
Dila, Niar dan Sri mengerubungi Agnes yang baru saja datang, melangkah gontai dengan wajah lesu. Dila yang lebih dulu menarik Agnes dan di dudukkan di kursinya. Menepuk-nepuk pipi Agnes karena melihat gadis itu seperti linglung dan menatap kosong.
"Astaga, Nes! kamu kenapa? Apa kamu di pecat ya?"
"Iya Nes... cerita dong" Niar juga tampak panik.
Sri hanya tertegun melihat Agnes seperti orang sakit. Wajahnya pucat dan pandangannya tidak fokus. Mereka menyangka Noah sudah memecat Agnes sampai gadis berambut kriwil ini shock berat.
"Nes! jangan bengong begini. Pak Noah mecat kamu?"
Agnes menggeleng lemah. Dia masih memikirkan apa yang di perintahkan Lucky. Harus menjadi mata-mata. Itu artinya, Agnes harus mengikuti kemanapun Sri pergi. Dan Harus memberi laporan pada sekertaris Beni apa saja yang di lakukan Sri.
"Mbak, kasi minum dulu. Agnes mau pingsan kayaknya" Niar memberi saran.
"Ah.. iya iya. Minum" Dila segera meraih gelas di meja Agnes. Memberi pada gadis itu. Agnes hanya menerima tanpa bisa menolak. Meneguk sedikit lalu menatap mereka satu persatu. Seakan meminta pertolongan apa yang harus dia lakukan sekarang.
"Sudah baikan Nes?" Dila tampak sangat khawatir.
"Iya mbak. Makasih" jawab Agnes pelan.
Menatap Sri agak lama sambil berpikir bagaimana caranya memata-matai Sri agar dia tidak curiga. Karena biasanya Agnes juga tidak selalu bersama Sri. Dia juga punya kehidupannya sendiri.
"Sekarang cerita sama kita. Kamu sebenarnya kenapa sih? Kenapa pak Noah manggil kamu ke lantai atas?"
"Nggak ada mbak Dil. Cuma di suruh memeriksa berkas sebentar sama pak Erwin tadi" jawab Agnes memulai kebohongan.
Dila tampak mengerutkan dahinya. Berpikir kejanggalan pada jawaban Agnes.
"Huu.. kirain ada apa tadi. Sampe wajah mu itu kayak kapas neeess.." Niar mencebik.
"Hmmm... aku tau. Pasti kamu kaget bisa masuk ke sana kan Nes?" Dila menatap Agnes berbinar. Dan Agnes mengangguk saja.
"Naaahh.. pasti kamu ketemu sama Presdir baru ya? kamu gemeteran lihat pahanya kan? dadanya yang kokoh untuk jadi sandaran kan? terus, kamu di ajak bicara sama dia. Uuhhh.. beruntung kamu Nes!" Dila nyerocos panjang lebar. Menyampaikan apa yang ada di otak mesumnya saat ini.
Sri mendelik mendengar itu. Menatap Agnes penuh curiga. Dan Agnes jadi gugup.
"Ah mbak Dila ini. Ya gak gitu juga mbak" Agnes menggerakkan tangannya di udara. Menolak apa yang di katakan Dila.
"Hihihii.. udah deh.. gak usah malu kamu" Dila menendang bahu Agnes. Cekikikan membayangkan Agnes bertemu langsung dengan Lucky.
Agnes melirik Sri. Terlihat Sri menatapnya tajam dengan bibir terkatup rapat. Agnes jadi semakin ingin pingsan saja rasanya. Nyonya Presdir termakan ocehan Dila si penyesat.
"Ehh.. ee.. kenapa jadi mau pingsan lagi?" Niar memegangi lengan Agnes agar tidak oleng dan terjatuh dari kursi.
Agnes teringat perintah Lucky tadi. Dia harus menyampaikan pada Sri agar segera menemuinya. Tapi mana bisa mengatakannya di depan Dila dan Niar.
"Sri.. tolong aku" Agnes mengulurkan tangannya agar Sri membantunya membetulkan posisi duduknya.
Sri bersikap waspada. Tapi melihat Agnes selemah ini, Sri membuang jauh-jauh pikiran kotornya pada Agnes. Mendekat dan menahan tubuh Agnes agar bisa duduk dengan baik.
Tapi Agnes mengambil kesempatan itu. Segera dia menarik tubuh Sri agar lebih mendekat dan merangkulnya. Sri tertarik ke depan. Terjerembab di tubuh Agnes. Dan Agnes tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.
