OJO NGONO MAS'E

OJO NGONO MAS'E
Genggaman mu


__ADS_3

Keberangkatan Sri ke kota di hiasi drama tangisan dari keluarga besar. Warti mendudukkan Lucky dan Sri di depannya. Memberikan wejangan pada sepasang pengantin baru itu.


"Nak Lucky, Bune percayakan dan limpahkan tanggung jawab bune untuk menjaga Sri kepada mu. Dia putri bune yang paling bune sayang. Tolong nak, bimbing istrimu ini. Dia masih muda. Masih suka berbuat sesuka hati. Nak Lucky sebagai suaminya harus bisa menjaganya dengan baik"


"Iya Bu. Sekarang Sri adalah tanggung jawab saya. Saya akan menjaganya" ujar Lucky mantab. Sri melirik Lucky di sebalahnya dengan sedikit umpatan dalam hati.


bohoong!!


"Kalau ada yang salah di lakukan Sri, kamu wajib menegurnya. bune menyerahkan Sri sepenuhnya pada mu. Kemanapun suami tinggal, maka istri harus mengikuti" Sri hanya menunduk mendengarkan.


"Dan kamu nduk. Kamu yang menjaga nama bune, nama keluarga. Jangan berbuat gegabah. Harus nurut sama suami mu. Dan hormati mertua mu. Kamu dengar nduk?"


Sri mendongak dan mengangguk pada ibunya. "Enggeh bune" Meremas pelan kedua telapak tangannya. Hatinya berkecamuk ingin membantah apa yang di katakan ibunya. Tapi itu semua hanya bisa diteriakkan di dalam hati.


"Ojo lali sholat Sri. Itu yang utama"


"Enggeh bune"


"Yo wes. Nanti pesawate mabur(kabur)"


Kata-kata yang terakhir dari Warti membuat semua orang cekikikan. Mana ada pesawat bisa kabur. Suasana menjadi cair kembali. Lucky hanya mengulum senyum simpul.


Warti tidak ingin ikut kebandara. Dia lebih memilih menjaga warung lesehan nasi gudegnya. Tak mau membuat Sri makin sulit melangkah maju. Putrinya harus kuat mental pergi mengikuti suaminya. Hanya Lastri dan welas saja yang ikut mengantar Sri sampai bandara.


Di depan halaman depan, Sri memeluk ibunya erat. peluk perpisahan yang pasti akan lama mereka bertemu kembali. Sri menangis terisak. Sungguh berat rasanya meninggalkan ibunya yang sudah tua ini. Tapi apa mau di kata, dia harus pergi.


"Bune baik-baik Yo. Sri sayang bune" Isak Sri di pelukan Warti.


"Wes, Ojo cengeng nduk. Lah wong nanti bisa telepon toh? begitu sampai, kasi kabar bune Yo?" Warti mengelus punggung Sri dengan sayang. Sri mengangguk mengiyakan permintaan ibunya.


kini giliran Lucky mendekat mencium tangan Warti, dan memeluk ibu mertuanya itu. Membungkukkan badannya agar bisa meraih tubuh Warti kepelukannya.


"Nak, jaga istri mu Yo. Sri bandel, tapi bune yakin kamu bisa menjaganya"


"Iya Bu. saya janji"

__ADS_1


Lucky melepas pelukannya. Menatap wajah mertuanya yang telah menangis haru. Lucky mengusap air mata itu.


"Jangan khawatir Bu. Saya janji menjaga Sri"


Ada rasa kasihan di dalam hati Lucky melihat tangisan ibu mertuanya. Seorang ibu yang menyerahkan putri kesayangannya di bawah tanggung jawabnya. Seorang ibu yang percaya penuh padanya untuk menyayangi dan menjaga putrinya dengan sepenuh hati.


Hati Lucky merutuki dirinya sendiri. Dia merasa sebagai seorang pendusta saat ini. Tapi dia berjanji, walaupun tidak ada rasa cinta, tapi akan selalu menjaga Sri.


Setelah semuanya selesai berpamitan, mereka segera berangkat menuju bandara. Masih ada dua jam lagi penerbangan mereka. Sri ikut di mobil lucky. Duduk bersama Melani di bangku belakang. Sementara Lucky menyetir dan Frans duduk di sampingnya.


Lastri dan welas ikut di mobil yang lain bersama keluarga mereka. Mobil berjalan beriringan menuju bandara. Sri meninggalkan kampung halaman tercinta. Membuka hidup baru bersama keluarga suaminya.


🌺


🌹


🌺


Beni telah menunggu mereka di bandara. Asisten Lucky itu telah menyiapkan segalanya. Mereka akan naik jet pribadi milik keluarga Frans.


