
Lucky tertegun menatap Sri. Di depan pintu kamar Agnes, Sri menatap Lucky dengan tajam. Ada luka di mata itu. Lucky bisa melihat itu dengan jelas. Wajah sembab dengan mata bengkak karena terlalu banyak menangis, mengiris hati Lucky setajam belati. Ia dapat merasakan luka hati Sri melihat tragedi pagi tadi.
"Opo toh mas? berisik!" Sri cemberut.
Lucky tersadarkan mendengar suara Sri. Langsung saja pria itu memeluk istrinya erat.
"Sayang. Aku rindu"
Sri diam tak bergerak. Bergeming dalam pelukan Lucky. Tak membalas sedikit pun. Lucky menempelkan wajahnya pada ceruk leher Sri. Dia rindu aroma tubuh Sri. Rindu cerewetnya. Baru kali ini dia rasakan berjauhan dengan Sri ternyata sangat menyiksa.
Tapi jangankan membalas pelukan Lucky, bergerak saja tidak. Sri bagaikan patung. Menatap kosong dengan air mata berlinang. Hatinya masih sakit. Seperti ada jarum menusuki jantungnya. Nyeri sekali.
Dia keluar dari kamar bukannya karena Lucky berhasil merayunya. Sri hanya merasa tidak enak hati membuat keributan di rumah kontrakan Agnes. Tidak mau tetangga Agnes mendengar keributan karena Sri tetap ngeyel tidak mau keluar.
Merasa tak ada balasan, Lucky mengurai pelukannya. Menatap wajah istrinya sendu. Hatinya terguncang hebat melihat air mata mengalir di pipi Sri tanpa isakan. Itu berarti hati istrinya sangat terluka.
"Sayang.. Maafkan aku. Aku bisa menjelaskan semuanya. Itu tidak seperti yang kamu bayangkan. Kamu.."
"Minggir mas" Potong Sri cepat.
Deg!
Lucky tercekat. Sri mendorong tubuhnya ke samping. Lucky menatap tak percaya. Sri menolaknya. Jantungnya berdegup keras. Penolakan itu tanda benci. Sri tidak mau mendengar kata-katanya lagi.
Sri melangkah ke sofa sambil menatap Noah dan Beni dengan tajam. Seakan tatapan itu mewakili belati menghujam keras ke jantung Beni dan Noah.
Noah memaklumi. Sri marah pada Noah karena memberitahu keberadaannya pada Lucky. Dan tentu saja Beni sudah buka mulut tentang keberadaannya di apartemen pagi tadi. Beni hanya menunduk merasa bersalah.
Sri duduk di sofa. Mengusap air matanya dengan punggung tangannya. Diam seribu bahasa. Lucky masih bersabar menghadapi itu. Bergerak maju mendekati Sri. Dia tak peduli apa pandangan Beni dan Agnes melihat ini. Apalagi Noah. Persetan dengan mereka bertiga. Yang terpenting dia harus memberi penjelasan pada Sri lebih dulu, agar istrinya mengerti apa yang terjadi tadi pagi dengan Amira.
__ADS_1
Lucky berlutut di depan Sri. Menggenggam tangan mungil itu erat. Menatap mata basah istrinya. Sungguh Lucky ikut terluka. Menghapus air mata Sri dengan lembut.
"Sayang, kamu salah paham" Ujar Lucky lembut. "Aku akan jelaskan semuanya di rumah. Ayo kita pulang dulu ya? Hmm?" bujuk Lucky dengan sabar.
Sri membuang pandangannya kearah lain. Tak mau melihat wajah Lucky di depannya. Menepis tangan Lucky yang menggenggam tangannya. Lalu berdiri dari duduknya. Lucky sampai mendongak keatas melihat wajah Sri. Aura terluka tergambar jelas.
Sri beranjak menghindari Lucky. Berjalan mendekati Agnes. Gadis kriwil itu hanya diam saja memperhatikan.
"Mbak Agnes, suwun Yo. Udah baik ngurusin Sri dari tadi. Sri pulang dulu. Besok-besok, Sri boleh main ke sini lagi kan?" ujar Sri pada Agnes sambil meraih tangan gadis itu di genggamannya.
"Iya Sri. Jangan bilang begitu. Kita kan teman. Ya bolehlah kamu main kesini. Aku malah seneng banget" jawab Agnes tersenyum hangat.
"Makasih mbak. Sri pulang dulu ya?"
