
Pertemuan dengan Amira membicarakan show-nya di Paris, berjalan lancar. Dari mulai biaya sponsor Sampai menyediakan sponsor dari Perancis sendiri, Lucky menyanggupinya. Ini semua adalah cita-cita Amira dari dulu. Dan Lucky akan mewujudkannya.
Banyak biaya yang perlu disiapkan mulai dari bayar untuk membeli slot fashion show, makeup, tim PR, videografer, hingga akomodasinya. Bahkan untuk penentuan lagu yang dipakai saat fashion show juga perlu berhati-hati karena bisa membayar lebih jika tak izin.
Semua sudah rampung dibicarakan. Semua bawahan Amira telah pergi. Tinggal Beni yang masih bersama mereka. Sibuk mengetik di laptopnya.
Lucky melirik Amira yang masih mengetik di gawainya. Mencari cela untuk bicara masalah pribadi. Tapi Lucky belum menemukan waktu yang tepat. Atau lebih tepatnya, dia bingung harus memulai dari mana.
Amira mendongak melihat kearah Lucky. Agak mengerutkan keningnya melihat ekspresi serius di wajah pria tampan kekasihnya itu. Tersenyum ketika mata mereka bertemu.
"Ada apa sayang? kau terlihat masih serius, bukankah semua sudah deal?" tanya Amira sambil menyentuh tangan Lucky. Meremasnya pelan.
Ditanya begitu, Lucky sedikit tak enak hati. Bagaimana Amira akan menerima jika ia berniat memutuskan hubungan mereka? Atau menunggu selesai acara di Paris saja? tapi itu terlalu lama.
Dengan diamnya Lucky, Amira bergerak mendekatinya. Menyentuh pipi Lucky dan duduk di pangkuan kekasihnya. Tak peduli masih ada Beni bersama mereka.
"Ada yang ingin kau katakan, Luck?" Amira mengulangi pertanyaannya.
Lucky melirik Beni yang menjadi kikuk duduk di seberang meja. Beni merasa risih dengan kelakuan Amira yang selalu tidak menganggapnya ada. Beni mengerti apa arti tatapan Lucky. Dia membereskan berkasnya dan menutup laptopnya. Lalu permisi keluar dari ruangan.
Amira melirik dari sudut ekor matanya. Melihat Beni sudah keluar, kembali fokusnya pada Lucky. Menatap dengan senyum paling manis yang ia punya.
"Sekarang katakan. Kau ingin diri ku?" tanya Amira sarat makna di balik pertanyaannya barusan. Mengelus rahang keras milik Lucky dengan mesra.
"Sebenarnya.. aku ingin bicara dengan mu" jawab Lucky menatap manik mata gadis cantik ini.
"Haha.." Amira tertawa renyah sampai dagunya naik keatas. Menampilkan leher jenjangnya di depan Lucky. Leher yang selalu di kecup Lucky saat mereka bermesraan. "Aku di depan mu sekarang, sayang. Jadi.. katakan saja. Apa ini begitu sulit?"
Lucky meneguk salivanya kasar. Tak sampai hati mengatakan apa yang ada di benaknya sekarang. Tidak munafik jika dia masih mencintai Amira. Tidak ada masalah besar sebelumnya di dalam hubungan mereka. Tapi kini mereka harus berpisah di saat Amira sangat membutuhkannya. Ada rasa sesal di dalam hati Lucky. Merasa bersalah yang kuat.
__ADS_1
"Amira, ini cita-cita mu bukan?" suara Lucky agak sedikit gemetar. Ngeri membayangkan reaksi Amira nanti.
"Hehem?" Amira bergumam penuh tanda tanya. Mengernyitkan alisnya dan menggerakkan bola matanya, seakan berpikir aneh jika Lucky menanyakan masalah ini. Bukannya Lucky sudah tahu apa yang di inginkannya dari dulu?
"Dan kau akan mendapatkannya" sambung Lucky lagi.
"Iya. Itu semua berkat dirimu, sayang. Bagaimana aku tidak semakin jatuh cinta padamu? Kau sungguh mengerti diri ku"
Amira mengusap bibir Lucky dengan ibu jarinya. Menatap mesra pada netra hitam pekat di depannya. Mengecup kecil di bibir Lucky. Membuat hati Lucky semakin berdesir nyeri. Entah apa yang di harapkan Lucky saat ini. Hatinya jungkir balik.
"Sayang.. Aku mau.."
Kata-kata Lucky menggantung. Sungguh dia tidak sampai hati pada Amira. Tapi lain lagi dengan Amira. Dia merasa Lucky ingin memberinya kejutan lain yang lebih membahagiakannya. Menginginkan tubuhnya mungkin? jika itu yang Lucky mau, Amira akan dengan senang hati melayani Lucky sampai pria ini menyerah.
