OJO NGONO MAS'E

OJO NGONO MAS'E
Ora Nduwe Hati!


__ADS_3

Sri menghapus air matanya. Ini bukan salah siapa-siapa. Ini salahnya. Dengan bodohnya ia menyerah begitu saja. Memberikan yang berharga pada Lucky yang tidak pernah menganggap nya sedikitpun. Bagi Lucky, Sri hanya mainan. Setelah bosan, dia akan meninggalkannya begitu saja.


Sri menyibak selimut yang menutupi tubuh polosnya. Memperhatikan tubuhnya yang penuh bercak merah jejak Lucky malam tadi. Sri mengeluh kenapa pria itu seperti banteng mengamuk melepas dahaganya. Sri sampai mau pingsan di gempur Lucky.


"Uwong opo ora toh Yo(Orang atau tidak ya), kakune nemen(sangat kaku). Ora nduwe hati! (tidak punya hati)!"


Sri bersungut-sungut sendirian. Jengkel kenapa Lucky langsung meninggalkannya sendiri begitu menerima telepon dari Amira. Sri bergerak bangkit dari tempat tidur. Begitu melangkah, rasa nyeri menyerang di daerah intinya. Sri meringis kesakitan. Tak mampu melanjutkan langkahnya. Kembali terduduk di tepi tempat tidur. Meremas pahanya sendiri. Seakan remasan itu bisa mengurangi rasa perih yang menerjang.


"Aduuuhh.." runtuhnya berkali-kali. Sampai hampir menangis. Sepertinya intinya robek dan terluka parah. Rasa perihnya menusuk sampai ke ulu hati.


"Duuhhh.. biyuung.. Ngene Iki rasane. Wes loro seng isor, lah Yo loro hati ku juga"


Sri meringis merasakan sakit. Ngomel sendiri merasa perih yang menyayat hati. Tapi ia harus terbiasa. Mencoba melangkah sekali lagi.


Ceklek!


Tiba-tiba pintu terbuka. Sontak Sri menoleh ke arah pintu dengan kaget. Jatuh terduduk lagi di tempat tidur. Sibuk Menarik selimut menutupi tubuh polosnya.


Lucky berdiri di ambang pintu. Membawa nampan yang berisi sarapan pagi. Menatap Sri yang kesusahan membebat tubuhnya dengan selimut tipis.


Cepat-cepat Lucky masuk dan meletakkan nampan di atas meja. Tergesa menghampiri Sri dengan wajah khawatir. Sri sampai terbengong melihat Lucky kembali lagi. Padahal tadi sudah pamit pergi.


"Hey.. hati-hati. Kamu mau kemana?"


Lucky menangkap tubuh Sri yang limbung karena sibuk membelit tubuhnya dengan selimut besar. Lucky mendekap tubuh Sri. Gadis itu bisa mencium harum aroma tubuh Lucky. Aroma yang mahal. Sangat menggoda jiwa.


"Kamu mau kemana? kenapa terburu-buru?" Lucky mengulangi pertanyaannya.


Wajah Sri terasa panas. Malu sekali rasanya berhadapan dengan Lucky yang sudah wangi dan rapi. Tapi dia masih terlihat seperti gelandangan baru bangun tidur dengan rambut acak-acakan.


"Mas Lucky kenapa balik lagi?" Sri balik bertanya sambil menjauhkan tubuhnya dari Lucky. Khawatir bau tubuhnya menulari pakaian Pria itu.


Lucky hanya menatap Sri dengan seksama. Merasa tersinggung Sri menjauhkan tubuhnya dari dekapannya barusan.


"Kenapa? Kamu tidak suka aku di sini?" Lucky menaikkan sebelah alisnya.


"B-bukan mase. bukan begitu Lo" Sri menggerakkan tangannya menolak apa yang di katakan Lucky.


"Sini, aku antar ke kamar mandi"


tiba-tiba saja Lucky langsung membopongnya ala bridal style. Tanpa di suruh, Sri mengalungkan tangannya ke leher Lucky. Menatap pria itu seakan tak percaya apa yang di lakukannya.


Baru saja lucky pergi meninggalkannya, sekarang pria ini datang bak seorang pangeran yang sangat perhatian. Tapi tetap saja wajahnya masih datar sedatar lantai keramik Kondominium.


Lucky meletakkan Sri di pinggiran bathup. Sri tak berkedip menatap Lucky. Memperhatikan apa saja yang di lakukan pria itu. Baru saja tadi dia memaki Lucky yang tidak punya hati. Tapi kini pria itu kembali dan merawatnya dengan baik.


"Kamu mau berendam?" Lucky menatap Sri sejenak.

__ADS_1


"Ndak usah mas"


Lucky mendekati Sri. Meraih selimut di dada gadis itu. Bermaksud ingin membukanya. kaget, Sri menahan gerakan tangan Lucky dengan gugup.


"'kan mau mandi.. Sini biar di buka"


"Hhh... Ndak usah mas. Sri bisa sendiri" Sri nyengir. Kikuk menolak gerakan tangan Lucky.


Sejenak mata lucky menatap netra Sri. Tahu kegugupan Sri karena rasa malu. Wajah gadis itu besemu merah.


"Kenapa? aku sudah lihat setiap incinya"


Lucky menarik tangan Sri dari selimut. Menarik tubuh gadis itu agar berdiri. Membuka selimut yang membebat tubuh polos Sri.