Agnes mengangguk. Sri memeluk Agnes sejenak. Lalu melangkah keluar tanpa menoleh kebelakang lagi. Menendang bahu Beni Ketika melewatinya di depan pintu. Beni terkesiap gugup tapi tak berani menatap mata Sri yang meliriknya ganas. Hanya mengikuti nonanya dari belakang.
Lucky masih terbengong berlutut di lantai. Sri sudah menghilang dari pandangannya. Wajah Lucky langsung bermuram durja. Istrinya tidak mau mendengarkannya lagi. Sri benar-benar terluka.
"Sudah bos. Jangan cengeng. Cinta itu perlu perjuangan. Kini saatnya kau raih hatinya" ujar Noah sambil menarik lengan Lucky agar berdiri.
Lucky menurut. Bangkit berdiri dan menghela napas panjang. "Aku mencintainya, No" ujarnya lemah.
"Tunjukkan jika itu bukan hanya gombalan mu saja"
Lucky melirik Noah dengan kesal. Noah hanya tersenyum simpul dan memasukkan tangannya ke saku celana. Lucky semakin sebal saja melihat senyum manis Noah. Seakan menantangnya untuk meraih cinta Sri.
"Aku serius, brengsek!" Lucky meninju lengan Noah kesal.
"Hehehe.. buktikan lah" tantang Noah sarkas.
__ADS_1
Lucky tidak menjawab lagi. Menoleh menatap Agnes yang telah banyak menyaksikan adegan drama hari ini. Entah mimpi apa dia semalam. Agnes bisa menyaksikan banyak interaksi Lucky dan Noah. Bahkan bisa tahu bagaimana kehidupan seorang Lucky dan Noah.
Ternyata Kedua pria tampan dan kaya ini juga punya perasaan dan sifat kekanak-kanakan. Agnes pikir, Lucky dan Noah itu hanya bisa bersikap tegas dan tidak peduli dengan sekelilingnya. Tapi ternyata CEO juga manusia. Punya rasa punya hati.. jangan samakan dengaaann.. eh kok malah nyanyi 🤭
Lucky berdiri di depan Agnes. Menatapnya penuh rasa terima kasih. Agnes sampai gugup ditatap begitu oleh Lucky.
"Nona Agnes. Terima kasih sudah menemani istri ku"
"I-iya tuan. T-tapi jangan panggil saya nona, taun" jawabnya menunduk.
"Ya apapun itu, saya ucapkan banyak terima kasih" ujar Lucky lagi. "Saya permisi dulu"
Agnes mengangguk. Lucky melangkah keluar rumah. Kini tinggal Noah. Pria itu berjalan mendekati Agnes. Jantung Agnes jadi tidak sehat lagi. Bergemuruh mengalahkan bedug lebaran. Bertali tak beraturan. Baru kali ini sang dewa menawan berdiri dan menatapnya intens.
"Agnes" ujar Noah.
"I-iyaaa.. paakk" jawab Agnes dengan lirih hampir tak terdengar. Matanya menatap nanar pada Noah di depannya. Rasanya ingin pingsan lagi.
"Terima kasih ya, sudah menemani Sri"
Agnes makin belingsatan di tatap Noah. Senyum manis mengembang di bibir seksi pria tampan rupawan ini. Agnes hanya mengangguk ringan. Rasanya seperti terbang ke awan-awan empuk.
"Kalau begitu, saya permisi dulu"
"I-iya pak"
Noah melangkah keluar rumah Agnes. Gadis itu hanya menatap punggung Noah dengan lutut gemetaran. Aaahhh... beginikah rasanya di ajak bicara dengan punjaan hati? Rasanya seperti dapat anugrah terindah di muka bumi. Agnes merasa meleleh setiap kali mendengar Noah berbicara dengannya. Liurnya hampir menetes saking ingin menerkam pria tampan paripurna itu.
Selama ini, Noah tidak pernah bicara dengannya secara spesifik. Hanya lewat di depannya saja setiap kali masuk atau keluar dari ruang kerjanya. Tapi kini, dia benar-benar dapat durian runtuh. Keberuntungan yang tak di sangka-sangka. Noah bicara dengannya sambil tersenyum manis.
__ADS_1
"Aaahhh.. hihihii.."
Agnes mengelinjang kesenangan Dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Menjerit tertahan dan terkikik sendiri (Gila kalii). Bisa langsung bicara dan di dikat Noah, Itu hal yang paling di tunggu semua fans club Noah. Seluruh fans club di kantor sudah kalah satu langkah ke depan. Agnes merasa menang saat ini.