OJO NGONO MAS'E

OJO NGONO MAS'E
Segera Pulang


__ADS_3

Gelisah.


Itu yang dirasakan Sri saat ini. Mondar mandir di ruang depan di temani pak Sam. Ada rahasia apa sampai Sri tidak boleh ikut mendengar? Ini sudah terlalu lama. Apa yang mereka bicarakan sampai begitu lamanya?


"Pakne, Kenapa lama tenan toh?" Sri menatap pak Sam dengan miris.


"Saya tidak tau, nona" pak Sam hanya menggeleng kaku. "Lebih baik nona muda duduk saja. Tunggu sebentar lagi" Lalu pak Sam pergi ke dapur.


Sri menurut. Duduk dan meremas jemarinya dengan perasaan cemas. Sudah dua jam mereka masuk ke ruang kerja papi Frans. Tapi sampai sekarang belum keluar juga.


"Ono opo toh yo? Huh!"


Pak Sam datang lagi dengan segelas jus. Meletakkannya di depan Sri. Meminta Sri untuk minum jus dulu agar tidak terlalu tegang.


Setelah beberapa saat, Sri di kagetkan dengan kedatangan Agnes. Entah mau apa gadis itu datang di saat jam kerja begini.


"Lho? Mbak Agnes?"


Agnes mendekati Sri. Melirik pak Sam sejenak lalu berbisik pada Sri.


"Memangnya ada masalah apa Sri? kenapa aku di suruh kesini?"


"Lha? mana Sri tau. Mbak Nes siapa yang nyuruh datang?" Sri menatap Agnes dengan bingung.


"Suamimu, Sri. Tadi aku di telpon tuan Lucky"


"Masak sih mbak?" Sri mengernyitkan kening.


"Iishh.. Gak percaya banget lu" Agnes mengambil ponselnya di tas. Lalu menunjukkan panggilan Lucky. "Nih. Ngapain aku bohong, Sri"


Sri terbengong. Tanda tanya besar bermunculan di benaknya. Untuk apa Lucky menyuruh Agnes datang?


"Mase bilang apa mbak?"


"Nggak ada. Cuma bilang segera datang. Bawa persiapan untuk satu Minggu. Kamu di jemput pak Karim. Udah, gitu doang" Agnes menjelaskan.


"Apa? Persiapan satu Minggu? Maksudnya... Baju?"


"Ho'oh" Agnes mengangguk cepat. Mengiyakan apa yang di katakan Sri.


"Tapi untuk apa, mbak?"


"Lhooo.. Ya mana aku tau Sriii.."


Agnes melirik pak Sam yang memperhatikan mereka dengan raut wajah datar. Agnes bergidik ngeri melihat kekakuan kepala pelayan itu.


"Silahkan nona duduk dan menunggu dulu" ujar pak Sam datar.


Agnes hanya bisa tersenyum kecut. Tak berani lagi bertanya banyak. Duduk di samping Sri yang tampak bengong memikirkan apa sebenarnya yang di inginkan Lucky.


Tampak mami dan papi Frans menuruni tangga. Mendekati Sri dan Agnes yang langsung berdiri menyambut.

__ADS_1


"Mami.. Ada apa?" tanya Sri penasaran.


"Sri, kamu ditunggu Lucky di kamar" jawab Melani.


Sri terdiam. Menatap Melani dan Frans bergantian. Perasaannya tidak enak. Tapi menurut saja. Melangkah meninggalkan mereka. Naik ke tangga menuju kamarnya.


Berdiri dii pintu kamarnya sejenak. Menarik napas dalam dan menghembuskannya kasar. Menguatkan hatinya dengan apa yang akan di dengarnya dari Lucky nanti.


Pelan sekali Sri membuka pintu. Dan begitu melongok kedalam, tampak Lucky berdiri sejurus dengan pintu. Melipat tangannya di dada dan tatapannya tajam. Sri sampai gugup melihat sikap kaku Lucky.


"M-mase manggil, Sri?"


Lucky mengangguk. Masih berdiri tegak seperti seorang algojo yang siap melaksanakan tugas. Sri gugup setengah mati. Ketika Lucky bersikap dingin, Sri seperti melihat sisi lain dari suaminya. Membuat bulu kuduknya meremang.


"I-itu mbak Agnes, Mase yang suruh datang?"


