
Agak tahan napas ya readers..... gerah dikit. š¤š¤š¤
š„°š happy reading mbak yuuu..
Mengerang,mende sah, Sampai menjerit menggema di seluruh penjuru kamar yang sound-proof ini, tak membuat semangat Lucky kendor. Gempurannya semakin membuat Sri kehabisan napas megap-megap kekurangan oksigen.
"Mase! sudah-sudah.. Sri Ndak kuat"
Keluh Sri seakan sekarat bermandikan keringat. Tapi Lucky masih mengayuh dengan gerakan lambat dan sesekali memutar. Meresapi rasa yang selalu membuatnya candu. Tak akan pernah bisa melepaskan Sri barang sekejap. Ia ingin mereguk madu manis itu seluruhnya.
"Ini jatahku. Jangan mengelak. Kau harus dihukum" erang Lucky tanpa berhenti.
"Sri.. mmhh.. salah apahhh?"
Sri mencengkram kuat lengan Lucky di sisi tubuhnya. Ingin rasanya menggigit dada liat mengkilap di penuhi buliran keringat milik Lucky.
"Hhmmm.. bertanya lagi? Aku tak akan berhenti" bisik Lucky semakin menggeram.
"Uhmm.. massee.."
Sri menggigit bibir bawahnya dan memejamkan mata begitu Lucky menghentak sekali dengan keras. Mentok di batas akhir tubuhnya. Menimbulkan percikan liar di tubuh Sri.
"Tidak usah kerja Sri.. mmhh.. Aku cemburu"
Kata-kata itu berhasil membuat Sri melentingkan dadanya. Membusung tinggi di depan Lucky. Sri bergetar mendengar Lucky mengatakan isi hatinya karena cemburu. Akankah cintanya bersambut?
Lucky menyambar puncak tinggi di depannya. Menari menyentil dengan lidahnya. Mengi sap seakan ada banyak madu yang bisa mengalir dari dalamnya.
"Sri.. Ndak.. hhhh.. ngapa-ngapain mas... uughh.."
Memerah wajah Sri menahan panas dari dalam tubuhnya. Kayuhan Lucky beritme random. Kadang menghentak, kadang lembut. menciptakan Licin dan padat sekaligus. Sesak menyentuh seluruh bagian sensitif di dalam tubuh Sri.
"Belum.. Tapi nanti.. Banyak yang akan melirik mu. Aku tidak bisa.."
"Aahhg!!!"
Jerit Sri ketika Lucky menghentaknya keras. Seakan mengekspresikan dia marah ketika nanti ada pria lain yang akan melirik istrinya. Dia cemburu. Membayangkan Sri akan mencintai pria lain dan mengecup bibirnya. Lucky marah. Apalagi ketika mengetahui Sri tidak ada di kantor tempatnya interview. Pikiran Lucky sudah sangat panas dan meradang.
Lucky berhenti sejenak. Napasnya tersengal menggebu. Menatap tubuh mungil yang sangat menggodanya. Tubuh istrinya. Mulus tanpa cela. Memerah di sebagian tempat yang sudah di jamah tangannya. Kontras dengan kulit putih itu. Membuat Lucky semakin ingin mengunyahnya saking gemas.
Membalikkan Sri begitu mudah. Membelakanginya dan menarik naik pinggul Sri keatas. Menempatkan diri dan mulai menghujam pelan. Membuat Sri meremas sprei dengan mata terpejam erat. Sesak itu menderanya. Bahkan kini dengan sensasi berbeda yang luar biasa.
Lucky menaikkan badan Sri. Setengah tegak dengan pinggul kebelakang. Meraih dada ranum itu dari belakang. Memelintir ujungnya lembut, sambil masih intens mengayuh maju mundur.
Sri terbeliak. Posisi ini membunuhnya. desiran listrik bertegangan tinggi berkali-kali menyentaknya. Rasanya seluruh tubuh Lucky masuk dengan sempurna. Sri tak tahan. Mengejang di iringi napas terputus-putus. Menjerit dengan tubuh menggeliat manja.
Lucky tersenyum puas melihat istrinya menegang. Merasakan kedutan hangat mengalir deras. Berhenti sejenak tanpa melepas tubuhnya. Memberi kesempatan Sri mengisi paru-parunya dengan udara sebanyak yang ia mau.
