OJO NGONO MAS'E

OJO NGONO MAS'E
Menghindari Agnes


__ADS_3

Lucky duduk termenung di kursi kebesarannya. Memikirkan apa yang kemarin telah ia putuskan. Tidak dapat di pungkiri hati Lucky juga terluka ketika memutuskan hubungannya dengan Amira. Tapi, dia harus merelakan Amira terlepas dari genggamannya. Salah satu harus menyingkir dari hidupnya.


Sri. Gadis itu telah mencuri hatinya. Benar kata orang. cinta akan tumbuh dengan sendirinya kerena sering bersama. Dia selalu gemas ketika melihat sikap Sri yang kadang menjengkelkan dan ketakutan di saat yang bersamaan. Kadang gadis itu membuatnya marah, tapi sekaligus tertantang menaklukkannya di saat pembangkangan jelas di tampilkan.


Berbeda dengan Amira yang selalu manja dan menuntutnya untuk selalu bersama. Sri tidak begitu. Malah Lucky sering kelimpungan jika Sri terlalu cuek padanya. Seperti tidak rela jika Sri menolaknya karena alasan tidak tertarik.


Banyak wanita yang siap menyerahkan segalanya pada Lucky. Tidak terkecuali Amira. Gadis itu siap jika Lucky meminta tubuhnya. Tapi untung saja Lucky masih punya etika untuk tidak menjamah Amira sebelum waktunya.


Terkadang Amira selalu menggodanya sampai Lucky harus mati-matian menahan diri untuk tidak menerkam Amira saat itu juga. Siapa yang tahan dengan pesona Amira? gadis cantik yang matang dengan segala daya tarik yang tak bisa di tolak. Tubuh sintal yang menggiurkan di tambah wajah cantik mempesona.


Lucky membuka ponselnya. Membuka galary dan melihat banyak foto Amira di sana. Tersenyum kecil melihat gaya Amira dan dirinya di dalam album galary. Menggulir foto-foto itu dan menemukan foto Sri juga. Diam-diam Lucky sering mengambil foto Sri di setiap gaya.


Lucky tergelak sendiri melihat foto Sri yang tertidur dengan liur meleleh dari sudut bibirnya. Hah.. gadis itu masih suka ngiler saat tidur pulas. Lucky mengirim pesan pada Sri.


"Sayang"


Ini jam istirahat kantor. Pasti Sri akan segera membalasnya. Dan benar saja. Tidak berapa lama, Sri membalas pesannya.


"ya mas?"


Lucky tersenyum melihat balasan pesan masuk. Segera ia membalas lagi.


"Kangen"


"šŸ’–šŸ„°"


"Kenapa cuma itu? Kamu tidak kangen aku?"


Sri tidak menjawab. Entah apa yang di lakukannya di sana. Lucky berdecak kesal karena Sri agak lama menjawab. Lalu mengetik pesan lagi.


"Kamu mau di hukum lagi? Kenapa lama sekali?"


Tak lama, Sri pun membalas lagi.


"Maaf Mase. Sri lagi sama teman"


Lucky memutar bola matanya malas. Gadis ini selalu tidak memprioritaskan dirinya lebih dulu. Membuat Lucky gemas.

__ADS_1


"Nanti pulang kantor aku yang jemput. Jangan kemana-mana"


šŸ’–


šŸ’–


šŸ’–


Sri berdecak kesal karena kesulitan melepaskan diri dari Agnes. Gadis berambut seperti per ini selalu menguntitnya. Terang-terangan minta di kenalkan suami ojolnya Sri.


Bagaimana Sri tidak melotot mendengar permintaan nyeleneh Agnes itu. Bukan saja tidak ada suami ojolnya, tapi ceritanya itu bohong. Seperti yang di perkirakan Sri, akan banyak lagi kebohongan untuk menutupi kebohongan awal yang dia ciptakan. Dan sudah pasti efek buruk akan menyerangnya dalam waktu dekat.


"Ya Sri? Nanti pulang aku ikut kamu ya? ya? ya?" Agnes masih membujuk Sri di kantin. Menvgelendot di bahu Sri dengan puppy eyes nya.


Sri kebingungan. Bagaimana tidak? tadi Lucky sudah mengirim pesan bahwa dia yang akan menjemput. Kalau Agnes ikut, terbongkarlah kebohongannya.


"Nanti Sri masih ada urusan mbak Agnes" tolak Sri halus.


"Gak apa Sri. Aku ikut. Ntar kamu juga pulang ke rumahmu kan?" Agnes masih saja mencari celah.


