OJO NGONO MAS'E

OJO NGONO MAS'E
Bertemu Lagi


__ADS_3

Sri merasa jengkel setengah mati. Begitu Amira datang, Lucky langsung mengusirnya pergi. Hatinya terasa panas dan terbakar. Sampai hati Lucky berbuat begitu. Lagian Amira ngapain juga harus datang? Entah dari mana gadis itu tahu kalau Lucky ada di pulau ini.


Sri tidak langsung menuju Kondominum. Sri berbelok ke arah pantai sebelah barat. Tidak mau merasa bodoh sendirian di kamar menunggu Lucky yang sedang bersenang-senang bersama kekasihnya.


Melihat laut yang kini gelap. Hanya riak ombak yang menji Lat bibir pantai saja yang bisa ia nikmati. Duduk berselonjor dan menopang tubuhnya dengan kedua tangan kebelakang. Menikmati desiran angin yang semilir menerpa wajahnya.


Dengan gaun terbuka seperti ini, dia merasa kedinginan. Tapi tak menggubris rasa dingin yang menusuk kulitnya. Hatinya lebih terasa panas mengalahkan dinginnya angin laut.


"Sebel! keterlaluan! aku iku urung mangan loh! kok Ndang di usir. Koyok aku Iki pitek ae! uuhh!!"


Dengan kesal yang memuncak sampai ke ubun-ubun, Sri melempar pasir pada gulungan ombak di bibir pantai. Tidak menghiraukan gaunnya kotor di bagian bawah karena rembesan air laut. Dia marah. Dia kesal. Hatinya terbakar. panas!


"Ngapain pake ngambung aku mau iku?! Yo Saiki wes Karo gendake! sial eraam laahh..."


Sri masih merutuki kebodohannya mau saja di cium Lucky tadi siang. Sekarang malah Lucky sudah bersama amira.


"Tapi, Yo aku bukan siapa-siapa. Nikah juga karena perjanjian. 'Kan wes ngerti kalo mas Lucky nduwe pacar? Kok aku marah Yo?"


Kembali kebimbangan di hati Sri datang hilir mudik. Kenapa harus marah jika Lucky sekarang bersama Amira? Dan Amira itu memang kekasih Lucky. Kesepakatan mereka tidak boleh saling usik urusan masing-masing.


"Boleh aku bergabung?"


Sri terperanjat kaget. Menoleh kebelakangnya. Tampak seorang pria berdiri menatapnya dengan senyum manis. Memakai sweater Hoodie dan celana crem yang membentuk kaki panjangnya.


"Loh.. Mase ..."


Sri merasa mengenal pria tampan ini. Tapi dia lupa entah pernah melihatnya di mana. Pria itu mendekat dan ikut duduk di samping Sri. Tersenyum simpul menatap Sri.


"Masih ingat aku?" tanyanya dengan suara bariton yang khas.


"Lupa. Kita pernah ketemu ya mas?" tanya Sri lagi.


"Mau es krim?" pria itu menggerakkan kepalanya dengan mimik lucu.


"Oohh.. ya ya.. inget inget. Mase yang di taman itu toh?" seketika wajah Sri tampak cerah. Ia ingat sekarang. Pria ini yang menawarinya es krim dan menghilang entah kemana.


"Hhemmp.. Kamu masih ingat rupanya" ujarnya tertawa.


"Tapi tetep aja lupa nama Mase" keluh Sri.


"Padahal aku masih ingat nama mu"


"Eh, Memangnya Sri nyebut nama ya waktu itu?" Sri agak mengingat-ingat kejadian di taman waktu itu.


"Tidak. Tapi baru saja kamu bilang nama mu Sri" ujarnya bercanda.


"Laahh.. keceplosan!" Sri menutup mulutnya. Merasa terjebak.


"haha" Pria itu tertawa senang melihat wajah Sri yang menggemaskan.


"Aku Noah"


"Ah ya. Mas Noah" Sri manggut-manggut. Sekarang dapat mengingat nama Noah.


"Kenapa di sini sendiri?" tanya Noah.


"kepingin lihat laut aja mas" Sri menutupi kenyataan.


"Sudah gelap mau lihat laut? kenapa tidak siang tadi?"


"Sri tidur"


"Ohh.. kamu baru tiba hari ini?"


"He'em"


"Bersama kekasih, atau suami?"

__ADS_1


Sri terdiam. Merasa tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Kekasih? apa pantas Sri bilang kalau Lucky adalah kekasihnya? bukankah Lucky sekarang bersama kekasihnya? Atau... suami? Suami macam apa yang mengusir istrinya dan kini dia berkencan bersama wanita lain?


