tubuh ke pinggiran sungai air terjun beralaskan bebatuan kerikil kecil dengan napas memburu. Meraup udara s banyak-banyaknya untuk memenuhi pasokan oksigen agar mengaliri paru yang kembang kempis akibat aktifitas panas tadi.


Menyelesaikan permainan dua ronde. Sri sampai megap-megap karena Lucky tak memberinya waktu istirahat. Tubuh keduanya dari pinggang ke bawah masih masuk ke dalam air. Kebetulan sungai air terjun berpasir landai.


Sri menggapai-gapai baju kaosnya yang berserakan di bebatuan. Berusaha untuk menutupi tubuh polosnya. Tapi Lucky menarik bajunya. Tidak mau Sri menutupinya.


"Jangan Mase! ntar ada orang yang dateng, gimana mas?!" Sri mendelik. Berusaha keras merebut baju basahnya dari tangan Lucky.


"Biar dulu, Sri. Tidak ada yang datang" Lucky masih kekeh menarik baju Sri.


"Jangan mas!"


Sri menyentakkan bajunya kencang. Akhirnya Lucky mengalah. Tubuhnya sendiri masih polos. Tongkat bisbolnya yang mulai tertidur di biarkan bergelantungan. Seperti cacing besar menggantung. Sri bergidik melirik itu. Teringat bagaimana tadi tongkat bisbol itu menggeliat di dalam tubuhnya.


"Mas, tutup dulu itu"


Sri melirik ke bagian bawah Lucky. Tapi pria itu cuek saja. Membiarkan tubuh polosnya yang berotot terekspos di depan istrinya.


"Nanti saja. Aku masih mau lagi"


Jawaban Lucky sukses membuat Sri melotot ngeri. Tadi saja dia sudah megap-megap. Durasi permainan Lucky seperti maraton keliling lapangan sepak bola Senayan.


"Ndak ah. Mase garang tenan" Sri beringsut. Memakai kaosnya lagi. Tapi tetap saja kaos putihnya tidak bisa menyembunyikan lekuk tubuhnya karena basah. Tapi setidaknya tidak sepolos Lucky.


Mendengar itu Lucky terkekeh. Sri selalu kewalahan menghadapi kemesuman Lucky yang selalu memintanya gaya baru. Maklum pengantin masih anget. Pinginnya yang aneh-aneh.


Lucky menggeser kepalanya ke paha Sri. Berbantalkan paha istrinya dan melihat kearah air terjun. Wajah mereka di hempas angin bercampur butiran air. Sri membelai rambut basah suaminya. Membenarkan letaknya yang berantakan. Menyisirnya dengan jari-jari tangannya.


"Gimana sayang? seru kan?" Lucky mendongak melihat wajah Sri di atasnya.


"Iya, tapi ntar kalau ada yang dateng gimana mas? Mereka bisa lihat kamu mesum" Sri cemberut.


"Hehehe.. biarkan saja"


"Isshh.. ngaco kamu mas"


Sri mencubit dada Lucky. pria itu kesakitan sekaligus geli. Tertawa renyah dan mengusap-usap bekas cubitan Sri. Sri mengambil celana pendek Lucky. Melemparkannya ke bagian tongkat bisbol itu.


"Pake dulu loh mas. Isshh kamu ini!" Sri gemas.


Lucky hanya terkekeh lagi. Tapi menurut saja. Memakai celananya dalam keadaan berbaring.


"Sudah di bilangin gak ada yang datang, Sri"


"Yakin banget Mase ih.."

__ADS_1


" Orang-orang sini sudah bosan lah kesini. Apalagi ini sudah sore. Mereka sudah pada pulang dari sawah"


Sri diam saja. Mereka sama-sama menatap air terjun di depannya. Sri mengelus rahang suaminya.


"Indah ya mas?"


"He'em"


"Mami asli sini toh mas?"


"Hem" Lucky mengangguk.


"Ternyata mami gadis desa juga ya" Sri bicara seperti menerawang menembus derasnya air terjun.


"Dulu, papi ada proyek ke sini. Ketemu mami"


"Kenapa Oma ndak di ajak ke kota aja mas?"


"Oma tidak mau. Katanya sedih kalau sampai ninggalin Beti"


"Beti?" Sri mengerutkan keningnya menunduk menatap wajah Lucky.


"Beti, sayang. Angsa-angsanya itu. Sudah berapa generasi namanya Beti semua"


"Mase, udah makin sore ini. Ayo kita pulang"


"Sekali lagi, sayang. Gaya terbang di udara belum"


"Hah? piye toh gaya terbang di udara?"


Wajah Lucky berbinar cerah. Bangkit dari rebahan lalu duduk menggenggam tangan Sri.


"Mau di coba?" Lucky menggerak-gerakkan alisnya naik turun. Tersenyum menggoda.


