
Hari ini pengunjung di butiknya cukup ramai. Banyak pesanan yang harus segera di selesaikan. Apalagi harus mengurusi show-nya nanti di Paris. Rasanya sungguh melelahkan. Tapi itu adalah impian terbesarnya.
Yesi, asisten terbaiknya datang keruangannya dan menghampiri. Membisikkan sesuatu di telinganya. Amira mengernyitkan alisnya melihat kearah yang ditunjuk yesi. Terlihat wanita cantik dengan gaya glamournya Sedang duduk di sofa di dalam butiknya.
Amira bisa langsung melihatnya karena batas ruang kerjanya adalah dinding kaca bening. Untuk dapat sekalian memantau semua karyawannya bekerja dari ruangannya. Neni duduk tenang dan juga menatap kearahnya dengan anggukan kecil dan senyum menawan.
"Nyonya Neni. Apa maunya wanita itu?" bisik Amira pada Yesi.
Gadis itu hanya mengedikkan bahunya. Dia juga tidak tahu apa yang di inginkan wanita paruh baya itu ke butik mereka.
"Baiklah Yes, suruh saja masuk ke sini. Hmm sepertinya dia datang membawa sesuatu yang menjanjikan"
Yesi mengangguk. Keluar dan menemui Neni. Tampak Neni menatap Amira sejenak dengan senyum mengembang. Lalu Yesi mengantarkannya masuk ke ruang kerja Amira. Amira berdiri dan menyambut nyonya kedua dari keluarga Albronze itu.
"Halo nyonya Neni" mereka berjabat tangan. Menyapa Neni sekedar basa-basi "Apa kabar?"
"Seperti yang kau lihat Amira. Aku baik" jawab Neni dengan senyum manis.
Amira sudah dapat menebak apa yang diinginkan wanita paruh baya yang terkenal dengan sikap berani dan kelicikannya ini. Mempersilahkan Neni duduk di sofa yang ada di ruangannya.
"Butik mu cukup bagus, Amira" ujar Neni membuka bicaranya.
"Terima kasih nyonya" Amira menatap wajah Neni lekat.
"Sayang sekali jika tidak di kembangkan lagi, ya?" Neni menatap keluar ruang kerja Amira. Karyawan yang mondar-mandir menunjukkan pakaian koleksi mereka pada para pengunjung.
"Yah begitulah, nyonya" Amira tersenyum kecil.
"Apa kau merasa, ini sudah cukup? masih banyak yang harus di benahi dalam butik mu ini" Neni mengedarkan pandangannya kesegala penjuru ruang kerja Amira.
Amira menaikkan alisnya. Tampak sekali kalau Neni ingin menjanjikan sesuatu yang besar untuknya. Iming-iming membenahi butiknya. Padahal semua orang tahu kalau Amira tidak kekurangan jika hanya untuk membenahi butiknya. Semua orang mengenalnya.
"Ohh.. Yesi. Tolong sediakan sesuatu untuk nyonya cantik ini. Jangan sampai dia kehausan berada di sini" pandangan Amira berhenti sejenak pada Neni, lalu mengalihkan matanya pada Yesi.
Yesi mengangguk dan keluar ruangan. Mengambilkan minuman untuk Neni. Amira kembali fokus pada Neni. Entah apa yang ingin wanita ini tawarkan untuknya.
__ADS_1
"Kelihatannya ada hal penting sampai anda datang ke ruang kerja saya nyonya Neni? Kalau boleh saya tau, ada penawaran apa?" Amira langsung kepokok permasalahan.
Neni tersenyum tipis. Menatap Amira di depannya. Kagum akan intuisi Amira yang langsung dapat menebak apa yang ia inginkan. Neni membuka tas tangannya yang cukup besar, lalu mengeluarkan sebuah amplop putih. Menaruhnya di meja.
"Lihat lah. Mungkin kau belum tau, atau kau akan tertarik dengan usulan ku" ujarnya melirik amplop di atas meja.
Amira tak langsung meraih amplop itu. Masih menatapi saja. Lalu mendongak melihat kearah Neni lagi.
"Jangan takut. Amplop itu tidak akan menggigitmu. Tapi akan mendebarkan jantungmu" Neni tersenyum sinis.