"Sama teman mas"


Hanya itu yang bisa jadi jawaban untuk pertanyaan Noah. Sri tidak mampu memberi status pada Lucky untuk dirinya.


"Trus Mas Noah, kesini sama istri? Atau pacar?"


"Haha.. Aku ke sini untuk kerja. Bukan bulan madu" Noah tertawa menjawab pertanyaan Sri. "Sudah dua hari aku di sini. Dan rencananya akan pulang dua hari lagi"


"Oohh.. Mase kerja apa?"


"Cuma supir"


"Supir?"


Sri menatap Noah dari kepala sampai ujung kaki. Merasa tak percaya kalau Noah hanya seorang supir. Melihat penampilannya yang sangat kentara bukan orang sembarangan.


"Mase bohong tooohh?" Sri tersenyum tak percaya. Merasa Noah hanya membohonginya tentang pekerjaannya.


"haha.. kamu ini. Menggemaskan"


Noah tertawa renyah. Menatap wajah Sri yang tampak bodoh memikirkan pekerjaan Noah.


kruukk kruukkk..


Sri membeku. Suara perut laparnya mengintrupsi tawa Noah. Noah juga menatapnya dengan kedua alis yang naik terangkat.


"Kamu lapar?"


"Eh.. A-anu mas. Ndak kok"


Kruukk.. kruukk..


Lagi-lagi perut Sri bernyanyi keroncong dengan nyaring membahana. Rasa laparnya tidak bisa di sembunyikan lagi. Memang dari siang tadi belum makan, karena mabuk udara dan rasa mual yang ia derita.


"Hahaha.. Cacing di perut mu menjerit kencang sekali" Noah terbahak mendengar suara perut lapar Sri. Membuat wajah Sri panas dan merah padam. Malu sekali rasanya perutnya terdengar keroncongan.


"Antarkan makanan ke pantai sebelah barat" ujarnya memerintah seseorang di seberang sana.


"Kamu mau makan apa Sri?" tanya Noah pada Sri.


"Eh, tidak usah mas. Sri Ndak apa-apa kok" tolak Sri.


"Hem.. yang biasa saja. Baik. Aku tunggu" Noah meneruskan bicara di telpon tanpa menunggu jawaban Sri yang seharusnya.


Noah memutuskan sambungan telepon. Lalu tersenyum menatap Sri yang tertunduk malu.


"Sebentar lagi makanan mu datang" ujar Noah.


Sri hanya diam saja. Menolak pun percuma. Noah sudah mendengar suara cacing di perutnya menari salsa dengan semangat.


Tak berapa lama, dua orang lelaki datang membawa banyak bungkusan di tangan. Mendekat dan menyerahkan bungkusan dan beberapa botol minuman pada Noah.


"Ada lagi yang lain tuan?" tanya seorang di antara mereka.


"Nanti aku hubungi lagi. pergi lah" ujar Noah.


Kedua pria itu pergi meninggalkan mereka berdua. Noah segera membuka semua bungkusan itu. Ternyat isinya makanan yang di inginkan Sri. Nasi putih, sayur capcai, ayam goreng, dan saus sambal. Dan ada sebungkus sate yang sangat menggiurkan selera. Semua makanan itu di dalam wadah sterofom. Lengkap dengan sendok dan piring sekali pakai.


"Ayo Sri, kita makan. Kebetulan aku juga belum makan"


Noah mengambil bagiannya. Sementara Sri masih merasa canggung. Sangat terasa asing makan dengan orang yang baru ia kenal.


"Ini halal dan tidak beracun. Jangan takut kamu akan pingsan" Noah seperti mengerti apa yang di pikirkan Sri saat ini. Dengan santai mengunyah makannya dengan semangat.


Melihat Noah makan, rasa lapar Sri semakin menjadi-jadi. Dengan canggung Sri menurut mengambil bagiannya. Makan dalam diam dan mengunyah pelan-pelan.

__ADS_1


"Bagaimana? Kamu suka?" tanya Noah tiba-tiba.


"Eh.. iya Mase. enak" Sri tersenyum kikuk.


"Nih, sate kambing. Enak Sri. Ini kesukaan ku. Cobalah"


Noah menaruh dua tusuk sate ke piring Sri. Sri tidak bisa menolak. Hanya mengangguk dan mencoba sate pemberian Noah.


"Bagaimana? enak 'kan?"