Sumpah!! Sri malu Sengah mati. Tubuh polos yang telah di penuhi bercak merah hampir di sekujur tubuhnya itu terpampang jelas di depan lucky. Lucky menatapnya tak berkedip. Sontak saja Sri menyilangkan tangannya menutupi dada dan diantar pahanya. Membuat Lucky sedikit menyunggingkan senyum.


"Mau aku mandiin?" tanya Lucky lagi.


"Eehh.. Ndak usah mas. Sri bisa kok. Mase sana. Nanti basah"


Sri agak mendorong tangan lucky agar menjauh. Tapi pria itu bergeming. Hanya diam menatap Sri yang wajahnya sudah seperti kepiting rebus. Merah membara.


Lucky membalikkan badan. Melangkah keluar dari kamar mandi. Menutup pintu tanpa berkata apa-apa lagi. Sri bisa menghembuskan napas lega setelah Lucky keluar. Entah apa yang membuat pria itu kembali lagi. Padahal tadi dia pergi dalam keadaan mood yang kurang baik.


Sri segera mengguyur tubuhnya. Membersihkan sisa cinta Lucky di tubuhnya. Merasa tubuhnya segar kembali. Tenaganya sudah berkumpul lagi. Tapi begitu keluar dari kamar mandi, Sri tidak menemukan Lucky. Pria itu sudah pergi lagi. Sri merengut kesal.


🌹


🌹


Sri mengambil ponselnya yang tidak ia jamah dari semalam. Mengecek aplikasi chat yang sudah banyak pesan menumpuk di dalamnya. Ada Noah di sana. Ada Nunik dan beberapa pesan group yang heboh membicarakan acara dangdutan malam kemarin di kampungnya.


Sri membuka pesan Noah yang menumpuk. Sri lupa kalau dia tidak permisi pada Noah ketika Lucky menyeretnya pergi. Sri membaca satu persatu pesan dari Noah. Pria itu sangat menghawatirkannya karena tidak ada kabar.


Sri merasa terenyuh membaca pesan itu. Noah pria yang baik. selalu memberinya rasa nyaman dan seperti kakak yang melindungi adik kecilnya. Noah bilang di pesan terakhirnya, dia sudah berangkat pulang malam tadi karena ada pekerjaan mendadak yang harus dia kerjakan. Sri menjawab pesan terakhir Noah. Mengatakan kalau dia baik-baik saja dan sekarang sedang sarapan.


Tak di sangka, Noah membalas pesannya dengan mengirim foto. Sri cepat membuka penasaran foto siapa yang di kirim Noah.



Sri terpana melihat foto Noah. Lelaki ini terlihat lebih manis pagi ini. Noah mengirim pesan lagi.


"Tidak usah kaget begitu. Aku tau kalau aku itu tampan"


Astaga! Sri mendelik kaget. Noah sungguh narsis. Percaya diri yang kuat dengan mengatakan itu. Walaupun Sri tahu Noah hanya bercanda. Sri membalas pesannya.


"Iya ganteng Mase. šŸ˜ Gemes. hehe"

__ADS_1


"Nanti kita sambung lagi ya. Aku lagi kerja"


"Ya mas. Semangat šŸ’ŖšŸ˜‰šŸ‘"


Begitu pesan Noah. Mungkin pria itu sedang sibuk. Tapi tak berapa lama, Lucky juga mengiriminya pesan chat. Sri membukanya.


"Langsung dimakan sarapannya. Jangan hp terus"


Sri kaget. Bagaimana Lucky bisa tahu kalau dia lagi pegang ponsel, dan belum memakan sarapannya? Apa ada cctv? Sri memeriksa sekeliling kamar. Tapi dia tidak melihat adanya cctv. Ah mungkin saja lucky hanya menebak karena melihatnya online.


"Sudah mas" Sri membalas pesan Lucky.


"Jangan bohong. Makan sekarang?"


Sri kesal. Bagaimana pria kaku itu tahu kalau dia belum makan sarapan paginya? pake maksa lagi. Apa dia selalu begitu? Memaksakan kehendaknya sesuka hati?


"Aku lagi di luar. Olah raga sedikit"



Sri mendelik melihat foto yang dikirim Lucky barusan. Bagaimana bisa bersamaan sih, kedua pria ini gila mengirinya foto? Lagi kesambet apa mereka ini?


"Iya mas"


Hanya itu jawaban Sri. Tak mau banyak bertanya.


"Kenapa cuma iya? kirim fotomu juga"


"Nanti juga ketemu. Ngapain pake kirim foto segala Mase?"


"Kirim šŸ˜ sekarang!"


Iisshhh.. Sri rasanya ingin menjambak rambut Lucky saat ini juga. Gemas lelaki ini selalu memaksa sesuka hatinya. Malas Sri mengambil fotonya sendiri, lalu mengirimnya pada Lucky.



"ini Mase. Puas??"


Gemas Sri mengirim pesan itu sampai memencet layar ponselnya keras. Lucky tak menjawab lagi. Sri mengedikkan bahunya tak peduli lagi. Tak lama, balasan Lucky masuk.


"Tarik sedikit yang di samping. Aku ingin melihat buahnya"


Sri melotot melihat pesan itu. Apa-apaan si pria mesum ini. Beraninya dia mengatakan kemesuman tingkat dewa itu. Sri tak menggubrisnya. Meletakkan ponselnya di meja.


"Bersiaplah. Kita pulang hari ini"


Itu bunyi pesan terakhir dari lucky. Sri hanya mendiamkan saja. secepatnya menghabiskan sarapannya, dan bersiap membereskan kopernya. Mereka akan pulang siang ini.

__ADS_1


__ADS_2