OJO NGONO MAS'E

OJO NGONO MAS'E
Senyum Licik


__ADS_3

Sri semakin tercekat melihat dari pantulan kaca lemari, keadaan Lucky yang sama polos dengan Amira. Hanya selimut tipis yang melilit menutupi bagian pinggang bawah tubuhnya. Dadanya polos. Rambut dan dadanya masih basah. Apa mereka berdua sudaaahh... Atau ada adegan di kamar mandi?


Otak Sri berkeliaran kemana-mana. Hatinya berdenyut nyeri membayangkan adegan panas antara Amira dan Lucky. Sri masih memelototi dari kaca lemari. Lucky tidak menyadari jika pantulan tubuh Sri juga dapat di lihat jika matanya jeli. Tapi pria itu masih sibuk menghindari Amira dengan jengkel.


"Apalagi Miraaa..?" Lucky mengeluh jengkel pada Amira yang kembali lagi setelah ia berbisik geram mengusirnya kasar. Tapi gadis itu malah berbalik lagi dengan tubuh polos.


"Haha.." Amira tertawa renyah. Melangkah mendekati Lucky. "Aku bisa merasakan kau masih mencintai ku, sayang. Bersama gadis kampung itu kau hanya menggilai menidurinya karena aku tidak memberi mu dengan benar. Aku benar?" Amira bicara dengan suara menggoda.


Lucky menggeram marah. Tidak ingin menyahuti apa yang di katakan Amira. Gadis ini akan semakin gila saja jika ia menjawab dengan kemarahan.


Tapi sayang, dengan tidak adanya jawaban dari Lucky, membuat hati Sri terpukul dengan telak. Serendah itu kah dirinya? Lucky hanya candu menidurinya? tanpa cinta?


"Dulu kau bilang padaku pernikahanmu hanya sekedar kesepakatan bukan?" Amira meraba perut Lucky. Menatap mata marah yang siap menyergapnya dengan kejam. Tapi Amira tidak peduli. Ia hanya butuh menggoda yang membuat Sri tersakiti.


"Kau ingat kekasihku sayang.. Kau bilang akan segera menceraikannya setelah kau mendapatkan apa yang kau butuhkan. Hmm? Kau lupa?"


Deg!!


Sakiiiittt... hati Sri tertusuk ribuan jarum. Benarkah begitu? sekarang Lucky sudah mendapatkan tubuhnya dan dia akan mencapakkan Sri??


Tubuh Sri bergetar. Limbung. Lututnya lemas seakan tak mampu lagi menopang beban. Perlahan Sri menyandar di dinding kamar. Matanya berkaca-kaca tapi masih melihat ke arah kaca lemari.


Amira tersenyum lembut. Mengusap bibir Lucky. Pria itu semakin marah dengan wajah memerah. Tapi masih mencoba menahan dan membiarkan Amira berbuat sesukanya. Lucky tidak tahu ada seorang yang terluka di luar kamar karena tidak mendengar penolakan darinya.


"Kau takut harta warisan papi akan jatuh padanya bukan? Kau mejanjikan aku itu semua. Setelah kau menceraikannya, kita bisa bebas dan memiliki harta papi. Bukan begitu sayang? Ahh.. aku sangat merindukan bisa bergerak penuh keringat di atas tubuhmu.. hmmm.."


Tidaaakkkk!!! Mase cuma menginginkan itu? Agar harta warisan tidak jatuh ke tangan Sri, jika dia masih menentang papi?? Mase!! setega itukah?


"Hihihii... aku tau cinta mu palsu. Kau masih mencintaiku sayang"


"Diamlah Mira!"


Lucky mulai kegerahan dengan semua celotehan Amira. Tapi dia juga bisa mengingat dengan jelas apa yang di katakan Amira itu ada benarnya. Semua janji itu terucap dari bibirnya dulu.


"Tanya hati mu Lucky ku sayang... apa pernah kau menyatakan cinta padanya? pernah?"


Lucky mematung. Ya.. belum pernah. Dan di luar kamar Sri juga semakin lemas. Ya.. Lucky belum pernah menyatakan cintanya terang-terangan. Air mata menggenang dan akhirnya menetes dengan mudah. Mengucur deras tanpa bisa di cegah.


"Aku rasa dia juga belum pernah menyatakan cinta pada mu bukan? kalian berdua hanya mabuk karena pelepasan. Kau mendapatkan tubuhnya, dan dia mendapat kepuasan dari mu. Yang sebenarnya... kau menantikan bisa bersama dengan ku lagi.. Apa aku benar, sayang? Hmm?"

