
"Menurut kamu, Noah itu seperti apa?"
Sri tercenung. Noah? kenapa Noah? seperti apa? Banyak pertanyaan hadir dalam hati Sri. Ada apa dengan suaminya ini?
"Kepana pak Noah, mas?" Sri menatap netra Lucky serius.
"Hanya bertanya sayang"
Sri bangkit dan duduk bersimpuh di samping Lucky. Masih belum mengerti kenapa tiba-tiba saja Lucky menanyakan tentang Noah. Apa yang terjadi?
"Mase kenapa sih? Sri ndak ngerti lo" wajah Sri mulai terlihat kesal.
"Cuma bertanya. Jangan tegang begitu, sayang" Lucky mengusap dagu Sri gemas.
"Tapi kenapa pak Noah? Ndak ada hubungannya toh?"
"Iya. Jawab saja. Menurut kamu, Noah itu seperti apa?"
"Kita udah pernah ngomongin ini lho mas. Waktu di apartemen waktu itu. Mas inget ndak?" Sri mengingatkan.
Lucky mengangguk. Mereka memang sudah pernah membicarakan masalah Noah. Tapi kali ini berbeda. Lucky ingin memastikan lagi.
"Terus kenapa pak Noah lagi?"
Lucky diam. Sulit rasanya mengatakan perihal Amira. Lucky tidak ingin Sri menjadi kepikiran masalah aduan Amira padanya.
Sri menarik napas panjang lalu menghelanya perlahan. Menatap netra Lucky lamat. Ia tahu Lucky sedang cemburu. Tapi kenapa? apa alasannya? Tapi biarlah. tidak ada salahnya menjelaskan kembali untuk meyakinkan suaminya.
"Mase, pak Noah itu yang pasti manusia kan ya?"
Mendengar itu, Lucky tertawa renyah. Lelucon Sri berhasil membuatnya tertawa lepas. Istrinya ini memang selalu bisa mencarikan suasana.
"Serius, sayang" Lucky mencubit pipi Sri gemas.
"Pak Noah itu.. tampan" Lucky diam saja. Masih mendengarkan. "Baik. Lembut. jarang marah"
"Kenapa yang baik-baik semua sayang?" Lucky protes.
"Tadi kan mase nanya.. kenapa protes?" Sri menurunkan bahunya. Menunjukkan dia kesal kenapa Lucky protes setelah Sri menjelaskan.
"Uuppss.. iya iya.. lanjutkan" Lucky membekap mulutnya tanda permohonan maaf.
"Tapi pak Noah itu.. pendiam. Dingin. Tapi ya masih dingin Mase lagi sih"
"Hah? aku dingin? apa iya?" Lucky mengernyit dalam.
"Iya lah. Mase itu dingin. Apalagi kalau lagi mikir" Sri mencebik.
"Ohh.. dingin ya? mau yang panas kamu?"
__ADS_1
Lucky menaik turunkan alisnya menggoda Sri. Sri jadi tercekat. Maksudnya ingin menggoda Lucky, tapi malah dia yang terjebak.
"Eh.. B-bukan gitu mas!" segera Sri menggerakkan tangannya menolak.
"Hehehe.."
Lucky tak peduli. Menerkam istrinya dan mengecupi seluruh wajah Sri. Membuat Sri ambruk tak berdaya. Terkikik geli karena Lucky menggusal di ceruk lehernya. Mendorong bahu Lucky agar menghentikan aksinya.
"Geli Mase.. udah dong"
Lucky berhenti. Menatap wajah Sri dengan napas memburu dan senyum lebar. Senang sekali membuat Sri kegelian.
"Kenapa? tidak mau yang panas?" mengedipkan sebelah matanya genit. Sri tersipu malu.
"Tadi kan cerita pak Noah. Kok jadi mesum sih mas?"
"Hmm.. lanjut saja. Ceritakan tentang Noah"
Bagaimana mau cerita tentang Noah kalau Lucky sudah beraksi? yang ada Sri malah bungkam menggigit bibirnya menahan desa**n.
Sibuk di gunung kembar istrinya, sambil menunggu cerita selanjutnya. Tapi Sri hanya membeku. Meremas pundak Lucky menahan serangan pelintiran di puncak dadanya. Lucky mendongak melihat wajah istrinya. Tersenyum sensual sambil tangannya tak henti bergerilya.
"Ayo, baby. Lanjutkan lagi. Noah kenapa?"
"Ehmm.. pak Noah.. awwh.. ndak tau masss.." Sri menggeleng menatap sayu suaminya.
Lucky terkekeh. Sri kelojotan. Lucky Sangat menikmati ini. Sensasi baru ia temukan. Bagaimana rasanya bercinta sambil istrinya bercerita tentang lelaki lain? hehehe.. Lucky penasaran.
Mengelus gundukan yang masih tertutup piyama. Menekan-nekan sedikit. Menggesek dari atas dan bawah berulang kali.
"Baby" bisik Lucky.
"Hmm?" Sri membuka matanya dan bergumam lirih.
Mata mereka bertemu. Saling memandang sayu. Tangan Lucky tak bisa diam. Menelusup ke dalam piyama Sri. Menemukan sepetak sawah gundul yang tidak berpadi. Hanya kelembutan lembah hangat di ujung telunjuknya.