"Hem" Lucky berhem ria. Sri mulai jengkel dengan sikap kaku itu. Sangat merasa tertekan.


"Mase ini nopo toh? Jangan buat Sri takut lho mas!" Menghentakkan kakinya kesal.


Hampir saja Lucky lepas kendali. Ingin rasanya ia memeluk istrinya dengan segenap perasaan. Gemas melihat bibir mungil yang mengerucut sebal itu. Tapi Lucky menahan diri sekuat yang ia bisa.


"Kamu bilang, temanmu akan menikah di kampung. Siapa namanya?"


"Nunik"


"Hemm.. Nunik" Lucky manggut-manggut dengan tangan si dagunya. Seakan berpikir mengambil langkah apa setelahnya. "Aku pikir, lebih baik kamu lebih dulu pulang"


"Pesta pernikahan temanmu sebentar lagi. Jadi lebih baik kamu lebih dulu pulang"


Sri terhenyak. Kenapa begini? Lucky sudah berjanji akan pulang bersamanya waktu itu. Tapi kenapa jadi menyuruhnya pulang lebih dulu? Apa Lucky percaya kejadian di kamar hotel dengan Noah? Sehingga dia sekarang jijik padanya?


"Bersiap lah. Kamu akan di antar pak Karim dan beberapa pengawal di mobil lain"


Mata Sri memanas. Air mata sudah berdesakan ingin keluar. Sri hanya bisa menunduk menatap ujung sandal rumahannya dengan nanar.


Melihat Sri begitu, hati Lucky seakan di iris sembilu. Dia harus bersikap cuek pada istrinya untuk saat ini. Agar mereka berdua bisa bersikap dingin di luar sana. Terkesan banyak masalah dan dalam pertengkaran hebat.


"M-ma-se.. Su-sudah jijik sama Sri? M-mase per-caya kejadian itu benar?" Tanya Sri terbata. Berusaha menahan air matanya yang sudah akan luruh dalam satu kedipan.


Seerrrr....


Jantung Lucky seakan di remas. Nyeri tak terkira melihat mata istrinya berkaca-kaca. Lucky tak tahan melihat itu. Kekakuannya langsung melumer. Tangannya jatuh lemas. Tatapannya langsung melunak. Dia tidak tega melihat Sri tersakiti. Apalagi ada si jabang bayi di perutnya. Pastilah Sri sangat sensitif. Segera Lucky mendekati Sri. Mendekapnya erat.


"Bukan begitu, Sri. Jangan bilang begitu. Aku tidak percaya itu. Sungguh. Aku tidak pernah jijik padamu. Aku sayang kamu, Sri"


"Hiks.. Hiks.. Mase berubah. Mase aneh! Huaaaaa..."


Pecah sudah tangis Sri. Tak tahan lagi menanggung semua ini. Dia tertekan. Yang seharusnya berbahagia menyambut kehamilannya, malah sebaliknya. Terlalu banyak masalah.


"Ssshhttt.. jangan bilang begitu, sayang. Aku tidak pernah berubah"

__ADS_1


Lucky mengetatkan pelukannya. Rasanya sangat berat melepas Sri pulang tanpanya. Dia tidak bisa jauh dari Sri. Bisa-bisa dia mati lemas. Dekat dengannya selalu bisa membuat tubuhnya bereaksi dengan baik.


Lucky merenggangkan pelukannya sedikit. Menarik dagu istrinya keatas menghadap ke wajahnya. Sri masih terisak dengan air mata berlinang menatap netra hitam Lucky.


"Dengar Sri, aku sayang kamu. Aku tidak pernah berubah. Mengerti? Jangan pernah berpikir begitu"


Mata Sri mengerjab-ngerjab basah. Mencari cinta di mata suaminya. Dan ia masih menemukan itu disana. Tapi kenapa harus berpisah?


Lucky mendekatkan wajahnya. Mengikis jarak antara mereka berdua. Menempelkan bibirnya ke bibir hangat istrinya. Mengecup lembut dengan segenap perasaan dalam dadanya.


Sri memejamkan matanya erat. Meresapi kecupan yang telah berubah menjadi lu**tan lembut. Lucky mulai menikmati manisnya bibir Sri yang tak pernah bisa ia lupakan. Selalu bisa membuatnya menginginkan lagi dan lagi.