__ADS_1


Jawab Mase!! itu tidak benar!! aku mencintai Mase dengan tulus!! bilang pada perempuan su**al itu kalau Mase cinta aku!! jawab!!


Hati Sri berteriak ingin mendengar jawaban Lucky.. Tapi sampai sekarang Lucky hanya diam membisu. Apa semua yang di katakan Amira benar??


"Sekarang.. aku bisa memberikan hal serupa dengannya" dengan gerakan sensual, Amira memelorotkan Kain kecil penutup terakhir di tubuhnya.


Sri melotot ngeri melihat itu. Menutup mulutnya dengan tangan. Mendelik melihat Lucky diam tak bergerak. Sri tidak dapat melihat jelas raut wajah marah Lucky. Dia hanya bisa melihat gerakan Amira dengan membungkuk membuka penutup terakhirnya, sambil melirik kekaca lemari tempat Sri menyaksikan aksi nakalnya. Tersenyum licik mengejek ketidak berdayaan Sri.


Sekarang Amira sudah tegak berdiri. Menampilkan tubuh polos tanpa sehelai benangpun di tubuhnya. Berdiri tegak di depan Lucky. Dan Sri tahu, Lucky melihat itu terang benderang. Dan yang lebih menyakitkan... Lucky belum menolak.


"Lihat lah aku, sayang... kau menginginkan ini bukan? Aku milik mu. Ayo.. lakukan sekarang. Hmmm.."


Tidak!!! Sri tidak sanggup. tidak mau menyaksikan lebih banyak apa yang akan di lakukan Lucky pada tubuh Amira. Membuang mukanya dari pandangan yang di sajikan di pantulan kaca lemari.


Cukup. Cukuplah mengetahui apa yang di rencanakan Lucky dan Amira ketika akan menikahi Sri. Ternyata hanya itu yang diinginkan Lucky darinya. Hatinya perih tersayat sembilu. Hancur!!


Tiba-tiba pintu depan terbuka. Muncul Beni di sana. langsung bisa menatapnya yang masih bersandar di dinding dengan lemas. Ketika Beni ingin membuka mulutnya bertanya, Sri segera menaruh jari telunjuknya di bibir. Mengisyaratkan agar Beni diam tak bersuara.


Jari itu gemetar melekat di bibirnya dengan bibir yang sama menggeletar menahan sesak dihati. mengatakan "Ssstttt.." tanpa suara. Melangkah terseok dengan pelan dan hati-hati sekali mendekati Beni yang masih terbengong heran kenapa istri tuannya ini menangis dengan sedihnya tanpa suara.


Berdiri di dekat Beni yang menatapnya heran. Mencoba menarik napas dalam agar bisa bicara pada sekertaris suaminya ini.


Tanpa kata, Beni hanya mengangguk. Bingung dengan apa yang terjadi. Setelah mengatakan itu, Sri pergi keluar apartemen. Meninggalkan Beni sendiri yang masih menatapnya dengan penuh tanda tanya.


"Keluar!!!"


Beni tersenak kaget. Suara menggelegar itu berasal dari kamar. Beni segera berlari kesana. Tapi segera berhenti begitu melihat Lucky mendorong tubuh Amira keluar dari kamar. Tubuh Amira yang mengenakan selimut tebal melilit di tubuhnya itu terhuyung akibat dorongan keras Lucky.


"Aku mendiamkan mu hanya karena masih menghormati mu Amira! apa kau sudah gila sampai berbuat serendah ini?!"


Wajah Lucky memerah dengan amarah yang sudah di ubun-ubun. Andai saja Amira ini laki-laki, Pasti dia sudah menjotosnya tanpa ampun. Amira sudah sepakat mereka berpisah. Tapi kenapa gadis ini malah kembali dan menggodanya? Lucky sangat jijik melihat perbuatan yang sangat rendah di lakukan Amira padanya.


Beni diam tak bergerak. Sekarang dia bisa mengerti kenapa Sri menangis. Ternyata Sri melihat ini semua dalam diam. Tapi Beni sudah berjanji untuk tidak mengatakannya pada Lucky.


"Luck!! aku masih mencintai mu!! apa itu salah? Aku menagih janji mu!!!" pekik Amira marah dan memukuli dada Lucky sambil menangis terisak.


