OJO NGONO MAS'E

OJO NGONO MAS'E
Bertemu Billy


__ADS_3

Membawa banyak barang belanjaan di tangannya, tidak membuat Lucky kepayahan. Sri hanya membawa beberapa paper bag ringan saja. Tapi Lucky membawa banyak sekali. Mereka juga membeli keperluan dapur untuk di apartemen. Lucky lebih suka tinggal di sana ketimbang di mension. Merasa tidak bebas karena Melani selalu memantau mereka berdua.


Keluar dari lift dan berjalan menuju mobil di basement. Sri sudah kelelahan dari tadi berkeliling di mall. Ingin rasanya langsung duduk di dalam mobil. Lucky membuka bagasi dan meletakkan banyak barang belanjaan mereka.


Membuka pintu mobil untuk Sri, dan gadis itu masuk menghempaskan tubuhnya di kursi depan dengan helaan napas lega. Lucky memutari depan mobil an membuka pintu untuknya. Tapi sebelum Lucky masuk ke dalam, seseorang memanggilnya dengan kencang.


"Lucky!!"


Lucky menghentikan gerakannya. Mereka berdua menoleh kebelakang melihat siapa yang memanggilnya. Ternyata Billy. Pria itu menampilkan wajah marah dan sinis menatap Lucky. Berjalan mendekat dengan tergesa dan langsung menarik kerah kemeja Lucky.


Sri terpekik ngeri melihat apa yang di lakukan Billy pada Lucky. Dia langsung keluar lagi dari mobil. Menatap kedua lelaki itu dengan ketakutan.


"Begini cara mu membuang Amira?!" geram Billy tertahan. Matanya nanar menatap Lucky.


Lucky mengetatkan rahangnya. Menepis cengkraman tangan Billy di kerah bajunya. Tapi cengkraman itu begitu kuat. Tangan Billy gemetar menahan amarah melihat Lucky bersenang-senang dengan Sri.


"Tidak bisakah kau bicara sopan?"


Lucky menatap tajam langsung ke netra hitam Billy. Mata Billy semakin berkilat marah. Sangat geram pada Lucky. Menghentakkan punggung Lucky sampai membentur mobil hingga menimbulkan suara hempasan keras.


"Kau enak-enakan disini! sementara Amira menangis tidak berhenti! dimana hati mu Luck!!"


Pandangan Lucky agak meredup begitu mendengar ucapan Billy. Amira. Gadis itu menangis tidak berhenti?


Lucky menghempaskan cengkraman Billy. Dan kali ini Billy mengalah. Membuka cengkeramannya dari kemeja Lucky. Menatap sinis pada pria di depannya.


"Kenapa Amira?" tanya Lucky berusaha tenang.


"Kau masih bertanya? Setelah kau mencampakkan dia, dan kau masih bertanya?!" sentak Billy dengan mata mendelik lebar.


Sri tercekat. Benarkah Lucky sudah memutuskan Amira? Lucky tidak memberitahunya tentang itu. Sri memperhatikan mereka berdua dari seberang mobil.


Lucky menghela napas panjang. Berusaha tidak ikut tersulut emosi. Meredam marahnya karena perbuatan Billy padanya. Billy membela sahabatnya. Dan itu wajar saja.


"Dimana dia?" tanya Lucky lagi.


Billy tidak menjawab. Masih tegak berdiri menatap marah dan sinis sekaligus. Pria itu terlihat seperti banteng mengamuk. Napasnya memburu ingin menghajar lucky.


"Kau sudah di racuni gadis kampung itu Luck!" Billy menuding Sri. Membuat Sri terbelalak kaget. "sekian lama Amira menunggu mu. Tapi kau malah mencampakkan dia begitu saja!"


Mata Lucky kembali di penuhi amarah. Geram melihat Billy menuding kan telunjuknya pada Sri. Menatap Billy dengan sikap ingin membunuh.


"Jangan menyentuhnya. Dia istriku!" geram Lucky.