Lastri dan welas memeluk Sri erat. bertangisan ria melepas keberangkatan Sri. Bergantian dengan para keponakan yang masih kecil-kecil. Dan tidak lupa pula kedua kakak ipar sri.


Lucky agak membuang pandangannya ke arah lain. Terlihat seperti kampungan memang. Tapi dia tidak bisa berbuat banyak. Hanya sedikit merasa terganggu dengan kehebohan keberangkatan yang memakan waktu lebih kurangnya satu jam saja. Menurutnya itu sangat berlebihan. Heboh tidak karuan.


Lucky hanya menyalami semua keluarga Sri yang ikut mengantar. Selebihnya, dia berjalan lebih dulu meninggalkan Sri dan ibunya di belakang. Lucky tidak biasa dengan hal remeh temeh seperti itu. Baginya, waktu seminggu ini sudah habis sia-sia untuk hal yang tidak terlalu penting. Tapi dia juga harus menghormati keluarga Sri.


setelah waktu keberangkatan tiba, mereka naik ke pesawat. Hati Sri berdebar tidak karuan. Tangannya mulai berkeringat. Dia teringat kejadian pesawat jatuh yang di lihat di televisi. Membuatnya gugup dan bayangan itu selalu berseliweran di kepalamya.


Tapi Melani menenangkannya. Mengatakan semua akan baik-baik saja. Lucky tersenyum mengejek melihat wajah Sri yang pucat pasi. Sementara Frans menyadari itu. Putranya ini sudah sangat menyebalkan.


"Lucky. Tenangkan istri mu" ujar Frans menatap tajam pada Lucky.


Dengan melengos, Lucky menarik tangan Sri yang sudah sedingin es. Mendudukkan di sampingnya. Mengaitkan seat belt di pinggang Sri.


"Sudah" ujarnya lalu duduk dengan tenang. "Kau tidak akan jatuh" melirik sedikit pada gadis yang ketakutan itu.

__ADS_1


Sri meremat pegangan kursi dengan erat. Perasaan takut menghantuinya. Seolah-olah tempat duduknya akan terbang melayang dan jatuh menghantam tanah dengan keras.


Merasa Sri tidak bereaksi sedikitpun, Lucky menoleh. Menatap istrinya itu dengan heran. Tubuh yang sedikit gemetar. Tangan yang meremat pegangan kursi hingga buku-buku jarinya memutih. Padahal pesawat belum take off.


"hey.. ada apa dengan mu?" tanya Lucky heran melihat Sri memejamkan matanya erat.


"Wedi maseee" gemetar suara Sri menjawab Lucky.


"Apa Wedi?" tanya Lucky bingung.


"Aduuhh.. takut loh masee"


"Hahaha.. selain kampungan, kau juga penakut rupanya" sarkas Lucky.


Terasa pesawat mulai take off. Getarannya membuat gadis itu berkeringat dingin. Sri sudah tidak menghiraukan ocehan Lucky yang menyakitkan. Baginya nyawanya lebih penting sekarang. Meremas pegangan tempat duduk lebih erat. Matanya terpejam rapat. Seakan dengan memejamkan mata, Sri akan baik-baik saja.


Tapi Sri dapat merasakan tangan kirinya menghangat. Sesuatu menggenggam tangannya erat. Seakan memberi kekuatan agar rasa takutnya berkurang. Sri membuka matanya perlahan. Mengintip apa gerangan yang menempel erat di tangan kirinya.


Itu tangan. kekar dan berbulu tipis. Menggeser matanya pelan melihat siapa si empunya tangan. Dan benar dugaannya. itu tangan Lucky. Menggenggam tangannya dengan erat. Menyalurkan rasa hangat di tangannya yang dingin.


Guncangan pesawat sudah mulai berkurang. Sudah berada di udara dan terbang dengan tenang.


plak!


"Sudah aman. Jangan takut. kau tidak mati" ujar Lucky sambil memukul punggung tangan Sri pelan.


Hah! lega rasanya. Sri bisa sedikit tenang sekarang. Tidak ada guncangan lagi. Walaupun masih takut karena pesawat belum mendarat.


Rasa hangat di tangannya masih terasa. Genggaman tangan Lucky masih membekas di sana. Sri melirik pria di sampingnya. Duduk dengan tenang sambil memejamkan mata.


Ada rasa aneh bagi Sri. Ternyata pria kaku ini masih punya rasa sedikit empati padanya. Sri mengira Lucky akan sekaku baja. Wajah tampan dengan garis keras itu masih punya sisi baik di hatinya.


"Tidak capek menatap ku terus?"


Sri terhenyak. Cepat-cepat memalingkan wajahnya menghadap ke depan lagi. Tiba-tiba Lucky berbicara tanpa membuka matanya. Seakan tahu kalau Sri sedang memperhatikan dirinya.

__ADS_1


Dasar kaku!!


__ADS_2