Menahan tubuh Sri yang membungkuk, lalu mendekap Sri agak berlebihan. Mendekatkan bibirnya ketelinga Sri. Berbisik pelan sekali.
"Kamu di panggil tuan Lucky. Segera kesana"
Sri langsung tegak berdiri lagi. Lupa kalau harus membantu Agnes duduk dengan benar. Wajahnya menagang. Mau apa Lucky memanggilnya? Dan bagaimana caranya menyelinap pergi?
"Lho? kok malah bengong gitu sih Sri?" Niar menarik tangan Sri. Membuatnya tersadar lalu menatap Agnes lagi.
Agnes mengangguk kecil. Niar dan Dila tidak melihat itu. Sri kembali mencondongkan tubuhnya membantu Agnes. Setelahnya, berpikir bagaimana caranya menyelinap tanpa mengundang kecurigaan Dila dan Niar.
"Emm.. Sri mau ke toilet bentar, mbak"
Sri melangkah pergi. Dila belum sempat bertanya lagi, tapi Sri sudah keluar. Agnes bernapas lega setelah Sri bisa lepas dari kedua teman mereka. Tubuhnya merosot lemas di kursi.
"Nes. Ada apa sih? sepertinya, sikap kalian berdua lain deh hari ini" Dila menatap Agnes penuh selidik.
"Iya, Nes. Sebenarnya kamu kenapa sampai lemas begini?" Niar juga ikut penasaran.
"Uufffhh.. gak ada mbak Dila, Niar. Aku cuma bingung. Gaji ku naik"
"Hah?!"
__ADS_1
š
š
š
Ting!
Pintu lift terbuka. Sri melangkah keluar dari lift. Pemandangan berbeda di depannya sekarang. Penataan ruang yang sungguh elegan dan mewah tersaji di depan matanya.
Ruangan dengan tampilan dominan warna moccasin dan memadunya dengan barang-barang yang berwarna putih, coklat, dan warna emas. Seperti sofa, dan meja resepsionis. Semua tampak sangat serasi dan di padu apik.
"Nona Sri"
Sri menoleh terkejut. Saking asik memperhatikan keadaan ruangan di lantai tertinggi gedung ini, Sri sampai tidak menyadari bahwa Beni sudah berdiri tegak menantinya di dekat lift.
"Mari, silahkan ikut saya"
Sri hanya mengangguk. Mengikuti Beni berjalan lebih dulu. Seorang petugas resepsionis di mejanya menatap Sri heran. Tapi Sri tak mempedulikannya. Terus saja berjalan mengikuti Beni.
Mereka sampai di depan pintu besar. Beni mengetuknya sejenak, lalu membuka pintu. Melangkah masuk di ikuti Sri. Tampak Lucky masih sibuk di meja kerjanya. Mendongak dan tersenyum melihat kedatangan istrinya. Sri melihat Papan nama yang terukir kokoh terpampang di depan meja kerja Lucky.
Chief Executive Officer/ President and Director Company.
Sri menaikkan alisnya. Lucky memegang dua jabatan sekaligus di perusahaan ini.
"Sayang, kenapa di situ?" Lucky menggerakkan kepalanya. Sri masih diam. Menunggu Beni berbicara.
"Maaf tuan, saya permisi"
Beni membungkuk hormat berpamitan. Lucky hanya melirik sekilas dan mengangguk. Beni keluar dari ruangan. Cukup tahu diri untuk tidak menggangu tuan dan nyonyanya.
Lucky beranjak menarik tangan Sri yang masih terbengong. Mendudukkan Sri di pangkuannya.
"Hey.. kenapa bengong? hmm?"
Memeluk pinggang Sri dan mengendusi rambut istrinya. Rindu dengan aroma memabukkan yang selalu bisa membuatnya frustasi karena candu.
"Kejutan sayang. Kalau bilang, bukan kejutan dong namanya" Lucky tersenyum menatap wajah cemberut Sri.
Sri hanya menghela napas saja. Lucky terkekeh melihat Sri seperti banyak berpikir.
"Gimana? Kamu suka sayang?"
"Opo mas?"
"Suka tidak dengan ruangan ini?"
"Kok ruangane?" Sri mengernyit.
"Hehe.. jadi, kamu sukanya aku?"
"Hiihh.. opo toh mas?"
"Haha.."
Lucky tergelak senang. Rindu bawelnya mulut manis istrinya. Sudah beberapa hari ini Sri menjauh darinya karena salah paham yang tercipta.
"Kamu senang tidak, aku ada di sini?" tanya Lucky lagi sambil terus mengendusi leher Sri.
