OJO NGONO MAS'E

OJO NGONO MAS'E
Keluarga Albronze 2


__ADS_3

Kakek Fredi meminta Noah membantunya untuk bangun. Semua orang protes atas keinginannya itu. Tapi kakek Fredi terus memaksa. Dengan berat hati semua orang membiarkan saja. Noah membantunya bangun dan mendudukkannya di kursi roda.


"Lucky. Maukah kau membawaku ke bawah? aku sangat ingin makan malam dengan kalian" Fredi menatap Lucky memohon.


Lucky melirik papi dan maminya sesaat. Terlihat Melani mengangguk dan memberinya senyum hangat. Lucky beranjak mendekat dan mendorong kursi roda Fredi pelan-pelan.


Mereka semua beranjak keluar dari kamar. Melani dan Vira membantu nenek Liana berjalan. Lucky membawa kakeknya menuju lift untuk turun kelantai bawah. Begitu melihat pintu lift menutup, Sri menatap tajam pada Noah. Tapi pria itu hanya mengedikkan bahunya.


Mereka semua berjalan beriringan. Sri sengaja agak mundur kebelakang untuk menyamai langkah Noah.


"Pak Noah" bisiknya tertahan. Noah masih melanjutkan langkahnya tanpa melihat kearah Sri. "Bapak ngapusi!"


Noah menggerakkan matanya seakan berpikir. Terlihat dahinya mengernyit. Melirik Sri sesaat.


"Ngapusi itu apa?" juga berbisik seperti Sri.


"Blenjani!"


Noah semakin bingung. Mengedikkan kepalanya menatap Sri. Menautkan kedua alisnya dengan mata bergerak bingung. Sri sebal sekali melihat ekspresi Noah. Pria ini sudah menyembunyikan hal sebesar itu darinya.


"Vira, dimana suamimu? aku tidak melihatnya dari tadi" tanya Melani pada Vira.


"Firdan Masih di kamar kak. Nanti dia akan bersama kita" jawab Vira.


Frans berdehem untuk memulai bicara dengan Vira. Sedari tadi mereka berdua tidak saling menyapa.


"Panggil suamimu. Aku ingin menemuinya" ujar Frans kaku.


Vira tampak agak sedikit menegang. Tapi dia dapat menguasai diri segera. Sri dapat merasakan itu.


"Baiklah. Noah, bawa paman dan bibi ke ruang makan. Nanti mama menyusul"


Noah mengangguk. Vira pergi kearah lain. Sri memperhatikan ibunya Noah sampai menghilang di lorong yang lain. Noah membawa mereka ke ruang makan yang luas. Di sana sudah ada Lucky, kakek Fredi Dan nenek Liana.

__ADS_1


Beberapa pelayan berdiri berjejer menantikan semua anggota keluarga berkumpul. Di meja makan yang sangat panjang itu sudah tersedia berbagai menu masakan mewah. Semua orang mengambil tempat masing-masing. Sri duduk di samping Lucky.


"Aku tidak melihat Fardo. Dimana dia?" tanya Frans.


"Hh.. dia selalu berbuat sesuka hatinya. Biarkan saja. Nanti juga datang" kakek Fredi duduk dengan lemah.


"Ayah, kau terlihat lemah sekali. Apa tidak lebih baik ayah berbaring di kamar?" Frans tampak menghawatirkan ayahnya.


"Sudahlah.. ini pertama kalinya cucu dan menantuku datang. Aku ingin di sini" Fredi bersikeras.


Frans hanya menghela napas panjang. Membiarkan ayahnya yang keras kepala.


Pak Gani datang menghadap. Memberitahukan kalau Fardo bersama istrinya baru saja datang. Tak berapa lama, Fardo muncul bersama Neni istrinya.


"Waahh.. kalian sudah berkumpul di sini" ujar Fardo begitu melihat Frans sekeluarga sudah duduk rapi di meja makan. "Frans.. selamat datang kembali. Kau tidak ingin memelukku?"


Fardo merentangkan tangannya dengan gaya tengil. Menatap Frans dengan remeh. Tapi Frans mencoba bersikap biasa saja. Lalu berdiri dan memeluk adiknya.


"Kak Melani.. Akhirnya kau pulang juga" Neni mendekati Melani. Cipika-cipiki tanpa meminta persetujuan. Melani hanya tersenyum canggung di perlakukan begitu.