Amira kembali menatap amplop di meja. Pelan dia meraih amplop itu dan membukanya. Lalu mengeluarkan sebagian isinya. tampak banyak foto Lucky dan Sri dengan adegan mesra. Jujur, ada rasa sakit menyusup di hatinya. Tapi apalagi yang harus di permasalahkan dengan kebersamaan mereka berdua? toh dia sudah tahu itu semua.
"Apa yang anda harapkan dengan menunjukkan ini pada saya, nyonya?" Amira meletakkan foto itu dengan kasar di atas meja. Seakan mengatakan dia tidak tertarik.
"Ahh.. benar dugaan ku. ternyata kau sudah tau itu" Neni mengibaskan tangannya di udara dan tertawa sumbang. "Tapi jika aku lihat, gadis kampungan itu tidak cocok dengan Lucky. Aku lebih suka jika kau yang jadi menantu keluarga Albronze"
Sejenak, ada kilatan harapan di mata Amira, mendengar pujian Neni padanya. Dia memang masih menginginkan Lucky. Tapi harapan itu segera meredup kembali. pria itu sudah memutuskannya. Memintanya untuk bisa mengalah.
Yesi kembali masuk kedalam ruang kerja Amira, dengan membawa nampan yang berisi minuman untuk neni. Meletakkannya di meja dan mengangguk mempersilahkan Neni untuk minum dan mencicipi cemilan yang ia bawa. Lalu keluar lagi.
"Oh ya? wah.. sayang sekali Amira. Kau sangat cantik, masih muda dan berprestasi. Aku pikir, kau pasti tidak mengincar harta Lucky dengan mendekatinya bukan?" Neni menatap mata Amira intens.
Mereka berdua saling tatap dalam diam. Membaca pikiran masing-masing. Wanita licik ini ternyata sudah banyak menyusuri tentang apa keinginan Amira mendekati Lucky sebenarnya. Apalagi jika bukan kedudukan yang bisa di pertimbangkan banyak pihak? itu suatu keuntungan besar di dunia bisnisnya. Nama Lucky cukup menjanjikan dan bisa menjadi tameng untuknya.
"Kenapa kau mengalah pada seorang gadis kampung yang tidak punya apa-apa, Amira? Aku tau gadis itu mungkin menginginkan yang sama dengan keinginanmu. Kau masih punya kesempatan merebut Lucky darinya. Gadis itu hanya ingin harta Lucky. Dari pada dia yang menguasai, apa tidak lebih bagus jika kau yang menempati kursinya?"
Amira masih bergeming. Hanya mendengarkan ocehan provokasi dari neni. Jujur hatinya membara saat ini. Teringat bagaimana Lucky memintanya untuk menghentikan hubungan mereka berdua. Berdalih karena dosa. Hubungan terlarang karena Lucky sudah beristri. Tapi bagaimana dengannya? apa hanya berakhir seperti ini?
"Aku tau bagaimana perjuanganmu mendapatkan Lucky. Kau meninggalkan Noah hanya demi status yang lebih tinggi bukan? apa kau mau hanya berakhir seperti ini? kau di campakkan Lucky setelah dia punya istri"
Ada kilatan cemburu membara di mata dan hati Amira. Neni benar. Semua yang Neni bilang adalah benar. Dia mencampakkan Noah hanya karena status Lucky lebih tinggi. Dan benar saja, setelah Lucky terjerat dalam pelukannya, keadaan menguntungkan berpihak padanya.
Mempubliskan hubungan mereka di depan umum, bisa membuat statusnya lebih melesat naik. Amira tidak memungkiri itu. Walau dia harus menyakiti Noah, dia sanggup. Impiannya terwujud. Jangankan Noah, siapapun dia rela singkirkan untuk dapat menjadi pendamping Lucky.
Tapi kesempatan itu seakan memudar ketika dia lebih memilih karir lebih dulu ketimbang menikah. Lucky mengajaknya menikah ketika orang tuanya mendesak untuk menikahi Sri. Tapi Amira takut tidak dapat fokus pada impian hidupnya. Jadilah seperti sekarang ini. Amira jadi semakin tersingkir dengan kehadiran Sri di dalam hidup Lucky.
