
Lucky memejamkan mata dengan resah dan lelah. Sri mendiamkannya sampai beberapa jam di depan pintu kamar. Istrinya tidak mau keluar. Lucky gelisah. Sri tidak mau makan.
Lucky takut Sri akan jatuh sakit karena itu. Tapi dia tidak bisa terus memaksa. Tidak mau membuat Sri semakin membencinya. Mengalah untuk memberi Sri ruang untuk menenangkan diri.
Dalam gelap mata yang terpejam, Lucky mengumpulkan semua memori yang sudah ia lewati selama bersama Sri. Dari mulai awal pernikahan, sampai saat ini. Hatinya sudah terpaut pada gadis nakal itu. Dia sudah mereguk manisnya tubuh Sri. Sekarang dia malah tak bisa jauh dari Sri.
Dan Amira? Apa lagi yang di inginkan gadis itu? Apa benar itu hanya kesalahan Amira? Tentu tidak. Itu salahnya juga. Dulu ia menjanjikan Amira keindahan. Tidak akan meninggalkan gadis itu sampai kapanpun. Karena memang dia mencintainya.
Tapi semakin lama, hatinya juga tidak bisa memungkiri bahwa ia terpikat dengan Sri. Rasa panas ketika dia melihat Sri denga. yang lain. Apalagi dengan Noah. Lucky takut jika Noah merebutnya. Tidak sanggup membayangkan jika Sri berjalan bergandengan tangan dengan lelaki lain di depannya dan tertawa ceria bukan dengannya.
"Ahhh..."
Lucky mengeluh resah. Membalikkan badannya di tempat tidur. Tengkurap membenamkan wajahnya ke bantal.
"Mase.."
Hah!!
Lucky tersentak. Ia mendengar suara Sri. Cepat membalikkan tubuhnya telentang dan menaikkan kepalanya melihat keadaan kamar. Sepi. Sri tidak ada. Tapi Lucky berpikir Sri ada di depan pintu kamar dan sedang menantinya membuka pintu.
Bergegas Lucky bangkit dan tergesa membuka pintu. senyum sumringah di wajahnya mendadak pudar. Hanya kesunyian yang ia dapati di luar kamar. Sri tidak ada. Dia hanya menghayal Sri memanggilnya seperti biasa.
Dengan lemah menutup lagi pintu kamarnya. Berbaring di ranjang menghadap langit-langit kamar. Sudah terbiasa mendengar kecerewetan Sri memanggilnya. Kini dia kesunyian. Istrinya marah tidak mau melihatnya.
Baru satu hari Sri berpisah kamar, lucky sudah seperti orang gila. Bagaimana hari esok? apa Sri masih begitu terus? Rasanya Lucky bisa mengalami ganguan jiwa akut.
❤️
❤️
❤️
Pagi-pagi sekali Sri sudah bangun. Memandangi wajahnya di pantulan cermin. Matanya masih bengkak. Dia tidak bisa masuk kantor dalam keadaan wajah sembab begitu. Sengaja bangun pagi -pagi buta untuk melarikan diri agar tidak kepergok lucky.
Dia tidak mau terlambat bangun dan bertemu dengan Lucky. Biarlah begini dulu. Sri masih belum bisa menerima apa yang telah ia dengar. Lucky masih mencintai Amira.
Dan Sri cukup tahu diri untuk tidak memaksakan egonya. Awal pernikahan memang di landasi kesepakatan. Dia bekerja, dan Lucky milik Amira. Sri tidak bisa membantah itu. Dan kemarin, Sri kembali di ingatkan akan kesepakatan itu ketika Amira menuntut semua janji itu pada Lucky.
Pantaskah dia marah pada Amira? tidak bukan? Tentu Sri harus tahu diri. Amira hanya menuntut haknya dari kesepakatan antara dia dan Lucky. Jika posisi Sri berda di posisi Amira, apa Sri akan tinggal diam? Pasti Sri juga menuntut janji Lucky.
Sri beranjak perlahan ke pintu kamar. Membuka pintu hati-hati sekali. Melongokkan kepalanya keluar. Sepi. Hanya remang cahaya dari lampu temaram di dinding. Sri melangkah keluar. Berjalan menyusuri lorong yang banyak kamar-kamarnya seperti hotel.
Berhenti di depan pintu kamar Lucky. Seketika meragu. Takut Lucky terjaga jika ia membuka pintu. Dan takut jika pintu kamarnya terkunci dari dalam. Sri mau mengambil bajunya. Tadi malam tidak sempat karena takut Lucky menyergapnya.
__ADS_1
Ceklek
Ternyata pintu kamarnya tidak di kunci Lucky. Mungkin suaminya masih berharap Sri luluh dan kembali ke kamar. Dengan hati-hati sekali, Sri membuka pintu. Melongok sedikit memeriksa kalau Lucky tidak terjaga.
Setelah di rasa aman, Sri masuk. Lampu tidur yang temaram menyulitkan Sri melihat keberadaan Lucky. Pertama kali matanya tertuju ke tempat tidur king size itu. Lucky tidak ada. Sri mengedarkan pandangannya ke penjuru kamar. Melihat sofa besar menghadap ke balkon.
Sri penasaran. Melangkah kesana dengan hati-hati. Begitu bisa melihat sofa seluruhnya, hatinya sungguh ternyuh. Lucky tertidur lelap dalam keadaan duduk di sofa. Sepertinya dia baru saja tidur sampai tak mendengar Sri masuk.