Dengan geram Lucky meraih kedua lengan Amira erat. Sampai gadis itu meringis kesakita.


"Dengar!! kau pernah singgah di hati ku. Sejauh ini aku menghormati mu dan masih menyayangi mu di lubuk hati ku. Aku... aku bangga pada mu karena kau punya hati yang baik mengikhlaskan ku membangun rumah tangga!" teriak Lucky sangat marah.

__ADS_1


"Tapi apa sekarang??" Lucky mengguncang tubuh Amira kencang. Tubuh Amira itu terguncang hebat. "Yang kau lakukan sangat menjijikkan!! itu sangat rendah Mira!!" teriak Lucky lagi dengan napas tersengal karena marah yang tidak bisa tersalaur untuk mencabik-cabik tubuh Amira menjadi serpihan.


Menghempaskan tubuh Amira ke belakang. Gadis itu jatuh bersimpuh di lantai dengan tangis yang semakin pilu. Lucky mengusap wajahnya kasar. Sangat tidak mengerti dengan apa yang ada di pikiran Amira saat ini.


"Hikkss.. hikss.. Kau kejam luck!" cicit Amira dalam tangisnya. Hatinya sangat sakit di perlakukan Lucky dengan buruk.


Lucky menatap Amira dengan hati nelangsa. Iba mengerogati hatinya. Gadis ini dahulu sangat ia puja dan cinta. Tidak pernah Lucky menyakitinya ataupun menghardiknya seperti sekarang ini. Selalu memperlakukan dengan sayang. Kemanjaan Amira selalu di turuti. Tapi sekarang.. Ah.. Lucky tidak tega. Amira terlihat sangat memprihatikan.


Lucky mendekatinya. Berjongkok lalu meraih tubuh Amira kedalam pelukannya. Gadis itu langsung menangis meraung dengan sedihnya. Hatinya hancur berkeping-keping. Hati Lucky juga sama remuknya. Tapi ia sudah terlanjur mencintai istrinya. Lalu bagaimana dia bisa mengobati hati Amira yang terluka? Apa dia tega membiarkan Amira terselimuti duka karena dirinya?


"Maafkan aku, Mir. Tolong jangan begini lagi. Kita sudah sepakat bukan? aku akan selalu ada jika engkau membutuhkan. Tapi maaf... Aku mencintai Sri, Mir. Aku tidak bisa meninggalkannya. Dirinya pelabuhan hati ku yang terakhir"


Semakin Amira meraung mendengar itu. Lucky sudah terang-terangan menyatakan isi hatinya. Kini dia harus menelan pil pahit pernyataan cinta Lucky pada istrinya.


Lucky melepas pelukannya. Mengajak Amira berdiri. Membenahi rambut Amira yang berantakan. Menghapus air mata gadis itu yang bercucuran.


"Mira, kau tetap di hati ku. Aku sayang pada mu sebagai sahabatku. Jangan begini lagi, oke? hmm?"


Amira hanya menunduk sedih. Lucky m ngecup puncak kepalanya. Hatinya juga tersayat melihat Amira. Tapi ia harus tegas untuk tidak mengulangi kesalahan. Dia mencintai Sri. Memutuskan istrinya lah sebagai pelabuhan cintanya yang terakhir.


"Beni, antarkan Amira pulang"


Beni yang sedari tadi melihat adegan drama percintaan itu, bergerak tanggap. Menggiring Amira berjalan keluar apartemen. Lucky hanya menatapnya prihatin.


Sayang, Sri tidak sempat mendengar pernyataan cinta terang-terangan yang di ucapkan Lucky. Membuat kesalah pahaman yang besar di hatinya.


Terlanjur mendengar apa yang di katakan Amira tentang niat Lucky menikahinya. Hatinya terlanjur terkoyak.


Sementara Amira berjalan keluar dari apartemen, menyembunyikan isakan tertahan. Tapi senyum licik mengembang di bibirnya. Berhasil membuat Sri lari setelah mendengar janji Lucky padanya dulu.


Rencananya mendekati keberhasilan. Tidak peduli pandangan sekuriti gedung yang menatapnya heran keluar hanya dengan selimut tebal melilit tubuhnya. Amira terus berjalan memasuki mobil dan melaju kencang meninggalkan adegan drama yang sangat membuatnya puas.


Meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Aku berhasil"


Tersenyum menang.


"Baiklah.. jalankan rencana selanjutnya"

__ADS_1


__ADS_2