Sedangkan Fardo, tak beda jauh dengan Frans. Tubuh tinggi dengan wajah tampan yang masih melekat di usia matang. Tapi Sri agak tidak suka melihat matanya yang terlihat jelalatan. Menatap remeh pada semua orang. Sepertinya ada sesuatu yang tidak menyenangkan dari sikapnya pada Frans.


Sri dapat merasakan ketidak Akuran didalam keluarga Albronze. Tampak sangat kentara sikap palsu yang di tunjukkan semua orang. Lucky sendiri menatap paman dan bibinya dengan sikap dingin.


"Hai.. Pasti kau istri Lucky, ya?" Neni menatap Sri dengan mata agak di lebarkan. Seperti baru menemukan mainan kecil yang membuatnya penasaran.


Sri mengangguk dan tersenyum. Mengulurkan tangan menyalami Neni.


"Saya Sri, bibi"


Tapi sayang, Neni tidak menyambutnya dengan baik. Mengabaikan ukuran tangan Sri. Seolah tak melihat tangan mungil di depannya. Lucky menggeram marah melihat istrinya tidak di perlakukan dengan hormat. Sangat tidak sopan Neni mengabaikan uluran tangan Sri.


Tapi Sri cepat mencegah dengan meremas lengan Lucky untuk membuat pria itu tetap tenang. Neni dengan tidak mau tahu, duduk di sebelah suaminya. Suasana canggung langsung tercipta begitu saja. Kakek Fredi Dan nenek Liana hanya terdiam membisu. Sementara Noah menatap tajam kerah Fardo dan neni.

__ADS_1


"Mana Vira, Noah?" tanya Neni pada Noah yang masih menatapnya tajam. Tidak menjawab pertanyaan Neni barusan. Neni juga menatapnya tak kalah tajam. Seakan mengerti jika Noah sedang marah.


Situasi ini sangat tidak nyaman buat Sri. Lucky semakin bersikap dingin. Semua orang menunjukkan sikap peperangan. Suasana canggung yang sangat tidak mengenakkan.


Neni dan Fardo membawa aura panas dan dingin sekaligus. Mereka terlihat sangat meremehkan orang-orang disini. Tak berapa lama, Vira datang bersama seorang pria yang Sri tahu pastilah ayahnya Noah.


Sri agak tertegun melihat keadaan ayahnya noah. Pria itu seakan seperti linglung melihat semua orang di ruangan ini.


"Ayo firdan. Tidak apa-apa. Itu kak Frans dan kak Melani. Kamu ingat mereka bukan?"


Vira menepuk-nepuk lengan suaminya. Menenangkan agar tidak gugup dan panik. Noah beranjak bangkit dan mendekat. Begitu juga dengan Frans. Mendekati adik lelakinya yang kebingungan beradaptasi dengan banyak orang.


"Hai jagoan.. Kau masih ingat aku?"


Frans berdiri di depan Firdan. Mengepalkan tangannya membentuk tinju di depan adiknya. Firdan melihat itu lalu segera tersenyum. Perlahan dia juga mengepalkan tangannya dan meninju kepalan tangan Frans pelan lalu tersenyum senang.


"Kak Frans" gumamnya pelan.


Frans tersenyum dan segera memeluk firdan erat.


"Ya. Aku Frans. Kakakmu"


Mereka berpelukan dengan erat. Firdan masih ingat kepalan tangan yang selalu di tinjunya ketika bertemu atau sedang bersama Frans dulu.


Nenek Liana berderai air mata melihat kedua putranya saling berpelukan. Kakek Fredi menunduk haru. Lama berlalu membuang waktu hanya karena keegoisan hati. Dia telah memisahkan anak-anaknya hanya karena amarah dan rasa tidak dihormati.


Frans membawa firdan duduk di dekatnya. Noah kembali duduk dan Vira duduk di sampingnya.


"Fardo, dimana anak-anakmu?" tanya Ferdi pada putra keduanya.


"Ah.. ayah.. Anak-anak sekarang tidak dapat di kekang dan di batasi bukan? Mereka sudah dewasa. Aku tidak bisa melarang keinginan mereka" jawab Fardo.


"Aku tanya dimana anak-anak mu" ulang Fredi.

__ADS_1


"Nanti mereka datang ayah. Tenang saja" Neni menimpali dengan mimik wajah tak suka.


"Baiklah.. Ayo makan. Jangan berisik lagi"


__ADS_2