
Lucky memijit keningnya. Terasa pening. Sudah mewanti-wanti pada Sri untuk tidak ada lelaki lain yang bergabung bersama mereka. Tapi Sri melanggar peraturan yang ia minta. Menatap layar ponsel yang menyajikan pemandangan menyakitkan. Istrinya tampak sangat bahagia tertawa di samping lelaki lain.
Sebenarnya Lucky berada dalam satu mall dengan Sri. Kebetulan sedang ada rapat kerja di sini. Ingin segera meluncur menemui Sri, tapi masih bimbang menentukan sikap.
Jika ia marah lagi, pasti akan membuat Sri sedih lagi. Dan pasti akan bertengkar lagi. Lucky tidak bisa terlalu mengekang istrinya untuk tidak bersosial sama sekali. Pasti Sri akan merasa tertekan.
Tapi untuk melenyapkan rasa cemburu yang ia derita, itu sungguh menyakitkan hati. Rasa panas membakar jantungnya melihat ada lelaki lain yang selalu melirik istrinya untuk mencari kesempatan. Darahnya mengalir deras penuh emosi untuk segera melayangkan tinju besarnya ke mata lelaki mesum itu.
Tapi jika mengingat bagaimana Sri tersinggung ketika Lucky mengasari Rian, kembali Lucky terduduk lemas. Sri pasti akan marah dan mengatakan kalau Lucky itu sombong.
"Tuan" sapa Beni datang menghadap. Lucky mendongak melihat kedatangan beni. "Semua sudah selesai. Apa kita sebaiknya segera pulang?"
"Istriku di sini" jawab Lucky dingin.
Beni diam saja. Menunggu Lucky meneruskan bicara. "Ben, kita kesana" Lucky segera bangkit dari duduknya.
"Tapi tuan, apa tidak lebih baik kita menunggu nona Sri selasai berbelanja?" Beni mencegah.
Lucky berhenti melangkah. Melirik Beni yang tertunduk ngeri melihat tatapan dingin itu.
"Menurut mu, jika kekasih mu bersama lelaki lain, apa kau membiarkan saja?"
Beni diam. Tak berani menjawab lagi. Dia hanya tidak mau jika Lucky bertengkar lagi dengan nonanya. Tapi apalah daya. Pastilah tuannya lebih mengerti apa yang seharusnya di lakukan.
Melangkah dengan mantap keluar dari ruangan meeting di lantai atas. Beni mengikuti di belakangnya. Berpapasan dengan beberapa petinggi mall. Lucky tidak menghiraukan lagi. Terus saja berjalan meninggalkan Beni yang masih berbicara dengan mereka, untuk tidak mengganggu tuan Lucky untuk berjalan-jalan di sekitaran mall. Dan mereka mengangguk untuk mengamankan situasi.
Setelah selesai, Beni segera menyusul Lucky yang sudah masuk ke dalam lift. Beni masuk kedalam lift dengan segara menekan tombol lantai yang mereka tuju.
Lucky diam seribu bahasa. Dan Beni tidak berani mengeluarkan suara sedikitpun. Ini saat yang tidak baik untuk membuka pembicaraan. Karena tuannya dalam keadaan bad mood.
Ting!
Pintu lift terbuka. Tampak ramai orang berlalu lalang di depan mereka. Lucky dan Beni berdiri di depan lift. Memperhatikan keadaan sekitar. Mencari keberadaan Sri.
"Tuan, kita lewat sini"
Beni memimpin di depan. Memperhatikan dan mencari kafe yang di katakan Agnes di chatingan tadi. Banyak mata tertuju pada Lucky. Mereka mengenal siapa Lucky. Dengan gaya yang mencolok, pastilah orang-orang dengan mudah bisa mengenalinya. Mengenali sebagai kekasih seorang artis terkenal.
Lucky tidak lagi menutupi diri dengan penyamaran. Membiarkan orang-orang bergumam ingin menyapa. Tapi Lucky tak menghiraukannya. Tetap berjalan di belakang Beni. Tak butuh waktu lama, Beni sudah menemukannya.
Membiarkan Lucky berjalan lebih dulu memasuki kafe. Berdiri tegak di depan pintu. Mengedarkan pandangannya Mencari keberadaan istrinya.
Pandangannya tertumpu pada satu titik. Itu dia. Terlihat Sri masih mengobrol di sana. Lucky kembali melangkah di ikuti Beni. Seorang pelayan langsung datang menghadap.
