
Nunik meminta Sri dan Lucky untuk foto dengan pengantin. Tidak ketinggalan pasukan pink juga berpose sana sini. Lucky memberi hadiah cukup wah pada nunik. Sebuah rumah, dan juga motor. Memberi sertifikat dan juga kunci motor. Sampai Nunik berkaca-kaca.
"Makasih, ya mas." ujar Jakfar, suami Nunik. Lucky tersenyum dan mengangguk. Menepuk-nepuk punggung Jakfar.
"Sri, suwun lho. Suami mu baik banget" Nunik memeluk Sri erat.
"Itu hadiah untuk sahabat terbaikku" jawab Sri.
Sebenarnya Sri juga tidak tahu jika Lucky sudah menyiapkan kado istimewa untuk Nunik. Sri menatap suaminya penuh ucapan terima kasih. Lucky hanya merangkul istrinya dan tersenyum mengangguk kecil.
Setelah mereka selesai dari pesta pernikahan Nunik, mereka pamit dan akan berlanjut ke rumah Rian. Tapi Agnes menolak mentah-mentah. Agnes terlihat takut dan menghindar. Mengingat apa yang di katakan ibunya Rian tadi, sama saja Agnes menyerahkan nyawa jika benar-benar ikut ke rumah Rian.
"Nes, jangan gitu lah. Ntar umi kecewa. Umi udah masak banyak, Nes" bujuk Rian.
"Bodo! Lu makan sendiri!" sentak Agnes kesal. Rian merengut.
"Sri, tolongin aku" rengek Rian menatap Sri memohon.
Sri mau bilang apa? Dia tahu Agnes sangat tergila-gila pada Noah. Tapi malah Rian yang berani mengenalkan Agnes pada ibunya lebih dulu sebagai calon mantu. Tapi melihat wajah memohon Rian, Sri jadi tidak tega.
"Mbak Nes, Ndak apa-apa mbak. Kan kita cuma di undang makan."
"Makan apa? Aku udah makan tadi, Sri." tolak Agnes terang-terangan. Melirik Noah yang sedari tadi diam saja. Agnes sangat jengkel kenapa Noah hanya diam tidak membelanya. Tapi apa yang harus dia kesalkan? Noah juga bukan siapa-siapanya.
"Agnes" Lucky menengahi. mendengar suara bariton itu, Agnes langsung ciut. Dia lupa jika masih ada Lucky juga di situ saking jengkelnya. "Kita kerumah Rian. Tidak enak sama bapak dan ibu Rahman. Boleh?"
Dengan segan, terpaksa Agnes mengangguk. Tidak punya pilihan lain. Dia ikut mobil Rian tadi. Mau ikut Sri juga sama saja. Mereka berdua juga menuju rumah Rian. Jadi, manut saja. Tidak mungkin dia pulang jalan kaki ke rumah Sri.
"Nah.. Gitu dong" celetuk Rian girang. Tersenyum lebar dan segera menarik Agnes ke mobilnya.
__ADS_1
Setelah kesepakatan terjadi, mereka berangkat ke rumah Rian. Lucky mengikuti mobil Rian dari belakang. Di dalam mobil Rian, Agnes sangat gelisah. Melirik Noah berkali-kali. Tapi Noah seakan tak melihatnya. Kesal juga rasanya jika terus di cuekin.
Rian mengoceh ngalor ngidul. Noah menanggapinya santai. Terkekeh berdua seakan Agnes tidak mendengar mereka ngobrol. Gadis itu hanya bisa menghentakkan kakinya kesal. Ingin rasanya dia menjambak Rian dan Noah.
Hanya butuh waktu lima belas menit, mereka sampai. Rumah Rian lumayan besar dan punya pekarangan yang luas. Di samping kanan rumah, langsung terhampar petakan sawah luas sejauh mata memandang. sangat indah.
