
Sri melamun sepanjang perjalanan bersama Agnes. Air mata mengalir tanpa isakan. Sedih menyayat hati. Begitukah niat Lucky menikahinya? Janjinya pada Amira sungguh membuat hatinya tercabik-cabik.
Bukan hanya ingin meninggalkannya. Tapi juga karena takut tidak dapat warisan? Dan apa benar Lucky hanya berpura-pura mencintainya? Lalu apa itu ketika di rumah Oma? Ciuman yang di rasakan Sri penuh cinta, atau hanya perasaan Sri saja?
Memang benar Lucky tidak mengucapkannya. Tapi pria itu mengiyakan ketika Sri menafsirkan arti ciumannya waktu itu. Ah.. Sri merasa tertipu. Lucky tidak benar-benar mencintainya. Itu hanya perasaan Sri saja. Terlalu melambung tinggi dengan sikap lembut dan mesra dari Lucky.
"Sri!" Agnes menarik tangan Sri ketika mereka naik ke lift kantor. "Kamu kenapa sih? dari tadi sikap mu berubah"
Sri hanya menatap Agnes, kosong. Pikirannya melayang jauh. Mengumpulkan semua memori tentangnya dan Lucky. Otaknya tidak berada di tempat. Hanya menggeleng lemah tanpa selera.
Agnes menatapnya heran. Tidak biasanya Sri bersikap seperti ini. Gadis periang yang tak pernah mengenal sakit hati walaupun di tindas Susan sekalipun. Tapi kenapa sekarang sangat berbeda jauh?
Sesampainya di ruangan mereka, rapat sudah hampir saja di mulai. Semua sudah masuk ke ruang rapat divisi pemasaran. Tapi sungguh Sri tidak bisa fokus. Hati dan otaknya tidak singkron dengan mulutnya.
Noah sudah bersiap memulai rapat. Agak sedikit heran melihat perubahan sikap Sri yang mencolok. Menatap tajam pada gadis itu. Tapi Sri tidak melihatnya. Lalu Noah melirik Agnes. Bertanya lewat matanya. Tapi Agnes juga langsung menunduk.
Semua staf sudah siap. Noah berdiri di depan layar besar di belakangnya. Menatap mereka satu persatu.
"Baiklah.. semua sudah siap. Kita mulai saja rapatnya" ujar Noah tegas.
"”Assalamuallaikum Wr.Wb. Pada pagi ini saya akan meminta para staf divisi dan Kepala staf pemesaran saudari Dila, bagaimana pemasaran produk kita selama 1 bulan terakhir?”
Dila menegakkan duduknya. “Baiklah, saya akan melaporkan kegiatan pemasaran selama satu bulan terakhir ini, permintaan pasar turun sebanyak 45% dari bulan lalu, kami sudah usaha semaksimal mungkin untuk meningkatkan omset pasar tetapi permintaan produk kita hari demi hari terus mengalami penurunan.”
“Apa? Apa saya tidak salah dengar?, bagaimana bisa omset pasar menurun begitu drastis, padahal kita baru saja menambah bahan baku pada pihak produksi dan mengambil kas perusahaan untuk hal tersebut. Apa yang menjadi penyebabnya?" Boris tampak keheranan.
Sri mencoba untuk fokus. Mengalihkan sejenak rasa sesak di dadanya. Berusah otaknya agar bekerja maksimal.
"Sri, bagaimana tanggapan mu?" Noah menatap Sri tajam.
__ADS_1
Sri menegakkan punggungnya menatap semua orang, dan mulai berbicara.
“Kami telah meneliti ke lapangan bahwa ada sejenis produk seperti kita yang memiliki kwalitas yang lebih baik dan memiliki style baru. Menjadikan para konsumen penasaran dan beralih ke produk tersebut.” ujarnya tegas.
Noah mengangguk. Lalu menatap semua staf bawahannya. “Terima kasih atas penjelasannya. Atas kasus ini, kita harus cepat mengambil tindakan supaya pasar dapat kita kuasai kembali.”
“Apakah kita harus membuat produk baru dan menambah kualitas produk Pak?" tanya Agnes.
“Jika menambah kualitas, dana yang dikeluarkan pasti bertambah dan membuat produk yang baru memiliki harga yang lebih tinggi, apakah hal itu tidak mempengaruhi daya beli konsumen?.” Johan ikut bicara.