"Sayang.. Katakan saja. Kenapa harus membuat ku penasaran?" rengek Amira manja. Menarik dasi Lucky dengan bibir mengerucut kecil.
"Aku kira, kita tidak bisa meneruskan hubungan ini Mira"
Akhirnya petir itu menyambar dada Amira dengan dahsyat. Amira tersentak kaget. Matanya membulat sempurna menatap mata Lucky. Tubuhnya menegang dengan wajah pias.
"A-apa.. A-aku t-tidak salah de....ngaar?" Amira tergagap saking tubuhnya membeku. Kepalnya terasa enteng dan melayang mendengar keinginan Lucky. Otot tangannya mengetat menarik dasi Lucky.
"Sayang, maafkan aku. Aku harus memilih diantara kalian berdua. Kita tidak bisa begini terus. Aku merasa sangat berdosa dengan kalian berdua"
Lucky menagkup wajah pias amira. Khawatir gadis itu akan langsung pingsan mendengar keinginannya.
"Memilih? Memilih apa?" tanya Amira dengan bibir gemetar menahan tangis. Dia tidak percaya Lucky akan membuangnya secepat ini. Yang dia tahu selama ini Lucky sangat mencintainya dan tidak bisa berpisah. Tapi sekarang?
"Memilih diantara kalian berdua" jawab Lucky.
__ADS_1
Mata Amira memanas. Air mata berdesakan keluar dan mengalir di pipinya. Hati Lucky terasa sakit melihat Amira rapuh seperti ini. Gadis itu menepis tangan Lucky dari wajahnya. Dia bangkit berdiri dari pangkuan Lucky. Berjalan limbung memegangi tepian meja.
"Dan kau memilih dia?" tanya Amira. Suaranya semakin bergetar.
Lucky bagaikan batang pohon mati yang masih tegak berdiri. Kaku. Semua perangkat di tubuhnya terasa kaku. Hatinya sakit melihat Amira tersakiti. Amira menatap Lucky nanar. Hatinya tersayat sembilu atas keputusan Lucky.
"Jangan katakan kalau kau sudah menidurinya Luck!" geram Amira tertahan. Matanya sudah di banjiri air mata kepedihan. Menatap Lucky menuntut jawaban. Dan yang lebih menyakitkan lagi, Lucky mengangguk lemah memberi jawaban dari pertanyaan Amira.
"Aahh.."
Amira menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Menangis tersedu. Tubuhnya luruh kelantai. Anggukan kepala Lucky berkejaran di dalam otaknya. Lucky bergerak mendekati Amira. Merengkuh tubuh Amira kedalam pelukannya.
"Maafkan aku sayang. Tapi ini harus terjadi. Kita tidak bisa melanjutkan dosa ini. Maafkan aku"
Amira terisak pilu. Apalagi yang harus dia lakukan sekarang? Kekasihnya sudah memutuskan hubungan mereka karena telah beristri. Dan Lucky sudah memetik madu dari istrinya. Itu tidak dapat terelakkan.
"Kenapa harus aku, Luck? kenapa bukan dia?" Amira mengurai pelukan Lucky dan menatap netra hitam itu.
"Karena dia istri ku" jawab Lucky.
Berkali-kali petir menyambar dengan suara dentuman keras di hati Amira. Telinganya sampai berdenging mendengar jawaban Lucky yang sangat menyakiti hatinya. Sia-sia semua yang telah di tinggalkannya demi Lucky. Tapi kini, dia tidak di lirik lagi.
"Amira, aku akan menanggung jawabi semua kebutuhan mu di Paris nanti. Itu hadiah ku untuk mu sayang. Aku minta maaf karena telah merobek janjiku sendiri. Tapi ini harus terjadi. Aku tidak bisa meninggalkan Sri. Dia istri sah ku. Aku harap kamu mengerti"
Lucky mengelus kepala Amira dengan sayang. Cinta itu masih ada. Tapi kini lebih banyak di penuhi dengan satu nama. Sri.
Lucky mengusap air mata Amira. Tangannya bergetar. Ia juga sedih harus menyampaikan ini pada Amira. Tapi tidak ada jalan lain. Dia harus memutuskan sekarang juga.
Amira menepis tangan Lucky. Bangkit berdiri dengan susah payah. Dia benci ini. Lucky lebih memilih gadis kampung itu ketimbang dirinya. Menatap Lucky marah tapi merasa percuma untuk menyalurkan amarahnya.
__ADS_1
Amira mengambil tasnya lalu keluar dari ruang meeting ini. Pergi meninggalkan Lucky dengan beribu sara benci. Lucky hanya diam menatap pintu yang sudah tertutup. Dia juga sedih. Tapi mau bagaimana lagi? Sri adalah istrinya. Dan candu baginya.