OJO NGONO MAS'E

OJO NGONO MAS'E
Barter


__ADS_3

Sudah tahu bagaimana rasanya cemburu 'kan maseee?? sakit tidak? nyesek? Haha.. Ya begitulah yang di rasakan Lucky saat ini. Duduk di mobilnya bersama Beni yang hanya mampu menunduk tidak berani berkomentar ketika Lucky bersungut-sungut kesal.


Hampir saja tadi Lucky tidak bisa menahan emosi jiwa ketika Dila memberi semangat pada Lukman untuk tetap berusaha mengambil hati Sri dan menaklukan suami yang di akui Sri hanya sebagai tukang ojol.


Tangannya mengepal erat. Wajahnya muram. Kilatan bengis tergambar jelas di mata Lucky. Merasa menjadi seorang Presdir dan suami sekaligus, tapi tak berdaya untuk bertindak di depan Sri. Harus menjaga perasaan istrinya jika dia langsung menghajar mulut-mulut usil teman-teman Sri.


Tapi, apa yang harus di marahkan? bukankah itu adalah kesalahan masa lalu yang harus di tanggung Lucky? Sri tidak salah jika mengakui suaminya hanya sebagai ojol. Bukankah dia dulu juga tidak mau jika ada orang yang tahu pernikahan mereka?


"Brengsek! aku hanya seorang ojek online! iisshh.." Lucky meninju jok depan. Geram sekali jika dia memikirkan itu.


Beni hanya diam saja. Membiarkan tuannya meluapkan amarah yang sedari tadi di tahan. Lucky memalingkan wajahnya menatap kerumunan tukang ojek yang banyak mangkal di depan gedung mall untuk menunggu penumpang.


Berderet berjubel di pinggir jalan. Warna hijau mendominasi dengan beragam motor yang mereka tumpangi. Bersiap di atas motor dan mengecek ponsel mereka masing-masing. Hati Lucky terenyuh melihat itu. Amarahnya mereda. Tiba-tiba saja menguap tanpa sisa.


Betapa para supir ojol berjibaku mencari rejeki untuk anak dan istri mereka. Berpeluh ria dan menahan dinginnya angin dan banyak debu jalanan. Itu semua hanya untuk menyambung hidup. Jadi, kenapa Lucky harus marah jika Sri mengatakan suaminya hanya seorang supir ojol? tidak ada salahnya bukan?


Dan mana mungkin Lucky bisa lupa kejadian ketika pertama kali dia membawa Sri ke apartemennya. keamanan gedung sampai mengira Sri adalah seorang pelayan baru. Apa dia tidak berpikir, bagaimana perasaan Sri jika mendengar itu? pasti sama seperti perasaannya sekarang.


Ketika masih mengamati para ojol yang berjubel di depan mall, Lucky melihat Rian di seberang jalan. Pemuda itu juga sama. Sebagai supir ojol. Lucky bisa tahu itu dari jaket hijau yang di kenakan Rian. Otaknya langsung melesat memikirkan sebuah ide yang belum pernah ia lakukan seumur hidupnya.


"Ben. Kau lihat itu?"


Beni mengikuti arah yang di tunjuk Lucky. Lalu mengangguk.


"Itu pemuda yang kemarin, tuan"


"Ya. Cepat cegat dia"


Beni bingung. Untuk apa mencegat Rian? apa tuannya ini mau menghajar pemuda itu lagi?


"Tapi.. untuk apa tuan?" Beni masih terbengong.


"Ah.. cepatlah Ben. Bawa dia kemari sebelum dia pergi!" sentak Lucky.


Beni segera bergegas keluar dari mobil. Sekalipun belum mengerti maksud Lucky, tapi Beni menurut saja. Agak berlari tergesa menghampiri Rian yang masih menunggu untuk bisa masuk ke halaman depan mall karena macet.


Lucky hanya memperhatikan dari dalam mobil. Beni terlihat mencegat Rian dan berbicara sebentar. Rian tampak menolak dan sedikit marah. Beni masih bernegosiasi dengannya. Rian melihat ke arah mobil Lucky, lalu mengangguk menyetujui.


Rian mengikuti Beni menuju mobil Lucky. Menerobos kemacetan di depan mall. Setelah dekat, Lucky langsung turun. Rian tampak waspada melihat Lucky berdiri di depannya.

__ADS_1


"Hai Rian" sapa Lucky canggung. Mencoba bersikap seramah mungkin walau terlihat kaku.


"Ada apa memanggil ku?" tanya Rian dingin.


"Maaf mengganggu mu. Saya melihatmu akan masuk ke sini tadi. Apa kau akan menjemput Agnes?"


Rian memicingkan matanya sejenak. Ada rasa curiga yang kental di tunjukkan Rian.


"Bagaimana anda tau?" tanya Rian menyelidik.


"Hmm.. iya atau tidak?" Lucky mulai tak sabar. Sikap Rian terlihat tengil di matanya.


"Kenapa? saya bukan mau menjemput Sri, tuan. Kenapa anda keberatan?" Rian juga menunjukkan rasa tak senang.


