
Suasana pesta pernikahan Nunik cukup meriah. Apalagi ada pasukan pink yang tampan rupawan. Noah jadi incaran para gadis. Tapi itu semua berkat keusilan Rian. Tak mau Agnes selalu menempel pada Noah, Rian membuat konspirasi besar-besaran.
"Nik, adek mu endi?" Rian menerobos ke kamar pengantin ketika Nunik sedang istirahat untuk ganti baju adat pengantin.
"Lah.. Ngopo sampek melebu rene, Yan? Hanum yo neng ngarep lo?" (Kenapa sampai masuk ke sini, yan? Hanum ya di depan lah).
"Ohh.. Yo wes" Rian cengengesan keluar lagi dari kamar pengantin.
"Hooo.. Gemblung!"
Rian tidak peduli. Masih terus mencari Hanum adik perempuan Nunik. Tapi masih saja belum menemukannya. Mencari sampai ke depan lagi juga belum ketemu. Malah melihat Agnes yang sedang menyuguhkan minuman dingin pada Noah. Semakin ia terbakar cemburu.
"Aalaahh... Endi tooohh.. Bocah Iki!"
Rian kesal. Sampai sekarang belum ketemu Hanum. Padahal tadi dia melihat Hanum masuk ke dalam. Makanya dia sampai mengejar ke kamar pengantin. Rian mengira, Hanum ada di sana.
"Heh!
Seseorang menepuk punggung Rian. Begitu menoleh, Rian jadi keder. Bapaknya sudah berdiri di belakangnya sambil melotot. Kalau melihat gerak gerik Rian, Bapak kepala desa ini bisa menebak apa yang akan di lakukan Rian. Pasti usil.
"Mau ngapain kamu?"
"Eh.. Abi." Rian menarik tangan ayahnya dan mencium punggung tangannya sambil cengar cengir.
"Abi tanya, kamu lagi ngapain?" ulang pak Rahman.
"Enggak, bi. Rian cuma mau ambil minum. Iya bi, minum. haus ini" cepat Rian mencomot minuman yang aada di sebelah meja prasmanan, lalu meneguknya cepat.
"Hmm.. Jangan usil kamu, Rian" Rahman langsung memberi peringatan pada putranya yang suka usil ini.
"Iya bi.. Iya.. Enggak kok." Rian mengelak. "Umi mana, bi?"
"Itu, masih di dalam sama ibunya Nunik." Rian melihat ke dalam rumah Nunik. Dan melihat ibunya sudah selesai bicara dengan tuan rumah, lalu datang menghampirinya.
"Iyan. Mana? kamu bilang datngnya sama bos mu. Kenalin ke umi. Umi juga kepingin jumpa sama Sri, lho." Ibu Hasnah menuntut bertemu Lucky dan Sri.
Rian melirik tempat duduk Lucky. Noah dan Agnes masih di sana juga. Waahh.. Bisa gawat kalau sampai ibunya bertemu Agnes lebih dulu sebelum Noah pergi. Hmmm.. Rian mencari akal.
"Iya umi. Sebentar. Umi sama Abi duduk di sini dulu, ya. Iyan mau cari Hanum dulu."
"Eh.. Mau ngapain kamu sama Hanum?" Hasnah mengerutkan kening curiga.
"Enggak mi, cuma sebentar kok"
Rian mau segera menghindar. Tapi beruntung Hanum datang sendiri kedepannya.
"Mas, Iyan. Tadi katanya nyariin, Hanum? Mau ngapain?" Hanum berdiri di depan Rian.
Ahaaa.. Pucuk di cinta, ulam pun tiba. Rian langsung menarik gadis itu agak menjauh. Berbisik-bisik serius. Rahman dan Hasnah saling pandang.
"Anak mu usil, bi" gumam Hasnah.
"Anak mu juga lho, mi"
"Hmm" Hasna geleng-geleng kepala sambil menepuk jidatnya.
Setelah bisikan maut Rian selesai, Hanum terlihat tersenyum sumringah dan malu-malu. Lalu pergi ke tempat temannya yang bergerombol di meja tamu. Rain mengambil ke sempatan itu dengan membawa ayah dan ibunya menuju ke meja Lucky.
