
Flashback On
Begitu membuka pintu, Lucky menghadang langkah Noah di depan apartemennya. Tatapan mereka bertemu. Saling menatap sarat dengan rasa yang bercampur aduk. Tatapan Lucky lebih menunjukkan kemarahan yang tak dapat di sembunyikan lagi.
"Apa maksudmu No? Kau menjebak istri ku!" geram Lucky menatap Noah tajam.
Noah menaikkan sebelah alisnya. Melengkungkan ujung bibirnya membentuk senyuman kecil.
"Masuklah dulu Luck. Kau tidak rindu pada ku?"
Noah menggeser sedikit dari depan pintu. Memberi jalan Lucky untuk masuk ke dalam apartemennya. Dengan berat hati Lucky masuk. Noah mempersilahkan Lucky duduk. Tapi Lucky menolak.
"Ada apa Luck?" tanya Noah seraya duduk di sofa. Membiarkan Lucky berdiri dengan tangan di kedua saku celananya.
"Cih.. Basa-basi mu buruk sekali" Lucky berdecih dan memutar bola matanya malas.
"Haha.. kau masih saja kaku seperti dulu kak" Noah tertawa dan memalingkan wajahnya sesaat.
"Cih.. Sekecil inikah tempat tinggal mu?" Lucky memandang ke segala arah.
"Yah.. aku suka ini" Noah mengedikkan bahu.
"Terus terang saja. Apa maksud mu? Kau sudah menjebak istri ku dan membawanya tanpa permisi" ujar Lucky tajam langsung kepokok masalah.
"Ck.. kau sangat serakah kak. Aku hanya membawanya sebentar. Dari pada dia melihat mu bermesraan dengan Amira? 'Kan lebih baik dia bersama ku" Noah menjawab tanpa dosa. Enteng sekali.
Wajah Lucky mengeras. Rahangnya mengetat. Sangat panas mendengar jawaban Noah.
"Jadi kau ingin balas dendam?"
"Ah.. Ayolah kak Lucky. Aku tidak mungkin merebut istri mu bukan? Kau kakak ku. Lagi pula, aku sudah melupakan Amira. Itu masa lalu"
"Lalu apa mau mu?"
"heh.. ternyata kau sangat jeli" Noah berdiri. Menepuk pundak Lucky sambil tersenyum. "Pulanglah. Kakek membutuhkan mu"
Lucky semakin bergemuruh marah. Ini sudah ia tebak dari semula apa maunya Noah. Noah pasti mengajukan permintaan ini lagi. Sudah berkali-kali Lucky dan Frans menolak, tapi Noah masih saja kekeh meminta mereka kembali. Sekarang Noah menggunakan Sri.
"Aku tidak akan pernah datang ke rumah itu! Aku menolak permintaan mu!" tegas Lucky.
"Kak. Ingatlah. Kau adalah keluarga Albronze. Darah mu tetap Albronze yang sesungguhnya. Kau pewaris utama. Jangan terlalu keras pada diri mu sendiri"
"Aku tetap menolak. Ibu ku lebih penting dari segalanya. Dan aku peringatkan diri mu. Jangan pernah mendekati istri ku lagi. Atau aku akan berbuat kasar pada mu" terlontar ancaman itu dari mulut Lucky. Tanpa menunggu Noah menjawab, ia beranjak ke pintu.
"Jangan mengancam ku soal Sri!" Seru Noah tiba-tiba.
__ADS_1
Langkah Lucky terhenti seketika mendengar ucapan Noah barusan. "Aku akan merebutnya jika kau masih tidak melepaskan Amira, dan jika kau tidak pulang!"
"F**k you!" Lucky pergi meninggalkan Noah yang tersenyum licik menatap kepergiannya.
Flashback off
š
š
Hingga pulang di apartemen Lucky pun Sri masih saja cemberut. Lucky bercerita dia bertemu Noah dan melabraknya. Walaupun tidak menceritakan semuanya pada Sri. Sri tidak menyangka sama sekali Lucky akan senekad itu. Padahal Noah tidak bersalah. Pantas saja tadi Noah terlihat dingin dan cuek padanya.
"Sudah ngambeknya, sayang?" Lucky membujuk Sri dengan menowel-nowel lengan Sri. Meminta menghadap ke padanya, karena Sri kini tidur dengan memunggungi Lucky.
"Sri, ayo sini lihat aku"
Lucky menarik badan Sri agar menghadap padanya. Tapi Sri menahan tubuhnya agar tidak berbalik. Dan menepis tangan Lucky di lengannya.
"Awas! Mase jahat!"
"Aku kan tidak salah. Ngapain dia dekat-dekat istri ku? Ya aku labrak" Lucky membela diri.
