OJO NGONO MAS'E

OJO NGONO MAS'E
Sri Jahil


__ADS_3

Sri menggeliatkan tubuhnya. Mengerjapkan matanya perlahan. Mereka berdua tidur di sofa. Sri menoleh ke belakang tubuhnya. Tampak Lucky masih lelap. Tangannya memeluk pinggang Sri. Sri tersenyum sendiri mengingat betapa ganasnya Lucky mengobrak-abrik tubuhnya.


Kegiatan panas mereka berakhir dengan menguras tenaga. Banjir peluh dan pelepasan yang membuat Sri hampir pingsan saking tak kuat mengalami nikmat yang bertubi-tubi. Stamina Lucky tak bisa terkalahkan. Dalam waktu singkat, Sri mendapat pelepasan berkali-kali. Tapi Lucky masih belum apa-apa.


Dan akhirnya Sri memohon untuk tidak melanjutkan lagi setelah Lucky mendapat pelepasannya yang kedua. Tertidur kelelahan saling berpelukan.


Perut Sri sudah bernyanyi keroncong saking laparnya. Tadi tidak sempat mengisi perut. Sri melirik jam dinding. Masih pukul sembilam malam. Baru tidur sebentar kerena kelelahan. Sekarang perutnya sudah menuntut minta di isi.


Sri menggeser tangan Lucky dari perutnya. Pria itu menggeliat bangun karena gerakan Sri. Membuka matanya menatap Sri dan tersenyum.


"Mmmhh.. mau kemana?" ujarnya dengan suara serak. Bukannya menjauh, Lucky malah melingkarkan tangannya lagi di perut istrinya. Mengendusi leher belakang sri.


"Sri laper mase" Sri mencoba menarik tangan Lucky lagi.


"Hmm.. sebentar lagi. Aku masih ngantuk sayang"


"Isshh.. jorok mas. Bersihin dulu"


Sri memaksa bangkit. Menyibak selimut yang menutupi tubuh polos mereka. Dengan malas, Lucky membuka matanya. Memperhatikan Sri yang kesusahan berdiri karena tangan Lucky masih saja menahannya.


"Mase. Sri laper. Awas to"


Sri menepis tangan Lucky. Membuat Lucky terkekeh geli melihat Sri susah payah menyingkapkan tangannya. Setelah berhasil, Sri langsung berdiri. Tapi tak di sangka, sesuatu yang memalukan mengalir ke pahanya. Wajah Sri merah padam. Pelepasan Lucky yang masih menggenang di intinya mengalir keluar.


Cepat Sri berlari ke kamar mandi. Lucky tergelak melihat tingkah lucu Sri dengan wajah memerah. Ikut bangkit dan menyusul istrinya.


"Mase ngapain sih?" Sri terjengkit kaget melihat Lucky sudah menyusul masuk ke kamar mandi.


"Ya mandi" jawab Lucky cuek. "Sama kamu" mengedipkan sebelah matanya dengan genit.


"Huh! mesum!"


Sri melempar handuk di tangannya pada Lucky. Lalu cepat membersihkan dirinya. Sementara Lucky hanya duduk di pinggir bathup memperhatikan.


"Yakin, tidak mau di sabuni, sayang?"


"Ndak!"


Sri mendengus kesal. Mana ada acara sabun-sabunan sama Lucky yang sebenarnya. Pastilah harus berujung kemesuman suaminya ini.


Segera Sri menarik lagi handuk di tangan Lucky. Melilitkan ketubuhnya. Lalu menarik tangan Lucky agar segera mandi di bawah pancuran shower. Lucky menurut saja.

__ADS_1


Meninggalkan Lucky sendirian, Sri segera berpakaian. Perutnya sudah terasa sakit karena lapar. Ingin segera memasak sesuatu untuk makan malam. Pergi kedapur dan memeriksa bahan makanan di kulkas. Mulai memasak dengan senandung kecil di bibirnya.


Untung saja di kampung Sri sudah terbiasa masak. Sekarang dia menyadari kalau kecerewetan ibunya itu sekarang berguna. Dia tidak canggung lagi berada di dapur. Sudah bisa menguasai apa saja yang harus di lakukan.


Ibu Nuri, pelayan di apartemen Lucky, hanya bekerja dari pagi sampai sore saja. Setelah itu ia akan pulang. Sebelum ada Sri di sini, Bu Nuri Bekerja dua kali seminggu. Karena memang Lucky jarang sekali pulang ke apartemen ini. Tapi setelah Lucky membawa Sri kesini, Bu Nuri datang setiap hari.


"Huumm.. Harum banget. Masak apa?"


Lucky datang langsung memeluk Sri dari belakang. Sri agak kaget karena tidak menyadari kemunculan Lucky.


"Tumis buncis sama semur ayam. Mase suka?"


"Apa saja yang kamu masak, aku suka" Lucky mengecup pipi Sri. Gadis itu tersenyum.