"Kamu suka Noah?"
"Aawwhh.. hhhh.. Mase.. endaakk maasss"
Sri kewalan menjawab dengan gempuran merobek khayal tertinggi. Lucky mengelus kacang kecilnya. Sri semakin gemas karena Lucky sengaja mengerjainya. Sri mencengkram lengan Lucky yang bergerak di bawahnya. Menahan agar tangan itu berhenti.
"Mas.."
"Hmm.. ya baby.. kenapa?"
"Geli"
Lucky tersenyum. Senang sekali melihat Sri dengan mata sayu dan pipi merah menahan serangan tangan nakalnya.
__ADS_1
"Noah menyukaimu"
Sri agak terkejut. Tapi tak bisa mengekspresikan itu. Terlalu menumpuk rasa geli dan nikmat yang Lucky berikan. Otak Sri harus membagi antara berpikir dan menikmati. Lucky semakin bersemangat melihat reaksi istrinya.
"Pak Noah.. uugghh.. itu kakak buat Sri, maasshh.." jawab Sri mendesis.
Tak sabar Lucky mendengar jawaban Sri. Semangat menggebu terlecut begitu saja. Aneh memang. Lucky bergelora ketika Sri menyebut nama Noah. Entah apa yang terjadi padanya.
Terburu-buru membuka penutup terakhir di tubuhnya. Tongkat bisbolnya sudah mengeras kaku dari tadi. Mengangguk garang mencari sarang. Melorotkan piyama Sri. Begitu terbuka, Lucky langsung melebarkan paha istrinya sempurna. Menatap di bawah sana yang telah lembab akibat tangan nakalnya.
Sri sampai terkaget dan agak panik melihat Lucky begitu tergesa. Bersemu makin memerah karena Lucky menatapi lembah yang berkontraksi dengan melebarkan kedua bibir tembem itu dengan ibu jarinya.
"Katakan lagi, baby. Ayo" Gumam Lucky masih saja menatap intens dengan seringai buas.
Sri menutup wajahnya dengan tangan. Malunya setengah mati. Suaminya menatapi bagian bawahnya dengan gairah membuncah. Sampai terasa tangan Lucky bergetar.
"Mas.. malu!" Sri bergerak menghindar. Tapi Lucky menahannya agar tidak banyak bergerak. Menyeringai ketika lahar bening mengalir keluar dari inti Sri yang berkedut kontraksi.
"Astaga.. sshh.. indah sekali baby.."
Srluuupp...
Lucky menyeruputnya. Seperti minum dari mata air yang mengalir. Menjilat sampai bersih. Haus yang menyenangkan buatnya. Menyeruput berkali-kali. Sri kelojotan dengan tubuh mengejang.
"Maseee... ahhh.." Lenguhan panjang keluar dari bibir Sri. Tak kuasa menahan lagi. Matanya terpejam erat. Tak lagi menutup wajahnya malu-malu.
"Katakan sayang.. kamu suka Noah?" berkali-kali pertanyaan yang sama di lontarkan Lucky. Dasar gendeng. Malah suka ketika Sri menceritakan tentang Noah.
Pikiran Sri berkecamuk. Antara heran dan bingung. Tapi gerakan Lucky memprovokasinya sangat kuat. Sri tak bisa berpikir jernih.
"Pak Noah.. sshhh.. masss.. pendiam"
Lucky tak sabar. Menempatkan diri di samping tubuh Sri. Menaikkan sebelah paha Sri keatas pinggangnya. Mencari celah basah yang siap di gempur. Menelusup pelan-pelan. Hingga akhirnya keduanya melenguh panjang ketika penyatuan terjadi.
Terlalu bersemangat sampai akhirnya Lucky menumpahkan benihnya dalam waktu singkat. Terengah penuh gelora cinta yang telah tersalurkan. Berguling kesamping Sri. Memeluknya dengan erat. Mengecupi pipi Sri mesra.
Sri tertegun memikirkan kelakuan Lucky barusan. Ada apa dengan suaminya ini? kenapa jadi begitu bersemangat ketika dia menjawab tentang Noah? apa ada masalah? Selama ini Lucky sangat tahan lama. Kadang Sri memohon untuk segera berakhir. Tapi ketahanan Lucky masih saja berkali lipat.
"Mase, ada apa?" tanya Sri di sela napas yang terengah.
Lucky mengecupi bibirnya basah. Melu**tnya dalam penuh perasaan.
"Sri, jangan pernah tinggalkan aku. Aku mencintai mu" ujarnya lembut ketika ciuman itu berakhir.
Sri hanya mengangguk. Menatap mata Lucky intens.
"Tapi kenapa pak Noah, mas?"
Lucky mengerti apa maksud pertanyaan Sri. Dia juga bingung kenapa hasratnya menggebu ketika Sri menjawab tentang noah. Hatinya seakan membara ingin menaklukan hati Sri dan tak ingin Sri melirik yang lain.
__ADS_1
"Tidak tau, sayang. Aku hanya bersemangat. Tapi.. "Sri menantikan. "Yang tadi sangat menyenangkan sayang"
Sri memukul pelan dada Lucky. Gemas dan malu sekaligus. Lucky terkekeh senang.