OJO NGONO MAS'E

OJO NGONO MAS'E
Ijin Kerja


__ADS_3

Daun-daun melengkung menahan berat buliran air yang berasal dari embun pagi yang terkumpul dari malam tadi. Tak sanggup menahan beban tetesan embun menumpuk pada permukaan hijau segarnya. Menjemput mentari yang sebentar lagi akan menunjukkan gagah sinarnya.


Sri membuka matanya secepat mungkin. Menoleh ke sampingnya yang sudah kosong. Ternyata lucky sudah bangun lebih dulu. Sri menghela napasnya teringat kejadian tadi malam. Tidak munafik dia tidak bisa menahan pesona Lucky pada dirinya. Tapi dia sadar bahwa Lucky sangat jauh untuk di gapai. Sri hanya tidak mau merasakan sakit di campakkan ketika Lucky segera bangun dari mimpi, dan menyadari ada Amira di antara mereka.


Pagi ini, Sri punya rencana yang harus di lakukan. Kerja. Ya, cari kerja. Walaupun undangan interview masih besok, setidaknya hari ini dia akan mendatangi perusahaan yang di rekomendasikan Noah.


Secepatnya Sri pergi mandi. Setelah selesai, memakai baju dan menyiapkan pakaian Lucky. Meletakkannya di atas tempat tidur. Lalu dia keluar dari kamar. Melangkah menuju ke dapur. Tapi sayang, lagi-lagi pak Sam melarangnya bergabung di dapur. Nyonya rumah dilarang bergabung bersama pelayan di dapur.


Kesal sekali Sri di tolak mentah-mentah. Dia pergi keruang depan. Celingak-celinguk mencari ibu mertuanya. Tapi ini masih pagi sekali. Tentulah Melani masih sibuk mengurus suaminya.


Sri teringat Lucky. Dia tidak melihatnya dari bangun tidur tadi. Lucky selalu bangun pagi dan pasti sekarang di ruang fitness. Sri melangkah ke sana. Tidak ada yang bisa di ajak bicara. Semua pelayan sibuk mengurus pekerjaan masing-masing. Biarlah jika Lucky tidak suka melihatnya. Setidaknya Sri ada alasan untuk memberi seman mulut di pagi hari.


Terlihat Lucky masih Mengangkat beban. Otot tangannya tampak menggembung besar. Dada polosnya berkeringat membakar kalori. Sri diam memperhatikan di batas ruangan. Lucky mendongak dan menoleh melihat Sri. Dia tahu Sri datang karena melihat dari kaca besar di ruang fitness.


"Mau coba?" tanya Lucky mengedikkan dagunya.


Sri hanya menggeleng. Melangkah masuk dan duduk di matras. Memperhatikan Lucky mengangkat beban. Lalu pria itu berhenti dan meraih handuk kecil menyeka keringatnya yang membanjir.


"Ada apa? tumben ke sini?" tanya Lucky lagi sambil menyeka keringat di lehernya.


"Sri Ndak ada temen bicara Mase. Sri bosen Lo" Rengek Sri.


Lucky tidak menjawab. Duduk di bangku kecil yang ada di sudut ruangan. Sri sedikit mangkel ketika Lucky sudah menunjukkan sikap kakunya. Ingin rasanya menghentakkan kaki ke lantai.


"Mase, Sri ada rencana hari ini. Mase kasih ijin Yo, biar papi juga ngijinin" ujar sri.


"Rencana apa?"


"Sri mau kerja"


Lucky berhenti menyeka keringatnya. Menatap Sri lekat-lekat. Lalu menghela napas panjang.


"Kamu memang kepingin banget kerja?"


"Hem" Sri mengangguk dengan semangat dan binar cerah di wajahnya tak dapat di sembunyikan.


Lucky diam lagi. Hanya memperhatikan wajah Sri dan menatap netra gadis itu dengan teliti.


"Boleh toh mas? 'Kan janjine gitu. Kalau sudah bulan madu Sri boleh kerja" tuntut Sri.


"Buat apa? Karena uang?" suara lucky terdengar kaku. Sri terdiam mendengar pertanyaan Lucky. Teringat apa yang di katakan Amira ketika di apartemen Billy.


"Baiklah. Aku mandi dulu. Nanti temui aku di ruang kerja"


Lucky bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan Sri menuju ke kamar. Sri terbengong. Memikirkan apa yang di tanyakan Lucky tadi. Benar saja. Untuk apa dia kerja? semua telah tersedia di mansion ini. Sri tidak kekurangan apapun.


Tapi, bukan karena uang alasan dia mau bekerja. Lebih tepatnya karena itu yang dia inginkan sejak awal. Lagi pula, apa yang bisa dia lakukan di rumah super mewah ini selain melamun? Sri tidak mau itu. Hanya menumpang hidup dan bermalas-malasan.


"Nona Sri" pak Sam datang dan membungkuk hormat.


"Ada apa pak?"


"Maaf mengganggu nona. Nyonya dan tuan menunggu anda di ruang kerjanya"


Sri mengerutkan keningnya. Di tunggu di ruang kerja? Ada apa? Biasanya juga bertemu di meja makan nanti.