Begitu sampai, bertepatan dengan gadis-gadis gerombolan Hanum juga datang. Mereka menggerakkan tubuh layaknya anak remaja yang sedang puber bertemu cowok idaman. Hanum mendekati Noah. Pria itu sampai terjengkit kaget di datangi segerombol anak remaja putri yang terlihat sangat antusias.
__ADS_1
"Mas Noah, Katanya mau foto. Hayuk mase. Nih temen-temen Hanum udah pada ngantri"
"Hah?!" Noah mendelik gusar. "foto? Siapa?"
"Yo Mase toh? Tadi bilang mau foto bareng kita. Ayuk masee!" gadis-gadis itu riuh menarik Noah.
Noah gelagapan di tarik banyak tangan lentik. Menatap Rian dan Lucky minta pertolongan. Tapi Lucky hanya tersenyum smirk dan tidak berusaha menolong. Apalagi Rian, inilah yang ia mau. Noah menyingkir. Tak bisa mengelak, Noah mengikuti tarikan tangan gadis-gadis itu. Agnes hanya bisa menghentakkan kakinya kesal melihat Noah tidak berusaha menolak.
"Oh, iya. Tuan Lucky, ini Abi dan ummi saya." ujar Rian tersenyum senang melirik Agnes yang tampak kesal.
"Oh.. Ya ya.." Lucky berdiri dan menjabat tangan Rahman. "Saya Lucky, pak. Dan ini Sri, istri saya" Lucky menunjuk Sri.
"Saya Rahman. Ayahnya Rian, sekaligus kepala desa di sini, pak" Rahman tersenyum hangat. Bergantian Lucky juga menjabat tangan Hasnah.
"Saya Hasnah, pak. Ibunya Iyan." Hasnah tersenyum. "Kalau Sri sih udah kenal, pak. Calon mantu yang gagal" seloroh Hasnah.
Lucky hanya menanggapi dengan senyuman kecil sambil melirik Rian. Yang di lirik langsung menunduk.
Sri menyalami Rahman dan mencium punggung tangannya dengan hormat. Calon bapak mertua yang gagal. Rahman mengusap kepala Sri pelan. Lalu Sri beralih pada Hasnah. Saling cipika-cipiki dan memeluk hangat.
"Wah.. Sri. Kamu tambah cantik lho, nduk." Sri tersipu malu mendapat pujian dari Hasnah. "Ibumu bilang, sudah isi toh?"
"Iya, Bu. Sudah dua bulan" jawab Sri tersenyum ramah.
"Wah.. Pantesan lho.. Kamu makin cantik. Jaga yang baik, ya. Ojo pecicilan." Hasnah menepuk tangan Sri pelan.
"Enggeh Bu" Sri mengangguk.
"Emm.. Umi. Kenalin, mi. Ini Agnes" Rian menunjuk Agnes. Yang di tunjuk terkesiap kaget.
"Oh... Iya.. Sini cah ayu. Ayo salim ibu" Hasnah mengulurkan tangannya. Dengan canggung, Agnes maju dan menjabat tangan Hasnah dan Cipika-cipiki.
"Cantik, ya" puji Hasnah. Agnes tersipu malu. Lalu menyalami Rahman juga dengan sopan. Rian tampak senang sekali.
"Oh.. Mari pak, Bu, silahkan duduk." Lucky mempersilahkan ayah dan ibunya Rian untuk duduk bergabung bersama.
Ternyata pak Rahman sangat ramah dan supel. Langsung bisa berbaur bicara dengan Lucky. Tentu saja Lucky menyambut senang. Mereka ngobrol dengan asik. Percakapan jadi terbagi dia kelompok. Pak Rahman dengan lucky, sementara Bu Hasnah dengan Sri dan Agnes. Tak ketinggalan Rian terus mengawasi.
"Nak Agnes, temennya Sri juga ya?" tanya Hasnah pada Agnes.
"Iya, Bu. Saya temannya, nona Sri." jawab Agnes sopan.
"Wah.. Sama cantiknya." Hasnah memuji pagi. Matanya tak lepas dari Sri dan Agnes. Dia sangat mengagumi Sri yang lebih terlihat cantik saat terakhir kali dia bertemu. "Apalagi Sri. Jadi makin keluar aura kecantikannya semenjak hamil ya"
"Hihihi.. Ibu iso wae" Sri terkikik malu.