__ADS_1
"Bagaimana Amira?" Neni membuyarkan lamunan Amira. Menatap netra jeli wanita setengah baya itu.
"saya kira anda terlalu memaksakan kemauan anda sendiri. Saya tau anda juga mengincar harta keluarga Albronze. Lalu kenapa anda memintaku untuk kembali pada Lucky? bagaimana jika aku bisa merebutnya? bukan kah kesempatan anda jadi lebih sedikit? karena kita berdua akan menjadi saingan soal itu" ujar Amira sinis.
"Hahaaa..." Neni malah tergelak. Dia sangat suka dengan sikap Amira yang lebih mirip dengannya. "Aku sangat menyukaimu Amira. Hahaha..."
Amira mengernyitkan dahinya. Menatap Neni dengan pandangan jijik. Ternyata wanita ini lebih parah gilanya dari dirinya sendiri. Neni menghentikan tawanya lalu menatap Amira lagi dengan sisa tawa yang berusaha ia tahan.
"Kau tau? aku datang kesini adalah keputusan tepat. Aku menyukai mu. Dengar.. jika kau yang menjadi istri Lucky, kau akan punya segalanya. Tidak hanya status bagus, tapi juga kekuasaan. Dan aku kira, kita masih bisa bernego sedikit masalah itu. Yang penting sekarang, rebut dulu kekasih mu dari gadis kampung itu"
"Bagaimana jika aku menolak?"
Neni menatapnya sinis. Lalu mengeluarkan satu amplop lagi dari tasnya. Mencapakkan dengan kasar keatas meja, sampai hampir jatuh.
"Kau pasti tidak bisa mengelak masalah ini. Bukalah" perintah Neni.
Amira kembali meraih amplop itu dan membukanya. Kali ini jantungnya serasa berhenti berdetak. melebarkan matanya sempurna melihat apa isi amplop yang baru di berikan Neni padanya.
"Aku akan menghancurkan reputasi mu Amira. Aku akan bongkar pada seluruh alam kalau kau masih punya beberapa pria selain Lucky. Aku tau kau tidak begitu mencintai Lucky. Kau hanya ingin mendapatkan kedudukan bagus jika berada di sisinya. Lucky adalah aset berharga buat mu"
Wajah Amira pias. Keringat mulai menyembul halus di dahinya. Mengutuki Neni dalam hatinya. Bagaimana wanita licik ini bisa mendapatkan foto-fotonya bersama pria lain? ini ancaman yang sangat kejam di sepanjang sejarah hidupnya. Tapi dia masih mencoba bertahan untuk tidak terlihat gugup di depan neni.
"Untuk apa anda membongkar ini di depan Lucky? toh kami sudah tidak ada hubungan apa-apa" ujar Amira dengan suara yang bergetar halus.
"Haha.. Lucky akan semakin membencimu. Dia akan marah karena merasa kau membohonginya sejak lama. invest Lucky di Paris untuk mu akan berhenti total. Atau, jika Lucky tidak peduli, aku akan mempublisnya kepermukaan"
Bergetar tulang belulang Amira. jantungnya serasa di tusuk beribu jarum mendengar ancaman Neni. Sangat kejam dan licik wanita yang satu ini.
"Lalu jika saya merebut Lucky, bukannya Jadi saya yang jadi penguasanya? dan kesempatan anda hilang"
"Hhhh... itu urusan ku. Aku pikir kau juga tidak akan seserakah itu untuk tidak membawa suami dan anak ku ada andil di dalamnya bukan?"
Amira sangat benci wanita ini. Sama saja dia mengincar harta Lucky. Tapi sangat licik menggunakan Amira di dalamnya.
"Yang terpenting, aku mau kau rusak hubungan mereka berdua. Balaskan dendam mu. Setelah itu kau akan muncul sebagai pemenang"
__ADS_1
Dengan berat hati, Amira mengangguk menyetujui. Dia juga ingin Lucky. Lucky hanya menolaknya sekali. Dan itu juga dengan berat hati. Amira tau, masih ada cinta untuknya di hati Lucky. Dan anggukan Amira, membuat senyum cerah hadir di wajah Neni. Akhirnya dia mendapatkan Amira untuk menentang Lucky.