__ADS_1


"Ada yang penting ya pak?" tanya Sri.


"Saya tidak tau, nona" pak Sam membungkuk lagi.


"Baiklah, antar saya ya pak"


Pak Sam mengangguk dan berbalik. Sri mengikuti dari belakang. Ruang kerja Frans ada di samping kamarnya. Pak Sam mengantar sampai di depan pintu. Mengetuknya dan mempersilahkan Sri masuk.


Terlihat Frans duduk di meja kerjanya yang besar. Terlihat seperti seorang hakim yang akan menjatuhi hukuman pada seorang tersangka. Sedangkan Melani duduk sofa sambil minum teh.


"Sri, silahkan duduk" Frans menyilangkan Sri duduk di depan meja kerjanya. Sri menurut setelah mengangguk pada Melani. Rasanya seperti akan menghadapi meja hijau saja.


"Ada apa papi?" tanya Sri canggung.


"Lucky bilang, kamu mau kerja. Apa benar Sri?" tanya Frans.


Berdesir jantung Sri. Ternyata benar apa yang di katakan Lucky sebelum Mereke pergi bulan madu. Pria itu sudah bicara pada Frans tentang ini.


"I-iya Pi" Sri menunduk. Segan melihat mata Frans yang penuh wibawa menatapnya.


"Baiklah. Tapi.. papi ingin tau apa alasan mu" ujar Frans tegas.


Sri berdebar-debar. Ini namanya interview kerja. Aduuhh.. Segan rasanya mengutarakan apa yang ada di hatinya. Tapi Sri harus menjawab ayah mertuanya.


"Sri kepingin kerja udah dari dulu, Pi. Sebelum menikah sama mas Lucky. Kata Mase, kalau sudah pulang bulan madu, Sri boleh kerja. Tapi kalau papine ora setuju, Sri Ndak apa-apa kok"


Sri menunduk segan. Tidak berani menatap mata Frans. Ayah mertuanya ini menguarkan wibawa yang kental. Pantas menjadi seorang pemimpin. Tapi Frans tersenyum mendengar jawaban menantunya. Frans senang Sri tidak memendam apa yang di rasakan hanya dalam hatinya.


"Kamu mau jabatan apa di kantor?" tanya Frans lagi. Sri mendongak. Menatap Frans seakan tak percaya di tawakan sebuah jabatan di kantornya.


Frans semakin melebarkan senyumnya. Geli melihat kepolosan menantunya. Kalau orang lain di tawari jabatan penting, mana ada yang menolak.


"Di kantor juga kamu berhak. Ada andil jika kamu mau. Perusahaan Lucky juga milik mu" ujar Frans menerangkan. "Kamu tinggal pilih. Tapi kamu harus bertanggung jawab atas jabatan yang sudah kamu pilih"


Sri tercenung. Perusahaan Lucky adalah miliknya juga? Apa tidak salah? dia punya andil di perusahaan itu juga? Hhh.. edaann!! Tapi bagaimana dengan statusnya dengan Lucky? suaminya hanya menganggapnya istri di balik layar. Kalau karyawan perusahaan tahu, pasti akan menimbulkan gosip panas. Sri tidak mau itu.


"Sebenernya, Sri sudah mengajukan lamaran kerja di tempat lain pi. Biarlah Sri coba dulu di sana" Sri semakin menunduk. Sangat segan menyampaikan itu pada Frans.


Frans menaikkan alisnya. Melirik pada Melani yang tersenyum dan mengangguk padanya. Melani bilang, menantu mereka ini unik. Tidak mata duitan. Ternyata benar. Frans semakin geleng-geleng kepala.


"Jadi kamu menolak jabatan di kantor papi?"


Sri mengangguk. Dia tidak mau di katakan sebagai benalu pengganggu. Lagi pula, menjabat sebuah jabatan penting di sebuah perusahaan besar, itu sangat berat. Sri tidak punya pengalaman kerja sebelumnya. Sri tidak mau gara-gara dia, ada kekacauan nanti.


"Baiklah. Papi akan bantu kamu masuk di perusahaan lain. Kamu mengirim di mana?"


"Eh.. A-anu Pi.. Ndak usah. Sri bisa kok Pi. Besok sudah ada panggilan interview. Sri pasti bisa" Sri menolak lagi.


"Haha.." Frans tergelak. Senang rasanya punya mantu pekerja keras. Padahal jika Sri mau, Frans hanya tinggal telepon pihak perusahaan lain, maka Sri bisa masuk tanpa syarat. "Baiklah.. baiklah.. Papi hargai kerja keras mu. Kamu boleh mencoba. Tapi jika menemui kesulitan, kamu bisa katakan pada suami mu atau pada papi langsung. Mengerti Sri?"


"Nggeh Pi" Sri mengangguk hormat dengan senyum mengembang di wajahnya. Ternyata ayah mertuanya sangat baik hati.


Melani mendekati Sri. Duduk di sampingnya. Menggenggam tangan Sri dan tersenyum lembut.


