OJO NGONO MAS'E

OJO NGONO MAS'E
Istri Rasa Pelakor


__ADS_3

Sri seperti orang linglung memegangi bibirnya. Tak percaya Lucky melakukan itu. Itu ciuman pertamanya. Tidak pernah ia merelakan bibirnya di sentuh siapapun. Tapi Lucky sudah mencuri kesempatan me lu mat habis bibirnya.


Rasanya ingin berteriak memaki Lucky. Ingin menjambak rambut pria itu sampai botak. Tapi jangankan berbuat kejam, tadi untuk mendorong Lucky agar menjauh saja ia tak sanggup.


Bukannya kemarin dia juga mencuri kecu pan di bibir Lucky? tapi kenapa sekarang Sri seperti tidak rela bibirnya di rampas paksa?


Sri merebahkan tubuhnya di ranjang. Pipinya terasa panas mengingat ciu man Lucky tadi. Lidah hangat itu mengobrak-abrik mulutnya. Untung saja dia bertahan mengatupkan giginya. Kalau tidak, habislah sudah. Entah apa yang terjadi selanjutnya.


Tliling.. tliling..


Suara ponsel Lucky berbunyi. Sri bangkit dan mendekati ponsel Lucky yang tertinggal di meja. Di layar ponsel tertera sebuah nama dengan tulisan yang tebal.


'SAYANG'


Sri membeku. Itu pasti Amira. Wajah Sri seakan di tampar dengan keras. Dia sampai lupa kalau Lucky milik Amira. Lalu tadi ciu man itu apa?


Ponsel masih berdering beberapa kali. Menjerit seakan suara Amira lah yang memekik kuat. Sri bimbang. Antara ingin menjawab atau membiarkan saja. Lucky pasti marah jika dia menyentuh barangnya tanpa permisi.


Tapi deringan itu tidak berhenti. Beberapa kali memanggil ulang. Sri meraih ponsel itu. Memutuskan menjawab panggilan Amira. begitu Sri membuka dan mendekatkan ketelinganya, suara Amira langsung terdengar judes.


"Sayang! lama sekali menjawab telponku? kamu lagi apa? kenapa tidak mengabari ku kalau kamu sudah pulang? Aku rindu, tau?!


Tubuh Sri menegang. Tidak tahu harus menjawab apa. Suara Amira bagaikan petir di telinganya. Entah kenapa hatinya merasa nelangsa ketika Amira bilang rindu dengan nada suara manja.


"Halo! Lucky? Kamu kenapa? Jawab aku sayang. Kamu lagi becanda ha? iiihhh.. sayang.. Halo!"


Gemetar tangan Sri memegang ponsel di telinganya. Entah perasaan apa yang menghantamnya saat ini. Suara Amira mendayu syahdu memanggil nama Lucky. Itu meremas jantung Sri dengan dahsyat.


"Halo mbak" jawab Sri pelan.


Tidak ada jawaban di seberang sana. Hening. Sri hanya menunggu.


"Mbak Amira?" panggil Sri lagi.


"Heh! ngapain kamu yang jawab teleponnya? mana Lucky?"


Suara Amira terdengar semakin judes. Gadis itu marah. Mungkin jika Sri melihatnya saat ini, Amira bicara sambil melotot kejam dengan dua tanduk muncul di kiri kanan kepalanya.


"Mase lagi keluar mbak. Hp-nya ketinggalan"


"Keluar kemana?"


"Ndak tau mbak"


"Huh! Ya sudah!"


Tut.. Tut.. Tut..


sambungan telepon terputus. Sri terbengong setelah meletakkan ponsel Lucky di meja. Melangkah mundur dan terduduk di ranjang. Hatinya berkecamuk tidak karuan. Amira marah begitu mengetahui Sri yang menjawab panggilan telponnya.


Sri sebagai istri sah. Tapi rasanya dialah pelakor yang sesungguhnya.


🌺


🌺


Sri sempat tidur sampai menjelang sore. Tubuhnya sudah kembali segar. Dia tidak tahu tentang Lucky. Pria itu entah kemana, atau kembali kekamar jam berapa, Sri sama sekali tidak yg tahu.


Tok.. tok.. tok..


Ketukan di pintu mengagetkan Sri. Beranjak dari ranjang dan membuka pintu. Baris ada di ambang pintu dengan sebuah gaun yang tertutup plastik hanger ditangannya.


"Nona Sri" Baris mengangguk hormat.


"Oh.. ada apa pak?"


"Tuan muda menunggu anda. Bersiaplah. ini gaun anda untuk makan malam"


Sri menerima gaun itu dari tangan Baris. Memperhatikan sejenak dan menatap Baris lagi.

__ADS_1


"Mas Lucky, dimana ya pak?"


"Tuan muda ada di bawah. Silahkan anda bersiap. Turunlah jam tujuh nanti"


"Hm, baik pakne"


Lalu Baris pamit dan pergi. Sri menutup pintu dan membuka gaun itu. Gaun yang sangat indah. long dress berwana hitam, dengan leher rendah. Dan bawahan roknya berbelahan tinggi sampai ke paha.