Lucky merebahkan tubuhnya di samping Sri yang tersengal memunggunginya. Tanpa melepas menyatuan mereka, Lucky memeluk Sri dari belakang. Mengecupi pundak yang masih bergetar dan bergerak mengatur napas. Aroma Sri selalu membuatnya mabuk tak bisa mengendalikan diri.
"Kamu suka sayang?" bisiknya di telinga Sri. sesekali mengecup di sana.
__ADS_1
"Mase mesum!" ketus Sri.
"hmmpt.. Tapi kamu suka. Kamu basah"
"Lepas dulu" Sri mencubit lengan Lucky diperutnya. Merasa risih bagain bawahnya masih tersumpal sesak.
"Jangan. Biar dulu begini"
"Risih mas"
"Aku belum"
"uuhhgg!!"
Sri menjerit karena Lucky menghentak sekali. Lucky mempermainkan emosi Sri. Mengayuh lagi lembut, dan berhenti lagi. Menunggu Sri benar-benar siap.
"Sri kekamar mandi dulu mas"
Sri agak mendorong pinggulnya kebelakang. Maksudnya agar Lucky melepas penyatuannya. Tapi sayang. Gerakan itu malah membuat Lucky menggeram. Napasnya memburu di belakang telinga Sri. Menghembuskan napas hangat langsung ke dalam telinga Sri. Membuat gadis itu bergidik menggeliat menciptakan gerakan menggoda.
Tak sabar, Lucky mengangkat sebelah pa ha Sri ke atas. Memberi ruang untuknya bergerak bebas. Kaki Sri di tumpangkan ke pinggangnya. Membuat Sri mele nguh kencang saat Lucky mengayuhnya kembali.
Menahan paha Sri bagian dalam. kini mengangkatnya tinggi ke atas. Bergerak semakin intens. Menggigit punggung putih istrinya. Meresapi rasa melambung ke langit.
"You are mine. Jangan lihat yang lain. Aku memberi mu"
Lucky menggeram. Tubuh mungil itu berguncang hebat. Sri tidak kuat dengan ketangguhan Lucky. Pria ini seakan tak pernah bosan memberinya rasa indah.
"M-masss Luuckkyy!!!"
Menggeram di belakang punggung Sri. Sri kelojotan tak karuan. Berkali-kali mencapai surga duniawi. Rasa cinta itu semakin menggebu. Menjerit memanggil nama Lucky dalam de sa Han yang membuat Lucky mencapai pelepasan maksimal.
Memeluk wanitanya dengan rasa yang tak bisa terungkapkan dengan kata-kata. Mengecupi wajah Sri dari samping. Napas memburu dengan degup jantung menggebu.
Lucky candu. Candu akan tubuh istrinya. Candu aroma dan rasa menjepit dan meremas yang membuat dia tak akan pernah bisa menolaknya.
Sri miliknya. Tidak ada yang bisa memalingkan Sri pada pria lain. Hanya dia. Harus Lucky yang selalu menghiasi tubuh Sri dalam setiap jengkalnya.
šŗ
šŗ
šŗ
Bangun dengan kondisi tubuh remuk redam, Sri menggeliat malas. Meraba di sebelah kanannya ternyata sudah kosong. Menegakkan kepalanya melihat tempat kosong di sampingnya.
"Ah... Ck, Apa dia masih bisa olahraga mengingat apa yang di lakukannya semalam?"
Sri mengeluh melihat kelakuan Lucky. Pria itu seperti robot yang tidak pernah lelah. Tadi malam sudah menghujamnya berkali-kali sampai ambruk kelelahan. Tapi pagi ini sudah bangun pagi sekali dan pasti dia ada di ruang fitness nya. Tenaganya seperti tenaga Hercules yang selalu prima. Ampun deh pokeke!
Sri bangkit dan segera mandi. Hari ini harus cepat sampai di kantor. Banyak yang harus ia pelajari. Kemarin Dila sudah mewanti-wanti harus datang jam delapan pagi.
__ADS_1
Selesai berpakaian rapi, Lucky masuk ke kamar. Tapi tidak seperti biasanya. Kali ini tubuh itu tidak berkeringat. Lucky Sepertinya tidak habis fitness.
"mas dari mana?"
