OJO NGONO MAS'E

OJO NGONO MAS'E
Teh Hijau


__ADS_3

Bagaimana rasanya cinta bersambut? tentu saja berjuta keindahan rasanya. Begitulah yang di alami Lucky dan Sri. Dua manusia berbeda dari segala sisi. Si wanita biasa-biasa saja, dan si pria memiliki sejuta pesona.


Tapi jika cinta sudah melekat, pasti tidak akan ada yang bisa menghalangi. Keduanya di mabuk cinta. Rasanya seperti baru semalam menjadi pengantin baru. Pucuk cinta bermekaran di hati masing-masing.


Lucky tidak ingin melepaskan istrinya sedikitpun. Makan malam pun di lakukan di kamar. Pak Sam membawakan makan malam untuk mereka berdua. Sepiring berdua dan suap-suapan.


Sri dengan telaten mengurus suaminya. Setelah selesai makan, Lucky pergi keruang kerjanya. Mengerjakan sesuatu yang harus di periksa ulang untuk besok. Dan Sri, menerima panggilan video call dengan ibu mertuanya.


Melani bilang, akan pulang dua hari lagi. Tapi papi Frans tidak ikut. Masih ada yang harus di selesaikan di Singapura. Tentu saja Sri sangat senang mendengar itu. Rasa rindunya terobati.


Setelah Melani memutuskan panggilan, Sri keluar dari kamar. Ingin membuatkan Lucky teh hijau. Suaminya itu kalau sedang bekerja selalu lupa waktu. Sri ingin menemani Lucky kali ini.


Menuruni tangga ke lantai bawah. Menuju ke dapur di sebelah kanan mansion. Tapi lamat-lamat dia mndengar pak Sam berbicara dengan seseorang. Sepertinya lelaki tua itu sedang marah.


Sri mengurungkan niatnya ke dapur. Memeriksa di bagian kiri dapur. Setelah dekat, Sri dapat melihat pak Sam marah pada Nita. Pelayan yang bertugas membereskan lantai bawah.


"Kamu di gaji bukan untuk bergunjing. Siapa yang mengatakan itu pada mu?" tanya pak Sam dingin.


"Maaf pak. Tapi benar bukan saya yang mengatakan itu" Nita tertunduk takut.


"Bukannya tadi saya tanya siapa yang mengatakan pada mu?"


"Maaf pak" Nita sudah ingin menangis.


"Jawab! siapa yang mengatakan itu?!" bentak pak Sam tegas.


"Hiks.. hikss.. Lina, pak" Tampak Nita gemetar takut dan menangis.


Pak Sam menatapnya dengan kejam. Tampak sangat marah pada Nita. Sri terpaku melihat itu. Entah apa yang sudah di lakukan Nita, sampai pak Sam semarah itu.


Tak tahan Sri melihat Nita gemetaran karena takut. Menangis terisak tertahan tidak berani mengencangkan suaranya. Sri mendekat.


"Pakne, ada apa ini?"


Tampak Nita menahan tangisnya. Cepat membungkuk hormat melihat Sri datang. Dan pak Sam juga membungkuk hormat pada Sri.


"Maaf nona. Pelayan ini tidak bisa menjaga mulutnya" Jawab pak Sam.


"Memangnya cerita masalah apa pak?" Sri penasaran.

__ADS_1


Pak Sam diam. Tidak menjawab pertanyaan Sri. Dan Nita, semakin gemetaran saja. Nyonya rumah sudah datang. Dan pasti akan semakin marah.


"Ada apa ini, Nita?" Sri melihat Nita yang sudah sesak napas karena ketakutan.


"Ma-ma-af, nona Sri. Bukan dari saya. Tapi Lina" Nita menunjuk pada Lina, seorang pelayan lain yang ada di paviliun belakang.


"Iya, tapi tentang apa?" Sri semakin penasaran saja.


Nita melirik pada pak Sam. Dan pak Sam hanya menatapnya tajam.


"Maaf nona. Tadi Lina bilang, kalau.. Kalau nona itu.. " Perkataan Nita menggantung. Melirik Sri dan pak Sam takut-takut. "Nona Sri... sebenarnya orang susah dari kampung"


Sri terhenyak mendengar itu. Pelayan di mansion ini menggunjing tentangnya. Dan pasti pak Sam memergoki itu.


"Ini peringatan terakhir untuk mu. Jangan pernah lagi menggunjing tentang tuan rumah. Itu di larang! kalau sampai saya mendengar itu lagi, maka kalian berdua di pecat!" Sentak pak Sam kejam.


"Maafkan saya nona Sri. Sungguh bukan saya yang memulai" Nita berlutut di depan Sri. Merangkul kaki Sri memohon maaf.


Sri kaget melihat Nita melakukan itu. Segera menarik Nita untuk berdiri. Nita bangkit dengan tersengguk sedih.