Sri sangat menikmati itu. Inilah yang ia rindukan dari kampung halamanya. Sawah menghijau dan udara segar tanpa polusi. Tak di sangka, ternyata di rumah Rian sudah ramai. Sanak keluarga Rian juga datang. Rian saja kaget, apalagi Agnes. Wajahnya langsung pucat pasi. Ketakutan melanda hati. Bagaimana jika ia masuk, lalu ibunya Rian langsung melingkarkan cincin di jari manisnya? Lalu bagaimana dengan cintanya pada Noah? Agnes hanya bisa menegang kaku di samping mobil.
Di sambut bapak dan Bu Rahman langsung. Sangat gembira melihat Sri dan juga suaminya benar-benar mau datang ke rumah mereka. Menyambut mereka dengan hangat. Sri hampir mengenal semua keluarga Rian. Dan mereka semua heboh menyambut kedatangan Sri dan suaminya.
"Mbak Nes! ayok.." Sri melambai memanggil Agnes. Tapi Agnes terlihat gugup dan bingung.
Melihat Agnes ketakutan, Noah menghampiri. Menepuk punggung Agnes pelan. Agnes menatap netra Noah. Pria itu tersenyum hangat.
"Ayo Nes, bersikaplah yang normal. Tidak baik mengabaikan orang-orang yang menunggumu"
Tak sadar Agnes menurut ketika Noah menarik tangannya mendekat ke depan rumah. Noah lebih dulu menyalami tuan rumah, lalu dengan canggung Agnes ikut berbuat yang sama.
Mereka masuk ke dalam. Pak Rahman mempersilahkan mereka duduk di ruang depan.
"Yah.. Inilah gubuk kami pak Lucky. Rian lahir dan tumbuh besar di sini. Semoga saja pak Lucky betah." ujar Rahman sangat ramah.
"Jangan begitu pak Rahman. Rumah anda sangat indah. Jarang kami menemukan tempat indah seperti ini. Apalagi istri saya, dia pasti sangat suka." jawab Lucky sambil merengkuh pinggang Sri. Sri tersenyum menatap suaminya.
Mereka berbincang dengan bersemangat. Pak Rahman berencana menunjukkan lahan pertaniannya pada Lucky. Siapa tahu Lucky berminat mengembangkan usaha di sana. Melihat prospek baik dan akan bergabung dengan pak Rahman untuk mengembangkan desanya.
Sri dan Agnes bergabung bersama ibu Hasnah dan keluarga Rian yang lain. Keluarga Rian menyambut hangat Agnes untuk masuk ke dalam keluarga mereka. Tampak sekali peluang lebar mereka berikan pada Agnes dari cara mereka berbicara dan berseloroh pada gadis itu.
Sri melihat itu jelas. Tapi sepertinya Agnes masih kebingungan dan canggung. Sri tahu itu. Hati Agnes masalahnya. Gadis itu masih menanti Noah membuka hati untuknya. Tapi yang di tunggu sepertinya masih enggan membuka hati untuk gadis lain.
__ADS_1
Pak Rahman menahan Lucky untuk tetap tinggal. Lucky mengiyakan setelah bertanya pada Sri, Noah dan Agnes. Sampai selesai makan malam, terjadilah yang Agnes cemaskan. Di depan semua keluarga Rian, dan di saksikan Noah dan Lucky juga Sri, ibu Hasnah menyampaikan niat hatinya yang membuat Agnes panas dingin.
"Nak Agnes, Rian menyampaikan pada ibu kalau.. Kalau Rian suka sama nak Agnes. Ibu dan bapak juga sudah kepingin Rian menikah." Hasnah diam sejenak. Melirik Rian yang tersenyum malu dengan pipi merona merah.
