OJO NGONO MAS'E

OJO NGONO MAS'E
Pesta Besar


__ADS_3

Semilir angin menerpa rambut panjang yang di kerly manis bak Barbie. Duduk manis di dalam mobil dengan kaca jendela yang terbuka. Gaya selangit bak princes berkelas. Sengaja membuka kaca jendela mobil seakan ingin semua orang yang melihatnya di pinggir jalan, akan berdecak kagum. Seulas senyum mengembang di bibirnya tiada henti. Sesekali bersenandung riang dengan hati berbunga harum semerbak di taman nirwana.


Amira. Dia sangat bahagia hari ini. Bagaimana tidak bahagia dengan kabar Lina memberi info padanya bahwa Sri sudah di pulangkan ke rumah orang tuanya? Lucky pun tak ikut mengantar. Lina bilang, Lucky berubah dingin bak es balok di pelelangan ikan.


Akhirnya... Keinginannya tercapai! Dia bisa merasakan kembali bagaimana sakitnya di putuskan selagi sayang-sayangnya. Di campakkan seperti ikan asin yang sudah kadaluarsa akut.


"Haha.. Begitulah rasanya Sri! Sakit kan?!" gumamnya tertawa dan bicara sendiri.


Tidak peduli supir di depannya akan menganggapnya gila. Amira tidak peduli. Dia ingin mengekspresikan kegembiraannya mengetahui Sri di campakkan Lucky setelah apa yang ia rencanakan berhasil!


Susah payah ia mengatur segalanya bersama Levi. Tidak sia-sia dia mendekati pria itu selagi masih bersama Lucky. Levi bisa memberi segalanya. Uang, harta, popularitas, dan tentunya kepuasan.


Selagi masih bersama Lucky, Levi datang menggodanya. Dan itu semua tak di sia-siakan Amira. Walaupun harus dengan kucing-kucingan, ia terperangkap dalam pesona Levi yang perkasa. Terpaksa mengkhianati Lucky akibat tak kuat menahan serangan asmara Levi.


Apa ruginya dekat dengan mereka berdua? Pasti tidak ada. Lucky, memberi segalanya kecuali masalah ranjang. Levi, memberi segalanya walaupun tak sebesar yang di berikan Lucky padanya. Masalah cinta? Siapa diantara mereka berdua yang lebih ia cinta?


Hehhh.. Cinta? Bagi Amira cinta itu adalah kebodohan! Karena cinta orang tidak bisa berpikir dengan jernih. Pasti selalu kalah jika sudah menyangkut hati. Soal Noah, yah.. Pria itu memang tampan. Tidak kalah tampan dengan kedua saudara sepupunya. Tapi tetap saja sama. Noah adalah batu lompatan saja baginya.


Dan sekarang, dendamnya telah terbayarkan. Noah tersingkir, dan Lucky telah di ambang kehancuran!! Sri? Apalagi! Sekarang Lucky sudah membuangnya bagaikan sampah bekas pakai. Begitulah jika berani menghambat jalan Amira. Sabotase adalah jalan mujarab baginya.


Jika Noah dan Lucky sudah hancur, kenapa harus pusing mendekati dan berakting melankolis lagi? Toh ada Levi bukan? Lebih baik sekarang fokus pada Levi. Dia harus bisa menjadi istri Levi. Kali ini dia tidak mau kalah.


"Hihihii... Aku puas!!" desis Amira terkikik senang.


Mobilnya berhenti di depan sebuah hotel bintang lima. Amira turun dengan anggunnya. Berjalan melenggang seakan telah di hitung setiap langkah kakinya. Jangan sampai langkahnya terseok sedikitpun. Mengangkat dagunya pongah mengekspresikan kemenangannya. Sangat menikmati setiap pasang mata yang menatapnya terkagum-kagum.


Amira masuk ke lift menuju lantai atas. Tadi sebelum berangkat, Levi sudah mengirim pesan memberitahu tempat pertemuan. Hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan. Mereka ada pertemuan untuk merayakannya.


Perjalannya menuju ke hotel sungguh tak terasa melelahkan sedikitpun. Rasanya Amira masih ingin jadi pusat perhatian di luar sana, untuk menunjukkan betapa memesonanya dia. Hingga Amira sampai di tempat pertemuan mereka.


Betapa senangnya begitu melihat semua orang yang ada di sana menatapnya bahagia. Wajah-wajah ceria langsung tertangkap netranya.


"Haaaaiii.. Semua.." sapanya melangkah masuk dengan senyum lebar.


"Hai sayang" Levi menyambutnya. Menarik pinggangnya merapat lalu Levi mengecup bibirnya.


"Ah.. kau langsung nakal saja" Amira tersipu seraya memukul pelan dada Levi.

__ADS_1


Levi tertawa senang. Mengajak Amira untuk duduk bergabung. Neni, Fardo, pak Bayu, dan beberapa orang lain telah duduk di meja bundar yang besar itu. Amira menjabat tangan mereka satu persatu.


"Hallo nyonya Neni, apa kabar?" sapa Amira.


"Haha.. Seperti yang kau lihat, Amira. Aku sangat baik, dan bertambah cantik tentunya. Haha.." Neni terlihat sangat ceria hari ini.


Tak ketinggalan Amira menatap Indah yang ternyata juga hadir. Duduk di samping pak Bayu dengan menggelendot manja.


"Waahh.. Ternyata kau juga di sini Indah?"