Kecupan dan lu**tan itu berubah menjadi semakin liar. Lucky lepas kontrol. Sudah berabad rasanya dia tidak menyesap bibir manis Sri. Akhir-akhir ini dia selalu sibuk dengan dunianya sendiri. Hingga tidak menyadari perubahan istrinya yang sudah berisi.


Lucky menjilat basah bibir hangat istrinya. Menjulurkan lidahnya masuk mengobrak Abrik dalam mulut Sri. Sri merangkumkan kedua tangannya di leher Lucky. Meremas rambut Lucky ketika lidah panas itu menggelitik bagian dalam mulut basahnya.


"Eegghhmm.."


Lucky menggeram ketika Sri mau membalas belitan lidahnya. Memagutnya dengan semangat. Rasa lembut yang tak terkira di rasakan menghentak sanubari keduanya. Dan terlepas ketika keduanya butuh mengambil napas. Terengah saling menatap sayu. Tersenyum manis dan mengusap bibir basah istrinya karena ulahnya.


"Kamu tau arti ciumanku tadi 'kan? Hmm?" bisik Lucky dalam senyum kecilnya.


Sri mengangguk. Pipinya merona merah. Ciuman itu cukup menjawab bagaimana perasaan suaminya padanya. Masih belum berubah. Masih sama rasanya ketika pertama kali Lucky mengatakan cinta padanya di rumah Oma.


"Aku akan merindukanmu, sayang"


"Sri pulang sama Mase aja ya?" rengek Sri.


Hmm.. Inilah yang ditakutkan Lucky. Jika dia bersikap mesra, pasti mereka tidak bisa menyembunyikan itu di depan semua orang. Maka pihak Levi akan mengetahui sebenarnya tidak terjadi apa-apa diantara Lucky dan istrinya.


"Tidak, Sri. Aku sudah memutuskan itu"


Lucky melepaskan pelukannya. Sedikit bergerak menjauh. Mati-matian menahan hasrat ingin mencumbu istrinya lebih lama. Dia masih harus tetap menjalakan drama yang sebenarnya dia juga tidak suka. Tapi ini demi kebaikan semua orang. Ia harus lebih bisa bertahan.


"Tapi, mase.."


"Aku akan menyuruh Nita untuk membantumu berkemas. Kau akan di temani mami dan Agnes disana. Apapun yang kau mau, katakan pada mami. Agnes akan membantu" Lucky memotong bicara Sri.


Yang tadinya wajah Sri sudah secerah mentari, kini meredup lagi. Kecewa dengan cepatnya perubahan sikap Lucky. Wajah sendunya tertunduk lagi. Tapi tak bisa membantah keinginan suaminya.


Nita datang dan membantu Sri berkemas. Setelah selesai, mereka turun kebawah. Lucky tidak ikut. Lebih memilih berdiam di kamar. Hatinya terasa perih melepaskan Sri pergi. Dia tidak mau pelayan lain bisa melihat raut wajah sedihnya ketika istrinya berangkat.


Sri, Melani dan Agnes sudah siap akan berangkat. Sangat berat langkah Sri menuju mobil yang sudah di siapkan pak Karim. Melihat bagian depan Mension dengan perasaan sedih. Sri mendongak ke arah balkon kamarnya yang tirai balkonnya tersingkap sedikit.


Tampak Lucky ada di sana. Melihatnya dengan tatapan dingin. Sri tak kuasa jika harus pergi dengan masalah yang belum tuntas. Tapi ciuman Lucky tadi sudah cukup menguatkan hatinya akan cinta Lucky yang tidak berubah. Lucky menutup tirai dan menjauh dari balkon.


Sri menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Entah apa yang membuat suaminya menjadi aneh begitu. Sejenak tatapannya bertemu dengan Lina. Pelayan yang pernah menggunjingnya dengan pelayan lain. Sri tersenyum kecil. Dan Lina membalas dengan senyum dan anggukan hormat.


"Ayo, sayang. Kita harus berangkat sekarang" mami Melani menepuk lengan Sri. Mereka masuk ke mobil dan mobil melaju perlahan meninggalkan mansion.


Di balik tirai balkon Lucky menatap kepergian mobil Sri sampai hilang di depan gerbang. Lucky mengepalkan tangannya geram.

__ADS_1


"Maafkan aku, Sri. aku janji ini tak akan lama. Aku janji akan segera menyusulmu. Dan aku janji, akan menghancurkan Levi dan Amira sampai lebur! Aku janji Sri"


__ADS_2