
Kembali pada rutinitas seperti biasanya. Lucky dan Sri sibuk bekerja. Seperti pagi ini, Sri harus terburu-buru berangkat ke kantor karena kesiangan. Lucky sudah mengingatkannya untuk tidak terlalu tergesa. Dia bisa bilang pada Noah tentang itu. Tapi namanya Sri, tidak mau melanggar peraturan kantor tempatnya bekerja. Tidak penting itu perusahaan siapa. Baginya, kerja ya kerja. Tanpa harus melihat siapa pemiliknya.
Sri tergesa turun dari mobil. Tidak lagi mengucapkan terima kasih pada pak Karim. Tempatnya turun pun tidak lagi di tempat tersembunyi seperti biasanya. Sri berpikir, semua staf sudah sibuk bekerja. Jadi tidak ada lagi yang berkeliaran di luar dan melihatnya turun dari mobil mewah.
Tapi di lobi kantor, Sri agak keheranan. Banyak mata tertuju padanya. Ada beberapa orang staf kantor yang berseliweran dan menatapnya penuh dengan ejekan. Ada juga yang menatapnya sinis. Sri bingung kenapa semua orang menatapnya seperti kotoran saja.
Melewati resepsionis dan mendengar mereka berkasak-kusuk tak jelas. Sri sempat menoleh kearah mereka. Tapi mereka langsung membuang muka pura-pura tidak melihatnya. Dengan penuh tanda tanya, Sri naik ke lift menuju ruangan tempat divisinya.
Sesampainya di ruangan divisinya, Sri semakin di buat keheranan. Tidak ada seorangpun yang menyapanya. Semua orang tertunduk seperti tidak melihat kehadirannya. Yang tadinya senyum Sri telah mengembang ingin menyapa teman-temannya, seketika senyum itu lenyap.
Agnes, Niar, dan Dila, tak sedikit pun menoleh kearahnya. Mereka pura-pura sibuk dengan laptop dan setumpuk berkas di depan mereka. Seakan Sri adalah makhluk tak berwujud yang tidak kelihatan.
Sri terduduk bingung di kubikelnya. Menoleh ke kiri dan kanannya dengan penuh tanda tanya. Bergumam keheranan melihat situasi yang membingungkan. Dila agak melirik padanya. Kesempatan itu tak disia-siakan Sri. Dia coba menyapa.
"Hai mbak Dila"
Dila hanya sedikit menaikkan bibirnya. Tersenyum sinis. Lalu menatap laptopnya lagi dan merubah mimik wajah serius.
"Ono opo toh Iki? kok do aneh ngene to yo?"
Sri bergumam kebingungan. Tapi melihat setumpuk berkas di mejanya, Sri tak ingin berlarut-larut mempermasalahkan perubahan sikap teman-teman dan orang sekantor. Lebih baik sekarang kerja saja.
Sampai menjelang makan siang, tetap saja ketiga temannya masih diam seribu bahasa. Agnes selalu menghindar bertatap mata denganya. Niar dan Dila juga melakukan hal yang sama. Mereka pergi menuju kantor dengan berpencar. Tidak seperti biasanya mereka berempat akan jalan beriringan dan bercanda sepanjang jalan.
Sri duduk sendiri di kantin. Ketiganya juga berpisah. Mungkin mereka menghindari jika Sri ingin bergabung satu meja. Sri sampai ingin menangis rasanya melihat perubahan sikap yang terlalu signifikan ini. Banyak orang bergumam membicarakan tentangnya dan sesekali melirik ke arahnya dengan tatapan sinis.
Sri tidak tahan. Bingung dengan apa yang terjadi. Dia tidak tahu menahu ada apa sebenarnya yang terjadi. Mengambil kesempatan menarik Agnes ketika keluar dari kantin.
"Mbak Agnes. Ono opo toh?" tanya Sri pada Agnes dengan tatapan memohon.
"Eh... apa Sri? gak ada apa-apa tuh. Emang k napa?" Agnes tampak kikuk menjawab Sri.
"Mbak Agnes jangan bohong. Dari tadi pagi Sri lihat Ndak ada satupun yang lihat Sri. Ono opo mbak?" Sri mengguncang tangan Agnes minta penjelasan.
"Gak ada kok. Perasaan kamu aja kali" Agnes tampak menghindar.
