
Setelah Amira pergi, Lucky mendekati Sri. Istrinya itu sudah gemetaran setengah mati. Wajahnya pucat pasi. Bibir bawahnya sampai bergetar. Terdengar gemeretuk gigi Sri menggigil ketakutan. Bagaimana tidak takut? Tadi ia lihat sendiri bagaimana perintah Lucky untuk melenyapkan dan membuang Noah untuk makanan buaya. Lalu, apa yang akan di lakukan Lucky padanya?
Langsung menembak kepalanya? Atau menyiksanya lebih dulu? Atau juga langsung di buang untuk makanan anakonda?Rasanya ingin pingsan saja saat ini juga. Apalagi melihat mata tajam Lucky sangat terasa menusuk sanubari. Dinginnya tatapan tajam itu hingga menjalar ke sekujur tubuh dan setiap persendiannya terasa di lolosi.
"Sekarang giliranmu. Aku akan membuat perhitungan dengan seorang perempuan licik!"
Deg!
Jantung Sri seakan berhenti berdetak mendengar ucapan Lucky. Otot tubuhnya semakin menegang. Kaku tak bisa di gerakkan. Hanya bibir dan lututnya menggeletar hebat. Sri tak mampu lagi menahan rasa takut yang terlanjur menguasai setiap relung hati dan otaknya.
Lututnya lemas tidak mampu menopang tubuhnya lagi. Rasa pusing dan mual menyerangnya keras. Ingin muntah saja rasanya. Keringat dingin membanjir kian deras. Tubuhnya limbung. Perlahan pandangannya mulai pudar. Banyak bintik hitam memburamkan wajah Lucky dalam pandangan Sri. Seperti televisi nihil signal. Selanjutnya semakin gelap dan Sri hampir terjatuh jika Lucky tidak cepat menangkap tubuhnya.
Gelap. Sri tak sadarkan diri. Terkulai lemas dalam pelukan Lucky.
"Ehh.. Dia pingsan!" Lucky panik. Mengguncang wajah Sri agar sadar. Tapi sia-sia. Sri sudah tidak sadarkan diri. "Sri! Bangun Sri!"
Masih berusaha membangunkan Sri. Tapi istrinya hanya diam tak berdaya.
"Papi! Bagaiman ini? istriku pingsan, pi?!" Teriak Lucky panik luar biasa.
Frans bukannya menolong, malah hanya menggelengkan kepalanya saja dan memutar bola matanya jengah. Lalu mendekati Lucky yang masih mendekap tubuh istrinya.
Plak!
"Awwhh..!!" jerit Lucky terkena tamparan keras di kepalanya dari papinya.
"Kau keterlaluan! Istrimu ketakutan" sentak Frans.
"Akhh.. Padahal aku bilang itu untuk Amira. Kenapa Sri yang pingsan?" Lucky mengusap kepalanya bekas geplakan Frans.
"Sudah, ayo bawa istrimu kerumah sakit. Kita harus memeriksakannya. Siapa tahu obat bius itu masih mempengaruhinya"
Frans berjalan lebih dulu keluar dari kamar hotel. Lucky segera membopong tubuh Sri. Panik melihat istrinya lemas tak berdaya.
š
š
__ADS_1
š
Begitu membuka mata, yang terlihat hanyalah ruangan putih bersih. Bau anti septik menguar memenuhi Indra penciuman Sri. Rasa mual langsung menyerangnya. Pusing kepala membuatnya ingin muntah.
"Sayang! Kamu sudah sadar?"
Sri menoleh ke sampingnya. Ibu mertuanya menatap khawatir. Memegangi tangannya dengan pandangan cemas luar biasa.
"Mami.. Dimana ini?" tanya Sri lirih.
"Di rumah sakit, sayang. Kamu pingsan" jawab Melani.
"Aduuhh.. Kepala Sri pusing" Sri mengeluh dan ingin bangkit. Tapi Melani cepat melarangnya.
"Istirahat dulu, Sri. Kamu belum pulih benar"
Menahan Sri untuk tetap berbaring. Sri tak bisa menolak. Kembali berbaring. Mencoba mengingat lagi bagaimana dia bisa ada di sini. Dan ingatannya segera saja pulih. Sri ingat bagaimana marahnya Lucky ketika melihat keadaannya dan Noah. Dan Sri sangat ketakutan sampai menggigil dan pingsan.
"Mami.. Mase.." Sri menatap ibu mertuanya dengan cemas.
"Suami mu masih bicara dengan dokter. Tenang lah"
"Mami, Sri tidak tahu kenapa bisa ada di kamar hotel itu. Sumpah mi!" celetuk Sri tiba-tiba. Tak sanggup hanya berdiam diri dalam kecemasan.
