
Lucky semakin sibuk saja akhir-akhir ini. Perusahaan Bronze group semakin memanas. Dewan direksi memprotes data keuangan yang mengharuskan Lucky untuk menurunkan tim auditor ke perusahaan ini.
Memegang banyak bisnis dan harus menjalankan dua perusahaan besar sekaligus itu tidak mudah. Lucky harus bisa membagi waktu dengan tepat. Bolak balik di antara keduanya itu sangat melelahkan.
Belum lagi bisnis yang lain. Tak jarang Lucky sangat kelelahan. Papi Frans juga tidak bisa selalu membantunya. Harus bolak balik Singapura untuk urusan bisnis disana. Dan tentu saja membuat mami melani kadang ikut serta menemani suaminya.
Jadi orang kaya itu tidak gampang. Bukannya hanya tidur-tiduran dan menikmati gaya hidup yang serba unlimited edition, tapi harus tetap bisa memutar roda perekonomian lebih baik.
Ratusa karyawan bahkan ribuan yang bernaung di bawahnya perlu di gaji. Menggantungkan hidup pada perusahaan. Berharap perusahaan lebih maju dan mereka bisa mendapatkan tambahan bonus gaji. Tapi lain halnya dengan Levi. Dia malah ingin menghancurkan lancarnya jalan bisnis perusahaan kakeknya, yang juga menghidupi dirinya. Sinting!
"Bagaimana, Ben?" tanya Lucky ketika Beni masuk ke ruangannya dengan membawa banyak berkas di tangannya.
"Semua sudah di serahkan, tuan. Kita tinggal menunggu hasilnya" jawab Beni dan menyerahkan sebagian berkas yang harus di tanda tangani Lucky.
"Dewan direksi juga mempermasalahkan keuangan kantor cabang, tuan. Banyak sekali kejanggalan. Tidak ada keterbukaan di bagian keuangan kantor"
"Mereka sudah memeriksa itu?"
"Saya menurunkan tim lain untuk kantor cabang. Erwin yang menangani di sana, tuan"
Lucky diam sejenak. Fokus membuka berkas di depannya. Membacanya dengan teliti. Beni menunggu di depannya.
"Hmm.. Baiklah. Aku akan pelajari ini. Sebaiknya kau katakan pada pak Arman untuk kelengkapan data keuangan yang di perlukan lagi"
"Baik tuan" Beni mengangguk hormat. Pergi meninggalkan Lucky.
Pihak Lucky sudah menyerahkan semua berkas penting pada pihak auditor. Berupa Neraca dan Laporan Laba Rugi serta Laporan Arus Kas untuk tahun buku periode Januari sampai dengan Desember, dan semua berkas permanent file telah di serahkan.
Selain data yang diminta dilengkapi, perusahaan juga harus memastikan bahwa setiap data berupa rincian harus sinkron dengan laporan keuangan yang telah dibuat oleh perusahaan karena itu akan berdampak pada opini audit yang akan diberikan oleh auditor.
Lucky sudah bertekad harus membongkar kebusukan Levi dan paman Fardo. Tidak bisa di biarkan lagi. Walaupun harus membuat banyak orang pontang-panting untuk bisa membuka itu semua.
š
š
š
Sri merasakan kejanggalan dengan dirinya. Pertama Sri merasakan aneh ketika merasa tidak bisa hidup tanpa aroma tubuh Lucky. Baginya itu candu yang sangat memabukkan. Kedua, Sri malah semakin tidak bisa terkena sinar matahari. Selalu merasa pusing ketika harus keluar dari mansion, walau hanya di halaman belakang ataupun ke kolam renang.
__ADS_1
Lebih tepatnya Sri sangat merasa malas yang luar biasa. Sangat nyaman ketika berada di tempat tidur. Dunia seraasa hanya miliknya seorang. Moodnya cepat berubah-ubah. Sri kebingungan.
Berbaring telentang menatap langit-langit kamarnya. Memikirkan kejanggalan dalam dirinya. Dan lagi, Sri sedang cemas menantikan tamu bulanannya yang tak kunjung hadir. Jika di hitung jadwal menstruasinya, sepertinya sudah terlambat dua minggu.
Tubuh Sri seketika menegang. Di otaknya menari dan berputar seputar kalender menstruasinya. Dia ingat pertanyaan Oma waktu itu. Apa Sri hamil?
Tersentak Sri meraih ponselnya di atas nakas. Memeriksa penaggalan jadwal menstruasinya. Kebiasaan Sri selalu menandai tanggal ketika dia sedang datang bulan. Itu memudahkannya mengingat.
Sri tercekat menatap layar ponselnya. Benar saja. Sri sudah terlambat dua minggu! Debaran jantungnya berubah cepat. Ada rasa gembira, gugup, dan juga bingung.