Mendengar itu, Sri sangat kesal. Mana ada Noah dekat-dekat dengannya? Lucky terlalu posesif hingga salah paham. Sri berbalik tapi tidak sampai menatap wajah Lucky. Hanya miring sedikit.
"Mase itu laki, atau perempuan sih? ngapain pake ngelabrak orang?"
Sri berbalik menatap Lucky. Semakin gemas saja mendengar jawaban Lucky. Bukan itu maksudnya. Tapi Lucky Menggodanya.
"Mas Lucky bikin kesel!" Sri menghentakkan kakinya. Membuat Lucky terkekeh.
"Kenapa sih?" Mencubit dagu Sri dengan gemas.
Sri menepis tangan Lucky dan bangkit . Duduk menaruh bantal di pangkuannya. Meremat bantal itu dengan kesal.
"Pak Noah itu Ndak salah, mas. Tapi malah mas Lucky marah sama dia. Sri malu Mase!"
"Kok kamu jadi belain dia sih?" Lucky mengerutkan dahinya. Merasa tersinggung Sri malah membela Noah.
"Bukan bela dia. Tapi Sri kan malu mas. Pak Noah itu Ndak salah. Kan yang salah Sri, maaass.. Sri yang mau di ajak"
"Nah.. itu! ngapain dia ngajak kamu? gak ada yang lain, apa?"
Sri terdiam. Tidak bisa menjawab lagi. Iya juga kan? Banyak staf lain. Yang gadis banyak, yang cantik banyak. Tapi kenapa harus Sri?
"Jadi wajar kan, kalau aku labrak dia? Untung saja bukan bogem mentah ku yang langsung singgah ke wajahnya yang jelek itu" Lucky Mengepal tangan besarnya di depan Sri.
__ADS_1
Sri mendelik melihat tangan besar Lucky di depannya. Membayangkan kalau kepalan tangan itu meninju wajah Noah. Eh, tapi.. apa tadi? jelek? Noah jelek?
"Kok jelek toh mas?" Sri protes.
Lucky tersentak mendengar protes Sri. Dia juga duduk mengahap Sri. Melotot marah.
"Oohh.. jadi kamu mau bilang kalau dia itu tampan? gitu?"
Glek!
Sri menelan ludahnya susah payah. Lucky melotot marah padanya. Tapi geli juga melihat Lucky cemburu. Bukan bermaksud membela Noah. Tapi kenyataannya Noah memang tampan.
"Ya Ndak gitu mas. Tapi bener kan ya? pak Noah itu tampan?"
"hmmp.. Tampan mana sama aku?" Lucky menaikkan dagunya. Menunjukkan wajah tampannya agar di bandingkan Sri dengan Noah.
"Tampan... emm.. Tampan pak Noah kayaknya mas" Sri menggoda Lucky. Membuat Lucky semakin melotot. Tak percaya Sri akan mengatakan itu.
"Oke.. oke.. sana kamu sama Noah saja!"
Lucky menghempaskan tubuhnya memunggungi sri. sekarang malah Lucky yang ngambek. Sri terkikik geli. Lucu sekali wajah Lucky kalau sedang merajuk. Sri tidak menyangka. Lucky yang kaku dan selalu dingin padanya, kini berubah seratus delapan puluh derajat. Semakin manis dengan cemburunya.
Bayangkan saja, pria tampan dan punya tubuh kekar berotot sedang merajuk karena cemburu. itu terasa menggelikan.
"Cieeee... nesuuu.. Ngamook"
Sri meledek Lucky. Menusuk-nusuk punggung Lucky. Pria itu mengedikkan bahunya menolak tusukan jari telunjuk Sri di punggungnya. Sri tersenyum geli. Ternyata Lucky bisa juga bersikap manis seperti ini. Sri memeluk bahu Lucky. Mengecup belakang telinganya.
"Mase marah toh kalau Sri bilang begitu? Sri juga sama. Sri cemburu mas"
Lucky membalikkan badannya. Menatap mata Sri di depannya. Sri kini berada di dadanya.
"Cemburu sama siapa?" Tanya Lucky pelan. Ada binar di matanya mendengar kata-kata Sri barusan.
"Sama mbak Amira. Mas Lucky baik banget sama dia. Tapi sama Sri Ndak. Karena lebih cantik mbak Amira kan mas?"
"Hmm.. cantikan kamu sekarang" Lucky menarik Sri kepelukannya.
"Gombal!" Sri memukul pelan dada Noah.
"Tidak. Kamu lebih cantik, semok, bahenol, pokoknya aku suka" Lucky mencolek hidung Sri.
"preett.."
"Eh.. beneran. Gak percaya? coba buka baju kamu. Biar aku lihat batapa bahenolnya kamu"
__ADS_1
"Idiihh.. maunya!"
Mereka tertawa bersama. cemberut Sri berangsur hilang. Lucky memeluknya sampai terlelap dalam mimpi.