Melani hanya diam menatap Sri. Ada pancaran kecewa di matanya. Sri tak sanggup melihat itu. Apalah yang di pikirkan ibu mertuanya tentangnya. Melani menarik napas dalam lalu menggenggam tangan Sri. Menepuknya memberi semangat.
"Mami percaya padamu, Sri. Jangan pikirkan itu dulu" tatapan Melani meneduh. Tersenyum kecil menatap menantunya. "Kamu mau minum?"
Sri hanya mengangguk. Untung saja ibu mertuanya selalu bijaksana. Tidak langsung menghakiminya begitu saja. Melani mengambil gelas dan mengisinya dengan air putih hangat. Membantu Sri untuk minum.
Pintu terbuka. Tampak Lucky muncul bersama Frans. Sri langsung kembali takut. Melihat tatapan mata Lucky tajam menghujamnya. Ada raut cemas dan khawatir di mata pria itu. Tapi entah kenapa dia tidak menunjukkannya di depan Sri. Seolah menahan itu mati-matian.
"Mase.." panggil Sri lirih. Lucky mendekat.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Lucky datar.
Sakit hati Sri mendengar suara dingin itu. Kemana mesranya? Kemana cinta itu? Apakah telah hilang setelah kejadian di kamar hotel? Tapi Sri hanya diam dan mengangguk lemah mengatakan dia baik-baik saja.
__ADS_1
"Apa masih pusing?" Lucky membungkuk mendekatkan wajahnya pada Sri.
Mata itu menyiratkan ke khawatiran, sayang, dan cemas sekaligus. Tapi wajah Lucky terlihat datar tanpa ekspresi. Sri menatapnya mencari kemarahan di sana. Tapi tidak ada. Sri mengangguk mengiyakan.
"Sedikit, mas"
pintu kembali terbuka. Seorang dokter dan dua orang perawat masuk dengan membawa nampan berisi obat, dan kursi dorong. Mendekati brankar sri. Melani menyingkir memberi ruang.
"Selamat malam, nona Sri. Bagaimana keadaan anda? Ada keluhan?" Tanya dokter tampan itu dengan senyum ramah.
"Pusing dokter" jawab Sri lirih.
Dokter itu tersenyum. Sejenak menatap Lucky. Dan Lucky agak menaikkan alisnya dengan balas menatap penuh isyarat.
"Baiklah, saya akan menyuntikkan obat pereda pusing dan mual ya? Dan vitamin agar lekas sembuh" ujar dokter Anwar lembut dan terlihat manis sekali.
Sri hanya mengangguk. dokter Anwar melaksanakan tugasnya. Lucky masih berdiri memperhatikan. Setelah selesai, dokter Anwar bicara lagi.
"Nona Sri sudah boleh pulang. Tapi ingat, minum obat yang teratur ya? Dan banyak istirahat. Jangan banyak memikirkan hal berat. Semangat ya?" Sri mengangguk lagi.
"Oke, Luck. Kalian sudah bisa pulang. Ingat pesanku tadi. Jaga istrimu" Anwar mengedipkan sebelah matanya menggoda Lucky.
"Terima kasih, dok" Lucky menjabat tangan Anwar.
Setelah dokter Anwar berpamitan dengan Frans dan melani, dia pergi. Perawat masih menunggu dengan kursi rodanya.
"Ayo Sri, kita pulang" ujar Lucky. Membungkuk lagi lalu membopong tubuh istrinya.
"Sri bisa mas" Sri sempat menolak. Tapi Lucky diam saja tak menghiraukan. Menganggkat Sri.
Sri hanya menurut. Tidak berani membantah. Menatap netra suaminya Lamat. Sri agak bingung melihat perubahan sikap Lucky. Ketika di kamar hotel, kemarahan Lucky bagai singa terluka. Tapi sekarang, dia tidak menunjukkan amarah itu lagi.
"Mase"
Lucky berhenti. Menatap istrinya Lamat.
"Mase Ndak marah?"
__ADS_1
Lucky diam. Saling menatap satu sama lain. Saling bicara lewat tatapan mata. Lalu Lucky menggeleng pelan. Dan meneruskan meletak tubuh Sri di kursi roda. Mengambil alih kursi roda dari perawat. Mendorongnya keluar kamar.
Mereka pulang dalam kebisuan. Sibuk berkecamuk dengan pikiran masing-masing. Sri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Yang ia tahu hanyalah Lucky tidak marah padanya. Tapi diam membisu. Wajahnya datar dan hanya menatap kedepan dengan kosong.