"Ojo ngono lho mas" Sri memiringkan kepalanya menutup akses Lucky mengecupi lehernya. Meremang bulu kuduknya.
"Hmm.. kenapa sayang? aku kangen sama kamu" Lucky mengerang.
"Iki kantor lho mas" Sri bergerak ingin bangkit berdiri. Tapi Lucky menahannya.
"Kenapa kalau kantor?"
"Lho? entar ada yang lihat gimana?"
"Ini ruangan ku sayang. Mana ada yang berani masuk"
Sri terdiam. Merasa bodoh jika harus mengkhawatirkan ada orang yang tiba-tiba masuk dan memergoki mereka.
__ADS_1
"Sayang"
Sri menoleh melihat wajah suaminya. Lucky menatap mata Sri dengan sayang.
"Aku cinta kamu"
Langsung saja wajah Sri bersemu merah. Rasa malu menghantamnya tiba-tiba. Lucky sudah mulai sering menyatakan cinta. Membuat jantungnya sering berdebar tak karuan.
"Kok diam? kamu cinta tidak sama aku? hmm?"
Aduh maaasss.. Kok romantis banget ngene toohh.. aku klepek-klepek Mase!
Sri mengangguk dan tertunduk malu. Debaran jantungnya bertalu-talu. Wajahnya terasa panas.
"Sayang" Lucky meraih dagu Sri. Menghadapkan padanya. Meminta mata Sri balas menatapnya. "Kok cuma ngangguk?"
Astaga! Mase Iki mimpi opo semalam? Kok berubah romantis ngene Yo?
Sri berteriak dalam hati. Lucky sungguh terlihat berubah. Dari sikap kaku dan mulut nyinyir mengejeknya, kini berubah drastis menjadi bucin Akut.
"Sri juga cinta Mase" ujar Sri lirih.
Senyum Lucky mengembang sempurna. Cintanya bersambut. Walaupun di kantor, tapi kesannya tak kalah tegang dan manis seperti makan malam romantis.
"Sayang"
"Hm?"
"Cium"
"Isshh.. Mase mesum"
Sri menepis tangan Lucky di dagunya. Memaksa bangkit berdiri. Tapi tetap saja Lucky menahan pinggangnya erat. Wajahnya makin terasa panas membara. Malu sekali Lucky bersikap frontal.
"Hehe.." Lucky terkekeh geli. "Kamu manis sekali"
"Mase manggil Sri kesini, cuma mau gini?"
Lucky mengangguk. "Aku rindu kamu"
"Entar di rumah juga ketemu"
"Disini dulu. Nanti di rumah kita sambung lagi"
"Pake jilid mas?"
Tak sabar Lucky meraih dagu Sri. Istrinya ini sungguh menggemaskan di matanya. Membekap bibir cerewet itu dengan bibirnya. Menyesap lembut. Sri gelagepan mendapat serangan tiba-tiba. Meremas jas Lucky di bagian dada.
Lucky tak peduli lagi. Ia rindu Sri. Beberapa hari tak merasakan bibir manis istrinya, membuat ia hilang fokus. Selalu Sri menari di otaknya memecah konsentrasi kerja.
Memag*t mesra. Menyesap lembut. Mengapsen setiap inci mulut hangat Sri yang sering mengomel. Yang selalu berbahasa medok yang tak jarang Lucky kesusahan mencerna bahasanya.
Melepas pagutannya dengan gemetar. Menciptakan tarikan benang tipis di bibir keduanya. Lucky mengusap bibir manis istrinya. Ia cinta. Jatuh cinta pada Sri. Rasa yang sangat berbeda di rasakan bersama Amira.
Sri sungguh alami. Tanpa ada rasa yang di buat-buat. Tidak ada kemanjaan yang berlebihan. Semua mengalir apa adanya. Lucky bisa merasakan tulus tanpa rekayasa.
"Aku cinta kamu sayang. Jangan ragukan itu" bisiknya dengan suara bergetar.
Sri mengangguk tersipu malu. Pernyataan cinta dari suaminya yang dulu selalu menghina dengan judes. Seperti kucing yang mengejar tikus buruannya. Menatap mengejek dengan ganas. Tapi sekarang, kedua hati ini dipenuhi kehangatan yang mengalir deras.
"Sri cinta Mase"
Mereka berpelukan erat. Saling menumpahkan rasa sayang yang tidak tahu kapan hadirnya. Tak menyadari rasa itu sudah mendesak berkumpul di hati masing-masing.
"Sayang?"
"Hem?"
"Tegang"
"Hah?!"
šŖš¤£š
__ADS_1