OJO NGONO MAS'E

OJO NGONO MAS'E
Cemburu dan Cinta


__ADS_3

Sri menunduk melihat puncak kepala Lucky yang sedang menempel di perutnya. kepala itu bergetar halus menahan tangis yang seakan ingin di ledakkan tapi gengsi meliputi hatinya.


Tanpa Sri tahu, ternyata Lucky masih mengingat cerita Sri waktu di pulau bulan madu. Ingatan itu selalu membekas di hati Lucky. Walaupun ciuman pertama Sri adalah Lucky, tapi Lucky selalu ingat kalau pacar masa kecil Sri, pernah mengecup bibirnya tanpa permisi. Dan Lucky yakin seratus persen itu adalah si Rian keparat itu!


Hati Sri sontak terenyuh melihat itu. Suaminya menangis karena jengkel dan cemburu yang menyesakkan dada. Sri melembut. Meraih kepala suaminya dan mengelus lembut.


"Sudah mas"


Lucky mengurai pelukannya. Mendongak menatap wajah Sri di atasnya. Mata tajam yang tadi menampilkan aura membunuh, kini redup dengan sejuta penyesalan disana. Menatap Sri dengan mata merah yang telah mengalirkan buliran bening di sudut matanya.


"Maafkan aku, sayang" ujar Lucky lirih.


Ahhh.. manise Mase kalo ngeneee.. iisshh gemesh aku mas!


Hati Sri bersorak gemas melihat mata tajam itu berganti dengan tatapan manis meminta maaf. Sri tersenyum melihat suaminya seperti anak kecil meminta pengampunan pada ibunya.


"Iya, mas. Ya sudah. Sri maafin" jawab Sri lembut.


"Makasih sayang"


Lucky kembali menempelkan wajahnya di perut Sri. Memeluk istrinya erat. Sri tidak kuat menahan bobot tubuh Lucky. Terduduk di sisi tempat tidur sambil Lucky masih tetap memeluk pinggangnya.


Kini kepala Lucky sudah berpindah di dada Sri karena posisi Sri sudah terduduk di sisi ranjang. Mengelusi kepala suaminya dengan lembut. Benar kata mami Melani. Ternyata Lucky orangnya sangat pencemburu.


"Mase"


"Hmm?" Lucky mendongak. Sri menyentuh rahang tegas suaminya.


"Sri juga minta maaf yo? Sri Ndak permisi sama Mase tadi. Maaf ya mas?"


Lucky mengangguk dan tersenyum. Menatap istrinya penuh cinta. Kemarahan itu telah hilang sepenuhnya. Berganti dengan rasa cinta yang kian mengembang di hatinya.


Lucky hanya takut Sri berpaling. Takut kalau Sri masih memiliki rasa tersimpan di hatinya pada Rian. Pemuda itu sangat mencolok mencintai Sri terang-terangan. Lucky bisa merasakan itu. Intinya, Lucky takut Sri meninggalkannya.


"Tapi.. si tengil itu kan yang cium bibir kamu dulu?" Lucky mulai lagi.


"Mase.. itu cerita dulu. Waktu itu juga Sri dan mas.. eh maksudnya Iyan" Sri nyengir. Takut Lucky marah lagi. "Sri dan Iyan masih bocah mas"


"Kamu tidak cinta dia lagi kan, sayang?" tanya Lucky lagi. Merengek persis seperti bocah balita. Sri tertawa renyah.


"Mase sayang.. Sri ini sepenuhnya milik Mase lho. Masak sih masih Ndak percaya?"


Mendengar itu, Lucky tersenyum lebar. Seperti sudah mendapat pengampunan sekaligus mendapat hadia mewah kesukaannya. Matanya berbinar penuh cinta. Menatap istrinya dengan sayang berlipat ganda.


"Sudah mas. Lekas mandi dulu. Ada mami lho di bawah. Kasian baru pulang kita anggurin"


"Ahhh.. biarikan saja. Aku mau sama kamu terus"


Kembali Lucky memeluk Sri erat. Mengendusi leher istrinya dan sesekali mengecup gemas.


"Iya mas. Kita kan di rumah ini... Masih sama terus kan?"

__ADS_1


"Di sini. Bukan di luar. Nanti mami selalu mengganggu ku, sayang"


Lucky bergerak bangkit. Naik ketempat tidur. Menarik tubuh Sri untuk berbaring bersamanya. Lucky tidak menghiraukan kalau mereka berdua masih memakai pakaian kantor.


Memeluk istrinya bagaikan guling. Mengecupi pipi dan seluruh wajah Sri. Tak peduli Sri tertawa kegelian.


"Jangan ada Mase lain, Sri. Aku tidak rela"


Lucky menatap netra istrinya sambil tangannya membelai pipinya. Sri hanya mengangguk kecil dan tersenyum hangat.


"Mase tadi ngeri banget lho, marahnya"


"Aku cemburu"


"Kayak singa"


"Hah?"