Matanya menghangat melihat Lucky lelap. Tampak wajah kelelahan. Mendengkur halus dengan tangan dan kaki yang terkulai lemas. Hati Sri bagai di cubit kecil. Nyeri melihat keadaan suaminya. Mungkin Lucky tidak bisa tidur. Lucky masih memakai kemejanya tadi malam.
Ingin rasanya mengusap wajah tampan itu. Membangunkannya dan membawa Lucky pindah ke tempat tidur. Tapi Sri menahannya kuat-kuat. Lucky bukan miliknya. Hatinya masih milik Amira. Kata-kata itu terus terngiang di telinga dan otaknya.
Sri mengepalkan tangannya erat. Berusaha membunuh rasa sayang dan cintanya. Agar jangan sampai menyentuh Lucky dan membuat pria itu terjaga. Sri meninggalkan Lucky. Melangkah ke ruang walk in closed. Mengambil beberapa bajunya untuk di pindahkan ke kamar tamu.
Setelah selesai, Sri ingin keluar kamar. Tapi hatinya menolak untuk itu. Menoleh lagi ke arah sofa. Lucky masih tidur lelap. Pria itu sungguh lelah sampai tak menyadari ada Sri di kamarnya. Sri menguatkan hati untuk tidak berlari menghambur ke dalam pelukan Lucky. Membuka pintu dan keluar dari kamar.
"Hikss hikss hikkss.. Maafin Sri mase. Sri harus kuat. Hatine Mase masih milik mbak Mira. Hikkss.. hikkss.."
Sri tersengguk ketika sampai di kamar tamu. Sesak di dada membuatnya terisak. Tidak tega melihat Lucky kelelahan tertidur di sofa. Entah apa yang di lakukannya tadi malam sampai seperti itu. Apa mungkin Mas Lucky mikirin aku?
Hati Sri berkecamuk. Air mata masih setia mengalir deras. Bagaimana dia bisa masuk kantor dalam keadaan tidak enak di pandang begini? Pasti gosip akan semakin panas dan menyebar luas.
Tapi Sri menguatkan hati. Mengusap air matanya. Bergegas mandi walau terasa sedikit tidak enak badan. Bersiap-siap sebelum Lucky bangun. Sebentar lagi pasti Lucky bangun dan langsung ke ruang gym.
"Selamat pagi pakne" sapa Sri. Berusaha bersikap biasa saja.
"Selamat pagi, nona Sri" jawabnya membungkuk hormat.
"Apa pak Karim udah bangun ya pak?" Sri duduk di sofa.
"Sudah, nona. Dia masih memanaskan mobil" pak Sam menatap Sri lekat.
"Oh.. begitu" Sri manggut-manggut. "Bilang sama pak Sam, Sri mau berangkat sekarang"
"Tapi ini masih terlalu pagi, nona. Sebaiknya anda sarapan dulu. Dari semalam nona Sri belum makan"
Sri tertegun. Ya, dari semalam Sri belum makan. Tapi aneh, dia tidak merasakan lapar. Mungkin akibat banyak yang di pikirkan.
"Tidak apa pakne. Sri bisa sarapan di kantor"
"Tapi nanti nona Sri bisa sakit" pak Sam masih mencoba mencegah Sri.
"Ndak pak. Tenang aja. Sri Ndak apa-apa kok" Sri tersenyum membalas tatapan pak Sam.
__ADS_1
Pak Sam sedikit meragu. Masih melihat Sri dengan lekat. Tatapan seorang ayah yang menghawatirkan anak gadisnya. Sri hanya tersenyum untuk meyakinkan pak Sam kalau dia baik-baik saja.
Tak banyak bertanya lagi, pak Sam pergi meninggalkan Sri. Memberitahu pada pak Karim untuk segera bersiap mengantarkan nona mereka pergi bekerja.
Setelah pak Karim siap dengan mobilnya menanggung di depan, Sri menemuinya. Dan ingin segera berangkat. Pak Sam menyusulnya dan menyerahkan paper bag pada Sri.
"Ini bekal anda, nona. Chef sudah menyiapkan sarapan anda"
Terharu Sri melihat pak Sam. Menerima bekal sarapan pagi darinya. Tersenyum, lalu masuk ke mobil. Pak Sam memandangi mobil Sri sampai menghilang dari pandangan.
❤️
❤️
❤️
Tok.. tok.. tok..
"Sri.. buka pintunya sayang"
Begitu membuka mata, Lucky langsung bergegas ke depan kamar Sri lagi. Berdiri di depan pintu kamar tamu yang di tempati Sri, dan m ngetuknya pelan. Memanggil istrinya agar mau membuka pintu.
"Sayang.. ayolah.. buka pintunya. Kamu belum makan apapun Sri. Buka pintunya sayang.."
"Tuan" pak Sam prihatin melihat Lucky masih setia menanti Sri membuka pintu.
Lucky menoleh. Melihat pak Sam berdiri tak jauh darinya.
"Pak, sediakan sarapan yang paling enak untuk istriku" perintah Lucky.
"Tapi tuan.."
"Apa?"
"Nona Sri.. Sudah pergi ke kantor"
"Apa?!"
Lucky terkejut. Sepagi ini Sri sudah berangkat demi menghindarinya? Wajah Lucky muram. Rahangnya mengetat. Sebenci itukah Sri padanya? Sampai tidak mau bertemu?
Bergemuruh jantung Lucky. Rahangnya mengetat. Ia marah.. Kini benar-benar marah. Marah pada dirinya sendiri kenapa tidak menunggu di depan pintu sampai pagi. Pasti akan bertemu Sri tadi pagi ketika Sri keluar kamar.
"Sriiiiiii....!!!"
__ADS_1