Tanya Sri memperhatikan Lucky melepas kaos dan celananya denga. santai di depan Sri. Dan gadis itu bersemu merah wajahnya. Walaupun sudah melakukan segala hal bersama, tapi Sri masih saja tetap merasa malu ketika Lucky terlalu terbuka di depannya.
"Ada kerjaan sedikit. Baru memeriksa email" jawab Lucky. "Kamu sudah rapi, apa mau langsung pergi?"
"Iya mase. Hari ini pasti sibuk. Mase mandi dulu gih. Nanti Sri bawa sarapannya ke sini aja ya?" Sri menawarkan.
"Tidak usah. Nanti aku bisa sarapan di kantor. Kamu berangkat dengan ku" ujar lucky melangkah ke kamar mandi.
Sri terdiam. Kadang dia heran melihat sikap Lucky. Kalau tidak sedang panas di ranjang, sikap Lucky jauh lebih dingin dengannya. Tapi mengingat apa yang di katakannya tadi malam, dia cemburu dan tak bisa melihat Sri dengan yang lain itu apa sebenarnya? Benar-benar cemburu, atau... hanya melampiaskan hasrat seksualnya?
Sri duduk menunggu. Lucky keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit pinggangnya. Tak sadar Sri terus memperhatikan bagaimana liatnya bentuk tubuh kekar nan seksi itu. Dengan otot-otot tegas yang menampilkan daya sensual yang tinggi.
"Apa? Mau lagi?"
Sri terkesiap. Tidak menyadari Lucky menatapnya dengan seringai licik menggoda. Cepat Sri membuang pandangannya ke arah lain. Pura-pura tak mendengar pertanyaan Lucky tadi.
Beranjak mengambilkan pakaian Lucky, dan membantunya mengancingkan kemeja suaminya. Lucky agak mengendus-endus ke arah leher Sri. Membuatnya risih.
"Apa sih mas?"
"Kamu bau"
Sri mendelik. Apa iya dia bau? Sri mengendus-endus tubuhnya. Pakaiannya. perasaan tadi dia sudah pakai parfum. Kenapa Lucky bilang bau?
"Ah.. mana ada. Ndak bau kok mas?" Sri masih tetap mengendus pakaiannya. mencari sumber bau yang di katakan Lucky.
"Bau. Kamu gak percaya? Ini ni.. di sini"
Lucky menarik tangan Sri agar lebih menempel ke tubuhnya. Lalu mengendus leher Sri dan sedikit menji Lat di sana. Sontak Sri bergerak menghindar. Mundur kebelakan Beberapa langkah.
Lucky terkekeh melihat Sri cemberut. Mengusili Sri sepagi ini membuatnya bersemangat.
"Sekali lagi masih bisa. Kita punya waktu setengah jam. Aku dua puluh menit cukup" Lucky mengering nakal.
"Laaahh.. Mana bisa dua puluh menit. Yang ada sampe sore! udah mas. ayo cepet Lo. Nanti telat Mase!" sungut Sri gemas.
kriing.. kriing..
Ponsel Lucky berdering. Sri yang mengambil ponsel Lucky di atas nakas. Tapi begitu melihat layar siapa yang menghubungi, sontak saja wajahnya meredup. Amira. Gadis itu menghubungi Lucky sepagi ini? sangat penting ya?
"Siapa?" Tanya Lucky menyadari perubahan sikap Sri.
Sri tidak menjawab. Hanya memberikan ponsel itu ketangan Lucky. Lucky melirik Sri sejenak. Raut wajahnya juga berubah. Melangkah ke arah balkon menerima telepon Amira.
Ada rasa sakit merayap ke dalam hati Sri. Amira. Lagi-lagi Sri lupa nama itu selalu menciptakan benteng kokoh antara mereka berdua. Sri memperhatikan Lucky bicara di sana. Pastilah kondisinya berbeda sekarang. Lucky akan lebih memilih Amira.
Tanpa kata, Sri mengambil tasnya, lalu melangkah kepintu. Lucky tidak melihat ke arahnya. Sebab pria itu memunggungi Sri menghadap ke kaca pintu balkon yang terbuka.
__ADS_1
Sri menutup pintu sepelan mungkin agar tidak menimbulkan suara. Melangkah turun ke lantai bawah. Memanggil pak Karim dan langsung meluncur pergi.