
Tibalah hari yang di tunggu. Sri sampai mimpi-mimpi di pesta Nunik memakai gaun indahnya. Pagi-pagi sekali Sri sudah bangun. Membereskan keperluannya. Ikut bergabung di dapur membantu mbok Darmi masak sarapan pagi.
Agnes sudah siap menunggu MUA yang di pesan Sri datang. Rian dan Noah tidak tidur di rumah Sri. Rian membawa Noah pulang ke rumahnya setelah pulang dari butik. Nanti akan menyusul ke rumah Sri, dan berangkat bersama.
Semua keluarga Sri akan pergi ke pesta pernikahan Nunik. Karena Nunik masih kerabat jauh keluarga Sri. Semua sibuk dengan urusan masing-masing. Sedangkan Lucky, sibuk dengan laptopnya.
Setelah selesai membereskan sarapan pagi, Sri bersiap ingin mandi. Masuk ke kamarnya dan melihat Lucky masih sibuk dengan laptopnya. Mendekati suaminya dan menggelendot manja.
"Belum selesai ya, mas?"
"Sedikit lagi, sayang."
Sri semakin merapat pada Lucky. Aroma tubuh suaminya adalah candu. Membuatnya tenang dan mualnya teratasi. Selama kehamilan, Sri jadi lebih manja. Selalu menempel pada Lucky dan mengendusi tubuh kekar itu.
"Ehhmm sayang.. Jangan menggodaku" Lucky menggeram sambil memejamkan matanya.
Bagaimana tidak panas, Sri mengendusi telinganya dan sesekali menjilat ujung telinga Lucky. Siapa yang tahan dengan godaan itu?
"Mase suka?" bisik Sri sambil mengecupi leher Lucky.
"Jangan tanya itu, baby. Aku akan menerkammu sekarang." erang Lucky berat. Ketikan pada keyboard berhenti.
Sri merenggangkan pelukannya. Menaruh kepalanya di pundak Lucky. Tersenyum melihat suaminya.
"Sri mau mandi. Tapi dingin. Mase mau nemenin?" godanya.
Lucky menutup laptopnya dan meletakkan ke samping. Menarik Sri dan mendudukkan di pangkuannya. Mengusap bibir merah muda yang selalu terasa manis ketika ia menyesapnya.
"Kau nakal"
"Hiihiihii.."
Sri terkikik geli. Lucky mengelus perut Sri yang sudah membuncit sedikit. Sambil mengecupi seluruh wajah Sri.
"Sudah tidak mual lagi?"
"Ndak. 'Kan ada Mase. Dekat sama Mase, Sri baik-baik aja kok."
"Kalau begitu, jangan pernah jauh dari ku. Hmm?"
Sri mengangguk manja. Lucky gemas melihat itu. Mendekatkan wajahnya lagi dan melu**t bibir kenyal istrinya. Sri meladeni saja. Dia suka acara kecup mengecup ini.
Tok.. Tok..
"Sri, MUA nya sudah datang."
Terdengar suara Agnes setelah ketukan pintu. Sri mendorong wajah Lucky. Melihat ke pintu dan teringat harus segera bersiap.
"Iya mbak Nes. Sebentar lagi" sahut Sri. Sepertinya Agnes segera pergi. "Mas. Ayo mandi. Acara akadnya dua jam lagi. Ayo ah, siap-siap."
__ADS_1
Lucky memutar bola matanya malas. Masih menahan Sri agar tidak bergerak dari pangkuannya.
"Kenapa harus terganggu lagi sayang? Sebentar lagi. Masih banyak waktu." Lucky mengendusi ceruk leher Sri.
"Iihh.. Mase.. ntar kita telat lho. Ndak lucu kan, kita ke sana acara akadnya udah selesai?"
Lucky terpaksa mengalah. Sri pergi ke kamar mandi untuk segera bersiap. tak habis akal, Lucky menguntitnya dari belakang. Masuk ke kamar mandi dan terdengarlah jeritan Sri yang kaget.
"Mase..!! Ntar jadi lama!"
"Sedikit saja, baby. Tidak lama"
"Iisshh..."
š
š
š
Setelah semua selesai, mereka menunggu Rian dan Noah datang. Masih ada waktu satu jam lagi. Lucky tampak tak tenang duduk menunggu. Menurutnya, warna jas nya begitu gerly.
"Mase kenapa? Mau minum?" Sri menyadari kegelisahan suaminya.
"Tidak sayang. Aku baik-baik saja"
Lucky tersenyum. Tak ingin melihat Sri terluka jika ia berterus terang. Di depan gerbang, mobil Rian sudah sampai. Kedua pria itu turun dengan gagahnya. Sri tersenyum lebar melihat kedua pria tampan itu menurut memakai jas pilihannya.
Begitu melihat Rian dan Noah, rasa pusing tiba-tiba menyerang Lucky. Dia tidak kuat melihat banyak orang yang memakai pink di depannya. Wajahnya pucat dan keringat menyembul di keningnya.
"Rian, Noah.. Kalian masuk saja ke mobil. Aku... Aku tidak tahan" Lucky mengusir keduanya dan memijit keningnya pelan. Matanya terpejam menahan pusing.
