OJO NGONO MAS'E

OJO NGONO MAS'E
Penggeledahan


__ADS_3

Keinginan untuk pergi ke supermarket lenyap sudah. Sri penasaran dengan apa yang terjadi di kantor sekarang. Ingin rasanya bertanya pada ketiga temannya di chating group. Tapi saat ini masih jam kantor. Sri takut mengganggu mereka.


Lucky sudah menghilang. Pesan pun kembali tak terjawab. Pastinya semua orang sedang sibuk saat ini. Sri gelisah. Kenapa ada polisi di kantor Bronze? apa yang terjadi?


Sri turun ke lantai bawah. Pak Sam sedang bicara dengan pak Karim dan beberapa pelayan lain. Tampak sangat serius. Dan memerintahkan pada pelayan untuk mengerjakan sesuatu.


Melihat Sri datang, pak Sam menyuruh mereka bubar. Lalu menyambut Sri dengan sikap tenang seperti kebiasaannya.


"Anda menginginkan sesuatu nona, Sri?" tanya pak Sam seraya membungkuk hormat.


"Tidak pak" Sri berhenti sejenak. Lalu melanjutkan. "Pak Sam tau ndak, apa yang terjadi di kantor?"


Pak Sam tidak menjawab. Hanya menatap Sri membisu. Sri tak sabar dengan sikap kaku pak Sam. Itu bukan jawaban yang dia inginkan.


"Pakne, tau tidak?"


"Tidak tau, nona"


"Iisshh.." Sri mendengus kesal. "Saya boleh ya pak, pergi ke kantor sekarang?"


"Maaf nona. Perintah tuan lucky, anda tidak boleh keluar"


Sri menghela napas kasar. Semakin gelisah mendengar apa yang dikatakan pak Sam barusan. Terpaksa Sri menurut. Rasa mual tiba-tiba saja menyerang. Sri memijit keningnya dan meremas perutnya.


"Anda baik-baik saja, nona Sri?" Pak Sam mendekat memeriksa keadaan Sri.


"Ndak pa-pa pak"


Sri mengelak. Beranjak ke lantai atas lagi. Lebih baik di kamar. Sri merasa lemas. Pergi ke kamar mandi dan memuntahkan isi lambungnya di toilet. pusing menyerangnya.


Terengah dengan tubuh lunglai. Berjalan merambat ke tempat tidur. Berbaring di sana dan menarik selimut. Tubuhnya sangat sensitif sekali sekarang.


šŸ’–


šŸ’–


šŸ’–

__ADS_1


Wajah-wajah tegang menyelimuti semua orang yang berjalan ke arah gudang pemasaran. Melangkah lebar di pimpin Noah paling depan. Dia yang bertanggung jawab di bagian divisi pemasaran.


Kasat narkoba beserta beberapa anak buahnya telah menyerahkan surat perintah penggeledahan pada Lucky. Meminta dengan hormat untuk melaksanakan penggeledahan di bagian gudang distributor.


Semua staf sangat heboh. Kantor Bronze group terjadi kekacauan asumsi liar yang beredar. Lucky sudah meminta keamanan gedung untuk menstabilkan kondisi. Banyak staf berkerumun membicarakan acara penggeledahan ini.


"Ini bagian gudang, pak. Silahkan anda periksa" ujar Noah pada kasat Sutomo yang berpangkat AKP itu.


Segera saja kasat memerintahkan anak buahnya untuk melakukan penggeledahan. Mereka bergerak berpencar. Semua staf bagian gudang menyingkir. Kebingungan kenapa ada banyak sekali polisi yang datang.


"Maaf pak Noah, tolong kumpulkan siapa saja yang bertanggung jawab di bagian distributor"


"Baik, pak" jawab Noah datar.


Mengumpulkan beberapa orang yang bertanggung jawab di bagiannya masing-masing.


"Siapa yang bertanggung jawab di bagian agensinya, pak Noah?"