"Halaaahh.. padune mesum wae maaass.."


Sri langsung bangkit berdiri memakai roknya. Lucky terkekeh geli melihat penolakan istrinya. Sri hanya takut jika ada yang memergoki kemesuman mereka. Bisa gawat dan heboh orang sekampung.


Lucky mengalah. Memakai baju basahnya lagi dan menggandeng tangan Sri berjalan meninggalkan lokasi air terjun. Mereka berdua berjalan menyusuri jalan setapak tadi. Sesekali bercanda dan saling mencubit. Terlihat seperti dua anak remaja desa yang sedang mencuri waktu untuk saling bertemu dan memadu kasih.


Tapi senyum dan candaan itu langsung lenyap begitu sampai di tempat sepeda ontel di parkir. Lucky segera memeriksa ban sepeda yang ternyata kempes.


"Sial! bannya kempes, sayang"


"Kita Ndak bisa pulang dong mas?"

__ADS_1


"Ya bisa. Tapi kita harus jalan kaki"


"Huh.. itu makanya. Mase mesum sih. Kuwalat kan?" Sri memukul lengan Lucky.


Lucky terkekeh menangkap tangan Sri yang memukulinya gemas. Dengan terpaksa menuntun sepeda sampai ke jalan depan. Tapi jalanan terjal berbatu tanpa aspal itu cukup jauh untuk bisa mencapai jalan utama.


Sri tampak kelelahan. Apalagi tadi tenaganya sudah terkuras habis. Kini harus berjalan jauh pula. Lututnya gemetar. Lucky kasihan melihat Sri kelelahan. Mempercepat langkahnya sampai ke jalan utama.


Sesampainya di jalan beraspal, Lucky segera mencari siapa tahu masih ada petani yang belum pulang. Dan dia melihat ada seorang bapak di gubuk Pinngiran sawah.


"Sebentar sayang. Aku ke sana dulu ya?"


Lucky segera pergi kesana. Meninggalkan Sri dan sepeda ontel dalam keadaan bannya kempes. Tak berapa lama Lucky kembali lagi bersama bapak yang di gubuk tadi.


"Ini pak sepedanya. Saya titip ya pak?"


"Ohh... iya iya tuan. Biar saya yang urus. Nanti pak Edi saja yang ambil"


Lucky mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Lalu meninggalkan sepeda ontel pak Edi pada bapak tadi. Lucky merasa menyesal tadi tidak bawa ponsel karena terburu-buru takut kepergok Oma. Jadinya tidak bisa menghubungi untuk minta di jemput.


"Sayang, ayo naik sini" Lucky menunjuk punggungnya.


"Mau ngapain mas?"


"Biar aku gendong"


"Ndak usah mas. Sri masih kuat jalan kok"


"Jangan. Nanti kaki kamu sakit. Bisa gawat. Oma pasti memukul ku kalau melihat kamu kelelahan. Udah ayo"


"Tapi masih jauh Mase. Opo Mase tahan?"


Lucky meraih dagu Sri. Tersenyum sayang menatap istrinya.


"Membawa mu ke surga dunia saja aku sanggup, Sri"


Sri tersipu malu. Menuruti apa yang di perintahkan Lucky. Lucky berjongkok lalu Sri menempatkan diri di punggung Lucky dan Mengalungkan tangannya ke leher suaminya. Lalu Lucky bangkit dan menggendong Sri di belakangnya.


Langit sore sudah mulai memaparkan warna jingga. Menunjukkan sebentar lagi gelap menyapa. Dua insan saling bercanda menyusuri jalanan dengan pemandangan petakan sawah sejauh mata memandang.


Mereka berdua sangat menikmati momen ini. Di kota mana bisa Lucky begini. Banyak aturan yang harus ia terapkan. Sibuk dengan pekerjaan. Lagi pula, kalau mereka sampai gendong-gendongan begini, pastilah orang yang melihatnya geleng-geleng kepala. Seorang CEO dan pengusaha sukses sudah sinting dan lebay akut memanjakan istrinya.


Sri tersenyum melihat mendengarkan Lucky bercerita masa kecilnya di desa Oma. Sesekali Sri tertawa. Hatinya sangat berbunga-bunga di perlakukan Lucky bak seorang kekasih yang sangat mencintai dirinya.


Berdebar merasakan cinta yang semakin melonjak tinggi untuk Lucky. Mengetatkan rangkulannya di pundak dan leher suaminya. Menyandarkan kepalanya di punggung kokoh milik Lucky. Hatinya berdebar penuh cinta. Memejamkan matanya menikmati betapa cinta itu hadir semakin pesat. Dan berharap semoga suaminya merasakan hal yang sama dengannya.

__ADS_1


__ADS_2