
Akhirnya pagi menjelma. Sri bangun pagi-pagi sekali. Terduduk di tempat tidur dan menoleh kesampingnya. Terlihat Lucky masih terlelap. Sri ingat kejadian kemarin. Kesal ini belum hilang! Malas dan merengut menatap Lucky tanpa dosa bisa tidur dengan nyenyaknya.
"Tumben belum bangun? biasanya udah ilang aja" gumam Sri.
Dia masih kesal. Lucky sudah mempermainkan Sri kemarin siang. Menunggu seperti lalat pengganggu di restoran itu. Hari ini, dia akan cuek sama makhluk kaku di sampingnya ini.
Sri beranjak ke kamar mandi. Hari ini tidak boleh gagal lagi. Kemarin adalah pelajaran berharga baginya. Pengalaman interview yang mengecewakan. Nanti ada interview lagi. Dan dia sudah mempersiapkan segalanya. Akan mematikan ponselnya ketika menunggu antrean.
Keluar dari kamar mandi, Sri sudah tak mendapati Lucky di tempat tidur. Lucky sudah bangun. Pasti pria itu pergi ke ruang fitness. Sri menyiapkan pakaian Lucky. Kali ini tidak meletakkan di tempat tidur. Dia menggantungnya di hanger dan di gantung di depan pintu lemari. Membuat catatan untuk di baca Lucky nanti. Sri tidak mau bicara pada Lucky hari ini. Dia kesaaall!! titik!
Hari ini stelan blazer dan celana bahan. Di padukan dengan tanktop warna hitam. senada dengan celananya. Sementara blazernya putih bercorak garis vertikal hitam. Memakai sepatu warna putih berhak tiga senti.
Hmm.. manis. Merias wajahnya dengan make-up flawless, rapi tanpa noda. Beruntung punya mami Melani yang selalu memberinya praktik makeup jika ada kesempatan berdua.
Sri keluar dari kamar sudah rapi. Turun kelantai bawah menuju dapur. Pak Sam sedang menginstruksikan semua pelayan untuk mengerjakan tugasnya masing-masing. Sri hanya mengangguk ketika berpapasan dengannya.
Ketika sampai di ruang makan, Melani ibu mertuanya sedang menuangkan kopi untuk Frans, ayah mertua Sri.
"Hai sayang, selamat pagi" sapa Melani tersenyum hangat.
"Pagi mami"
"Eh.. tumben pagi-pagi sudah rapi? ada acara pagi ini Sri?" Melani memperhatikan penampilan Sri pagi ini.
"Hari ini 'kan ada interview kerja, mi. Sri mau berangkat pagi-pagi. Biar Ndak ketinggalan, mi" jawab Sri seraya duduk di kursi meja makan.
"Oohh.. iya, mami lupa" Melani ikut duduk di samping Sri. "Tidak berangkat sama Lucky saja, Sri?"
"Ndak usah mi. Nanti Mase kerpotan"
"Ah suami mu itu selalu repot. Mana pernah Lucky punya waktu senggang. Kamu harus nempel terus biar Lucky tidak habis waktunya di kantor terus" Melani mencubit kecil lengan Sri.
Mereka tertawa bersama. Melani selalu hangat bersikap pada Sri. Itu yang membuat Sri betah tinggal di mansion.
"Papi mana, mi? belum siap ya?" Sri mencari keberadaan ayah mertuanya.
"Aduh sayang.. Kamu kayak gak tau papi kamu aja. Dia lagi manja-manjanya nih sama mami. Apa-apa mintanya di kamar aja" jawab Melani sambil menowel lengan Sri lagi dengan gaya centil.
Wajah Sri bersemu merah. Malu mendengar jawaban ibu mertuanya. Melani selalu bersikap terbuka padanya. Sampai kemanjaan suaminya pun Melani tak segan bercerita pada Sri. Kadang Sri jadi canggung mendengar cerita Melani tentang cinta Frans padanya. Hhh.. berbanding terbalik dengan sikap Lucky pada Sri.
"Sebentar ya sayang, mami antar kopi papi mu dulu"
"Iya mami"
Melani pamit mengantar kopi yang baru ia sedih tadi. Seorang pelayan menemaninya membawa nampan berisi secangkir kopi. Sri melanjutkan makan sarapannya. Tidak ada yang menemani sarapan pagi ini. Dia malas menunggu Lucky. Kalau harus menunggu, pasti harus bicara dengan pria kaku itu.