"Ya udah. Nanti suami kamu yang jemput kan? Kenalin sama aku" rengek Agnes.


"Idiihh.. apaan sih Nes? kamu ini.. jangan ganjen begitu deh" Dila mencebik.


"Biarin! aku pingin di kenalin sama suaminya Sri!" Agnes memaksa terus.


"Eh Nes.. kamu itu gak punya perasaan apa? masak iya kamu mau kenalan sama suaminya Sri? otak mu di mana?" Niar menoyor bahu Agnes gemas.


"loh? aku kan cuma pingin suaminya Sri jadi comblang. Kenapa sih kalian ini?" Agnes merengut kesal.


"Iya mbak. Ndak apa-apa. Tapi kalau nanti, Sri Ndak pulang ke rumah. Sri ada urusan. Suami nya Sri juga lagi sibuk" ujar Sri menengahi.


"Tuh.. dengerin!" Dila menatap Agnes sinis.


Agnes melepaskan tangannya dari lengan Sri. Merengut sebal merasa kedua temannya seperti mencoba memprovokasi Sri. Sri hanya tersenyum kikuk melihat wajah-wajah temannya seakan ada perlombaan kenalan dengan suaminya.


Sampai tiba saatnya pulang kantor, Agnes masih menguntit Sri. Memperhatikan kemana Sri pergi. Sri sampai kebingungan bagaimana caranya lepas dari perhatian Agnes.

__ADS_1


Dila sudah di jemput suaminya. Niar juga sudah naik motor dan meluncur pulang. Agnes masih berlama-lama di samping Sri. Seakan tidak mau bergerak pulang.


"Mbak Agnes, jemputannya belum Dateng ya?" tanya Sri menatap Agnes di sampingnya.


"Iya Sri. Belum"


Sri menggerakkan matanya bingung. Bagaimana caranya menjauh dari Agnes. Gadis ini seakan mencari-cari alasan agar lebih lama bersama Sri.


Ting!


Ponsel Sri berbunyi. Mengeceknya sesaat. ternyata Lucky sudah menunggunya lebih dari sepuluh menit. Sri mengedarkan pandangannya mencari mobil Lucky. Tapi dia tidak menemukannya. Pasti Lucky sudah menunggunya di tempat yang di tunjuk Sri. Sri tidak mau Lucky menjemputnya di depan kantor.


Otaknya berputar keras mencari cara. Sri melihat ada swalayan kecil di seberang jalan. Memutuskan untuk mengalihkan perhatian Agnes.


"Mbak Agnes, Sri deluan ya? Mau belanja dulu ke depan itu" Sri menunjuk swalayan di depannya.


Agnes mengikuti arah yang di tunjuk Sri. Wajah kecewa langsung terpancar dari wajah Agnes. Mengangguk lemah menyetujui Sri pergi darinya.


"Deluan ya mbak.."


Sri buru-buru melangkah meninggalkan Agnes yang masih berdiri dengan raut kecewa yang kentara. Sri sebenarnya tidak tega melihat Agnes kecewa. Tapi Sri tidak mau Agnes mengetahui Sri di jemput Lucky.


Setelah masuk ke swalayan, Sri menyibukkan diri mengambil beberapa barang yang tidak penting. Hanya sekedar mengelabui agar terhindar dari Agnes. Gadis itu tampak sudah memasuki Gocar yang menjemputnya. Sri bisa bernapas lega.


Lucky sudah menjerit-jerit dengan pesan yang bertubi. Sri berdecak kesal melihat ketidak sabaran Lucky. Setelah membayar, Sri bergerak keluar dan menuju tempat Lucky menunggunya.


"Ck.. lama sekali sih?" wajah kesal Lucky menyambut Sri begitu masuk ke dalam mobil.


"Sabar to mas. Tadi temennya Sri masih nunggu"


"Trus, kenapa?" Tanya Lucky sambil menyalakan mesin mobil dan melakukannya memecah kepadatan jalan raya.


"Kalau ketahuan gimana?"


Lucky menoleh menatap Sri heran. "Memangnya kenapa? Kamu kan istri ku. Trus ngapain juga sih pake jemput agak jauh seperti ini?"


Sri hanya mencebik. Bukannya Lucky yang tidak mau kalau orang lain tahu mereka adalah suami istri? Kenapa sekarang jadi Sri yang di salahkan? Apalagi ada Amira yang notabene adalah artis papan atas. Sementara Sri hanya artis papan penggilasan cucian kotor!

__ADS_1


__ADS_2