"Lho? Mase kenapa? Pucet banget, mas?" Sri panik.
"Iya. Kenapa dengan kami berdua, tuan?" Rian bingung. Noah diam saja di depan halaman.
"Aku pusing. Melihat kalian seperti agar-agar pinky" Lucky mengusap wajahnya.
"Laahh.. Agar-agar pinky? Trus tuan Lucky apa? Klepon pinky?" Menunjuk jas yang di pakai Lucky juga warna pink.
"Sudah-sudah. Ayo berangkat. Nanti kita terlambat." Noah menengahi. Tidak mau mendengar kedua pria itu saling mengejek.
Semua rombongan dari keluarga Sri sudah pergi lebih dulu. Mami Melani juga ikut ibunya Sri. Tinggal rombongan Sri saja yang akan berangkat terakhir. Karena Rian bawa mobil, jadi Lucky akan menyetir sendiri. Agnes dengan cepat ikut ke mobil Rian.
Sri tidak peduli ketiga pria itu jika merasa pusing ataupun mual memakai jas pinky nya. Yang terpenting dia puas. Jabang bayinya senang. Hehehe.. Puas saja rasanya melihat ketiga pria gagah ini menurutinya.
Menempuh perjalanan lima belas menit, mereka sampai. Suasana pesta sudah ramai. Banyak juga sanak saudara Sri yang datang. Keluarga Nunik menyambut mereka dengan hangat dan penuh suka cita. Apalagi yang datang rombongan pria yang tampan rupawan dengan pasukan pinkynya.
Banyak orang memperhatikan mereka. Di kampung tidak seperti di kota. Jika di kota besar lelaki pakai pink itu fashionable dan sudah biasa. Tapi di kampung, itu adalah sangat luar biasa.... Lucu.
__ADS_1
Banyak gadis-gadis yang terkikik geli dan menatap mereka curi-curi pandang. Berbisik-bisik geli melihat pria pakai pink itu sangat terlihat gerly. Terlalu feminim. Tapi tidak sedikit yang memuji ketampanan ketiganya.
Sudah terlanjur, ya basah sekalian..Ketiganya sepakat membusungkan dada menghadapi semua orang. Lucky dengan jasnya yang berpadu dengan kemeja berwarna grey, dan dasi bercorak biru langit, Noah dengan jas dan berpadu kemeja berwarna putih, Sementara Rian dengan jas dan kemeja berwarna biru lembut. Keduanya tidak memakai dasi. Terkesan lebih santai.
Berjalan memasuki pesta. Banyak gadis di bagian prasmanan yang tersenyum manis penuh minat menatap Noah dan Rian. Dengan tengilnya Rian membalas senyuman mereka dan melambaikan tangan bak peragawan berjalan di catwalk. Sementara Agnes menyadari tatapan penuh minta dari para pesaingnya, langsung saja mengandeng noah dengan tiba-tiba. Noah agak terkejut. Tapi terpaksa diam karena tak ingin Agnes kecewa.
Akad nikah sudah akan di mulai. Lucky di persilahkan mengambil tempat di bagian saksi. Sri duduk bersama ibunya dan ibu mertuanya juga bersama Agnes. Rian dan Noah duduk di belakang mereka.
"Saya terima nikah dan kawinnya Nunik Sundari bin Wiyono, dengan mas kawin tersebut, di bayar tunai!"
"Sah?"
"Saaahh.."
Akhirnya Nunik sudah menjadi seorang istri. Semua orang mengucap syukur. Lalu penghulu memimpin doa. Wajah tegang berganti wajah-wajah penuh lega dan bahagia.
"Pak Noah." bisik Rian pada Noah. Noah menoleh dan menaikkan alisnya. "Bahagia ya pak sudah nikah begitu. Ada yang nemenin bangun pagi."Noah hanya tersenyum.
"Pak"
"Apa lagi Iyan?" Noah tampak kesal.
"Kita kapan pak?"
"Ayok. Kamu mau sekarang?"
"Eh.. Maksud bapak?"
"Kamu mau nikah sama aku sekarang? Mumpung penghulunya masih ada tuh"
"Astaga! Bener-bener pasukan pink kita pak! Masak strawberry makan rambutan pak?"
Yang tadinya Noah kesal, jadi berubah terkekeh mendengar ucapan Rian yang menurutnya sungguh oleng otaknya.
"Lagian kamu.. Ya itu ada Agnes. Lamar secepatnya."
"Tapi Agnes suka sama bapak. Mana saya bisa ngajak nikah sekarang"
"Nanti saya yang bilang. Kamu serius kan?"
"Waahh.. Ya iya lah pak. Tapi.. Bapak serius ini, mau nyomblangin saya sama Agnes pak?"
"Hem" Noah mengangguk dan kembali fokus menatap ke depan.
"Sama Agnes kan pak?"
Dengan kesal, Noah menoleh lagi ke arah Rian yang sudah tampak sangat antusias.
"Bukan. Sama ibunya!"
__ADS_1
"Eeiittsss..." š£