"Mase tunggu aja. Ntar lagi selesai"


Lucky pergi meninggalkan Sri di dapur. Mengambil berkas yang tadi di bawa dari kantor. Memeriksanya dengan teliti. Membuka laptopnya dan mengetik di sana. Mengerutkan keningnya menemukan kejanggalan di bagian keuangan kantor.


Tapi setelah di periksa ulang, dokumen yang bermasalah justru dari kantor cabang. Banyak selisih penjumlanhan. Jika di teliti dengan cermat, bisa menemukan selisih yang cukup besar.


Sri datang membawa masakannya. Meletakkan di meja sambil memperhatikan Lucky sedang serius.


"Mase. Ayo makan dulu"


Lucky masih belum menoleh ke arahnya. Hanya berhem ria sambil matanya masih fokus ke laptop. Sri gemas melihat suaminya ini terlalu serius jika sudah bekerja. Tak ada senyum di bibirnya. Mata tajam itu menguliti satu persatu dokumen di depannya.


"Mas! Makan dulu" Sri menarik tangan Lucky.


Pria itu mengalihkan perhatiannya sejenak. Menatap Sri dan tersenyum.


"Kamu makan deluan saja. Aku masih perlu memeriksa ini"


Sri mengabaikan Lucky. Mengambil piring dan menyendokkan nasi dan lauknya sekalian. Duduk di samping Lucky, lalu mengambil nasi di tangannya.


"Ayo makan. Sri sulangin ini" Mengacungkan tangan yang penuh nasi ke depan Lucky.


Lucky menoleh kearahnya. Mengernyitkan dahi melihat Sri menyuapinya menggunakan tangan.


"Kenapa pake tangan, Sri?"


"Kenapa mas? ini lebih nikmat. Ayo di coba. Aaaaaa..."

__ADS_1


Sri menirukan membuka mulutnya, agar Lucky melakukan hal yang sama dan menerima suapannya. Tak mau berdebat, Lucky menurut. Membuka mulutnya dan menerima suapan pertama dari tangan sri.


"Gimana mas? enak toh?" Sri menarik turunkan alisnya.


"Hmm.. lumayan"


Sri tersenyum lebar. Senang melihat Lucky tidak banyak protes. Sambil menerima suapan Sri, Lucky kembali fokus pada berkas didepannya.


Sesekali Sri menyuapkan untuk dirinya sendiri. Sambil sesekali memperhatikan Lucky bekerja di laptopnya. Tak terasa sepiring nasi sudah kandas.


"Tambah, sayang" pinta Lucky.


Wahh.. kemajuan ini namanya. Jarang-jarang Lucky makan sampai minta nambah. Dengan semangat Sri mengambil lagi nasi kepiringnya. Menyuapi Lucky lagi dengan hati berbunga-bunga.


Tadi Sri menambahkan cabai rawit di ayam semurnya. Melirik Lucky sedang fokus menatap laptonnya, ada niat iseng mengerjai Lucky. Sri tau jika Lucky kurang suka makanan pedas. Mengambil tiga cabai yang masih bulat utuh itu lalu menyeringai jahil.


Menumpuk cabai rawit itu di dalam nasi. Lalu mengambil suapan besar dan menyuapkan ke mulut lucky. Pria ini tidak menyadari kalau ada ranjau darat di dalam makannya. Begitu cabai utuh itu tergigit, mata Lucky mendelik gusar.


Merasakan mulutnya seperti terbakar. Menoleh ke arah Sri yang sudah tersenyum lebar begitu melihat wajah Lucky merah padam.


"Mmmmm... emm emm.."


Lucky melotot sambil menunjuk-nunjuk mulutnya. Tidak bisa bicara karena mulutnya penuh. Wajahnya langsung merah menahan sensasi pedas membakar mulutnya.


"Heehhee.. enak toh mas? seger itu. Wes Telen wae"


Lucky semakin melotot. Rasa pedas itu semakin menjadi. Dan tak tahan lagi merasakan itu, Lucky berteriak.


"Aaaaaaa...."


Berlari ke wastafel dan menumpahkan makanan yang ada di mulutnya. Berkumur-kumur dengan tergesa. Lalu lari lagi ke meja, meraih gelas berisi air dan meneguknya cepat.


"Hahahaa.. "


Sri tergelak senang melihat Lucky kalang kabut merasakan sensasi terbakar di mulutnya. bibir lucky semakin memerah saja. Tak mampu menutup rapat bibirnya. Di biarkan terbuka sambil tangannya bergerak mengipas mulutnya.


"Mase Cemen. Makan cabe aja gak kuat"


Lucky melotot kesal. Sri sangat usil mengerjainya.


Ting.. tong..

__ADS_1


Mereka berdua tertegun diam. Bel pintu berbunyi. Siapa gerangan yang datang? Jam menunjukkan sudah pukul sepuluh malam?


__ADS_2