OJO NGONO MAS'E

OJO NGONO MAS'E
Bicara Dengan Baby


__ADS_3

Banyak pekerjaan yang harus di selesaikan Lucky. Harus bersabar untuk membereskannya lebih dulu. Memerintahkan Beni untuk mengurus semua urusan karyawan, dan mengubah tampilan Bronze group agar tampak berbeda. Dia mau setelah pulang nanti, semuanya sudah beres dan Bronze akan berubah penampilan. Tidak mau ada bau kerakusan Levi lagi di sana.


Meskipun harus menguras kantong agak lebih dalam, Lucky bersedia. Dia akan merubah jabatan semua staf dan karyawan. Setelah rapat mendadak di gelar, mereka memutuskan siapa saja yang harus di pecat dan di pertahankan. Kantor cabang ia rubah keseluruhan. Tidak ingin ada kelicikan lagi disana.


Semua beres. Seluruh staf masih dalam waktu libur. Lucky meliburkan semua karyawan Bronze group kecuali staf sikuriti kantor, dan office boy. Dia ingin semua berubah total. Bronze group akan memulai dari awal dalam pimpinannya.


Memang itu tidak mudah. Tapi harus ia bersihkan dari hama pengganggu yang merusak semua sistem di perusahaan yang ia bawahi. Banyak protes yang ia terima dari dewan direksi. Tapi Lucky tak peduli. Jika ada yang keberatan, mereka boleh menarik saham tanpa ada upaya pencegahan.


Setelah menyelesaikan semua pekerjaannya yang tertunda, Lucky memutuskan membawa Noah dan Rian untuk menjemput Sri. Walau awalnya Noah menolak, tapi Rian juga membujuk Noah untuk ikut.


"Ayolah pak Noah. Kita liburan. Saya kenalin sama keluarga saya pak" bujuk Rian.


"Tapi di sini masih banyak yang harus di bereskan, Iyan. 'kan lebih baik jika ada yang memantau pekerja." Noah masih menolak.


"Aku sudah meminta Beni untuk mengontrol semua pekerja, No. Jangan khawatir. Pokoknya kau harus ikut. Titik!" Lucky memaksa.


Noah menarik napas dalam. Si kaku itu pastilah akan terus memaksa bagaimanapun Noah menolak.


"Iya pak. Siapa tau ketemu jodoh di sana. Gadis di kampung saya itu cantik-cantik lho pak" Rian mengerling nakal dan tersenyum genit.


Noah memutar bola matanya malas. Hanya diam tak menyahut lagi. Bagi Lucky, diamnya Noah tanda setuju.


Mereka berangkat setelah semua urusan pekerjaan selesai. Pukul sembilan tepat mereka berangkat. Rian sangat antusias karena akan pulang kampung. Dia akan bertemu keluarganya. Tapi bagi Noah, ini sangat menyiksa. Pastilah matanya tak akan lepas dari Sri. Dan bagaimana nanti jika harus melihat si kaku yang bucin itu selalu menempel pada istrinya? Hmm.. pastilah akan menyakiti matanya.


Mereka tiba di bandara tujuan dengan selamat. Menghirup udara malam kota tempat kelahiran Sri yang Lucky rindukan. Teringat ketika pertama kali bertemu Sri saat insiden tabrakan dulu. Sri sangat judes waktu itu.


Masih harus menempuh perjalanan yang cukup jauh untuk sampai menjakau desa Sri. Lucky sama sekali tidak memberi kabar dia akan datang. Ia ingin membuat kejutan untuk istrinya. Pastilah wanita tercintanya itu akan menghambur dalam pelukannya.


Mereka sampai ketika sudah hampir tengah malam. Keadaan rumah Sri sudah gelap. Sepertinya semua orang sudah tidur. Untungnya Lucky menempatkan beberapa pengawal yang mengawal rumah Sri. Mereka sigap membukakan gerbang untuk tuannya.


"Apa yang lain sudah tidur?" tanyanya.


"Sudah, tuan." seorang bodyguard membungkuk hormat.


"Apa kau bisa membuka pintu?"


"Tidak, tuan. Kamu hanya menjaga di sekitaran rumah."


"Hmm.. Baiklah."


Lucky menghubungi mami Melani. Untungnya maminya itu merespon dengan cepat. Tak berapa lama, lampu menyala terang dan pintu rumah terbuka. Muncul Warti dan Melani menyambut mereka.


"Lucky"


Melani menghambur ke pelukan putranya. "Kenapa tidak bilang kalau mau datang?" tanya Melani setelah pelukannya lepas.


"Kejutan mam"


Lucky tersenyum. Lalu beralih pada ibu mertuanya. Menyalami dan mencium punggung tangan Warti.