"Ndak kok mbak. Tadi juga banyak orang yang gosipin Sri. Tolong mbak, kasi tau aku" Sri rasanya sudah ingin teriak menanyakan ada masalah apa sebenarnya. Jengkel melihat teman-temannya menghindarinya tanpa sebab.
"Ah.. ayo masuk, Sri. Jam kantor udah mulai. Aku lagi banyak kerja nih. Ntar terlambat. Udah ya.. aku deluan"
Agnes menghindar. Meninggalkan Sri terbengong sendiri. Agnes Berlari kecil masuk ke lobi kantor. Dengan lemas, Sri melangkah pelan masuk ke kantor. Masih saja banyak suara sumbang mendengung di sekelilingnya.
Duduk di kubikelnya tanpa selera menatap berkas yang harus di kerjakan. Melirik pintu ruangan Noah yang tertutup dari pagi tadi. Noah tidak keluar dari ruang kerjanya mulai Sri datang sampai sekarang. Entah sesibuk apa lelaki itu bekerja sampai tak kenal waktu.
Tanpa Sri sadari, sedari tadi Agnes mencuri-curi pandang kearahnya. Sebenarnya gadis itu kasihan melihat Sri yang kebingungan kenapa semua orang menggunjingkannya. Dan mereka bertiga juga ikut menghindarinya.
Agnes sebenarnya tidak tega tadi melihat Sri hampir saja menangis ketika bertanya padanya. Tapi dia juga takut ikut terkena imbas dari gosip panas tentang Sri.
__ADS_1
Ting!
Sri melirik ponselnya tanpa minat. Tapi begitu melihat nama Agnes tertera di layar ponselnya, Sri langsung membuka aplikasi pesannya.
"Sepulang kantor, temui aku di basement"
Sri melirik kubikel Agnes di depannya. Tampak gadis itu menatapnya dan mengedipkan sebelah matanya. Lalu menunduk lagi secepatnya.
Sri bersyukur Agnes masih mau berteman dengannya. Entah apalah nanti yang akan di sampaikan Agnes padanya. Dengan bersemangat, Sri mengerjakan pekerjaannya yang tertunda agar cepat selesai. Tak sabar rasanya menantikan apa yang akan Agnes katakan.
❤️
❤️
❤️
Jam kantor usai. Sri membereskan berkas di mejanya. Melirik ke kubikel Agnes. Gadis itu berlagak tak melihat sri. Dengan santai keluar dari ruangan. Niar dan Dila menyusul tanpa menyapa sri. Sri juga diam saja. Menunggu sampai semua orang keluar, baru dia keluar.
Sri segera mengabari pak Karim untuk tidak menjemputnya. Sri ingin Agnes menjelaskan ada apa sebenarnya. Pasti akan memakan waktu lama. Jadi dia memutuskan untuk tidak pulang bersama pak Karim.
Agnes sudah menunggunya di dekat lift basement. Langsung saja gadis itu menyerahkan helm pada Sri. Tanpa banyak tanya, Sri menuruti saja. Agnes membonceng Sri naik motornya. Mereka menuju sebuah kafe di tengah kota.
"Mbak, sekarang jelasin sama aku. Ada apa sebenernya?" tanya Sri begitu mereka duduk di sebuah coffee shop.
"Emm.. gimana ya aku mau jelasinnya. Aku ngeri Sri" keluh Agnes enggan.
Tampak Agnes agak menimbang sesaat sambil matanya menatap Sri tak berkedip. Jari-jarinya mengetuk meja berirama. Berpikir keras ingin memberitahu Sri atau tidak.
"Kamu yakin pingin tau dan pingin denger Sri?" tanya Agnes meyakinkan.
"Hem" Sri mengangguk mantap.
"Ceritanya nih ya.. cerita mereka lho, di group chat. Bukan aku yang bilang"
"Iya loh mbaaakk.. opo sih?" Sri tampak tak sabar menunggu.
"Em... kamu itu simpanan om om"
DUARRRR!!!
Bagai tersambar petir Sri mendengar itu. Gosip apa itu? simpanan om om? astaga!! berita dari mana itu? Wajah Sri memucat. Tak percaya dengan gosip panas tentang dirinya.
"Sri, maaf. Itu kata mereka lho ya.. bukan aku" Agnes membela diri.
"Mbak Agnes denger dari mana itu mbak?"