"I-iya Mase. Enak"


Rasa satenya memang enak. Daging yang empuk langsung membuat selera makan Sri bertambah. Rasa canggung itu berangsur hilang. Noah sangat pandai membawa suasana santai di antara mereka. Noah makan dengan lahap. Tidak merasa canggung sedikit pun.


Sri sempat merasa salah jika memikirkan kalau Noah itu orang penting. Mungkin saja Noah memang seorang supir pribadi mungkin? Kalau dia punya kedudukan penting seperti Lucky, Sungguh mereka tampak jauh berbeda. Lucky dengan sikap yang sangat bossy yang dominan kaku, tapi Noah terlihat lebih santai seperti layaknya Sri yang tidak terlalu mementingkan status sosial.


Mereka makan sambil mengobrol dan sesekali Noah melontarkan candaan yang membuat Sri merasa santai dan nyaman. Sungguh kebetulan jika ia bertemu Noah lagi di sini. Dengan kondisi yang sama seperti di taman waktu itu. Sri dalam keadaan sedih dan marah. Noah yang menemaninya.


Selesai makan, Noah membereskan bekas makan mereka. Mengumpulkannya jadi satu, dan menaruhnya di wadah plastik. Lalu Noah membuka bir kaleng. Menawarkan pada Sri, tapi Sri menolak. Noah mematik api dan menyulut sebatang rokok dan menyesapnya. Mengepulkan asap yang langsung di terpa angin laut dan menghilang.


"Kamu ingat tidak, waktu di taman itu kamu menangis karena apa?" tanya Noah.


Sri nyengir kuda. Malu jika mengingat bagaimana dia menangis karena kata-kata Amira dan Lusi.


"Aku benar bukan? di poles sedikit, kamu langsung terlihat wah" Noah menoleh menatap Sri dengan senyum di kulum.


"Hihii.. Mase bisa saja" Sri tersipu.


"Kamu terlihat berubah sekarang. Lebih cantik. Lebih cerah. Mempesona"


"Alaaahh.. gombale mas Noah" Sri makin tersipu malu mendengar pujian Noah.


"Haha.. itu bukan gombal Sri. Kamu itu sekarang berbeda dari yang aku lihat pertama kali"


"Berarti waktu itu aku jelek banget Yo mas?"


"Siapa bilang? Kan aku sudah bilang kamu itu cantik. Di poles sedikit, pasti jadi lebih cantik"


"Udah ah.. Jangan buat kuping Sri naik ke pohon Mase!"


Sri menutup wajahnya dengan telapak tangannya. Sangat malu Noah selalu menyanjung dan memujinya terang-terangan.


"Hahaha.. Dan yang pasti, kamu itu menggemaskan Sri"


Noah sungguh merasa senang bisa bertemu Sri lagi malam ini. Waktu di taman ketika itu, Sri keburu pergi dan Noah tidak bisa bertemu lagi. Tapi malam ini, dia menemukan gadis polos ini lagi di depan matanya.


"Mase, sudah malam ini. Sri mau balik ke kamar dulu. Dingin" ujar Sri berpamitan.


Mendengar itu, Noah langsung membuka sweater nya. Menyisakan t-shirt polos di tubuhnya. Lalu menyerahkan sweater Hoodie itu pada Sri.


"Pakai saja Sri. Nanti kamu masuk angin"


"Eh, N-ndak apa-apa Mase. Udah mau balik kok ini. Sebentar sampai kok" tolak Sri halus.


"Tidak apa-apa Sri. pakaian mu terbuka begitu. Kamu pasti kedinginan. Pakai saja"


Noah memaksa. Memang Sri sudah merasa kedinginan sampai sedikit menggigil. Sri memutuskan menerima dan memakai sweater Noah. Tampak kebesaran di tubuh mungilnya. Tapi itu sangat membantu. Sri mulai merasa hangat.


Noah mengantar Sri sampai ke depan kondominium. Sri berhenti sejenak mengucapkan terima kasih pada Noah.


"Mase. Makasih makanannya"


"Ya. Aku menginap di kotage sebelah sana" Noah menunjuk kearah samping kondominium. Tapi Sri tidak bisa melihat bangunan lain. Noah hanya menunjukkan arahnya saja. "Kalau kamu butuh apa-apa, Hubungi aku saja" ujar Noah menawarkan.


"Iya Mase. Terima kasih banyak"


Sri membungkuk hormat. Merasa banyak terima kasih dengan pertemuan mereka malam ini.

__ADS_1


"Baik lah. Masuk sana"


Sri mengangguk dan tersenyum. Lalu berbalik dan meninggalkan Noah yang menunggunya sampai menghilang di tangga naik ke lantai atas.


__ADS_2