"Astaga! Mau makan malam aja mesti pakai gaun ini?"


Sri bergumam ngeri. Menurutnya gaun ini sangat terbuka. Sri sangsi bisa memakainya dengan nyaman. Tapi, ini perintah Lucky. dia takut Lucky akan marah.


Sri segera bersiap. Membersihkan diri, setelah itu berdandan sederhana saja. Memakai gaun yang di bawa Baris tadi. Mematut dirinya di cermin. Merasa cukup, Sri melihat jam di ponselnya. Sudah menunjukkan jam setengah tujuh malam. Sudah waktunya untuk turun.


Sri melangkah turun ke lantai satu. Sesampainya di tengah tangga, Sri merasa gugup. Lucky sedang berbicara dengan seorang pria yang hampir sebaya dengannya. Di lantai satu ada beberapa orang yang sedang santai duduk berbincang di sofa lobi.


Hati-hati sekali Sri melanjutkan langkahnya. Sampai Lucky menyadari kehadiran Sri karena teman ngobrolnya menghentikan obrolan mereka dan melihat ke arah tangga. Lucky ikut menoleh kebelakangnya dan menatap Sri diam tak bergerak.


Menyadari semua orang menatapnya, Sri gugup setengah mati. Tangannya mulai berkeringat dan perutnya mulai kram. Lucky menyadari itu. Tapi dia juga ikut terpesona dengan penampilan Sri. Sangat jauh berbeda kali ini. Sri berubah semakin terlihat stylish sekali. Menggemaskan.


kikuk sekali Sri mendekati Lucky yang masih menatapnya tajam. Dan lucky cepat menyambutnya di tangga terakhir. Mengulurkan tangannya agar Sri menggapai tangannya.


Sri menggandeng tangan Lucky dan menghampiri teman Lucky tadi. Sri tersenyum kikuk dan melirik semua orang. Sri tidak mengenal siapa mereka.


"Maaf Lex. Aku harus pergi. Sampai jumpa nanti" ujar Lucky mengangguk pada Lexi temannya.


"Ah ya. Tidak apa-apa Luck. Selamat bersenang-senang" jawab Lexi tersenyum sambil menepuk pundak Lucky.


Lucky mengajak Sri terus berjalan keluar kondominium. Pelayan mengarahkan mereka sampai ke sebuah gazebo yang ada di pinggir laut, yang telah di hias sedemikian rupa. Sangat terlihat romantis dengan lilin di sekeliling pagarnya. Dan banyak bunga yang bertebaran di sana. Sri sampai tersenyum melihat itu. Seperti pasangan honeymoon yang sesungguhnya saja.


Duduk berdua berhadapan di dalam gazebo. Pelayan menuangkan anggur ke dalam gelas bulat besar bertangkai panjang. Lalu pergi meninggalkan mereka berdua.


Sri kikuk menghadapi ini. Belum pernah ia makan malam seromantis ini. Hatinya bersorak senang sekaligus kikuk. Lucky hanya diam menatap Sri.


"K-kenapa lihat Sri begitu Mase? Sri Ndak cocok pakai baju ini?" tanya Sri kikuk.


"Hmm. Jelek" ujar Lucky dingin.


Sri memaki dalam hati. Melengos sebal membuang pandangannya. Lucky cuek saja. Mengambil gelas menumannya dan meneguknya sedikit.


"Kalau jelek, kenapa Mase suruh Sri pakai baju ini?" tanya Sri tidak terima.


"Bukan aku" jawab Lucky.


"Hah? terus siapa?" Sri kaget. Kalau bukan Lucky, apa om Baris?


"Mami"


"Ooohhh..."


Hanya itu yang terlontar dari bibir Sri. Ternyata Melani yang menyiapkan gaun ini untuknya. Tapi mana mungkin ibu mertuanya memilihkan gaun jelek untuknya. Pasti Melani sudah menseleksi gaun ini sepesial untuk Sri. Tapi kenapa Lucky bilang jelek?


"Itu apa Mase?" Sri menunjuk yang di minum Lucky.


"Red wine. Cobalah"


Sri mengambil gelasnya. Mencoba sedikit saja. Rasanya sepat. Agak sedikit pahit. Sri tidak terlalu suka.


"Bagaimana?" tanya Lucky.


"Ndak enak. Sri Ndak suka"


Sri mengecap-ngecap lidahnya. Merasakan sisa wine di lidah. Lucky hanya tersenyum skeptis.


"Biasanya kau hanya minum air jahe" Lucky menggumam sambil melirik Sri. Sri mencebik. Ia tahu kalau Lucky sedang mengejeknya.


Pelayan datang lagi. Kini membawa hidangan yang lain. Meletakkan di depan Sri dan Lucky. Hidangan daging steak.


"Silahkan menikmati hidangannya tuan, nona"

__ADS_1


Para pelayan itu pergi. Sri tersenyum mengangguk kecil dan mengucapkan terima kasih.