Semua orang tau siapa Lucky. Apalagi semua pemilik outlet dan semua karyawannya. Beberapa pelayan langsung menyediakan meja untuk Lucky. Tapi Lucky langsung mengisyaratkan pada pelayan untuk tidak berlebihan menyambutnya. Dia tidak mau semua orang menjadi tegang.
Sepertinya rombongan Sri belum menyadari kehadiran Lucky. Masih asik mengobrol ngalor ngidul. Lucky santai saja. Berjalan menuju meja yang di sediakan pelayan. Hanya berjarak satu meja dengan meja yang di tempati Sri.
Beruntung mejanya masih di halangi pot besar berhiaskan pohon palm kuning. Sehingga pandangan rombongan Sri masih terhalang dan tidak begitu mencolok. Tapi Lucky masih bisa dengan jelas mendengar dan melihat ke arah Sri.
__ADS_1
Lucky duduk di ikuti Beni. Pelayan menunggu mereka memesan menu. Beni yang memilih. Lucky hanya diam saja dan melirik Sri di seberang mejanya. Menantikan Sri melihat ke arahnya.
Dan benar saja. Pandangan mereka bertemu. Sri melihat Lucky sudah duduk tak jauh dari mejanya. Wajahnya langsung tegang. Tapi Lucky malah tersenyum dan geleng-geleng kepala. Geli melihat wajah Sri yang berubah pias. Lalu mengalihkan lagi pandangannya ke arah lain. Pura-pura tak melihat Sri.
Agnes langsung mengerti dengan perubahan raut wajah Sri. Mendekat dan berbisik.
"Kenapa lu?"
"Mase di sini, mbak Nes" jawab Sri juga berbisik dengan suara bergetar halus. Sri takut.
Segera saja Agnes menegang. Mengedarkan pandangannya tak kentara. Agar teman yang lain tidak curiga. Begitu melihat keberadaan Lucky dan Beni, tiba-tiba tenggorokan Agnes menjadi kering. Meneguk salivanya dengan susah payah. Mampus! alamat perang ini!
"Heh.. kalian berdua!" Dila menegur. Melempar tisu kearah Sri. "Pada ngapain sih? itu di tanya Lukman lho, Sri"
Sri dan Agnes tergagap ngeri. Menoleh kearah Lukman yang masih menatap Sri penuh rasa. Sri sampai mendelik melihat itu.
"Eh.. apa kak? kak Lukman tanya apa? Maaf Sri ndak denger" Sri tersenyum canggung.
"Haha.. jangan tegang begitu, Sri" Lukman tergelak. "Aku tanya.. kamu sudah punya pacar belum?"
Deg!!
Jantung Sri mencelos. Harus jawab apa? Kalau jawab belum, pasti Lucky mendengar. Kalau jawab iya, pasti panjang lagi pertanyaan Lukman. Dan jarak Lucky tidak begitu jauh. Pasti bisa mendengar apa saja yang mereka bicarakan.
"Sri.. anu kak.." Sri kebingungan. Melirik ke arah Lucky sejenak. Tampak tatapan tajam Lucky terfokus padanya. Sri sampai bergidik ngeri.
"Haha.. Lukman.. sayang banget. Kamu terlambat. Sri itu sudah nikah" celetuk Niar tidak menunggu jawaban Sri.
"Hehe.. iya kak Lukman. Sri sudah nikah" jawab Sri mantap. Rasa percaya diri keluar melonjak begitu melihat senyum merekah di bibir suaminya.
Lukman, Boby dan Syahril tampak terkejut mendengar itu. Mereka tidak menyangka kalau Sri ternyata sudah menikah. Raut wajah kecewa tergambar jelas di mata Lukman. Tubuhnya langsung lemas. Gadis yang di taksirnya ternyata sudah milik orang lain.
"Wah.. sayang sekali. Lukman pasti kecewa berat nih" Boby nyeletuk nyaring.
"Lho.. kenapa kak?" tanya Sri bingung.
"Padahal Lukman itu naksir kamu lho Sri. Tak di sangka kamu udah nikah. Gagal dong Lukman.. hahaa.." Boby terlalu berterus terang. Membuat wajah Lukman merah padam. Hanya bisa tersenyum kecut.
"Beruntung sekali suamimu, Sri. Bisa mempersunting bidadari secantik kamu" keluh Lukman dalam pujian.
"Alaaahh.. lebay Luk. Masih ada kesempatan kok kamu" ujar Dila.
"Hah? yang benar, Dil?" Lukman tampak antusias.