"Iya. Sri takut"


Lucky geli menyadari betapa brutalnya dia tadi dalam keadaan cemburu berat.


"Sayang, kenapa mau beli motor?"


Deg!


Sri terdiam. Senyum senang menghilang dari bibirnya. Wajahnya berubah murung. Lucky mengernyitkan dahi melihat respon istrinya.


"Ada apa, Sri?"


"Ayo cerita" desak Lucky.


"Sayang, kita harus saling terbuka mulai sekarang. Agar tidak salah paham lagi. Aku cinta kamu Sri. Aku tidak mau kita berpisah hanya karena hal sepele" Lucky menyatakan perasaannya.


Sri menghela napas. Menatap langit-langit kamar seakan semua pikirannya bisa dia baca di sana.


"Sri mau naik motor aja pergi ke kantor mas" ujarnya lirih.


"Hah? apa?!"


"Ada gosip di kantor yang bilang Sri jadi simpanan om-om. Ada yang lihat Sri naik ke mobil pak Karim. Ada juga foto-fotonya, mas"


"Ulah siapa itu?"


"Sri Ndak tau, mas. Sri juga heran kok bisa ada yang tau sampai lihat dari cctv di seberang jalan. Sri di gosipin di kantor mas"


Wajah Lucky kembali dingin. Memikirkan apa yang sebenarnya terjadi. Selama ini Sri tidak pernah bilang apapun. Dia tidak rela kalau istrinya jadi bahan gosip panas di perusahaannya sendiri.


"Kamu tau siapa yang jadi biang gosip di kantor?" tanya lagi dengan serius.


"Kalau Sri lihat dari chatingan di group kantor, mbak Susan yang selalu bersuara tentang gosip itu. Tapi Sri heran, mas. Sri selalu hati-hati kalau mau pulang, atau datang ke kantor. Sri rasa, Ndak ada yang tau kalau Sri lagi naik dan turun dari mobil. Tapi kok mbak Susan bisa tau ya mas?"

__ADS_1


Lucky mengerti sekarang. Ternyata ada yang memata-matai istrinya. Apa ini pekerjaan Levi? atau Amira?


"Ya sudah. Jangan terlalu di pikir, sayang. Kamu tidak boleh naik motor" ujar Lucky tegas.


"Mas, tapi gosipnya akan lebih panas lagi kalau Sri masih di antar jemput pak Karim. Sri mau naik motor aja dulu"


"Nanti aku pikirkan lagi" jawab Lucky.


Pria ini jadi tampak sangat serius mendengar aduan istrinya. Dia sudah mengerti apa yang harus di lakukan selanjutnya.


"Mase"


"Hmm?"


"Sri mau mulai bisnis. Boleh Ndak, mas?"


"Eh? apa lagi itu?" Lucky mengernyitkan alisnya. Sri memeluk tubuh kekar suaminya. Menempelkan wajahnya di dada Lucky. Mengelus dada itu lembut.


"Sri ndak mau selalu di anggap jadi benalu"


"Siapa yang bilang?" Wajah Lucky sekarang berubah menjadi marah dan bengis. Siapa yang berani bilang begitu pada istri seorang Lucky?


Sri diam. Tidak mau menjawab pertanyaan itu. Dan Lucky bisa menebak dengan tepat. Tidak ada orang yang tahu kalau Sri istrinya. Kecuali beberapa orang yang pernah Lucky kenalkan pada Sri.


"Itu yang kamu dengar juga sewaktu di apartemen Billy?" tebaknya langsung.


Dengan berat hati Sri mengangguk mengiyakan pertanyaan Lucky. Terlalu banyak kesan buruk yang istrinya terima selama ini. Dan tentu saja dirinya yang memulai itu. Rasa bersalah menumbuk hati Lucky. Dia tidak sadar telah banyak menyakiti istrinya karena awal pernikahan dengan sebuah kesepakatan. Dan Sri hanya menyimpan itu sendirian, tidak pernah mengadu padanya sekali pun.


"Sayang, maafkan aku ya? selama ini kamu menerima cibiran dan aku tidak tau"


"Bukan salah Mase juga. Kita berdua salah. Membangun rumah tangga dengan niat yang salah dari awal"


"Iya, sayang. Tapi aku yang paling bersalah" Lucky memeluk Sri dan mengecup pencak kepala istrinya.


Saling berpelukan meresapi rasa yang hadir. Bayangan masa lalu yang telah mereka jalani selama pernikahan terbayang jelas di mata masing-masing. Sama-sama merasa menyesal mengapa harus ada keegoisan di awal pernikahan.


"Sayang?"


"Ya mas?"


"Kita benahi sama-sama ya?"


"Iya mas"


Menatap dan tesenyum satu sama lain. Cinta itu semakin mekar di antara keduanya. Hilang sudah penghalang di antar mereka. Melunturkan keegoisan di hati masing-masing.


"Sayang"


"hmm?"


"Tegang"

__ADS_1


"Mami mas"


"Aaggrhh.. mami lagi!"


__ADS_2