Sri mengkerut takut. Berpikir akan terjadi perkelahian diantara kedua pria yang sedang dalam keadaan marah itu. Lututnya sampai gemetar melihat kedua pria itu saling memberi tatapan membunuh.

__ADS_1


"Istri? Lalu Amira bagaimana? apa janjimu dulu? Kau lupa? Kau menghianati Amira Luck!"


Lucky diam. Hatinya berkecamuk mendengar banyak pertanyaan Billy padanya. Ya, dia menghianati Amira. Dia melanggar janjinya sendiri. Dia menyakiti Amira. Tapi, apa yang harus di lakukan Lucky jika sekarang Sri lebih merajai hatinya? walaupun masih ada setitik cinta di hatinya untuk Amira, Tapi itu salah bukan?


"Pergi lah Bil. Nanti aku menemuinya" Ujar Lucky akhirnya.


Billy mendengus kesal. Menatap Sri sinis. Lalu menatap Lucky lagi dengan malas. Dia pergi begitu saja meninggalkan Lucky dan Sri yang masih menatapi punggungnya menjauh. Masuk ke mobilnya dan pergi dari area parkir.


Lucky menghela napas berat. Berbalik menatap Sri yang masih berdiri di samping mobil. Lucky tersenyum kecil menenangkan Sri yang ketakutan. Berjalan mendekat dan merengkuh Sri kedalam pelukannya.


"Sudah. Tidak ada apa-apa" ujarnya pelan.


Tubuh Sri masih gemetar. Baru saja mendapat kejadian yang mengejutkan. Banyak tanda tanya di hatinya. Jika melihat kemarahan Billy tadi, sepertinya Amira tidak dalam keadaan baik-baik saja saat ini.


"Sudah. Jangan takut lagi. Hem?"


Lucky mengurai pelukannya. Menatap wajah pias Sri yang gemetar. Mengecup kecil bibir Sri sesaat. Lalu tersenyum menenangkan gadis itu.


"Ayo kita pulang"


Lucky memapah Sri untuk masuk kemobil. Sri menurut. Lucky duduk di belakang setir dan melajukan mobilnya keluar dari area mall. Sepanjang perjalanan mereka lebih banyak diam membisu. Sri tidak berani banyak bertanya. Wajah Lucky tampak murung dan keningnya sering berkerut seakan banyak yang ia pikirkan.


Sesampainya di apartemen, Lucky menyuruh beberapa anggota keamanan gedung untuk menolong membawakan banyak barang di bagasi. Sri hanya diam tertunduk mengikuti langkah Lucky di depannya. Pria itu tampak dingin. Berdiam diri semenjak meninggalkan mall.


Lucky langsung pergi mandi ketika sudah di apartemen. Sambil menunggu Lucky, Sri memutuskan untuk memasak makan malam seadanya. Perutnya sudah mulai keroncongan. Tadi di mall hanya makan sedikit.


"Mas" panggilnya.


Lucky tersadar bahwa dia tidak sendirian. Menoleh menatap Sri yang berdiri di meja makan. Sudah tersedia makan malam di sana.


"Makan dulu mas" ujar Sri.


Lucky menatap wajah gadis itu lekat. Lalu tersenyum kecil dan mendekati Sri. Melihat makanan di meja makan yang terlihat menggiurkan.


"Kamu masak ini?" tanya Lucky sambil matanya masih melihat makanan di meja.


"Hem" Sri mengangguk mengiyakan.


"Ayo kita makan"


Lucky duduk. Sri masih berdiri terdiam menatap makanan di meja.


"Sri" gadis itu menatap netra hitam lucky. "Ayo makan. Kenapa bengong?"


Sri duduk di samping Lucky. Mengambilkan makanan di piring suaminya. Lalu menyerahkan pada Lucky. Mereka makan dalam diam. Sri tidak berani membuka pembicaraan. Lucky terlihat murung dan tak banyak bicara. Suasana canggung tercipta diantara mereka.

