
Membuat kebohongan yang diciptakan Sri, bisa membuat ketiga temannya tersenyum kembali. Apalagi Agnes, terasa semakin nempel pada Sri. Sering tersenyum dan menggandeng tangan Sri Lues. Membuat Niar dan Dila cemberut karena cemburu. Dalam hati Sri ingin terbahak melihat kelakuan ketiganya. Tapi jika ketahuan siapa suami Sri, maka mampus juga lah dia.
Kembali sibuk dengan pekerjaan yang menumpuk, semua karyawan berkutat dengan pekerjaan masing-masing. Noah sampai sekarang belum nongol. Sri tidak berani bertanya pada Dila. Takut nanti jadi banyak pertanyaan lagi.
Sebenarnya Sri hanya ingin minta maaf soal kemarin dia meninggalkan Noah begitu saja. Tidak enak hati pada Noah. Tapi pria itu seakan hilang di telan bumi.
"Sri" panggil Dila.
"Ya mbak?" Sri menoleh melihat Dila memegang berkas di tangannya.
"Tolong kamu fotocopy ini Sri. Nanti mau di serahkan sama pak Noah. Mumpung dia belum datang" Dila mendekat dan menyerahkan berkas itu pada Sri.
Sri mengangguk saja. Mengambil berkas dari tangan Dila, lalu beranjak ke mesin fotocopy yang ada di samping ruangan mereka. Masih harus menunggu karena masih ada karyawan lain sedang memakai juga.
Setelah mereka selesai, kini giliran Sri. Memfotocopy berkas yang di berikan Dila tadi. meng-copy beberapa lembar dan setelah selesai, Sri kembali lagi ke ruangan mereka.
Tapi, baru saja Sri akan keluar, ada Susan dan Sofi berdiri mencegat langkahnya. Sri tercekat melihat pandangan sinis dari keduanya. Gadis yang memakai bersetelan mini dress dan bersepatu high heels itu melipat tangannya di dada.
"Maaf mbak, permisi. Saya mau lewat" Sri meminta jalan pada Susan yang berdiri tegak di ambang pintu.
Dengan marah, Susan menarik baju sri bagian depan. Menyeret tubuh Sri keluar dari ruangan fotocopy. Sri sampai terhuyung mengikuti tarikan keras di bajunya. Berkas fotocopy di tangannya terlepas dan berhamburan di lantai.
Susan menghempaskan punggung Sri ke tembok dengan keras. Sri meringis merasakan sakit di punggungnya. Susan memepetnya dengan wajah beringas seakan ingin menelan Sri bulat-bulat.
"Aduh! A-ada apa ini mbak?" Sri tercekat kaget di perlakukan begitu oleh Susan. Tapi gadis itu seakan tak peduli. Meremas baju Sri kuat. Sedangkan Sofi berdiri di belakang Susan.
"Masih berani nanya lagi kamu!?" sentak susan. Wajah cantik yang biasa terpancar dari wajahnya, kini telah berubah bengis. Sri ngeri melihat itu.
"Saya nanya mbak, karna saya Ndak tau ada apa ini?"
Sri mencoba menepis tangan Susan dari bajunya. Tapi tangan itu lebih kokoh meremat di bagian dada Sri.
"Heh! Kamu jangan sok-sokan di sini ya? kamu itu masih ingusan! jangan berani-berani kamu deketin pak Noah!" sentak susan lagi menggeram tertahan dengan mata melotot marah.
Ah! Noah lagi! apa sih mereka ini?! Selalu Noah Noah dan Noah! padahal aku tuh Ndak ada hubungan sama Noah!
Sri meronta minta di lepaskan. Dia sudah kesal sekali hari ini. Entah kenapa karyawan di sini sangat menggilai Noah. Dan sialnya, dialah yang jadi tertuduh mendekati Noah.
"Lepaskan! saya Ndak ada hubungan sama pak Noah! Kenapa jadi saya yang di tuduh!" Sri marah. Meronta menarik cengkraman tangan Susan.
"Heh! kamu itu gak tau diri banget sih? Masih baru udah ngelunjak kamu ya?" Sofi ikut membumbui memarahi Sri.