"Maaf, Bu. Saya terlalu lama baru datang"


"Tidak apa-apa, nak. Yang penting kamu baik-baik saja" warti tersenyum arif.

__ADS_1


"Eh.. Noah juga ikut?" Melani melebarkan matanya melihat Noah yang sedari tadi diam.


"Bibi.." Noah dan Melani berpelukan.


"Ini siapa?" tanya Melani melihat ke arah Rian.


"Ini Rian, mam. Ajudan pribadiku" jawab Lucky.


"Wahh.. Anak ganteng." Melani tersenyum senang melihat Rian.


Rian menjabat tangan Melani dan ingin memeluknya. Tapi Lucky dengan cepat menarik baju bagian belakang Rian. Menariknya menjauhi maminya.


"Bukan bagianmu"


"Hihi... Maaf, tuan Lucky" Noah cengengesan.


Mereka semua tertawa geli melihat tingkah Rian. Warti menatap Noah yang belum menyapanya. Melani menyadari itu.


"Mbak yu, ini Noah. Adik sepupunya Lucky"


Noah menyalami Warti dengan sopan. Di ikuti Rian.


"Ayo masuk" Warti mengajak mereka semua masuk.


Keadaan rumah lengang. Karena memang sudah tengah malam. Mereka duduk di ruang tamu. Warti meminta mbok Darmi yang bekerja bersamanya, untuk membuatkan teh.


"Mana istriku, mam?" tanya Lucky langsung.


"Sri sudah tidur"


"Hmm.. Sepertinya tidak." jawab Melani.


"Apa? Kenapa dia mam?" Lucky langsung panik.


"Tenanglah. Dia baik-baik saja. Tapi sepertinya dia akan marah padamu. Karena kau menyembunyikan masalah itu darinya"


"Akh.. Sudah kuduga." Lucky mengusap wajahnya kasar.


"Ndak apa-apa. Kamu begitu kan karena memang terpaksa. Tadi ibu sudah bicara sama Sri. Kayaknya sih dia ngerti" Warti menimpali.


Mereka ngobrol sejenak sambil minum teh. Sampai Rian berpamitan ingin langsung pulang. Dan tanpa di duga, Noah juga meminta ikut ke rumah Rian saja. Tapi Warti dan Melani langsung menolak.


"Lho? Rian orang kampung sini, ya?" Melani menatap heran.


"Iya mbak yu. Iyan ini temennya Sri juga" sahut Warti.


"Oohh.. Gitu.." Melani manggut-manggut.


"Ini udah malem, yan. Nginep di sini aja, le" ujar Warti.


"Ndak apa, bune. Iyan muleh. Kangen bapak sama ibu" Rian menolak dengan halus.


"Kalian berdua, tetap di sini. Jangan pergi" perintah Lucky.

__ADS_1


Apa yang bisa mereka lakukan jika itu sudah perintah dari si tuan kaku. Terpaksa Rian menurut. Karena lelah dan sudah tengah malam, mereka semua butuh istirahat. Warti mengantar Rian dan Noah ke kamar mereka. Sementara Lucky sudah di bekali kunci cadangan kamar Sri oleh Warti. Karena Sri selalu mengunci kamarnya dari dalam.


Lucky membuka pintu kamar Sri sepelan mungkin. Takut mengganggu tidur kekasih hatinya itu. Lucky di suguhkan cahaya kamar yang temaram. Netranya langsung mengarah ke ranjang di mana istrinya tidur dengan tenang. Hatinya berbunga bermekaran. Sangat rindu dengan istrinya.


Melangkah perlahan ke dekat ranjang. Berdiri di samping ranjang dan menatap wajah ayu yang ia rindukan. Wajah tenang dalam lelapnya tidur, seperti bayi baru lahir. Napas teraturnya menimbulkan irama syahdu di telinga Lucky.


"Hhh.. Kau selalu indah, sayang. Wajah polosmu mampu membuatku gila" gumam Lucky menatapi Sri yang terlelap. Membungkuk dan membelai pipi mulus Sri.


Lucky segera meninggalkan Sri sejenak. Pergi ke kamar mandi dan membersihkan diri secepatnya. Tak ingin membuang waktu untuk bisa memeluk istri yang sangat ia rindukan beberapa hari ini.


Setelah selesai, Lucky langsung naik ke ranjang dengan perlahan. Menyibak selimut dan masuk bergabung berama Sri. Menarik tubuh Sri pelan ke dalam pelukannya. Mendekapnya penuh kerinduan.


"Sayang.. Aku rindu kamu." mengecupi kening dan puncak kepala Sri berulang kali. "Kita menang, Sri. Kita menang. Tidak ada lagi yang akan mengusik kebahagiaan kita, sayang"


Memeluk tubuh Sri erat seakan tak ingin melepasnya lagi. Lucky terbawa perasaan. Mengharu biru di dalam hatinya. Tanpa Lucky sadari, buliran bening menetes di pipinya. Ia menangis. Menangis terharu dalam bahagia.


