OJO NGONO MAS'E

OJO NGONO MAS'E
Istriku Yang Sesungguhnya


__ADS_3

Keadaan mulai sedikit tegang dan panas. Pemberitaan media massa santer memberitakan tentang Lucky. Amira berakting seolah-olah menjadi seorang korban penghianatan cinta.


Mami Melani jelas marah pada Lucky. Mengomeli putra semata wayangnya itu. Karena kini, pemburu berita mulai mengorek keterangan seputar kehidupan pribadi Sri.


"Kamu itu harus tegas sama Amira, Luck. Lihat apa yang dia lakukan sekarang. Apa itu? Dia bersikap seolah-olah kau adalah penghianat" Melani mengomel di depan televisi yang menampilkan berita infotainment gosip.


Lucky hanya diam. Menatap menjurus ke arah televisi. Sri duduk di samping Lucky dan hanya bisa menatapi wajah serius itu prihatin.


"Nah.. nah lihat! sekarang istrimu yang jadi pelakor! Aaaiihh.. mami pusing, Luck!" Melani menggeleng dan memijit pelipisnya pusing.


Lucky masih diam. Meraih gelas di depannya dan meneguk minuman di dalamnya sekali tenggak. Meletakkan gelas dengan kencang sampai menimbulkan suara berisik seakan gelas dan meja kaca tebal itu akan pecah berantakan.


Sri terlonjak kaget sekali. Mengelus dadanya dengan wajah takut. Melirik mami Melani yang juga kaget menatap Lucky gemas.


"Kalau papimu tau, habis kamu, Luck" geram melani.


Lucky menggeram marah. Grahamnya bergemeretuk. Menatap tajam wajah Amira yang sedang menangis di layar televisi. Lalu tiba-tiba bangkit berdiri dan melangkah lebar meninggalkan mami Melani dan Sri.


Mereka membiarkan saja Lucky pergi. Sri menatap ibu mertuanya yang juga menatapnya. Mendekati Sri lalu menggenggam tangannya.


"Sayang, maafkan keluarga mami, ya?" lirih Melani.


"Ndak apa-apa, mami. Itukan cuma gosip" Jawab Sri mencoba tersenyum.


"Ini karena kita tidak mengadakan pesta pernikahan kalian. Mami dan papi salah telah menuruti kemauan Lucky dulu. Tidak ada pesta, makanya jadi begini"


"Sudah, mami. Ndak usah di persoalkan lagi tentang itu. Ndak apa-apa"


Melani merasa bersalah pada Sri. Dulu Lucky memberi syarat padanya. Mau menikahi Sri dengan syarat tidak ada pesta di mansion. Lucky tidak ingin mempublish pernikahannya. Cukup semua acara hanya ada di rumah Sri di kampung.


Sekarang semua menjadi rumit. Nama baik Lucky malah menjadi tercemar. Dan menantunya malah di tuduh sebagai perebut kekasih Amira.


šŸ’–


šŸ’–


šŸ’–


Tak bisa di cegah, kabar itu udah meny bar luas ke seluruh negeri. Tidak terkecuali kampung Sri. Semua orang sedang heboh membicarakan rumah tangga Sri. Banyak tetangga yang memberondong pertanyaan pada ibunya Sri.


Warti langsung saja menelepon putrinya untuk menanyakan hal itu. Sri hanya bisa menenangkan ibunya yang menangis. Duduk di tempat tidur sambil mendengarkan ibunya di ponselnya.


"Piye toh Sriiii.... Kok dadi awakmu seng jadi pelakor? lah wong kuwe istri sah. Piye toh jarene sriiii.."


"Bune, itu cuma gosip. Wes loh ojo nanges meneh (lagi)" Sri tetap berusaha menenangkan ibunya.


"Tonggo-tonggo do takon, nduk (Semua tetangga pada tanya). Bune mesti ngomong opo?"


"Ya bilang aja itu gosip, bune. Mase sayang aku kok"

__ADS_1


"Endi bojomu? (Mana suamimu?) Bune mau ngomong"


"Mase masih kerja bune. Jangan di ganggu"


Warti menghela napas berat. Tidak menyangka akan ada gosip tidak baik yang harus dia dengar tentang putrinya. Memutuskan panggilan telepon setelah Sri bisa meyakinkan kalau tidak ada masalah besar tentang rumah tangganya.


Sri juga terguncang. Bukan saja di media mainstream, bahkan kini akun facebooknya pun sudah kebanjiran hujatan. Banyak netizen yang mengulik dan mengacak-acak akun facebooknya.


Banyak notice pemberitahuan pesan bermunculan di ponsel Sri. Apalagi jika membaca banyak komentar penghujatan atas dirinya. Sri tidak sanggup membacanya. Dari mulai menghina fisik, sampai akhlaknya pun di komentari.


Sri menghempaskan ponselnya di tempat tidur. Menekuk lututnya dan memeluk lututnya sambil menyembunyikan wajahnya di sana. Menangis tersedu tanpa bisa di cegah lagi. Sri terguncang hebat. Keadaan berubah sangat drastis.


Tidak mendengar suara pintu terbuka. Lucky masuk dan tetegun melihat Sri menangis memeluk lututnya. Hati Lucky bagai di sayat sembilu. Ini semua salahnya. Dia harus segera memperbaiki semua kekacauan ini.


Sri merasakan tangan besar mengelus kepalanya lembut. Mendongakkan kepalanya dan melihat wajah Lucky ada di depannya. Membungkuk mencondongkan wajah tampan itu menatap Sri lekat.


"Kenapa menangis? hmm?"


"Mase.." lirih Sri.


