OJO NGONO MAS'E

OJO NGONO MAS'E
Rencana Kejutan


__ADS_3

Mereka semua keluar dari ruang perawatan kakek Fredi dengan berat hati. Nenek Liana juga diantar pulang untuk beristirahat. Tubuh tuanya juga tidak mampu untuk terus berjaga menunggui suaminya.


Frans mengatur para pengawal untuk menjaga lebih ketat. Bagian kamar perawatan VVIP di kosongkan. Khusus untuk kakek Fredi saja. Tak putus asa, Fardo mencoba menanyakan apa yang di bisikkan Fredi pada Frans. Tapi Frans bungkam. Lebih memilih tutup mulut.


"Kau sangat menyebalkan, Frans!" dengus Fredi kesal. Menahan amarahnya sampai wajahnya memerah.


"Ayah sedang sakit, Fardo. Apa yang mau kita debatkan lagi?"


"Apa hanya kau anak ayah? Aku juga!" Fardo menaikkan suaranya. Geram sekali melihat Frans yang lebih bersikap tenang menghadapinya.


"Jangan membuat masalah lagi, Fardo. Lebih baik kalian pulang dulu" Frans tetap bersabar.


Lucky menggemeretukkan grahamnya. Kesal sekali melihat pamannya ini masih saja menonjolkan sikap egoisnya. Noah apa lagi, ingin rasanya menghajar pamannya ini dengan kejam. Dalam keadaan genting begini, masih saja suka memicu keributan.


"Sepertinya memang benar aku harus memisahkan diri dari kalian. Aku akan membuka perusahaanku sendiri. Kalian licik!" Fardo meluapkan marahnya.


"Silahkan saja. Kami tidak akan mencegah mu" ujar Frans tenang.


Mendengar itu Fardo dan Neni juga Levi Melotot marah. Merasa di sepelekan Frans.


"Paman, kalian sudah akan jatuh bangkrut. Apa kalian masih membanggakan itu?" levi bergerak maju.


"Berhenti!" Lucky membentak. Levi menghentikan langkahnya. Menatap Lucky kaget. "Apa kalian sudah selesai? Sebaiknya pergilah sekarang" Desis Lucky marah. Wajahnya menggelap. Menatap Levi penuh kemarahan.


Neni menarik lengan putranya. Gentar melihat kemarahan Lucky. Memutuskan untuk menyingkir. Dengan kekesalan tertinggi, Fardo pergi diikuti Neni, istrinya. Geby lebih memilih pulang dengan Noah. Tapi Noah menolak. Menyerahkan Geby pada Levi kakaknya. Noah memilih tinggal di rumah sakit.


Setelah mengantar mami Melani dan Sri pulang, Lucky masih harus pergi lagi. Masih banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan. Akhir-akhir ini mereka semua sibuk. Sri harus lebih mengerti keadaan suaminya. Saat ini keadaan perusahaan Lucky juga tidak baik-baik saja. Kebangkrutan di depan mata.


šŸ’–


šŸ’–


šŸ’–

__ADS_1


Sri tidak mau bersikap manja dengan rengekan pada suaminya tentang keadaan badannya yang kurang fit. Dia tahan segala apa yang membuatnya lemah. Di depan Lucky dan semua orang, Sri mencoba tidak menunjukkan reaksi tubuhnya akhir-akhir ini.


Hanya bisa menahan diri ketika terkena matahari. Rasa mual yang selalu menyerangnya di pagi hari. Sebenarnya Sri sudah tidak kuat jika harus menyembunyikan keadaannya. Bahkan mami Melani selalu khawatir ketika melihat Sri tampak pucat dan lemah. Meminta Sri untuk periksa ke dokter. Tapi Sri masih menolak.


Cemas memikirkan keadaan Lucky saat ini. Jika Sri menuruti apa yang dikatakan ibu mertuanya, Lucky pasti akan langsung menanggapi serius. Tapi bagaimana jika tidak? Pasti Lucky akan bertambah kecewa. Sri tidak mau Lucky akan semakin banyak pikiran.


Tapi rasa itu semakin menjadi-jadi. Sri hampir saja menyerah. Seperti pagi ini, ketika Lucky sudah berangkat ke kantor, Sri harus segera masuk ke kamar mandi dan memuntahkan semua isi lambungnya.


Kepalanya berdenyut sakit dan pusing. Menyeka bibirnya dengan tangan gemetar. Teringat testpack yang diberikan Agnes kemarin, langsung saja dia mengambilnya dan masuk lagi ke kamar mandi. Tidak bisa lagi menunda-nunda. Sri harus tahu apa yang terjadi pada tubuhnya.