Pak Sam datang menemui Sri. Membungkuk hormat pada gadis itu. Sri menatapnya heran. Ada apa lagi ini? Apa di panggil papi lagi?
"Maaf nona, mengganggu sarapan pagi anda. Tuan Lucky menunggu anda di kamar"
Glek!!
Arghh apa lagi sih? ngapain juga harus di panggil segala? bukannya semua udah tak siapin?
"Iya pakne. Makasih"
Sri memutar bola matanya malas. Entah apa lagi maunya Lucky. Bangkit dari duduknya dan melangkah naik ke lantai atas dengan jengkel.
__ADS_1
Tapi setelah sampai di kamar, Sri mendelik melihat Lucky yang polos. Hanya memakai dala man saja. Terpampang semua otot enam kotak di perut, dan semua kulit tubuhnya yang berotot kekar. Astaga!! Sri sampai memalingkan wajahnya tak mau melihat Lucky yang berdiri sambil melipat tangannya di dada.
"Ada apa toh mas?" tanya Sri berdecak sebal.
Lucky diam saja. Masih menatap Sri dengan penampilan elegan pagi ini. Ada kilatan di matanya. Sri terlihat berbeda dari hari ke hari. Hanya bicaranya saja yang tidak berubah. Tetap Jawa medok! Seandainya Sri tidak bicara, orang akan menyangka Sri adalah seorang wanita karir dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Merasa tak ada jawaban dari Lucky, Sri menoleh. Menatap pria itu dengan pandangan paling jutek yang pernah ia punya.
"Kok diem aja sih? Mase Iki piye toh? malah Ndak pake baju segala lagi"
"Hmm.. kemari"
Ujar Lucky datar. Menggerakkan dagunya meminta Sri mendekat. Langsung saja sikap waspada Sri tampil kepermukaan. Tak percaya Lucky akan tidak macam-macam.
"Ck.. cepat" ujar Lucky tak sabar.
"Ora! Mase Ndak pake baju. Males Lo" wajah Sri cemberut. Gagal sudah rencananya tidak bicara dengan Lucky pagi ini.
"Mau aku yang ke situ?" Lucky menaikkan dagunya dengan pandangan mengancam.
"Ck.. iya iya"
Sri melangkah mendekatinya. Berdiri di depan Lucky dengan mata tertuju ke objek lain. Gerah rasanya jika harus melihat tubuh kekar dalam keadaan polos di depannya.
"Apa ini?"
Lucky mengacungkan secarik kertas di depan Sri. Itu tulisan tangan Sri. Maksudnya agar dia tidak harus bicara dengan Lucky. Dia masih kesal dan jengkel pada lucky.
"Kanapa?"
"Ngapain nulis ini? kamu tidak bisa bicara?"
"Kamu marah?"
Eh!! dia ini orang atau apa sih ya? Masih ora mudeng kalau aku marah kemaren? Dasar batu!
"Ndak. siapa yang marah? dan ngapain sih marah?" Sri menatap Lucky dengan wajah kesal.
"Eh?? Emmmpphh.."
Tiba-tiba Lucky menarik Sri ke dalam pelukannya. Sebelum Sri bisa mengelak, Lucky sudah menciumnya. Mengu Lum bibirnya. Menyesap rasa manis di bibir mungil menggoda milik istrinya. Meraba punggung Sri dengan gemas.
Habis sudah bibir Sri di sosor Lucky. Tak dapat mengelak apalagi melepaskan diri. Sri diam tak menyambut ciuman panas pagi hari. Membiarkan Lucky menikmati pagutannya.
Lucky melepas pagut annya. Menempelkan keningnya dengan kening Sri. Menetralkan napasnya yang memburu.
"Maaf. Jangan marah lagi" ujar Lucky pelan.
Sri masih diam memejamkan matanya. Hatinya berdesir indah mendengar permintaan maaf dari Lucky. Ternyata pria kaku ini masih punya hati. Tidak gengsi meminta maaf soal kemarin.
"Aku cuma sibuk. Banyak rapat dadakan kemarin" ucapnya mengusap bibir Sri.
Sri membuka matanya. Menatap netra sendu Lucky. Rasanya ingin muntah mendengar alasan itu. Pastilah si bunglon ini sibuk rapat sama Amira. Bisanya ngaku rapat dadakan. Sri bisa menebak kalau Amira langsung datang menemuinya dan mengadu.
