
Sri masih duduk diam dan termenung. Agnes sampai meresa khawatir dengan sikap Sri. Berulangkali Agnes membujuknya untuk makan. Tapi Sri terus saja menolak. Menggeleng lemah dengan air mata berlinang.
Kebetulan tadi Sri di telepon ibunya. Karena heran melihat Sri tidak berada di mansion, ibunya jadi banyak bertanya. Sri hanya bilang kalau sedang marahan dengan suaminya. Langsung saja kultum mengalir deras dari bune Warti.
"Ojo ngono nduk. Wong wedok iku mesti nurut Karo suami. Nek marahan yo ra popo. Tapi yo ojo sampek metu teko omah mu. Iku pantang tenan lo"
Begitu ibunya bilang. Sri hanya diam mendengarkan. Tidak berani membantah. Tidak mungkin juga dia mengatakan apa yang terjadi sebenarnya. Sri takut ibunya akan jadi banyak pikiran.
"Wes Sri. Ojo nesu meneh. Ndang bali kono. Ora apik nesu nesu. Cah wedok iku seng lembut ngono Lo"
Kata-kata ibunya tadi masih terngiang di telinganya. Tapi hatinya menolak untuk kembali ke rumah. Masih membayangkan kejadian di apartemen pagi tadi. Rasa sakit menjejali setiap relung hati. Apalagi melihat Amira berani membuka seluruh kain di tubuhnya. Dan Lucky hanya diam mematung. Sri tidak sanggup membayangkan lebih jauh jika mereka melakukan hal terlarang itu.
Matanya sudah bengkak karena menangis. Wajah sembab itu semakin menyedihkan ketika mengingat bahwa suaminya sebenarnya tidak mencintainya dengan tulus. Pikirannya berkecamuk tidak karuan.
"Sri.. sudah lah. Jangan nangis terus. Ntar kamu sakit, Sri" bujuk Agnes.
Sri bergeming. Diam saja dengan linangan air mata. Sudah berjam-jam sejak Noah pergi tadi siang, sampai sekarang Sri tidak berhenti menangis. Menceritakan pada Agnes kejadian di apertemen. Agnes juga bingung harus memberi solusi apa.
Yang Agnes tahu Lucky memang kekasih Amira. Bukan hanya Agnes, tapi semua orang di negeri ini tahu kalau mereka sepasang kekasih dan selalu jadi tranding topik di semua media gosip. Tapi memang belakangan berita Lucky dan Amira jarang terekspos.
"Ayolah Sri. Ini aku beli nasi soto. Kamu makan dulu" bujuk Agnes lagi.
Sri tak enak hati melihat Agnes sudah terlalu baik padanya. Masih setia membujuknya untuk makan. Tampak jelas rasa khawatir di mata gadis itu. Sri mengalah. Mengangguk dan duduk menghadapi sepiring nasi soto.
"Mbak Agnes, maaf ya mbake. Gara-gara aku, mbak Agnes jadi repot"
"Sudahlah.. gak apa-apa kok. Kita kan berteman. Jangan bilang begitu, Sri" Agnes tersenyum hangat.
Sri mengusap air matanya dengan tisu. Lalu menyuapkan nasi soto ke mulutnya. Hanya sedikit. Mengunyahnya pelan dan enggan.
"Kamu makan dulu ya? aku mau kedepan bentar. Kebetulan deterjen ku abis. Mau kewarung depan, Sri" Agnes pamit.
Sri hanya mengangguk mengiyakan. Agnes Bergegas keluar rumah. Berniat membeli deterjennya yang sudah habis. Tapi begitu melangkah dekat pagar depan, Agnes kaget melihat sebuah mobil mewah berhenti di depan kontrakannya.
Agnes diam mematung. Merasa tidak mengenali mobil itu. Tapi begitu melihat siapa yang keluar dari mobil, Agnes langsung panik. Tergesa balik lagi kedalam rumah menemui Sri.
"Sri... aduh gawat!"
"Loohh.. kenapa mbak?" Sri juga ikut kaget sekaligus panik.
"Itu Sri.. di depan..."
"Hah? kenapa di depan mbak?" Sri menoleh ke arah luar. Tapi terhalang pagar. Sri tidak dapat melihat dengan leluasa.
"Kenapa mbak Agnes? ada apa?"
"Suamimu, Sri! tuan Lucky datang. Aduuhh.. aku harus gimana ini?"
Wajah Agnes berubah pias. Dia takut kalau Lucky akan marah besar padanya karena telah ikut andil menyembunyikan istrinya. Sri juga ikut panik. Masih belum siap jika harus bertemu Lucky sekarang.
Ting.. tong..
Bel berbunyi. Sri semakin merasa tak enak hati. Mengintip Keluar dari jendela depan. Tampak Lucky menunggu di pagar depan. Sri berbalik lagi melihat Agnes yang sudah mengigil takut. Ada rasa iba di hati Sri melihat gadis itu. Tapi dia juga belum mau bertemu Lucky.