"Tentu saja nona Amira, bukannya kita harus merayakan keberhasilan ini?" Jawab Indah tersenyum lebar.


"Ahh.. Ya.. Tentu saja"


Amira duduk di samping Levi yang selalu merapat padanya.


"Bagaimana? Kau puas?" tanya Levi.


"Tentu saja. Aku sangat puas!" mata Amira berkilat. "Terima kasih, sayang. Kau sangat brilian." Amira mengecup pipi Levi. Dengan wajah bangganya, Levi tersenyum dengan sanjungan Amira padanya.


"Aha.. Jangan lupa, itu karena aku juga" celetuk Neni.


Mereka tertawa bersamaan. Rasanya hari ini adalah hari paling bersejarah bagi mereka semua.


"Ayo.. Mari kita bersulang untuk keberhasilan kita" Fardo berdiri dan menganggkat gelasnya. Di ikuti semua orang yang ada di meja itu.


"Cheeeaarrsss..."


Ting!


Mereka semua tertawa bahagia. Minum dengan enteng tanpa beban. Bersenda gurau dan bergosip ria. Inilah yang mereka tunggu sejak lama.


"Apa Lucky akan menutup Bronze?" tanya Fardo.


"Ah ya, tuan Fardo. Lucky meliburkan semua karyawan. Hahahaa.. Mungkin dia sudah tidak sanggup membayar gaji semua staf. Karena uang perusahaan sudah kita kuras!" pak Bayu tertawa di samping Indah yang masih bergayut manja di lengannya.


"Haha.. Itulah akibatnya jika menentang ku!" Levi menepuk dadanya sambil tertawa bangga. "Kalian tau bagaimana wajah Lucky ketika ada temuan di gudang? Pucat!! hahahaa.. Dia pucat pasi!" ahaa.. Aku sangat senang melihat itu!" Levi bicara terbahak-bahak.

__ADS_1


"Ya. Aku juga melihat itu. Kau sungguh licik bisa memasukkan barang itu, Lev" pak Bayu menimpali.


"Tidak akan berhasil tanpa bantuan kekasihmu itu, pak Bayu! Hahaha... aku memasukkan barang itu dari gudang kantor cabang. Tapi si sopir bodoh itu tidak menyadarinya. haha.. Sudah sering begitu. Dan Noah tidak pernah curiga"


Indah tersipu malu. Menelusupkan wajahnya di sela lengan pak Bayu. Melihat itu, mereka semua tertawa.


Pesta! Hari ini sungguh pesta besar bagi mereka. Banyak minuman yang telah di sediakan. Musik pun tak ketinggalan mengalun. Bejoget dan saling tertawa bahagia. Mereka larut dalam kesenangan telah menumbangkan Lucky.


"Bagaimana soal keuangan itu, Lev? Apa kau sudah mentransfer lagi ke rekeningku?" tanya pak Bayu bersemangat.


"Tentu saja. Tenanglah pak Bayu. Aku tidak mungkin menelan uang itu sendiri. Noah sudah tersingkir. Aku puas!"


"Hahaha.. Kau memang sungguh keji, Lev! Aku memang tidak suka pada Noah. Dia terlalu lurus untuk di temani"


"Dan juga penghalang" celetuk Levi.


"Hahahaaa..."


"Hey.. Kalian tidak mau dengar tentang masalah perempuan kampung itu ketika tertangkap basah?" Amira menawarkan.


"Oh ya? bagaimana? Ayo ceritakan padaku" Neni tampak sangat antusias.


"Hihihi... Aku sangat senang ketika Lucky melihat istrinya telanjang bersama Noah! Hahaha.. Dia sangat marah. Dan perempuan kampung itu sampai menangis ketakutan! Hahaha.."


"Apakah Lucky menghajar Noah?" tanya Neni sangat merasa penasaran.


"Yaaahh.. Bagaimana tidak? Noah meniduri istrinya! Haha.. Kalian tau? Lucky langsung memerintahkan untuk melenyapkan Noah untuk makanan buaya!" Amira menempel pada Levi. "Ini berkat kecerdasan kekasihku ini. Dia yang merancang segalanya. Aku sangat sayang padamu, Lev. Terima kasih" Menatap Levi penuh pijaran cinta.


"Tapi, tuan Fardo. Bagaimana ayah anda? Apa sudah sembuh?" Indah ikut penasaran.


"Hhh.. Dia bukan ayah kandungku. Walaupun salah sasaran, tapi itu tidak masalah. Masih untung dia tidak mati. Dan aku memerintahkan penembak itu untuk segera pergi. Kalau tidak, pastilah dia benar-benar menembak kepala lelaki tua itu"


"Seharusnya Noah yang mati, pa" ujar Levi.


"Setidaknya, sekarang Noah juga mati bukan? Jadi makanan buaya"


"hahaahaaa.. Ya benar"

__ADS_1


"Aku puas! Benar-benar puas! Aku bisa membuat Lucky bangkrut. Aku bisa membalas sakit hatiku yang selalu tak di anggap kakek. Sekarang Lucky sudah bangkrut. Dan aku akan menjadi penguasa. Sebentar lagi kita akan mengadakan peresmian pembukaan perusahaan baru. Haha.. Mampus kau lucky!"


Mereka terbahak sesuka hati. Merayakan pesta kemenangan dengan bahagia. Tak ada lagi penghalang Levi dan Fardo.


__ADS_2