
Hari-hari di lalui Sri bersama Lucky dengan penuh manisnya madu. Mereguk cinta dan kebahagiaan bersama. Saling melengkapi dan rindu yang setiap saat menghantam keduanya.
Tak jarang Lucky membuat banyak alasan agar bisa datang ke divisi Noah, hanya untuk melihat pujaan hatinya. Noah hanya bisa menggaruk tengkuknya ketika melihat Lucky menemuinya dengan berbagai alasan kerja.
Sang Presdir sudah bucin Akut pada istrinya. Selalu meminta Sri datang ke ruangannya di saat jam istirahat. Makan siang bersama, dan memadu kasih sekejap di kala semua staf sedang sibuk makan siang.
Dila dan Niar kadang protes melihat perubahan Sri karena sudah jarang bergabung makan siang di cafetaria kantor. Sri menciptakan banyak alasan pada mereka berdua untuk memenuhi perintah Lucky. Dan Agnes, tentu saja membela Sri.
Hari ini rencananya Sri akan mengajak Agnes untuk mencari motor bekas. Sri tak ingin lagi di jemput pak Karim. Gosip hangat tentangnya sebagai simpanan masih santer terdengar. Jadi, Sri memutuskan untuk pergi dan pulang kantor naik motor saja.
"Sri. Nanti kalau tuan Lucky marah, gimana?" Agnes protes pada Sri. Takut jika Lucky marah.
"Urusan Mase, biar Sri saja, mbak Nes"
Sri tetap menarik tangan Agnes ke tempat parkiran. Sebelumnya dia sudah mengirim pesan pada pak Karim untuk tidak menjemputnya. Dan kebetulan sekali hari ini Lucky sedang sibuk dan kunjungan ke kantor cabang.
"Kamu yakin, Sri?" tanya Agnes lagi meyakinkan.
"Hem" Sri mengangguk mantap. "Mbak Agnes sudah ngechat yang punya motor toh?"
"Sudah sih. Tapi, aku beneran takut Sri. Ntar tuan Lucky marah lho"
"Aduh.. mbak Nes tau kan gosip itu masih aja ada? Sri males di gosipin jadi simpanan pak Karim lho mbak" Sri cemberut.
Agnes terkekeh geli. Memang iya sih. Agnes sendiri kalau di gosipkan begitu, pasti panas dan marah.
"Kamu kan tinggal bilang sama suamimu, Sri" ujar Agnes.
"Jangan mbak. Ntar Mase marah lagi. Kemarin, pelayan di rumah udah mau di pecat. Apalagi denger gosip receh kayak gitu. Hadeh.. parah mbake.. Mase bisa pecat semua staf kantor"
Agnes mendelik mendengar itu. Memutuskan untuk segera membawa Sri bertemu dengan temannya yang akan menjual motornya. Bersiap membonceng Sri dan segera meluncur.
Memakan waktu sampai satu jam untuk bisa mencapai kontrakan Agnes karena kemacetan jalan di saat pulang kantor. Sesampainya di kontrakan, Agnes langsung menghubungi temannya yang akan menjual motor. Tapi temannya bilang masih kerja. Jadi mereka berdua menunggu saja.
Agnes pergi ke dapur. Sementara Sri hanya diam melamun. Memikirkan kejadian akhir-akhir ini. Kenapa semua orang membicarakannya? Apalagi Amira. Selalu mengatainya gadis kampung, benalu, dan miskin.
Padahal bagi Sri, hidupnya di kampung jauh dari kata miskin. Hidupnya berkecukupan. Keluarganya punya sawah dan perkebunan yang luas. Ibunya punya warung lesehan yang bisa di bilang selalu ramai. Sri tidak pernah kekurangan.
Agnes datang dengan membawa minuman dan cemilan. Tapi segera Agnes heran memperhatikan Sri yang tidak menyadari kehadirannya.
__ADS_1
"Sri" Agnes menyenggol Sri yang melamun. Sri kaget dan menoleh pada Agnes. "Kamu kenapa? melamun aja" Sri tersenyum dan menggunakan kepalanya.
"Kenapa? apa ada masalah lagi sama tuan Lucky?"
"Ndak kok mbak"
"Trus kenapa ngelamun aja lu?"
Sri terdiam. Bimbang ingin mengatakan sesuatu pada Agnes atau tidak. Agnes masih mendesak agar Sri cerita padanya.
"Sama Amira?"
Sri menatap Agnes lamat. Seakan mencari sesuatu di mata Agnes.