__ADS_1
"Apasih ini? saya Ndak tau apa-apa!" sentak Sri.
"Iisshh.. munafik banget dia, Sus. Kemarin jelas-jelas aku lihat dia ngedate sama pak Noah. Tapi masih aja ngeles" Sambung Nofi lagi dengan sinis.
Susan masih melotot marah menatap Sri tepat di depan wajahnya. Sri juga tak mau kalah. Melotot menatap Susan di depannya.
"Masih mau ngelak kamu? mau bohong lagi? kamu tuh ya, gak pantes banget sama pak Noah tau gak?!" Susan semakin menekan Sri ke dinding.
"Lah.. awas!" Sri mendorong dada Susan. Membuat gadis itu mundur kebelakang dan melepas cengkraman tangannya di baju Sri.
Susan dan Sofi tampak berang. Merasa mendapat perlawanan dari Sri. Mereka semakin geram saja. Masak ketua fans club Noah terlangkahi? mana bisa!
"Apa sih kalian ini?" Sri membereskan bajunya yang kusut akibat cengkraman tangan Susan tadi.
"Eehh.. ngelawan kamu? Mau aku usir dari sini?" Susan maju lagi. Menghentakkan bahu Sri ke dinding. Kali ini mencengkram pipi dan dagu Sri. Mengangkat tangannya akan menampar pipi Sri.
"Hey! hentikan!!"
Tapi sebelum itu terjadi, dari arah sebelah kanan lorong menuju lift, Suara menggelegar itu muncul. Serentak mereka bertiga menoleh kearah lift. Noah melangkah lebar menuju pada mereka. Sontak saja Susan melepas cengkraman tangannya. Melepaskan Sri yang shock mendapat bullying tak pantas.
"Ada apa ini?" Tanya Noah dingin menatap Susan dan Sofi bergantian.
"Ah.. tidak ada pak. Ini.. Sri mau jatuh tadi. Jadi saya bantu berdiri" Susan menebar senyum palsu.
Noah menatap mereka berdua dengan tajam. Jelas-jelas dia melihat kalau Susan akan menampar Sri tadi. Licik sekali perempuan ini.
"Kalian bertiga. Keruangan saya"
Noah pergi meninggalkan ketiga gadis itu. Meminta mereka menghadap ke ruangannya. Susan menatap marah pada Sri. Sofi juga menatap sinis. Sri sangat muak melihat kedua orang ini.
Sri mengutip berkas yang berhamburan di lantai. Susan dan Sofi sudah lebih dulu pergi ke ruangan Noah. Sri kesal sekali. Entah mimpi apa semalam sampai hari ini harus mendapat banyak masalah dari teman kantornya.
Semua karyawan di divisi mereka menatap heran melihat Susan dan Sofi datang dan langsung masuk ke ruangan Noah. Dila, Agnes dan Niar menatap Sri seakan banyak pertanyaan yang akan di lontarkan. Tapi Sri hanya mengedikkan bahu dan menyerahkan berkas ke meja Dila. Lalu ikut masuk ke ruangan Noah.
Noah duduk di kursi kerjanya dan menatap tajam Susan dan Noah. Sri berdiri agak terpisah dari kedua gadis itu.
"Saya mau kalian menjelaskan apa yang terjadi" titah Noah pada Susan dan Sofi dengan tegas.
"Tidak ada pak. Sri tadi mau jatuh. Seperti yang saya katakan tadi pak" ujar Susan berani. Sementara Sofi hanya menunduk takut.
Noah mengetatkan rahangnya keras. Kesal sekali melihat Susan masih saja berbohong.
__ADS_1
"Sofi! jelaskan" Noah ganti menatap Sofi yang tertunduk dengan lutut mulai bergetar.
"Maaf pak. Saya cuma ikut mbak susan"
Suara Sofi lirih hampir tak terdengar. Dia tahu bagaimana jika Noah sudah marah. Masih untung jika mereka tidak di pecat saat ini juga. Karena mereka tahu, kalau Noah juga pemegang saham di perusahaan ini, dan merangkap banyak jabatan penting.