Dengan tangan gemetar Sri menanti beberapa saat sejak testpack diberi urinenya. Memegang testpack itu erat di tanganya, menanti hasilnya dengan sabar. Jantungnya berdetak bergemuruh. Deg-degan dan selalu melihat ke arah jam di depannya.


Rasanya detik demi detik berjalan lambat. Baru merasakan hanya menanti sepuluh menit serasa sehari saja. Setelah di rasa cukup, Sri menatap testpack digital di tangannya. Menggeser pelan untuk melihat hasilnya. Tangannya gemetar. Kepalanya semakin terasa pusing saja.


Deg!


Positif.


Jantung Sri seakan berdetak dua kali lipat lebih cepat. Rasa bahagia dan haru langsung saja menyerang lubuk hatinya. Meremang bulu kuduknya. Dia hamil.


Mengusap air matanya cepat. Ia harus memberitahu suaminya sekarang. Meraih ponselnya di atas nakas. Mengecek chating terakhir Lucky. Dengan senyum mengembang dan air mata yang masih saja menggenang di pelupuk mata, Sri mulai mengetik pesan chat.


Tapi segera ia menghentikan dan terpaku. Bimbang ingin memberitahu Lucky lewat pesan. Itu sangat terasa tidak romantis. Ah.. Kembali menghapus pesan yang sudah di ketik. Memutuskan untuk memberitahu ibu mertuanya lebih dulu.


Senyum Sri mengembang tiada henti. Bergegas keluar kamar dan menuju kamar ibu mertuanya. Mengetuk sejenak dan menanti Melani keluar. Tapi tidak ada sahutan dari dalam. Mungkin mami sedang ada di tempat lain. Bergegas Sri turun ke lantai bawah. Bertemu dengan pak Sam.


"Pak Sam, lihat mami ndak, pakne?"


Pak Sam menggeleng seraya membungkuk hormat.


"Nyonya sedang pergi, nona"


"Kemana?"

__ADS_1


"Nyonya bilang, menemui temannya"


"Oh.."


Sri merasa sedikit kecewa. Mami Melani pergi dan tidak menitip pesan apapun padanya. Tapi tak apa. Sri meminta Nita untuk membawakannya pita kecil. Sri kembali ke kamarnya dan mencari kotak kecil di laci meja riasnya.


Ia akan membuat kejutan untuk Lucky. Sepertinya pergi ke kantor dengan tiba-tiba akan membuat surprise buat suaminya. Dan menyerahkan kotak kecil berisi test kehamilan dengan tanda positif akan membuat Lucky merasa senang dan terharu.


Sri sudah tak sabar menunggu Lucky sampai pulang kerja. Lebih baik memberitahnya lebih awal menurutnya akan sangat mengejutkan.


Lucky akan menjadi orang pertama yang akan mengetahui kabar baik ini. Sri tersenyum malu-malu. Membayangkan bagaimana nanti reaksi Lucky setelah Sri menyerahkan kotak merah itu padanya.


Nita datang membawa pita. Melihat kotak kecil agak panjang di tangan Sri. Tampak memperhatikan wajah Sri yang terlihat berbinar bahagia dengan senyum tak lepas dari bibirnya.


"Ini pitanya, nona"


"Terima kasih, mbak" Sri menerima pita itu dari tangan Nita.


"Tuan Lucky ulang tahun, nona?"


"Ndak, mbak Nita" Sri mulai mengikat pita di kotak kecil itu.


"Baik, nona. Saya permisi"


Nita membungkuk hormat lalu beranjak pergi. Tapi Sri memanggilnya lagi.


"Mbak Nita, tolong bilang pak Karim, yo. Antar saya ke kantor"


"Baik, nona"


Nita mengangguk. Lalu keluar dari kamar dan menutup pintu. Sri kembali fokus pada kotaknya. Telaten mengerjakan mengikat pita di kotak kecil. Setelah selesai, Sri menatap kotak merah itu dengan binar bahagia di matanya.


Merasa puas dengan hasil kerjanya. Mengambil testpack dan meletakkannya di dalam kotak. Menutupnya dan di taruh di atas nakas.

__ADS_1


Segera Sri melenggang ke kamar mandi. Membersihkan diri sebersih-bersihnya. Pokoknya hari ini dia ingin tampil cantik di depan suaminya. Menyampaikan kabar bahagia sebagai kejutan. Kadang terkikik geli membayangkan bagaiman nanti Lucky akan terkejut.


__ADS_2