Lucky tersenyum kecut. Duduk di tepi ranjang. Menatap Sri pilu. Menghapus air mata yang berlinang membasahi pipi mulus istrinya.


"Maafkan aku, Sri" Pelan Lucky bicara.


Mendengar itu air mata Sri malah semakin berderai. Terenyuh mendengar Lucky sungguh meminta maaf dengan perasaan yang terdalam.


"M-maass.."


Bergetar suara Sri karena sedih dan terharu. Mereka sedang di terpa masalah. Nama baik di pertaruhkan. Itu bukan hanya kesalahan Lucky. Tapi juga salahnya. Keegoisan yang menyebabkan itu semua.


Lucky memeluk tubuh Sri. Mendekapnya erat seakan takut kehilangan. Ikut merasakan kesedihan Sri. Dia juga melihat semua komentar orang-orang yang sok tahu tentang hubungan mereka.


"Maafkan aku, sayang. Aku akan memperbaiki semuanya"


Sri hanya bisa terisak tanpa bisa mengucapkan sepatah pun dari bibirnya. Memeluk suaminya menumpahkan segala resah yang melanda.


Lucky merenggangkan pelukannya. Menghapus lagi air mata Sri. Menatap wajah sendu dan mata basah istrinya.


"Ibu sudah tau?" tanya Lucky. Sri hanya mengangguk.


Lucky segera merogoh kantong celananya. Mengeluarkan ponsel dan mengecek nomor ibu Warti. Menghubunginya untuk bicara.


"Jangan menangis lagi, sayang. Kita hubungi ibu" ujar Lucky menatap Sri memohon.


Segera Sri menghapus air matanya. Dia juga tidak ingin ibunya melihatnya menangis. Lucky melakukan panggilan video. Dan segera di terima ibu Warti.


"Nak Lucky" sapa Warti cepat.


"Assalamualaikum, Bu" Sapa Lucky melihat layar ponsel yang menampilkan visual ibu mertuanya. Tampak wajah Warti menggambarkan kesedihan dan cemas sekaligus.

__ADS_1


"Walaikumsalam. Gimana nak? apa beritane itu benar?" Warti langsung saja pada pokok masalah.


Lucky tersenyum kecil. Merasa bersalah pada ibu mertuanya.


"Maaf, Bu. Ibu harus mendengar gosip itu. Tapi itu tidak benar Bu"


"Alhamdulillah.. Ibu wes takut dengar berita itu lho, nak. Tetangga semua pada nanya"


"Ibu, sekali lagi maafkan saya. Saya akan memperbaiki masalah ini"


Warti bisa bernapas lega mendengar kabar berita yang tidak benar itu. Dia bisa mengatakan pada semua orang jika putrinya bukanlah seorang pelakor.


Lucky merangkul pundak Sri. Merapatkan padanya agar ibu mertuanya dapat melihat bahwa putrinya aman bersama menantunya. Mengecup puncak kepala Sri dengan sayang. Lalu menatap ibu mertuanya meyakinkan.


"Saya mencintai Sri, Bu. Jangan khawatir dengan gosip tidak benar itu" ujar Lucky. Sri hanya bisa tersenyum kecil menatap ibunya di layar ponsel.


"Ibu berharap, semua baik-baik aja ya, nak Lucky" Warti kini bisa tersenyum senang. Menatap putrinya sayang.


"Iya Bu. Doakan kami berdua bisa melewati ini semua"


"Iya. Bune selalu mendoakan untuk kebahagian kalain berdua"


Setelah selesai berbicara dengan ibu mertuanya, Lucky segera menutup panggilan video itu. Menatap Sri di sampingnya. Mengusap mesra pipi yang sudah mengering dari air mata itu.


"Semua akan baik-baik saja, Sri"


Sri mengangguk. Lucky mengecup kening Sri dengan lembut. Lalu mengajak istrinya berbaring. Memberi lengannya sebagai bantal untuk kepala sri. Memeluk istrinya lekat di dadanya. Mengecupi kepala Sri berkali-kali.


"Mase..."


"Hmm?"


"Gimana besok? pasti di kantor sudah heboh, mas"


Lucky mernggangkan pelukannya. Menarik dagu Sri untuk menatap padanya. Wajah mereka sangat dekat. Sri bisa merasakan hembusan napas Lucky yang beraroma mint menyegarkan setiap saraf otaknya.


"Kamu harus datang besok. Tapi bukan sebagai karyawan. Kamu harus datang sebagai istriku yang sesungguhnya"


Kata-kata Lucky berhasil membuat mata Sri terbuka lebar. Tidak percaya Lucky akan mengatakan itu.


"Terus, kerjaan Sri gimana Mase?" rengek Sri cemberut manja.


Lucky gemas melihat mata melotot itu. Segera menyambar bibir basah istrinya. Mema**tnya mesra. Melepaskan Luma**nnya ketika Sri mulai kehabisan napas.


"Mulai besok, tidak ada kerja. Tidak boleh bisnis. Kamu istriku. Hanya melayani aku. Jangan dengarkan yang lain. Mengerti?"


Sri terpaksa mengangguk menyetujui. Itu permintaan suami tercinta. Tidak bisa ada bantahan lagi. Tidak boleh kerja, tidak boleh bisnis. Hanya mengurus suami tersayang.


Lalu mau membatah apa lagi? Sri hanya bisa pasrah ketika suaminya menjarah tubuh dan pikirannya sekaligus. Tidak bisa menolak lagi. Jadi istri rumahan yang penurut. Asalkan di sayang suami. Nikmat apalagi yang Sri dustakan?

__ADS_1


__ADS_2