__ADS_1
"Mbak, begini aja. Mbak Agnes pergi temui Mase. Sri sembunyi dulu ya? Sri pinjem kamar mbake"
"Aduuhh.. Mana bisa aku bohong Sri. Kalau tuan Lucky marah, gimana?" Agnes menolak.
"Ndak mungkin toh Mase nerobos masuk? biarin aja Mase marah. Kalau dia marah, mbak Agnes langsung teriak maling aja" hhh.. ide yang konyol.
Agnes meragu. Mana bisa dia meneriaki Lucky maling. Yang ada dia pasti langsung di pecat dari perusahaan Bronze.
TING.. TONG.. TING.. TONG..
DEG!
Mereka berdua semakin tegang. Bunyi bel terdengar semakin tidak sabar. Memencet bel beberapa kali agar tuan rumah segara muncul keluar.
"Aduuh... lama mikirnya mbak Agnes. Wes lah Sri sembunyi dulu. Mbak Agnes keluar sana. Bilang aja Sri Ndak ada di sini"
Sri lari ke dalam kamar Agnes. Menutup pintu dan menguncinya. Naik ketempat tidur dan bersembunyi di bawah selimut (Dia pikir selimut bisa menjadi tameng apa ya? š¤š).
Giliran Agnes yang gemetaran sendiri. Wajahnya pucat pasi. Bagaimana caranya berbohong pada Lucky? Agnes takut akan di pecat dari kantor jika Lucky mengadukan masalah ini ke kantornya. Secara Lucky adalah calon pewaris perusahaan Bronze.
Agnes menatap pintu kamarnya yang terkunci. Sri ada di dalam, meninggalkannya dengan tanggung jawab besar. Tapi Agnes menguatkan hati untuk membantu temannya. Biarlah.. demi Sri.
Ting.. tong.. Ting.. tong..
Bel berbunyi lagi. Pasti Lucky sudah tak sabar ingin masuk. Segera Agnes menarik napas panjang. Berusaha merubah air mukanya agar terlihat biasa-biasa saja. Lalu beranjak keluar rumah. Menemui Lucky yang berdiri tak sabar ingin segera masuk.
"Tuan Lucky? Maaf.. A-ada keperluan apa tuan?" tanya Agnes terbata.
"Istri ku ada di sini kan?" Lucky langsung to the point saja.
Jantung Agnes berdebar kencang. Entahl warna apa wajahnya sekarang. Yang pasti Agnes rasanya sudah mau pingsan lagi saking takut dan gugup.
Lucky menatap Agnes tak percaya. Melirik ke depan rumah dengan curiga. Lalu menatap Agnes lagi.
"Sri ada di sini. Buka gerbangnya. Saya mau masuk" ujarnya menatap Agnes mengintimidasi.
Agnes kebingungan. Takut Lucky semakin marah, tapi juga ingin melindungi Sri.
"Tapi sungguh, tuan. Sri tidak ada di sini"
"Hmm.. kau sekongkol rupanya" Lucky menggeram. Sangat tak sabar ingin menjambak rambut kriwil Agnes. Gadis ini melindungi Sri dan berani berbohong padanya.
Begitu Agnes ingin menjawab lagi, keluarlah Noah dan Beni dari dalam mobil. Ah.. Agnes tak bisa berbohong lagi. Ternyata Noah yang telah memberitahu Lucky kalau istrinya ada di rumah Agnes. Tubuh Agnes lemas. Takut melihat Lucky. Dia sudah ketahuan berbohong. Riwayatnya bakalan the end!!
"Agnes. Buka gerbangnya" ujar Noah tegas.
Bagaikan di sengat listrik ribuan volt mendengar suara Noah pujaan hati. Segera saja Agnes membuka gembok pagar rumahnya. Dan tak perlu babibu lagi, Lucky melangkah lebar Masuk ke dalam.
"Pak Noah! kenapa di kasih tau ke tuan Lucky? bukannya pak Noah yang nyembunyiin Sri di sini?" ujar Agnes dengan suara tertahan.
Beni dan Noah langsung menatap Agnes. Membuat gadis itu terjengkit ngeri.
"M-maaf pak" Agnes menunduk takut.
__ADS_1
Noah berjalan ke teras rumah. Di ikuti Beni dan juga Agnes. Berdiri melihat bagaimana paniknya Lucky menggeledah rumah Agnes. Tapi tidak menemukan Sri. Keluar lagi ke teras menemui mereka bertiga.
"Di mana dia? kenapa tidak ada?" tanya Lucky menatap Agnes tajam.
Agnes sudah seperti sekarang penjahat narkoba yang sedang di kepung anggota kepolisian. Rumahnya di geledah. Dan dia hanya bisa mengkerut takut karena merasa bersalah telah berbohong.