Pandangan Noah kini teralihkan pada Sri. Menatap gadis itu dengan cermat. Sri menunduk dengan wajah kesal.
"Sri, sekarang kamu yang menjelaskan. Jangan mengulangi kesalahan yang sama" ujar Noah tegas. Sri tahu apa maksud Noah. Pria itu memintanya berkata jujur.
Sri menghela napasnya. Mendongak dan melihat ke arah Sofi dan Susan yang agak melebarkan matanya dengan penekanan agar Sri tidak bicara jujur.
"Saya Ndak tau apa maunya mbak-mbak berdua ini pak. Saya baru fotocopy tadi. Tapi mbak susan marah sama saya. Katanya saya anak baru. Ndak boleh ngelunjak. Mbak berdua ini bilang, saya ada hubungan sama pak Noah"
Sri menjelaskan tanpa menghiraukan tatapan membunuh dari Susan. Sementara Sofi semakin gemetaran dan berkeringat dingin saking takutnya. Noah agak menaikkan bibirnya sedikit. Geli dengan penjelasan Sri. Gadis itu tampak kesal dan berani berkata jujur di depan Susan. Gadis yang terkenal galak dan mendominasi semua karyawan.
"Benar begitu Susan?" Noah menatap Susan di depannya. Susan salah tingkah ketahuan berbohong. Sri sungguh berani mempermalukannya di depan Noah. Habislah reputasi sebagai gadis baik hati dan paling the best di depan Noah.
"Saya tidak suka ada bullying di kantor ini. Perusahaan ini menggaji kalian bukan untuk bertengkar masalah sepele. Tapi untuk bekerja meningkatkan level perusahaan ke arah yang lebih maju. Bukannya malah bertengkar begini"
Susan dan Sofi menunduk dalam. Kandas sudah harapan mendapat kesan baik di mata Noah. Yang ada Noah malah akan semakin tidak melirik mereka berdua. Ini semua gara-gara Sri!
"Tapi kenapa kalian berpikir saya ada hubungan dengan Sri?" tanya Noah lagi. "Jawab yang benar. Sofi!" Noah langsung menunjuk Sofi. Gadis yang terkenal biang gosip di kantor. Pastilah Noah bisa menebak, bahwa Sofi lah yang menyebar gosip.
"Saya.. S-saya.. Maaf pak" Sofi sudah ingin menangis. Baru kali ini dia di permalukan di depan Noah. Sang pria idaman.
"Jawab yang benar. Saya belum minta kamu meminta maaf!" sentak Noah tak sabar.
Sri melirik Noah kaget. Baru kali ini Sri melihat Noah marah tapi masih dengan ketegasan yang kental. Sri seakan tidak mengenal pria di depannya ini. Biasanya Noah selalu bersikap lembut padanya.
"Maaf pak. Kemarin saya melihat bapak di kafe sama Sri. Jadi saya pikir, bapak lagi ngadate sama Sri" jawab Sofi gemetar menahan tangis yang sudah ingin meledak.
Mendengar itu, Noah melirik Sri yang juga sedang meliriknya. Sejenak mata mereka bertemu. Lalu Noah mengalihkan pandangannya pada Sofi dan Susan lagi.
"Lalu apa masalahnya jika saya ngadate sama Sri? apa masalah kalian?" Noah mengedikkan dagunya. Bertanya pada Susan dan Sofi. Kedua gadis itu tidak menjawab. Hanya tertunduk malu di depan Noah dan Sri.
Mendengar apa yang di ucapkan Noah barusan, Sri mendelik gusar. Menatap Noah seakan protes dengan apa yang di katakan Noah. Dengan menanyakan apa keberatan kedua gadis itu, akan membuat banyak asumsi liar lagi nantinya.
"Hukuman apa yang pantas saya berikan untuk kalian berdua?" suara Noah sedingin es kutub. Sofi dan Susan menegang dengan wajah pias.
"Pak.. Tolong pak.. jangan pecat saya pak" Sofi langsung merengek menghiba pada Noah.
__ADS_1