Lucky menggeram di seberang sana. Kesempatan? kesempatan apa? awas saja. Bakalan aku remukkan tulang leher mu! maki Lucky dalam hati.
"Iya. Berusaha dong" Dila malah menyemangati Lukman untuk menaklukan hati Sri.
"Aduh.. mbak Dila ini ada-ada aja deh" Sri cemberut. "Jangan di dengerin mbak Dilanya, kak. Gak bener itu"
__ADS_1
Lukman merasa mendapat dukungan dari Dila. Ada binar kesempatan di matanya.
"Suami kamu kerja apa Sri?" Tanya Lukman lagi.
Deg!
Pertanyaan apa lagi itu?! kerja apa?! suami Sri kerja apa?! haruskah di jawab?
Sri mati-matian memberi kode pada Agnes untuk membantunya menjawab pertanyaan itu. Tapi Agnes juga tidak lebih berani dari Sri. Bisa mampus dia jika di dengar tuan Lucky yang lagi menguping. Mata sri selalu mengawasi gerak gerik Lucky di seberang mejanya. Suaminya tampak mengetatkan rahangnya. Tapi tatap tak melihat kearahnya lagi. Berpura-pura tidak mendengar.
"Tenang Luk. Suaminya Sri kerja ojol" celetuk Dila.
Siiiing!!
Langsung saja lirikan membunuh dari Lucky seketika merobek hati Sri. Sri sampai gemetaran. Mampus! si Abang ojol ada disini dan mendengar itu semua. Cuma ojol! Lucky kerja hanya sebagai ojol! matilah Sri. Kebohongannya sudah di dengar suaminya. Rahang Lucky terlihat semakin mengetat saja. lirikan matanya bagai pisau yang siap membeset kulit wajah Sri saat ini juga.
"Memangnya kenapa kalo suamine Sri kerja ojol mbak, Dil? itukan halal juga. Ndak mencuri toh?" Sri membela suaminya dengan segenap jiwa.
"Yah gak apa-apa juga Sri kalau kerja ojol. Tapi kan setidaknya, Lukman lebih keren. Kalau kamu sama Lukman, semua terpenuhi"
"Maaf mbake. Sri cinta sama suami Sri. Biarpun kerja ojol, seng penting halal mbak. Dan suamine Sri cinta sama Sri, mbak. Itu sudah cukup"
Ada gerakan di seberang sana. Lucky berdiri. Gerakannya yang tiba-tiba, membuat Beni kaget jadi Ikut berdiri. Lucky langsung pergi meninggalkan mejanya. Beni mengikuti saja.
Sri dan Agnes tampak panik melihat Lucky meninggalkan kafe. Sama-sama saling tatap. Bingung harus bagaimana. Mereka berpikir, pastilah Lucky marah mendengar pengakuan Sri kalau suaminya hanya bekerja sebagai Abang ojol. Walaupun tidak masalah, tapi tetap saja Lucky merasa di rendahkan.
"Mampus Sri. Gimana ini?" bisik Agnes. Sri hanya menggeleng samar. Kebingungan.
"Kalian ini kenapa sih? dari tadi bisik-bisik terus?" tanya Niar curiga.
"Sudah sore ini. Lebih baik kita pulang" ujar Agnes. Ingin segera bubar. Kepalanya terasa pusing memikirkan nanti pasti Sri akan bertengkar lagi dengan suaminya.
"Ah.. iya juga. Gak kerasa udah mau gelap. Ayuk lah kita bubar" ujar Dila menengahi.
"Kalian pulang sama siapa?" tanya Lukman berharap kalau Sri tidak ada tumpangan.
"Di jemput suami ku, Luk" Jawab Dila.
"Oh.." Lukman hanya ber oh ria mendengar jawaban Dila. "Tapi.. kalau kamu Sri? pulang sendiri?"
"Ndak mas. Sama mbak Agnes ini" jawab Sri seraya menggamit lengan Agnes.
Lukman tampak kecewa. Tapi Sri tidak menghiraukannya. Mereka membubarkan diri. Lukman masih berbaik hati membayar semua pesanan mereka walaupun sudah gagal mendapat kesempatan menduduki hati Sri.
Tapi masih belum menyerah. Mengikuti saja para wanita sampai ke depan mall. Ingin menyaksikan sendiri jika masih ada kesempatan menyingkirkan suami ojolnya Sri. Dan percayadiri jika dia lebih segala-galanya dari suami ojol milik Sri.
❤️
❤️
__ADS_1
❤️