
Setelah acara seduh teh hijau selesai, seorang pelayan membantu Sri membawakan nampan berisi teko teh poci Ke ruang kerja Lucky. Tadinya Sri ingin membawa sendiri. Tapi pak Sam tidak mengijinkan. Dan terpaksa Sri menurut saja.
Setelah mengetuk pintu dan Lucky mengijinkan masuk, Sri membuka pintu dan terlihat Lucky masih sibuk di mejanya. Banyak berkas di sana dan laptop yang menyala. Sri masuk, dan pelayan meletakkan nampan di atas meja dekat sofa. Setelah itu pelayan pergi.
Lucky menatap istrinya dengan sayang. Sri menuang teh hijau ke dalam gelas kecil dan membawanya ke meja Lucky.
"Mase, minum dulu"
"Apa itu?"
"Teh hijau. Kata mami, Mase selalu minum ini. Jadi Sri buatkan untuk Mase"
"Hmm.. kamu pengertian banget, sayang"
Sri tersipu malu. Lucky mencoba teh buatan Sri. Menyeruputnya sedikit lalu melebarkan matanya senang.
"Wah.. enak, sayang. Pinter kamu" Lucky mencolek pipi Sri.
"Beneran enak mas?" Sri menatap berbinar senang.
"Hem" Lucky mengangguk. "Pas banget"
Sri tertawa lebar. Tersanjung dengan pujian suaminya. Melangkah kebelakang kursi Lucky, dan memeluk Lucky dari belakang. Melingkari leher Lucky dan menempelkan tangannya di dada suaminya. Menempelkan pipinya ke pipi hangat Lucky.
"Masih banyak ya mas, kerjanya?"
"Hmm.. sedikit lagi sayang" Lucky menggeram. Merasakan pipi mulus istrinya menempel di pipinya.
"Mau Sri bantu?"
"Bisa?"
Sri menegakkan badannya. Melepas pelukannya dari dada Lucky.
"Ya bisa lah mas. Istri mu ini juga sarjana lho. Ndak bebel-bebel banget lah" Sri membusungkan dadanya.
"Bebel? Apa itu?" Lucky mengernyitkan dahinya. Berusaha mengartikan kata bebel.
"Maksudnya bodoh lho masee.." Sri mencubit pipi Lucky gemas.
"Oohh.."
Lucky menarik Sri dan mendudukkan di pangkuannya. Sri melihat layar laptop yang berisi data-data rumit.
"Hmm.. ayo bantu aku" bisik Lucky.
Sri hanya mengangguk. Segera memeriksa data di laptop Lucky. Tidak menghiraukan lagi apa yang di lakukan Lucky di belakangnya. Dengan cekatan Sri memeriksa beberapa berkas di meja, lalu mengetik di laptob untuk menyimpan data penting.
Lucky tersenyum simpul memerhatikan Sri bekerja. Baru kali ini Lucky melihat langsung bagaimana Sri dengan cekatan memeriksa data dan mengerjakan dengan baik.
Menatapi punggung belakang istrinya. Ternyata gadis nakal ini punya kemampuan yang tidak bisa di pandang rendah. Pendidikan masih jauh di bawahnya. Tapi Sri juga mampu mengerjakan yang lumayan rumit.
Hanya terkadang Sri masih kurang percaya diri untuk menduduki jabatan penting di perusahaan. Hanya nyaman menjadi bawahan. Padahal dia sudah mampu.
Kadang Lucky tidak mengerti apa yang di inginkan Sri. Jika orang-orang tahu Sri itu istrinya, pastilah banyak orang yang menyalahkan Lucky, kenapa istrinya hanya di tempatkan menjadi pegawai yang mengurus bon faktur keluar masuknya barang.
Tanpa sadar, Lucky terkekeh sendiri mengingat itu. Istrinya ini sungguh sangat apa adanya.
Sri menoleh ke belakang mendengar kekehan Lucky. Menatap heran pada Lucky yang masih tertawa lebar. Menampilkan barisan gigi putihnya di depan Sri.
"Kenapa mas? Sri salah ya?"
"Heehehh.. tidak sayang. Kamu itu pintar. Sini lihat aku"
Lucky menarik Sri dan membalikkan tubuh mungil itu menghadapnya. Sri jadi duduk mengangkang di pangkuan Lucky.