Lelahnya terobati. Stres nya sirna. Kekacauan itu bisa ia atasi dengan baik. Walau keadaan masih harus di pulihkan dengan perlahan, tapi Lucky yakin, semua akan baik-baik saja. Setelah badai, pasti ada keindahan di baliknya. Ketenangan membangun rumah tangga dan keluarga kecilnya kelak.


"Eehhmmm.."


Sri menggeliat merasa terganggu dengan delapan Lucky. Ia mendorong dada Lucky karena merasa sesak. Mengubah posisi tidurnya jadi telentang. Tapi masih tetap tertidur pulas. Lucky terkekeh melihat kebiasaan Sri yang tidak berubah. Masih saja tidur dan tidak terpengaruh dengan apapun.


"Hehehe.. Kau ini.. Masih saja tidur seperti pingsan saja. Tidak merasakan pelukan hangat suamimu" Lucky menyentil hidung mungil Sri dengan gemas.


"Aku tadi lagi terharu, sayang. Tapi kau merusak momennya. Hehe.."


Mengecupi pipi Sri dengan gemas. Dan makin terkekeh ketika melihat Sri bergeming. Tetap pulas tidak merasa terganggu. Sampai Lucky menyeruak di ceruk lehernya pun, Sri hanya menggeliat sedikit. Itu membuat Lucky semakin giat mengerjai Sri.


Gemas Lucky membuka kancing piyama Sri satu persatu. Mengecupi setiap inci kulit mulus itu. Dan betapa senangnya ketika melihat tak ada penghalang lagi di balik piyama istrinya. Ini kebiasaan baru Sri yang Lucky temukan. Tidur tanpa bra? Wow.. Sebuah keberuntungan.


Matanya menyapu nanar gunung kembar yang terlihat semakin montok milik Sri. Meremas lembut dan mencucup ujung pinky yang terlihat menggoda itu. Memainkan sejenak dan memi**n lembut. Berganti mengecupi sampai kebagian perut.


Lucky berhenti. Mengelus perut istrinya yang sudah terlihat agak menggembung sedikit. Masih tidak terlalu kentara. Tapi Lucky tahu, ada calon jabang bayinya di sana. Bergetar tangannya mengelus perut itu pelan. Napasnya sesak seakan terhenti di tenggorokan.


Lucky kembali merasa terharu. Buah hati yang ia rindukan sudah ada bersemayam di dalamnya. Akan memanggilnya papa ketika nanti ia lahir pada waktunya. Lucky mengecup perut berkulit putih mulus itu. Mengecupnya lama sambil berlinang air mata.


"Baby.. Maafkan papa ya? Baru menemuimu sekarang. Baru menyapamu sekarang. Banyak yang papa kerjakan lebih dulu, baby. Kamu baik-baik saja kan? Nanti papa jenguk kamu kalau mamamu sudah bangun, ya? Papa sanyang kalian berdua, baby.." bisik Lucky di perut Sri. Seakan dia bicara dengan bayinya dan bayi itu bisa mendengarnya.


Mengecupinya dan mengelus-elus perut yang masih mengembung sedikit itu. Lucky gemas karena Sri masih tidak terpengaruh dengan apa yang ia lakukan. Berniat menyapa baby nya di pintu masuk, Lucky menarik pelan celana pendek piyama Sri. Tapi Sri menggeliat dan menaikkan kepalnya.


Sri membuka matanya setengah mengantuk. Antara sadar dan tidak, Sri melihat ke arah bawahnya. Lucky juga berhenti dan melihat wajah Sri. Tapi tak di sangka, Sri malah menendangnya dengan keras.


Bugh!!


"Awwwhh.." jerit Lucky jatuh ke lantai.


Lucky mengira Sri menyadari dia yang sedang jahil, dan marah. Tapi begitu lucky bangkit dari lantai dan melihat istrinya lagi, Sri malah kembali tidur dengan nyenyak. Tanpa melihat suaminya yang terguling akibat terjangan kakinya barusan.


"Astaga! Dia mimpi atau apa sih?!" gumam Lucky kesal.


Tapi segera dia bangkit dan naik lagi ke ranjang. Bergelung di bawah selimut dan memeluk sri.


"Gadis nakal. Kau kira aku guling apa? Hmm..." gumam Lucky gemas sambil mengecupi pipi istrinya.

__ADS_1


karena lelah, Lucky juga ikut tertidur. Menanti Sri bangun dan menyambutnya dengan pelukan manja dan kecupan hangat di pagi hari.


__ADS_2