“Hal itu pasti terjadi, dengan membuat produk baru itu membutuhkan dana yang besar, dan juga bahan baku yang berbeda dan mesin yang harus diperbarui. Sebaiknya kita tetap menjalankan produk yang lama tetapi dengan menambah inovasi pada produk tersebut.” Lanjut Sri lagi.
Telinga Sri berdengung. Rasa nyeri di hatinya masih belum menghilang. Tidak fokus lagi. Pikirannya melayang entah kemana. Pembicaraan rapat selebihnya hanya terdengar menjadi dengungan berisik di telinganya.
Entah sudah berapa lama rapat berjalan. Yang pasti semua sudah hampir selesai. Tubuh Sri seakan terasa mengambang ringan. Perutnya kram beberapa kali. Kebiasaan lamanya jika merasa tertekan dan gugup, telapak tangannya berkeringat luar biasa dan kepalanya berdenyut nyeri.
“Inovasi yang sangat bagus. Saya harap inovasi tersebut dapat terencana dan membuahkan hasil yang menapjupkan. Berhubung waktu mendekati jam istirahat, saya akan menutup meeting ini, Assalamuallaikum Wr.wb.”
Noah menutup rapat. Semua staf bisa bernapas lega. Rapat hari ini berjalan sukses. Semua anggota rapat mulai bubar. Sri membereskan berkas di depannya dengan malas. Ketika Sri ingin keluar ruang rapat, Noah menahannya.
"Sri, duduk"
Sri melihat mata Noah langsung. Tapi sungguh pikirannya tidak fokus. Kembali duduk di kursinya. Diam menunggu Noah bicara.
"Ada apa dengan mu?"
"Hah?"
Begitu jelikah pria ini menelisik matanya? Dia tahu Sri sedang tidak baik-baik saja.
__ADS_1
"Kau lebih banyak melamun. Ada apa?"
Sri diam. Apa yang harus dia katakan? Noah adalah sepupu Lucky. Haruskah ia mengadu? apa Noah akan percaya?
"Ndak pak. Saya Ndak apa-apa"
"Mata mu tidak bilang begitu" Noah semakin tajam menatapnya. Menusuk hingga relung hati Sri yang terdalam.
Ingin rasanya berteriak mengadu. Tapi Sri takut Noah tidak akan percaya padanya.
"Pak.." Sri menatap Noah dengan mata berkaca-kaca. Tak kuasa menahan rasa perih memikirkan apa yang di katakan Amira tadi.
"Katakan" ujar Noah.
"Rapat sudah selesai. Saya mau permisi pulang" Sri merasa tak sanggup lagi bekerja dengan pikiran kacau. Yang ada nanti pekerjaannya ikut berantakan. Memutuskan untuk pulang saja.
Noah diam masih menatapnya serius. Noah tahu Sri sedang tidak baik. Tapi dia harus mendapat penjelasan dari mulut Sri sendiri. Pastilah ini berhubungan dengan Lucky.
"Baik. Ikut aku. Aku akan mengantar mu"
Noah bergerak berdiri. Berjalan melewati Sri. Gadis itu menunduk dalam. Air mata yang ingin tumpah setengah mati ia tahan. Tidak mau teman-teman yang lain melihatnya menangis. Mengikuti Noah keluar dari ruang rapat.
Ketiga temannya tampak keheranan ketika melihat Sri tidak kembali ke kubikelnya. Tapi terus mengikuti di belakang Noah dengan kepala tertunduk. Keluar ruang divisi mereka dan langsung menuju lift eksekutif.
Sepanjang jalan mereka tidak berbicara. Di lift juga hanya diam membisu. Noah membawanya ke basement dan langsung naik ke mobil.
Meluncur meninggalkan area kantor tanpa banyak bicara. Seolah mereka berdua sama-sama mengerti dalam diam. Noah tidak banyak bertanya dan tetap fokus melihat jalan di depannya.
Sri juga tidak ambil pusing kemana Noah membawanya. Dia hanya ingin sendiri. Menenangkan hati yang terlanjur terkoyak. Dan Sri tahu jika Noah mengerti itu. Sri sempat merutuki dirinya sendiri. Selalu terlihat lemah di depan Noah. Pria ini Selalu ada ketika Sri dalam keadaan tidak baik-baik saja.
__ADS_1