__ADS_1


Padahal di mall tadi, mereka sangat terlihat mesra. Lucky seperti tiada beban membawanya berkeliling dan bercanda ria. Banyak tatapan mata iri melihat mereka. Tapi setelah bertemu Billy, sikap Lucky langsung berubah. Pria itu lebih banyak diam dengan pikiran berkecamuk.


"Sri" panggil Lucky tiba-tiba. Sri terburu-buru mendongak menatap Lucky.


"Ya, mas?"


Lucky diam sejenak. Mengunyah makanannya pelan-pelan. Seakan menantikan detik yang pas untuk melanjutkan bicaranya.


"Kemarin aku memutuskan Amira"


Deg!


Hati Sri seakan di siram air sejuk menyegarkan. Lucky memutuskan Amira demi dirinya. Ada bunga bermekaran di hatinya.


"Tapi aku rasa, dia tidak dalam keadaan baik-baik saja sekarang"


Sri hanya diam mendengarkan. Seakan setiap detik adalah bom waktu yang siap meledak kapan saja.


"Aku akan menemuinya" Sambung Lucky.


Sri tercekat. Menemui? lalu apalagi nanti yang terjadi? Lucky akan kembali pada Amira? Banyak pertanyaan berputar di kepala Sri sekarang. Tapi dia tidak berani bertanya macam-macam.


"Kamu tidak apa-apa kan? kalau aku menemuinya?" Lucky menatap mata Sri seakan mencari sesuatu yang berharga disana. Kepala Sri seakan menjadi berat mendadak. Tulang lehernya seakan kaku seketika. Menatap mata Lucky yang penuh permohonan padanya.


"Hum" Sri hanya mengangguk.


Lucky tersenyum. Lalu melanjutkan lagi makannya. Sri menunduk dan menyuapkan makanannya sedikit. Hatinya berkecamuk berkata-kata sendiri. apa yang akan terjadi selanjutnya?


Selesai makan, Sri membereskan peralatan makan tadi. Menaruhnya di tempat piring kotor. Lalu mencucinya sebentar. Lucky masih sibuk memainkan gawainya duduk di sofa depan.


Ini sudah jam sembilan malam. Lucky ingin pergi menemui Amira. Kepala Sri seakan terasa kosong. Tapi dia diam saja. Merasa tak berhak banyak atas apa yang di putuskan Lucky. Hubungan mereka masih terasa ambigu. Sri tidak tahu kemana arahnya rumah tangganya dengan Lucky.


"Kamu tidak usah menungguku. Kalau ngantuk, tidur saja. Hem?"


Lucky menarik Sri merapat padanya. Mengelus pipi halus istrinya. Sri hanya mengangguk. Membiarkan Lucky mengecup bibirnya lembut.


"Aku pergi dulu ya? Kamu tidak apa-apa kan, sendirian?"


"Ndak apa mas" Sri mencoba tersenyum.


"Aku hanya sebentar. Aku pergi dulu ya?"


Lucky melepaskan Sri. Beranjak kepintu dan menutupnya. Sri kini menatap pintu yang sudah tertutup itu. Kesunyian tiba-tiba saja menyergapnya dengan telak. Merasa seperti di tinggal suami berperang dan ada kemungkinan tidak akan kembali lagi.


Hubungannya dengan Lucky masih sangat gamang. Belum ada kepastian bahwa hanya dia seorang yang menempati hati Lucky. Amira saat ini dalam keadaan kacau. Dan itu di sebabkan olehnya. Merasa tak enak hati mengetahui Amira menangis karena di putuskan Lucky secara sepihak.

__ADS_1


Tapi sejauh ini, Sri merasa terhibur karena Lucky sudah berani mengambil keputusan memutuskan Amira, walaupun gadis itu masih tidak bisa melepaskan Lucky. Sri memejamkan matanya. Memutuskan untuk tidur dan melupakan apa yang baru saja terjadi.


__ADS_2