"A-ada di kamar saya, t-tuan"
Agnes menunduk takut dan menunjuk kamarnya. Lucky segera melangkah kesana. Memutar gagang pintu beberapa kali, tapi terkunci.
"Sri.. buka pintunya. Ini aku sayang.. ayo pulang" seru Lucky sambil mengetuk pintu.
Tidak ada sahutan. Di dalam Sri sudah berkeringat dingin. Menutupi seluruh tubuhnya dengan bad cover tebal agar tak terlihat. Padahal pintu terkunci. Dasar gemblung.
"Sayang.. ayolah. aku akan menjelaskan semuanya. Jangan begini Sri.." bujuk Lucky. "Sayang.. buka dulu.. Aku mau bicara. Aku akan jelaskan semuanya ada sayaang.." Lucky merengek di depan pintu yang tertutup.
Sumpah! Beni terbengong melihat itu. Selama Dia bekerja bersama Lucky, belum pernah beni melihat tuannya ini bersikap lemah dan merengek seperti anak kecil. Lucky selalu keras kepala dan bersikap angkuh. Tidak pernah mau mengalah apalagi merengek seperti sekarang ini.
Tapi kini, Beni melihat sisi lain dari Lucky. Karena Sri, Lucky merendahkan dirinya di depan bawahannya. Sekalipun dengan Amira, Lucky mesra tapi tidak pernah merengek seperti anak kecil.
Dan Agnes, gadis itu seperti tak percaya melihat tingkah Lucky. Yang dia tahu, Lucky itu penuh kharisma yang kental. Selalu membusungkan dada dengan jantan. Apalagi di depan kamera bersama Amira. Lucky terlihat jantan sekali. Dan kini Agnes merasa tak percaya melihat wajah Lucky seperti ingin menangis.
Sementara Noah, pria ini hanya tersenyum simpul. Kini dia bisa yakin bahwa Lucky sudah benar-benar jatuh cinta pada Sri. Seorang Lucky sanggup menaruh gengsi tingginya di tempat yang paling rendah hanya karena Sri si gadis medok.
"Sayang ku... Buka pintunya.. ayolah.. aku tau kamu ada di dalam. Aku rindu kamu sayaaang.. Aku akan jelaskan semuanya. Sayaaang.."
Agnes, Beni dan Noah, hampir terbahak melihat Lucky merengek manja sambil mengetuk pintu. Beni terkikik pelan. Dan Agnes menutup mulutnya. Sementara Noah tersenyum simpul.
Lucky mendengar suara tawa tertahan itu. Melirik dengan tajam mereka bertiga yang menunduk terkikik geli. Segera mereka menghentikan cekikikan dan menahan mati-matian.
Sri belum menjawab. Masih bertahan berpura-pura tidak mendengar agar Lucky mengira dia tidak ada di situ. Dan segera saja Noah mendekati Lucky. Dia tahu kalau Sri berpikir, lucky hanya datang sendiri. Jadi berpura-pura tidak mendengar.
"Luck, biar aku coba"
Lucky menatapnya tak senang. Harga dirinya sudah hancur dari tadi. Kini lebih hancur lagi ketika Noah menawarkan diri membujuk Sri. Tapi demi bertemu istrinya, Lucky mengalah. Mundur dan mempersilahkan Noah ke dekat pintu.
"Sri.. buka pintunya. Ini aku, noah. Lucky sudah tau kamu di dalam. Keluarlah" seru Noah sambil matanya menatap Lucky lekat. Seakan pandangan matanya mengatakan ini pasti berhasil.
Deg!
Sri terpaku mendengar itu. Matanya mendelik marah. Ternyata Noah mengingkari janji. Malah Noah yang memberi tahu kalau dia ada di rumah Agnes.
Laaahh.. sial tenan kok yo! diamput tenan Iki pak Noah! kok malah di kei ro aku neng kene iku Lo!
Sri tidak bisa berpura-pura lagi. Lucky sudah tahu. Sekarang malah dia yang kebingungan. Mau keluar, atau tetap bertahan.
Lucky segera mendorong Noah menjauh dari pintu. Merasa tugas Noah sudah selesai. Kini harus dia Lucky yang berperan untuk membuat Sri luluh. Noah menyingkir. Mengalah menjauh dari dekat pintu sambil geleng-geleng kepala.
"Sayanaaang.. Buka pintunya. Aku kangen sama kamuuu.. Aku belum lihat kamu dari tadi. Jantung ku tidak kuat sayaaang"
Huek!!
Hampir saja mereka bertiga muntah ketika mendengar rayuan Lucky pada Sri. Tapi Lucky tidak peduli. Masih tetap setia menanti pintu kamar terbuka.
__ADS_1
Ceklek!
Dan benar saja. Sri mengalah. Membuka pintu dan muncul keluar.