"Apa sih?" Agnes gemas di pandangi begitu. Seakan dia melakukan kebohongan.
"Mbak Agnes, apa melihat seseorang itu dinilai dari hartanya ya?" tanya Sri tiba-tiba.
Agnes mengernyitkan dahi. "Kok pertanyaan mu aneh Sri?"
Sri menghela napasnya panjang.
Mendengar itu, Agnes tersenyum. Ia mengerti perasaan Sri. Agnes menyaksikan sendiri bagaimana Amira menghina Sri. Dan di kantor juga banyak staf wanita bergosip tentang Sri. Dan itu semua ulah Susan.
Bukan tidak banyak staf pria yang melirik Sri. Tapi Sri cuek dan tidak menanggapi. Agnes tahu Sri gadis yang polos. Agnes sering memergoki Noah menatapnya dengan pandangan sayang yang terpancar di matanya. Tapi Sri seolah tidak menyadari itu. Ada rasa cemburu di hati Agnes ketika melihat itu. Tapi Agnes mengerti cinta tak bisa di paksakan.
"Sri. Yang berpikir seperti itu cuma orang-orang picik saja. Mereka itu gak nyadar diri" ujar Agnes menepuk pundak Sri.
"Kamu cantik kok. Makanya tuan Lucky tergila-gila padamu" Agnes menowel pipi Sri.
Gadis itu tersipu mendengar ucapan Agnes yang terakhir.
"Tapi kenapa mbak Amira selalu bilang kalau Sri ini benalu? padahal kan Sri istrinya Mase yo? wajar toh kalau Sri tinggal di rumahnya?"
"Hahaa.. kamu lucu banget sih Sri.." Agnes tergelak. "Nona Amira itu cuma iri pada mu Sri"
"Menurut mbak Agnes, bisnis apa nih yang cocok buat aku mbak?"
"Kamu mau berbisnis?"
__ADS_1
"Hem" Sri mengangguk mantap.
"Tanya suamimu"
"Alah.. mbak Nes ini.. mana Mase ijin kalau Sri bilang itu"
"Lagian kamu ini aneh. Mau apa lagi coba? suami mu kaya raya. Perusahaan ada banyak. Bisnisnya melimpah. Trus, ngapain kamu capek-capek mikirin mulut orang Sriii..." gemas Agnes mencubit lengan Sri.
"Aduh!" Sri kesakitan mengusap lengannya. "Mbak Nes, kalau Sri masih tergantung sama Mase, itu sama aja Sri tetep jadi benalu. Sri Ndak mau di ejek begitu lagi, mbak Nes"
Tin.. tin..
Suara mesin motor menderu di depan rumah. Dan klakson motor terdengar nyaring. Agnes berhenti ingin menjawab Sri lagi. Melongok keluar dari jendela. Temannya sudah datang. Tinggal di ujung gang tempatnya mengontrak.
"Dia udah datang Sri. Yuk kita kedepan"
Sri menurut saja. Mengikuti Agnes sampai di teras rumah. Dan begitu melihat siapa yang berdiri di luar pagar rumah Agnes, Sri tertegun melihat pemuda itu.
Seorang pemuda tampan berdiri tegak di depan pagar rumah. Wajah yang sangat familiar di mata sri. Tubuh tinggi memakai jaket ojol dan helm yang masih melekat di kepalanya.
Memegangi terali pagar besi dengan senyum lebar mengembang di bibirnya melihat Agnes datang menyambutnya. Pemuda itu belum melihat ke arah Sri. Masih fokus pada Agnes yang membuka gerbang.
"Hai cantik.. rindu aku toh?" sapanya menggoda Agnes.
Agnes hanya melengos sebal. Membuka gerbang lalu pergi begitu saja. Pemuda itu terkekeh sambil mengikuti Agnes ke teras rumah.
"Sri. Ini orangnya" ujar Agnes menunjuk pemuda itu dengan dagunya.
Sri terbengong melihat tak percaya siapa yang di lihatnya. Dan pemuda itu juga tercekat kaget melihat siapa teman Agnes yang ingin membeli motornya.
Sama-sama saling tatap satu sama lain. Terkesiap melihat dari ujung kaki sampai kepala. Sama-sama tercengang dengan mulut terbuka kaku ingin bicara.
"S-ss-sri!"
"M-masssee..."
😳😳😳
🤭Hayooo... kira-kira siapakah pemuda itu? ada yang bisa tebak gak? 😉
__ADS_1