Noah belum menjawab. Masih mengedarkan pandangannya ke semua arah. Mencari bagian agensi pengiriman barang.


"Pak Budi" seorang lelaki berperawakan kurus datang mendekat. "Dia, pak" Noah menunjuk lelaki itu.


"Komandan!" panggil salah seorang anggota polisi di bagian truk pengangkut barang. Sutomo dan Budi mendekat. "Barang bukti komandan"


Lucky dan Noah saling pandang. Lalu segera mendekat dan ikut memeriksa. Sangat mencengangkan. Banyak tumpukan narkoba di bak truk pengangkut barang. Polisi sudah menemukan barang bukti.


"Lihat, pak Lucky. Anak buah saya menemukan narkoba di perusahaan anda" ujar Sutomo tegas. "Siapa supirnya?"


Seorang polisi datang membawa supir truk bermuatan tekstil itu. Supir truk menunduk takut. Keringat dingin dengan wajah pias.


"Kamu supirnya?"


"I-iya pak" jawabnya tergagap.


"Baiklah, semua orang yang bertanggung jawab di divisi ini, harap bisa kooperatif. Ikut kami ke kantor"


Semua orang berpandangan. Panik, gugup dan takut. Noah dan Lucky masih diam.

__ADS_1


"Pak Noah, dan pak Lucky, saya harap anda juga ikut kami"


Keadaan semakin tegang. Semua karyawan melihat mereka di giring menuju mobil polisi di depan halaman kantor. Lucky dan Noah tidak banyak bicara. Hanya mengikuti arahan polisi.


šŸ’–


šŸ’–


šŸ’–


Mami Melani dan papi Frans langsung pulang. Meninggalkan banyak pekerjaan di Singapura demi mendengar berita yang sangat mengejutkan tentang Lucky. Sri apalagi. Panik begitu mendengar berita penggeledahan itu dari Agnes.


"Papi, bagaimana ini?" mami Melani menangis memegangi lengan suaminya.


"Sabar ma. Richard sudah di sana. Papi yakin Lucky dan Noah tidak terlibat"


"Tapi, bagaimana bisa barang haram itu ada di perusahaan, pa?"


"Itu masih dalam penyelidikan polisi, ma"


Sri hanya menunduk dan terisak sedih. Pak Sam dan beberapa pelayan juga berkumpul di ruang depan. Tubuh Sri yang tadinya lemah dan hanya bisa berbaring, kini rasa itu lenyap. Cemas memikirkan Lucky di kantor polisi.


"Papi mau ke sana. Mami di rumah saja bersama Sri. Jangan keluar kalau tidak ada yang penting. Mengerti, ma?" papi Frans bersiap pergi.


Mami Melani hanya mengangguk sedih. Mendekati Sri dan duduk di sampingnya. Papi Frans dan om Baris segera bersiap. Mami Melani mengantar sampai ke depan.


"Sayang, jaga menantumu. Jangan sampai dia lemah karena ini. Mengerti?"


"Jangankan Sri, aku sendiri tidak sanggup" mami Melani terisak lagi.


"Kau harus kuat. Lucky baik-baik saja. Berdoalah"


Papi Frans meningkatkan keamanan mansion. Berpesan pada istrinya untuk tidak keluar mansion dulu. Mami Melani menurut dan duduk bersama Sri setelah suaminya pergi.


"Sri" mami Melani menggenggam tangan Sri erat. Menyalurkan kekuatan pada menantunya ini.


"Mami" ujar Sri serak. "Mase baik-baik aja kan?"

__ADS_1


"Iya sayang. Berdoalah semua baik-baik saja. Mami yakin suamimu tidak terlibat"


Mereka berdua berpelukan erat. Menangis mengungkapkan rasa cemas di dalam dada. Berdoa semoga Lucky tidak terlibat dan sekarang dalam keadaan baik-baik saja.


__ADS_2