Jantung Agnes berdegup kencang. Sri mengerti dan menenangkan Agnes dengan genggaman tangan untuk menguatkan gadis itu. Agnes tampak sangat gugup dan wajah piasnya tak bisa ia sembunyikan lagi. Mengutuk Rian dalam hati kenapa pria itu tidak mengerti keadaan hatinya? Ini sangat tiba-tiba dan membuatnya ingin pingsan saja rasanya.
"Mumpung nak Agnes datang ke sini. Dan di saksikan pak Lucky juga, Rian meminta ibu untuk mengikat janji dengan nak Agnes. kalau nak Agnes setuju, nanti setelah ini kami sekeluarga akan berkunjung kerumah orang tua nak Agnes." Hasnah mengeluarkan kotak beludru merah dan membukanya. Ada cincin di sana.
Duar!!
Agnes langsung panik. Keringat dingin membanjir begitu saja. Meremat tangan Sri di genggamannya semakin erat. Noah dan Lucky menatapnya tak berkedip. Semua mata tertuju padanya antusias mendengar keputusan Agnes.
"Nak Agnes" sekarang pak Rahman yang ikut berbicara. "Jangan takut. Rian sudah mapan. Dia hanya punya satu orang adik perempuan. Semua yang bapak punya, itu berarti adalah hak milik rian. Nak Agnes jangan bimbang. Lagi pula, bapak dan ibu memang sudah kepingin punya mantu. Bagaimana nak?"
Ah... Semakin menggeletar saja tubuh Agnes. Rasanya ingin menangis. Menatap Noah seakan memohon agar menghentikan ini semua. Tapi Noah seakan tidak mengerti hatinya. Pria itu sungguh tenang dan tidak merasa aneh dengan tatapan Agnes padanya.
Lucky sungguh mengerti. Tapi tak bisa memaksa hati Noah juga. Sungguh dilema yang di rasakan Agnes, Lucky juga bisa merasakan. Melihat wajah pias Agnes, dia harus mengambil tindakan sebelum Agnes pingsan.
"Emm... Maaf sekali pak Rahman dan ibu. Mungkin ini terlalu tiba-tiba. Dan mungkin Rian belum menyampaikan apapun pada Agnes Sebaiknya, kita memberi Agnes waktu untuk menjawab. Kami juga masih di sini bukan? Mungkin besok Agnes sudah siap untuk menjawab pinangan bapak dan ibu."
Hasnah tertegun. Sejenak ia kehilangan kata-kata. Melirik Rian yang menatap Agnes dengan penuh permohonan. Tapi Agnes hanya menunduk. Gadis itu bersyukur Lucky membelanya dalam masalah ini.
"Oh.. Ya ya.. Tidak apa-apa. Ah.. Maaf.. Maaf.." Hasnah merasa tak enak hati. Menutup lagi kotak cincin beludru merah di tangannya. Lalu mendekati Agnes dan duduk di sebelahnya.
"Agnes, tidak apa-apa. Jangan takut. Ibu tidak memaksa. Kamu bisa pikirkan dulu malam ini. Apapun keputusan kamu, bapak, ibu dan juga Rian akan menerimanya dengan lapang dada. Ya?" Hasnah menepuk-nepuk punggung Agnes dan tersenyum teduh. "Sudah, tidak apa-apa. Jangan tegang begitu"
Agnes mendongak menatap wajah Hasnah. Tatapan seorang ibu yang menyayangi anaknya. Teduh sekali. Ia memang merindukan itu. Tapi, bagaimana hatinya? Noah! Kenapa pria itu sedingin es? Kenapa tidak melihat cinta di matanya?
Agnes meraih tangan Hasnah. Menatap wanita paruh baya itu lamat. "Ibu, maafkan saya. Beri saya waktu sedikit saja. Setelah itu, saya akan memberi keputusan."
__ADS_1
"Iya, nak. Ambil waktumu."
Agnes bisa bernapas lega untuk malam ini. Tapi besok, sebelum mereka pulang, dia harus memberi jawaban. Semoga saja di sudah bisa menetapkan hati.