"Sri, mami dan papi tidak akan melarang mu bekerja. Tapi Sri kan punya tanggung jawab sebagai seorang istri. Apa kamu sudah pikirkan bisa membagi waktu antara bekerja dan mengurus suami mu?"

__ADS_1


Deg!!


Jantung Sri terasa di sentil. Dia belum memikirkan ini. Tapi selama dia menjadi istri Lucky, tidak terlalu berperan penting dalam kehidupan Lucky. Selama ini kerjanya hanya menyiapkan pakaian Lucky, dan menyendokkan makanan ke piring Lucky. Selebihnya, suaminya mengurus segalanya sendiri. Mereka berdua punya kesepakatan bukan? urus urusan masing-masing.


"Sri berusaha sebaik mungkin, mi. Sri Ndak lupa mengurus suami" jawab Sri walau masih dalam kebimbangan soal itu.


"Ya sudah kalau begitu. Mami dan papi hanya mengingatkan saja" Melani mengelus dan menepuk lembut punggung tangan Sri.


"Makasih mami, papi" Sri mengangguk hormat dan tersenyum senang. Frans dan Melani membalas hangat senyum Sri.


Sri bahagia sekali. Ayah dan ibu mertuanya sudah memberi ijin. Sekarang tinggal usaha dan kerja kerasnya. Sri pasti bisa.


Sri keluar dari ruang kerja Frans dengan senyum mengembang di bibirnya. Wajahnya berbinar bahagia. Dan langsung menuju kamarnya untuk menemui Lucky. Tapi pria itu sudah tidak ada. Sri keluar lagi. Bertanya pada pak Sam yang kebetulan ada di lantai dua.


Pak Sam mengantar Sri keruang kerja Lucky. Tampak lelaki itu sedang membolak-balik berkas di tangannya. Begitu Sri masuk, dia menoleh dengan sangar.


"Lelet sekali sih kamu? dari mana saja?" tanya Lucky dingin.


"Sri baru di panggil papi tadi Mas" jawab Sri sedikit kesal.


"Lelet banget. Sini"


Lucky mengedikkan dagunya menyuruh Sri mendekat padanya. Sri enggan melangkah ke dekat Lucky. Bersikap waspada kalau-kalau Lucky akan berbuat curang.


"Ck.. cepat sedikit" lucky menarik tangan Sri tak sabar. Mendekatkan Sri padanya. Jengkel sekali Sri pada pria kekar ini. Sri sudah seperti sebuah layangan tak memiliki bobot dan mudah terhempas di terjang angin kencang di mata Lucky.


Jarak mereka sangat dekat. Sri bisa merasakan napas hangat dan harus dari hidung lucky. Menghempas wajahnya sedikit memburu. Sri mulai merasa tak nyaman. Mata Lucky menatapnya seakan gemas ingin menghabisinya saat ini juga.


"Apa sih Mase?" gemetar suara Sri di depan Lucky.


Lucky memegang dagu Sri. Mengusap bibir Sri lembut. Menatapnya seakan bibir itu punya sesuatu yang spesial di matanya.


"Papi bilang apa?" tanyanya pelan. Seperti berbisik. Tapi Sri bisa mendengar dengan jelas.


"S-sri boleh kerja" Sri gugup. Lucky mengusap bibirnya sampai jarinya hampir masuk kedalam mulut Sri.


Entah kenapa Lucky tak dapat menahan hasratnya ketika berdekatan dengan Sri. Selalu teringat malam panas bulan madu kemarin.


"Mase.. j-jangan begini" Sri menepis tangan Lucky. Membuat mata pria itu sontak berubah dingin. Melepaskan Sri dan berbalik memunggungi gadis itu.


Sri mengerutkan kening tidak mengerti dengan sikap Lucky. Pria itu Mengambil amplop dan membukanya.


"Ini kredit card. Ini kunci mobil. Dan ini ATM. Ini semua untuk mu. Aku tidak mau kau mengatakan pada orang lain jika aku tidak mengurus istri ku. Jika ingin pergi, kamu akan di antar supir. Pak Sam akan menunjukkan supir mu"


Lucky menyerahkan semua itu di tangan Sri. Baru saja Sri ingin menjawab, Lucky sudah bicara lagi.


"Jangan membantah. Aku tidak mau kamu keluar sendiri. Satu lagi. Jangan berhubungan dengan lelaki busuk itu. Atau aku akan membunuhnya"


Bibir Sri terkatup rapat. Tak di ijinkan membantah apa yang di katakan Lucky.


"Sudah. Pergilah" ujar Lucky dingin.


"Tapi Mase..."


"Keluarlah. Sebelum aku tidak bisa menahan diri"

__ADS_1


Sri menegang. Menahan diri? apa Mase lagi... Sri melirik bagian bawah Lucky. Dan dia terperanjat. Area itu sudah menggembung tinggi. Mendelik Sri melihat itu. Segera Sri membalikkan tubuhnya meninggalkan Lucky sebelum pria itu membuatnya menjerit lagi seperti sewaktu bulan madu.


__ADS_2