Lucky menghela napas berat. Menunduj memejamkan mata, dan memijit keningnya sesaat. Ada rasa pening menyerangnya saat ini juga. Rian menunjukkan sikap permusuhan yang kental.


"Oke, baiklah.." kembali Lucky menghela napasnya kasar. "Begini.. aku ingin menawarkan sesuatu pada mu"


"Apa?"


"Emm.." Lucky berhenti sejenak. Memperhatikan jaket yang di kenakan Rian. "Apa kau punya jaket lain selain ini?" Lucky menunjuk jaket ojol yang di kenakan Rian.


Rian mengernyitkan alisnya. Tidak mengerti apa maksud Lucky menanyakan jaketnya. Lalu menggeleng keras.


Lucky langsung saja membuka jasnya. Menyerahkan di depan Rian. "Ini. Pakailah. Kita barter"


"Hah?" Rian terbengong.


Lucky melirik ke depan pintu masuk mall. Rombongan Sri sudah sampai di sana. Pasti menunggu jemputan. Lucky segera saja menyerahkan jasnya lagi kedepan Rian.


"Buka jaket mu. Kita barter"


šŸ’–


šŸ’–


šŸ’–


Sepanjang jalan keluar dari mall, Agnes dan Sri selalu berkasak kusuk. Sementara Lukman masih mengikuti mereka sampai keluar mall. Masih belum menyerah untuk bisa memberi tumpangan pada Sri.

__ADS_1


"Sri, gimana ini? Aku kan gak bawa motor. Lagi di bengkel. Aku tadi udah bilang ke Rian untuk jemput. Kamu gimana?" Bisik Agnes.


"Aduh... Sri juga bingung mbak Nes. Ndak mungkin di jemput pak Karim toh? entar malah santer gosipnya. Mase juga pasti udah pulang deluan. Ngambek dia, mbak" jawab Sri dengan wajah cemas.


"Kalau kita naik taksi, entar Lukman pasti nawarin naik mobilnya. Kalau suamimu tau, perang Sri!"


Sri menekuk wajahnya. Melirik Lukman dan teman-temannya yang masih mengobrol. Mereka sudah tiba di depan pintu masuk. Suami Dila juga belum datang. Mereka berdiri berjejer.


"Suami mu belum datang, Dil?" tanya Lukman.


"Iya nih. Tadi katanya udah dekat sini kok. Mungkin bentar lagi" Dila celingak-celinguk mencari keberadaan suaminya.


"Atau, naik mobil ku aja, Dil" Lukman memberi tawaran.


"Wah.. aku nggak deh, Luk. Entar suami ku nyampe, jadi gak ketemu. Kasihan. Nih.. Sri sama Agnes aja" Dila menunjuk Sri dan Agnes.


"Eh.. gak usah mbak. Aku ntar di jemput temen juga kok" Agnes segera menolak.


"Hmm.. kalian ini. Ada tumpangan gratis malah pada nolak" Boby menimpali.


"Kamu, Sri?" Lukman menatap Sri dengan senyum manis.


"Eh.. anu kak.. Sri di jemput suami juga kok" Sri berbohong untuk menolak Lukman.


"Jam segini mungkin suamimu lagi kerja, Sri. Kita searah. Lebih baik ikut aku saja" Lukman masih menawarkan bantuan.


Sri bingung harus menjawab apa. Lukman masih gigih berusaha. Tapi Sri bertekad untuk tidak membuat Lucky lebih marah lagi. Lebih baik menunggu sampai Lukman menyerah dan pergi.


"Ndak usah kak. Makasih" Sri mencoba tersenyum menolak tawaran manis dari Lukman.


Lukman tampak sangat kecewa. Membalas tersenyum dengan kecut. Dila dan Niar cekikikan melihat Lukman mangkel karena penolakan Sri terus-menerus.


"Ah.. itu teman ku datang" seru Agnes.


Mereka semua menoleh ke arah datangnya motor Rian. Agnes kenal betul motor Rian. Melihat motor Rian sudah memasuki halaman depan mall. Pemuda itu memakai helm yang menutupi wajahnya, dan jaket ojolnya. Dan Sri juga tercengang melihat ada mobil Lucky di belakang motor Rian. Ketegangan langsung tergambar di wajah Sri.


Tapi setelah motor Rian semakin mendekat, Agnes segera menyadari ada kejanggalan pada body Rian. Tubuh Rian tidak sebesar dan Sekokoh itu. Dan sekarang Rian memakai sepatu pantofel! Aneh!!


Motor Rian berhenti tepat di depan mereka. Dan mobil Lucky tepat di belakang motor Rian. Sri semakin tegang saja. Ada rasa ngeri membayangkan reaksi teman-temannya jika benar Lucky turun dan menyuruhnya naik ke mobil. Pasti ketahuan deh!

__ADS_1


Tapi ada yang lebih membuat Sri dan Agnes terlonjak kaget hampir pingsan. Ketika Rian membuka kaca helm gelap yang menutupi wajahnya, Sri hampir berteriak kencang. Itu bukan Rian. Melainkan Lucky dengan senyum mengembang di bibirnya, dan mengedipkan sebelah matanya dengan genit.


"Hai sayang.. Maaf menunggu lama"


__ADS_2