"Terlambat. Dua minggu. Opo aku hamil yo? Tapi kok ndak muntah? biosone kan muntah"
Sri bergumam sendiri. Bingung harus bertanya pada siapa? mami Melani sedang ke Singapura dengan papi.
"Opo takon bune yo?"
Sri menimbang-nimbang sesaat. Harus tanya ibunya atau tidak. Tapi kalau bertanya lebih dulu, bagaimana jika tidak hamil? Sri akan menjadi malu.
Sri turun dari ranjang. Mondar-mandir gelisah. Ingin rasanya langsung menghubungi Lucky. Tapi dia tahu jika suaminya sangat sibuk akhir-akhir ini. Tidak enak hati merepotkan Lucky. Lalu bagaimana?
Ah.. cek saja lebih dulu. Kalau benar, baru dia akan bertanya lebih lanjut. Pun jika perkiraaannya salah, hanya dia yang tahu. Tidak harus menahan malu.
Sri menepuk jidatnya sendiri. Dia sama sekali tidak tahu akan hal ini. Baru kali ini Sri merasakan tidak datang bulan. Dan kegelisahan menghantui dengan jantung berdebar. Antara senang dan gugup.
Dulu, ketika kedua kakaknya hamil, mereka langsung periksa ke bidan desa. Apa Sri harus langsung periksa ke dokter?
"Aahh.. bodoh kok aku Ikiii.. Takon Mbah Google toh yo.."
Segera mengetik di ponselnya. Bertanya pada dukun paling tahu segalanya di seantero bumi. Mbah Google yang berilmu sakti.
"Cara memeriksa kehamilan" Gumam Sri sambil mengetik.
Menanti beberapa saat, dan terpampanglah banyak artikel di sana. Ada ala dokter, ada blog juga. Sri memilih salah satu. Membacanya pelan-pelan. Mengernyit dalam. Tak percaya semudah itu memeriksa kehamilan secara mandiri. Testpack!
Sri menyeringai menertawakan kebodohannya. Ternyata gampang sekali. Beli testpack, kencing, dan celupin. Haahaaa.. kampungan!!
Segera Sri mengetik pesan chat pada Lucky. Sangat bersemangat ingin pergi ke apotek.
"Mase, Sri pergi keluar, boleh?"
__ADS_1
Menunggu beberapa saat. Lucky belum membuka pesannya. Sri mulai sedikit kesal. Mungkin Lucky benar-benar sibuk. Tak berapa lama, Lucky melakukan panggilan video. Sri segera menerima.
"Mase!" Sri kegirangan melihat wajah tampan itu muncul di layar ponselnya.
"Ada apa sayang?" tanya Lucky tersenyum.
"Mase, Sri boleh ya, keluar?" rengek Sri manja.
"Mau kemana? hmm?"
"Cuma ke supermarket doang kok, mas. Boleh ya mas?"
"Iya.. tapi mau apa kesana?"
Sri bingung mencari alasan. Harus menyembunyikan dulu tentang ini. Jangan langsung mengatakan pada Lucky. Kalau sampai tidak benar, bisa malu dia. Dan pastinya Lucky akan kecewa.
"Ya mau beli sesuatu mas.. masak iya ke supermarket mau berenang?"
"Hahahaha..."
Lucky tertawa renyah. Istrinya sungguh menggemaskan. Ingin rasanya dia cepat pulang dan menggigit pipi halus Sri yang sering merona jika ia menggodanya.
"Katakan saja sama pak Sam, sayang. Mereka yang akan membawa pesanan kamu"
Yaahh.. mana bisa! yang ada nanti pak Sam mengadu. Bisa malu Sri nanti.
"Maseee.. Sebentar doang koookk.. Boleh ya mas? boleh ya?" rengek Sri memasang wajah puppy.
Ketika Lucky ingin menjawab lagi, seseorang memanggil Lucky. Sri bisa mendengar suara siapa itu. Itu suara Noah. Lucky diam dan mendengarkan Noah bicara. Tidak menatap Sri di layar ponselnya lagi. Sri menunggu dengan sabar.
Sepertinya di sana ada masalah. Tampak wajah Lucky berubah kaku dengan kening berkerut. Sri bisa mendengar apa yang di katakan Noah. Tapi Noah langsung pergi. Dan Lucky menoleh pada Sri lagi.
"Sayang, jangan keluar. Suruh semua pelayan melayani kamu. Katakan pada pak Sam untuk membelikan itu. Oke? aku harus pergi. Love you"
Tit!
Panggilan terputus. Lucky tampak terburu-buru. Ada masalah di sana. Sri tertegun masih menatap layar ponselnya yang sudah kembali pada aplikasi chatnya. Sri bergumam dengan wajah terlihat bingung. Ia mendengar dengan jelas apa yang dikatakan Noah walau hanya sebentar"
"Apa itu tadi? polisi?"
__ADS_1