"Sri Ndak nanya" ujar Sri ketus.
Lucky merenggangkan wajahnya. Menatap Sri dengan alis bertaut.
__ADS_1
"Masih marah?"
"Iisshh.. siapa yang marah? orang Sri Ndak marah. Mase kan bebas ngelakuin apa aja" Sri menepis tangan Lucky yang masih merangkul punggunggunya. Bergerak menjauh. Tak ingin di sentuh Lucky lagi.
Lucky tersenyum mendengar nada bicara itu. Sri masih cemberut. Mendekat lagi dan menarik Sri ke pelukannya. Memegang dagunya dan menghadapkan ke wajahnya.
"Itu namanya masih marah. Jangan marah lagi. Kamu makin jelek kalau cemberut. Hidung mu makin pesek" Goda Lucky dengan senyum di kulum.
Lucky berhasil membuat mata Sri melotot lebar. Tidak terima di bilang pesek dan makin jelek.
"Iihh.. awas! jangan pegang-pegang. Iya iya Sri pesek. jelek. puas!!"
"hahahaha.."
Lucky semakin tergelak senang. Dia selalu gemas ketika Sri cemberut dan kesal seperti ini. Menarik Sri sampai terpental ke tempat tidur dengannya. Menindih tubuh mungil Sri yang gelagapan.
"Kamu ini kok ngegemesin sih? jangan cemberut begitu. Nanti aku cium"
"Aduuh mas. Abot loohh"
Sri mencoba menggulingkan tubuh kekar di sampingnya. Memeluk tubuhnya sebelah. Paha Lucky menimpa kedua pahanya. Tapi Lucky bergeming. Seolah dorongan tangan Sri tak berarti apa-apa.
"Apa sih abot?" Lucky mengerutkan keningnya.
"Berat loh mas. Mase bisa buat Sri sesak napas ini" Sri menggelinjang minta di lepaskan. Tapi Lucky hanya tersenyum saja.
"Kalau aku di atas sini pasti gak berat"
Menunjuk bagian depan tubuh Sri sambil mengecupi telinganya. Membuat gadis itu sontak mendelik. Ia tahu apa maksud Lucky. Meremang bulu kuduk Sri. Menggeliat mengelak bibir panas di telinganya.
"Ojo ngono loh Mase. Sri udah mau berangkat"
"Hmm.. " Lucky hanya menggeram.
"Mas! aduh.. Bisa telat Sri nanti"
"Berangkat dengan ku"
Ciuman Lucky sudah menjalar ke leher Sri. Gadis itu kalang kabut. Mendorong dengan keras. Tapi tetap bergeming. Tubuh Lucky bagai tembok besar yang menindihnya. Tangan kekar itu sudah merambat ke segala arah. Membuka kancing blazer Sri. Menaikkan tanktop ketat itu dan meremas apa yang tersimpan di dalamnya.
Weeess Angel wesss.. Sri kelabakan. Tak bisa mendorong Lucky. Tangan kekar itu seakan terpatri erat di dadanya. Di tarik pun percuma. Tak kan bisa lepas. Menoleh kesampingnya berharap bisa melihat mata Lucky dan memohon. Tapi malah bibirnya jadi santapan pagi buat Lucky.
Pria itu kehausan. Mereguk manis madu dari bibir istrinya. Ia tidak kuat menahan rindu seperti di pulau waktu itu. Pagi ini Sri terlihat sangat manis di matanya. Seakan memanggil dan memaksanya untuk menjamah.
"Eeemmpphh.."
Sri mencoba mengeluarkan suara ingin berbicara. Merasakan panas pagutan suaminya. Terlena melayang di ke syahduan yang dalam. Lucky melepas ciumannya dengan napas tersengal dan mata sayu berkabut.
"Sekarang masih marah?" tanyanya pelan.
Sri hanya menggeleng. Lucky tersenyum. Menji Lat bibir manis yang sudah sedikit bengkak karena ulahnya.
"Aku beneran sibuk. Rapat di kantor. Aku tidak bohong" ucapnya pelan sambil sibuk menjulurkan lidahnya ke sela bibir Sri.
"Yakin?" tanya Sri pelan.
"Hem"
__ADS_1
Tak sabar lagi menunggu lebih lama. Lucky menerkam Sri bagaikan santapan pagi yang menggairahkan. Ingin membuat gadis ini berteriak lagi. Mende sah lagi. Ia rindu itu. Urusan lain, bisa di urus belakang.