"Lho.. ta-tapi itu belum selesai mas" Sri tergagap melirik layar laptop.
"Sudah.. biarkan saja. Kamu lebih penting" Lucky menolehkan kepala Sri agar melihat padanya. Tidak fokus pada laptop lagi.
"Kalau melihat dari cara kerjamu, sepertinya sudah bisa naik jabatan"
"Hihihi.. Mase ngawur. Kalo cuma memindahkan data, ya semua bisa lah" Sri menepuk pelan pipi Lucky.
"Hmm.. itu lebih sulit dari sekedar data" Lucky mengecup dahi Sri. "Bagaimana kalau jadi wakil direktur?"
"Iihh.. Mase ngaco" Sri menepis bibir hangat itu di dagunya.
"Hmm.. sekertaris ku saja. Ya?" Lucky mengecupi pipi Sri bertubi-tubi.
__ADS_1
"Terus, pak Beni mau di kemanain, mas?"
"Biar dia jadi satpam saja"
"Hihihi.. jahat Mase!" Sri terkikik geli membayangkan Beni harus jadi satpam jika Sri menggantikannya.
"Biar kita bisa sama terus sayang" Rengek Lucky menatap sayu istrinya.
"Idih.. itu kan maune Mase. Yang ada kita Ndak kerja nanti"
"Hmm.. iya. Biarkan saja. Kamu bisa di pangku bengini terus"
"Mesum!" Sri mencubit dada Lucky.
Mereka tertawa bersama. Lucky memeluk Sri erat. Sri juga merebahkan kepalanya di dada Lucky. Menggelendot manja seperti bayi koala.
"Sayang"
"Ya, mas?"
"Kita lanjutin yang tadi siang yuk?"
"Yang mana?"
"Yang hangat itu"
"Apa? teh hijau?"
"Ck.. bukan"
"Terus?"
"Yang ini"
Lucky mengoyangkan pinggulnya. Membuat Sri merah padam. Wajahnya memanas. Merasakan tonjolan keras tepat menempel di bawahnya. Tak berani bergerak lagi. Menempelkan wajahnya di dada bidang suaminya. Malu sekali rasanya.
"Emmm.. hangat sekali sayang" bisik Lucky menggoda.
"Kerjaan Mase belum siap itu" Sri gelisah. Wajahnya menghangat. Malu sekali dengan kemesuman Lucky.
"Hem.. ngerjain kamu lebih nikmat, sayang"
Lucky meraih dagu sri. Menaikan wajah Sri menghadapnya. Mengecup bibir mungil sri. Mem**ut bibir yang selalu terasa manis buatnya.
"hhhmmm..."
Sri mengerang ketika lidah hangat Lucky menggelitik di bibir sela gigi dan bibir atasnya bagian dalam. Rasa geli menggetarkan setiap sendi tubuh Sri. Gelenyar hangat mengaliri di setiap semburan daranh menuju otaknya.
Lucky melakukannya penuh rasa cinta. Perasaan yang mendalam menggerakkan lidahnya menari dengan lembut. Menciptakan rasa syahdu di hati mereka berdua. Melapeskan kulu**nnya dengan napas terengah. Saling menatap satu sama lain.
"Sri, aku sungguh cinta kamu" bisiknya bergetar akan rasa cinta yang membuncah.
"Sri juga cinta Mase"
Mereka berdua tersenyum. Menatap sendu dengan sejuta cinta. Lucky membelai pipi mulus istrinya. Sri meraih tangan kokoh itu dan menempelkan di bibirnya. Dikecupi berulang kali.
"Kamu manis sekali, baby"
Sri mengecup kecil bibir Lucky. Membuat Lucky menggeram. Meminta lebih agar bibir mungil itu tidak segera menjauh dari bibirnya. Sri tertawa begitu Lucky merasa kehilangan bibirnya.
Segera Lucky menegakkan tubuh Sri di depannya. Menatap netra istrinya seraya mulai membuka kancing piyama Sri. Wajah Sri semakin bersemu malu. Lucky juga tersenyum sensual melihat Sri tersipu.
Semua kancing depan baju Sri sudah terlepas. Menampilkan dada putih membusung yang masih tertutup bra. Tangan Lucky menyelinap ke balakang punggung istrinya. Mengelusi punggung hangat itu dengan penuh perasaan. Menempelkan wajahnya di belahan dada indah di depannya.