"Sudah pak Sam. Ndak usah di perpanjang" Sri menepuk-nepuk pundak Nita. Menenangkan tangis pelayan itu agar berhenti. "Sudah mbak Nita. Ndak apa-apa. Saya memang orang biasa. Ndak kaya, dan juga Ndak miskin. Ndak ada masalah toh?" Sri tersenyum menatap Nita.


"Wes.. balik aja ke kamar Mbak Nita. Ndak apa-apa"


Nita melirik pak Sam lagi. Meminta persetujuan lelaki tua itu atas perintah nona majikannya. Pak Sam hanya diam tak menyambut tatapan Nita. Tapi Nita segera membungkuk mengucapkan terimakasih pada Sri, dan tergesa pergi ke paviliun agar tidak kena omelan pak Sam lagi.


"Sudah pak Sam. Ndak usah di marahi begitu. Memang bener toh, Sri ini gadis kampung" Sri tersenyum pada pak Sam.


"Seharusnya mereka mendapat hukuman berat, nona" pak Sam merasa keberatan.


"Ndak apa-apa, pak. Lebih baik sekarang, bantu Sri buat teh yuk, untuk Mase"


Sri segera beranjak ke arah dapur. Pak Sam mengikuti sambil memanggil beberapa koki untuk menyediakan apa yang di inginkan Sri. Mereka masuk ke dapur. Dapur luas lengkap dengan berbagai peralatan memasak. Sri sampai bingung di mana tempat menyimpan teh.


Tak berapa lama, dua orang koki sudah masuk dan berdiri berjejer di depan Sri. Sri hanya menatap mereka heran.


"Lho, pak Sam. Kita cuma mau buat teh hijau. Bukan mau masak acara arisan pak" Sri melihat pak Sam dengan heran.


"Mereka siap membantu, nona Sri" ujar pak Sam.

__ADS_1


"Lhaa.. wong sugeh yo.. nggae teh wae mesti pake koki. Hihihii.." Sri terkikik geli sendiri.


Kedua koki itu tersenyum melihat nona majikannya terkikik geli. Pak Sam memerintahkan salah seorang dari mereka untuk membantu Sri. Sri hanya bisa geleng-geleng kepala dan ikut memperhatikan koki membuat teh hijau untuk Lucky.


"Nona, begini caranya menyeduh teh hijau yang baik dan benar" ujar koki itu memperaktekan cara menyeduh teh hijau di depan Sri.


"Pertama, gunakan air dengan suhu yang tepat. Suhu air yang mendidih biasanya terlalu panas untuk membuat teh hijau. JIka suhu air terlalu panas, teh akan terasa pahit. Sebaliknya, jika suhu air terlalu dingin, rasa teh tidak akan keluar dengan sempurna. Suhu air untuk menyeduh teh hijau adalah antara 160 dan 180 derajat celcius"


Sri terbengong sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal mendengar penjelasan panjang lebar itu. Ora melebu neng akal blasss!!


"Apa harus pake pengukur suhu, ya pak?"


"Hehehe.. Nona Sri bisa saja" koki yang bernama Gian itu terkekeh.


Pak Sam menyunggingkan senyum simpul mendengar pertanyaan Sri.


"Nah.. setelah suhu air di rasa cukup, sekarang kita masuk pada waktu menyeduhnya" ujar Gian lagi. Memperaktekan di depan Sri.


"Lebih sedikit waktu menyeduh akan mencegah daun teh hijau melepaskan rasa sepenuhnya, tetapi lebih banyak waktu akan menghasilkan rasa pahit. Oleh karena itu, disarankan untuk menyeduh teh hijau selama 2-3 menit. Caranya, seduh teh selama 2 menit lalu cicipi setiap 30 detik setelahnya sampai kita mendapatkan rasa yang diinginkan"


"Eehh.. sek sek pak.. Iki piye toh? Kalau di cicipi setiap tiga puluh detik, Yo habis tehnya pak. Mase Ndak jadi minum dong" Sri menarik tangan koki untuk mencicipi rasa tehnya.


"Hahahaaa.."


Kali ini pecah tawa pak Sam. Lelaki tua yang selalu menunjukkan wajah kaku dan tegas di hadapan semua bawahannya di mansion ini, tak tahan melihat kepolosan Sri. Dia terkekeh geli tak menyembunyikan wajah bahagianya di depan Sri, dan koki bawahannya.


"Nona Sri, saya hanya mengajarkan pada anda saja. Nanti nona sendiri yang menuangkan tehnya pada tuan Lucky, nona"


"Oohhh..." Sri manggut-manggut sambil nyengir cengengesan.


"Setelah itu, nona tinggal tambahkan madu"


"Sudah?" tanya Sri.


"Sudah, nona"


"Lhaa.. Yo serupo koyok bune ku nggae Iki lho pak. Yang beda, cuma derajat airnya"


"Hahahaa.."

__ADS_1


Mereka semua tertawa mendengar itu. Nona majikan mereka ternyata wanita yang supel. Apa adanya. Tidak sok kaya karena sudah menjadi istri dari seorang konglomerat. Mereka menyukai sikap ramah Sri.


__ADS_2