"Iya loh Sri. Perempuan hamil itu pasti lebih kelihatan cantik. Auranya ngalemin."
"Mi, umi.. Kenapa Sri terus? Dia udah ada yang punya. Umi tanya Agnes tuh" Rian menyela.
"Kenapa Yan?"
"Calon mi.."
"Hah? Calon opo toh Yan?"
"Itu mi.. Calon mantu!"
"Hah!?" Agnes tersentak kaget. Melotot melihat pada Rian. Yang di pelototi cuma menyeringai saja.
__ADS_1
"Calon mantu? Maksute piye le?"
"Calon mantu umi lah." dengan bangga Rian membusungkan dada dan menepuknya. "Gimana? Cakep toh, mi?"
"Wah.. Tenan toh Yan?" Hasnah melebarkan matanya. Masih tidak percaya apa yang di katakan putranya barusan. Rian mengangguk mantap.
"lah dalaaahh.. Abii.. Bi.."
Hasnah langsung menjerit memanggil suaminya. Rahman dan Lucky sampai terkejut dan beberapa orang menoleh melihat ke arah mereka. Agnes makin ngeri saja melihat itu. Dia melotot pada Rian. Tapi Rian malah tersenyum lebar dan menaik turunkan alisnya menggoda Agnes.
"Rian! Kamu ini!" Agnes menginjak kaki Rian kencang. Sri terkekeh geli melihat itu.
"Ada apa mi? kok pake teriak gitu?" Rahman bertanya panik.
"Ini loh bi.. Kita harus pulang sekarang. Umi harus beli cincin tunangan. Rian bawa calon mantuku, Biii.."
Hasnah langsung berdiri dan menarik Agnes ke dalam pelukannya. Agnes hanya bisa menuruti. Tidak berani menolak karena banyak orang. Dan mereka jadi pusat perhatian. Sri sampai terkekeh geli melihat Agnes mau menangis.
"Waahh.. Mantuku cantik" seru Hasnah tak lepas menatap Agnes. Gadis berambut kriwil itu hanya bisa tersenyum canggung.
"Ayo bi, kita pulang." Hasnah mengajak suaminya. "Pak Lucky, harus datang kerumah saya ya kalau nanti sudah selesai di sini. Saya mau menjamu tamu dan calon mantu" Hasnah sangat antusias.
"Baik Bu" jawab Lucky tersenyum.
"Bener Yo Sri.. Datang kerumah ibu. Ibu mau masak banyak ya." Sri mengangguk. Melirik Agnes yang sudah mau menangis. Sri terkekeh lagi.
"Ayo bi, kita pulang" Hasnah langsung pamit.
"Pak Lucky, silahkan datang nanti. Bawa calon mantu saya pak" ujar Rahman dan pamit pulang. Lucky mengangguk mengiyakan.
Setelah orang tua Rian pergi, Agnes meradang dan menendang kaki Rian. Melotot pada pemuda yang berwajah ke arab-araban itu.
Duk!
"Aawwhh.... Aawhh... sakit Nes!" Rian meringis kesakitan.
"Biarin! Kapok gak Lo? Enak aja gua di bilang calon istri!" bentak Agnes dengan suara geram tertahan.
"Kan emang bener Nes? kamu itu calon istriku."
"Iissh.. Kamu ini ya!" Agnes mencubit lengan Rian gemas.
"Aawwhh.. Tuan Lucky! Tolong saya.." rintih rian kesakitan.
Lucky hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala. Apalagi Sri, dia sudah terbahak melihat itu. Noah datang dan terbengong melihat Agnes dan Rian bertengkar.
"Ada yang aku lewatkan?" tanya Noah menatap mereka satu-persatu.
"Hhh.. Kau melewatkan adegan paling menyenangkan, No" gumam Lucky sambil merangkul istrinya.
Agnes duduk dengan cemberut. Rian masih mengusap-usap bekas cubitan Agnes dan kakinya yang masih terasa sakit.
"Sayang" bisik Lucky pada Sri.
"Ya mas" Sri mendongak melihat wajah suaminya.
"Sekarang aku tau kenapa mantan pacarmu ini agak somplak. Ternyata itu dari ibunya"
"Hihihii.. Mase! Jangan gitu" Sri membekap mulut Lucky. Takut terdengar Rian.
__ADS_1
"