"Entah siapa yang nyebarin deluan Sri. Aku juga kurang tau. Tapi sudah heboh di group kantor"
__ADS_1
"Group kantor? mana groupnya? Sri kok Ndak masuk?" Sri memberondong Agnes dengan banyak pertanyaan.
"Itu group karyawan lama, Sri. Kamu belum masuk"
"Trus, gimana gosipnya mbak? apa cuma itu?"
"Hmm.. ck.. bentar deh. aku kasi screenshot nya sama kamu"
Agnes mengecek ponselnya. Menunjukkan pada Sri apa saja yang di bicarakan di sana.
"Tuh.. kamu lihat. Aku tuh gak percaya kan. Tapi mereka punya foto-foto kamu naik ke mobil mewah. Terus, yang sama pak Noah juga ada. Terus, kamu di jemput mobil yang berbeda-beda"
Sri mengecek ponselnya. Banyak screenshot yang di kirim Agnes padanya. Foto-fotonya juga dikirim Agnes.
"Ini mbak percaya nih?" Sri menunjukkan percakapan chatnya Agnes.
"Itu kan aku bilang, kamu itu udah punya suami. Tapi mereka gak percaya sama aku. Mbak Dila sama Niar juga awalnya bela kamu, Sri. Tapi setelah lihat foto-foto kamu naik ke mobil yang isinya om om, yaaahh kita jadi percaya lah"
Sri melihat ada foto pak Karim segala. Foto-fotonya naik kemobil yang di kemudikan pak Karim. Ada mobil Lucky juga. Yang paling vokal adalah Susan. Susan membumbui dengan style Sri dari ujung kaki sampai kepala.
Susan bilang, tidak mungkin seorang istri yang suaminya cuma ojol, bisa pakai barang branded kalau ke kantor. Sampai kulit Sri juga di komentari. Sebenarnya Sri ingin tertawa membaca percakapan gosip tentang dirinya. Sri di gosipkan jadi simpanan pak Karim!!! Tapi tidak ada foto Lucky disana. Hanya mobilnya saja yang terlihat.
Sri tersenyum melihat Agnes. Ini sudah keterlaluan. Apa ini saatnya Sri harus membuka siapa sebenarnya dirinya? tapi bagaimana dengan Lucky? apa dia setuju jika banyak orang yang tahu tentang siapa Sri sebenarnya?
"Loh.. kok malah senyum? Ini beneran apa tidak Sri?" kini gantian Agnes yang heran melihat Sri tersenyum di gosipkan sedemikian panas.
"Mbak Agnes percaya gosipnya?" Sri balik bertanya.
"Yaahh.. lagian.. mereka bener lah Sri. Mana ada istri seorang ojol bisa pake barang-barang branded kayak kamu. Kita tau lah gaji ojol seberapa Sri. Bukannya aku menjengkali nih ya.. Tapi aku rasa, mereka itu tidak salah kan?"
Sri hanya diam mendengarkan saja. Ya mereka tidak salah. Tapi gosip itu salah alamat.
"Nih lihat.. baju yang kamu pake aja berapa nih harganya? Nih tas kamu. Belum lagi sepatu kamu. Peratiin aja tuh makeup kamu.. Semuanya ini berkelas Sri... Mana ada harga tanah Abang. Semua punya merek" Agnes menunjuk-nunjuk apa yang di pakai Sri.
Sri semakin tersenyum geli melihat semangat Agnes nyerocos.
"Yang di foto itu beneran ya Sri, om om yang boking kamu? terus, yang mobil satu lagi itu siapa Sri? om om juga? kok kamu bisa sih di tidurin sama om om gitu Sri?"
Sri tergelak mendengarkan banyak pertanyaan Agnes. Yang tadinya Sri ingin menangis melihat sikap teman-temannya dan semua karyawan kantor mencibir dan menatapnya sinis, kini malah berganti Sri ingin tertawa terbahak melihat kesalahpahaman mereka.
Tapi mereka juga tidak sepenuhnya salah. Sri memang menyembunyikan siapa dia sebenarnya. Tidak mau staf lain tahu kalau Sri istri Lucky. Tapi, siapa yang menyebarkan foto-foto itu? Berarti selama ini, ada yang melihat Sri ketika naik dan turun dari mobil bersama pak Karim.
"Sri.. jawab dong. Ini beneran apa enggak?" Agnes semakin penasaran melihat Sri tenang-tenang saja.
"Mbak Agnes mau ke rumah Sri?"
"🤩"
__ADS_1