Sri merasa menu makanan ini tidak cocok untuknya. Baginya, nasi Padang di pinggir jalan jauh lebih nikmat dari pada hanya sepotong daging sapi yang masih terlihat merah.


"Mase. Kenapa suka daging mentah toh?" Sri protes.


"Apanya yang mentah?"


"ini"


Sri menunjuk steak di depannya. Lucky menghela napas dan memutar bola matanya malas. Sungguh gadis ingusan ini tidak tahu makanan berkelas. Dia hanya tahu, tahu dan tempe.


"Itu bukan mentah. Itu steak dengan kematangan medium rare. Tapi yang ini rare. Kamu mau yang mana?"


Sri mengungkit sedikit steaknya menggunakan garpu. Luarnya sih terlihat matang. Sri melirik steak di piring Lucky yang katanya kematangan tingkat rare. Lucky mengiris steaknya. Sri mendelik melihat daging itu masih merah. Dia pikir itu masih mentah.


"Aduuhh.. Mase kayak singa lagi makan daging mentah" ujar Sri terlihat ngeri Lucky makan daging yang masih merah itu.


Lucky meliriknya sebal. Napsu makannya jadi sedikit berkurang akibat kata-kata Sri. Dia jadi membayangkan seokor singa sedang mencabik daging mentah dan mengunyahnya.


"Jangan berisik kalau sedang makan" ujar Lucky dingin.


Sri langsung terdiam. Dengan malas mengambil pisau dan garpu di sebelah piringnya. Mulai mengiris steak dan makan dalam diam.


"Sayang!"


Lucky dan Sri menoleh ke samping. Tepat di jalan setapak yang menuju taman, tampak Amira sedang melangkah sambil melambai pada Lucky dengan senyuman ceria.


Lucky dan Sri saling pandang. Lalu menatap Amira lagi yang sekarang sudah mendekat dan langsung duduk di pangkuan Lucky.


"Kenapa tidak mengabari ku kalau kamu sudah pulang dan langsung ke sini?" tanya Amira manja dan menarik pelan dasi Lucky.


Sri hanya bisa melongo melihat adegan itu. Sedangkan Lucky, sibuk menenangkan Amira dengan sikap manjanya yang di mata Sri itu sangat berlebihan.


Lucky melirik Sri sejenak. Lalu menatap Amira di pangkuannya.


"Aku sibuk. Jadi belum sempat mengabari mu"


"Ah.. kamu bohong. Buktinya kamu bisa ke sini. Kenapa tidak mengajakku?"


Amira merengut manja. Meraba dada Lucky dengan jari telunjuknya. Membuat pola bundar yang abstrak di sana. Tidak menghiraukan Sri yang ada di depan mereka. Seakan Sri hanya seonggok daging steak sisa di atas meja.


Lucky menoleh ke kiri dan kanan. Seperti mencari sesuatu. Memastikan kalau Baris tidak ada di dekat mereka saat ini. Gusar menatap Amira yang masih sibuk bermanja ria.


"Amira, duduk yang benar"


Lucky mendorong Amira pelan agar bangkit dari pangkuannya. Amira terpaksa bangkit berdiri. Lalu melirik Sri yang hanya diam menunduk melihat makanan di piringnya.


"Oohh.. ada Sri" ujarnya sinis. Sri mendongak dan mencoba tersenyum pada Amira. "Ah.. maaf, karena terlalu rindu pada Lucky sampai aku tidak melihat mu"


"Tidak apa-apa mbak" Sri mengangguk kecil dan senyum di paksakan.


Pelayan datang membawa kursi untuk Amira. dan menghidangkan satu porsi steak untuknya. Amira duduk bersisian dengan lucky. Meraih anggurnya dan meneguk sedikit.


"Bagaimana kamu tau aku ada di sini?" tanya Lucky.


Amira tersenyum sinis lalu menatap Sri tajam. Sri hanya diam dan berusaha untuk tidak menatap mata Amira.


"Istri mu ini tidak bilang kalau aku menelepon mu, sayang?"


Lucky melirik Sri sejenak. Lalu menatap Amira lagi. Sri mendongak. Menatap Lucky seakan meminta maaf.


"Maaf Mase. Tadi Sri ketiduran. Sri Ndak tau kalau Mase ke kamar" ujar Sri.


"Ohh.. jadi benar, ini acara bulan madu, sayang?" Amira menatap Lucky tajam.


Lucky diam saja. Dia lebih takut kalau Baris sudah melihat kedatangan Amira. Bisa kacau kalau sampai Baris mengadu pada papinya.


"Sri. Kembali lah ke kamar" Lucky menatap Sri tajam. Itu perintah. Sri kaget mendengar suara tegas Lucky. pria ini mengusirnya mendadak. Sri belum lagi menghabiskan makan malamnya. Tapi Lucky sudah menyuruhnya pergi.

__ADS_1


Amira tampak menyunggingkan senyum mengejek ke arah Sri. Sri dapat melihat kilatan mata licik di netra Amira. Dengan cepat, Sri berdiri dan beranjak pergi meninggalkan mereka berdua.


__ADS_2