Sri merespon dengan mendekap kepala Lucky. Meremasi rambut di bagian belakang kepala Lucky. Gemas dengan apa yang di lakukan Lucky, menimbulkan sensasi memabukkan yang indah.
Pelan sekali Lucky melepaskan pengait di belakang punggung Sri. Begitu terlepas, bra di dada Sri tak lagi mampu menampung gundukan berat dari Cup-nya. Melorot dan menyembul dengan ujung pinky yang tampak mengeras dan menantang indah.
Lucky meremas pelan. Menyenggol ujung pinky itu sesekali. Membuat Sri menahan napasnya berat.
"Ini lembut sekali, sayang" Bisik Lucky dengan napas memburu dan suara rendah.
Sri tidak menjawab. Hanya menggigit bibir bawahnya erat. Hasratnya terpantik akibat tangan kokoh meremas dan mem**in lembut di ujung pinkynya.
"Maaass.." erang Sri menggeliat gelisah.
Lucky menatapi gundukan indah itu dengan sayu. Mengagumi betapa beruntung dia mempunyai istri dengan bentuk sempurna sesuai seleranya. Jika dulu dia mengatakan Sri bukanlah seleranya, itu hanya ingin membuang pikiran untuk tidak menerkam Sri saat itu juga.
Mendekatkan bibirnya dan menjulurkan lidahnya. Menj**lat lembut. Sri melenting dan mendongakkan kepalanya merasakan sensasi hangat menyerbunya tiba-tiba. Meremas rambut belakang Lucky erat. Tak kuasa merasakan sapuan lidah basah suaminya.
__ADS_1
Lucky melakukannya sambil matanya menatap wajah Sri di atasnya. Melihat istrinya kelojotan, membuat Lucky semakin bersemangat. Langsung menghi**p ujung pinky yang sudah mencuat ketat.
"Hhheggghh.."
Tubuh Sri melengkung. Wajahnya tepat di kening Lucky. Mengecupi kening suaminya dengan hangat. Meracau merasakan gairah yang meletup keras.
"Ahhgg.. massseehh"
Sri terengah menempel di kening Lucky. Tubuhnya sesekali mengejang akibat gigitan kecil di ujung dadanya. Geli dan nikmat sekaligus.
"Masee.. sudah mass.." Sri mendorong wajah Lucky gemas. Tak kuat menerima serangan lembut yang menggoda.
Lucky melepaskan dan menatap wajah Sri dengan napas memburu. Wajahnya memerah menandakan di sudah tersulut gairah yang siap meledak.
Sri sangat gemas melihat wajah tampan suaminya menatapnya sayu. Tak kuasa melihat bibir seksi itu terbuka kehabisan napas. Langsung melu**tnya dengan panas.
"Eehhmmmhhh.." lenguh Lucky serak.
Membiarkan Sri yang sudah mulai berani mengimbangi permainannya. Mencecap bibir Lucky seakan mencari rasa manis di sana. Menjurkan lidahnya menyapu permukaan bibir suaminya.
Lucky meremas bokong Sri dengan gemas. Membuat Sri mengerang dan menggeliat. Meraba di pangkal pahanya. Menelusup masuk dan menemukan gundukan kecil halus mulus.
Hangat. Meraba di celahnya. Basah. Sri melenting lagi. Menggeram dengan napas tersendat-sendat.
"Basah, baby"
Lucky tersenyum sensual. Sri menatap netra Lucky dengan mata sayu. Tak kuasa merasakan jadi panjang itu mengelus di permukaan celahnya. Menggesek dengan lembut. Menciptakan sensasi luar biasa memukau.
"Maseee.." erang Sri.
"Hmm? enak?"
Sri mengangguk. Menempelkan keningnya di kening Lucky. Saling menatap lembut. Napas keduanya tersengal menggoda. Lucky gemas melihat kebinalan istrinya yang mulai terbuka merespon setiap apa yang ia lakukan. Menggigit bibir bawahnya dan mengernyitkan dahinya ketika melihat Sri meringis kenikmatan.
Menggesek lebih dalam. Menemukan kacang kecil yang mengetat mungil. Menggelitik disana. Sri seperti ingin menangis saja merasakan nikmat bertubi. Pahanya bergetar lembut. Jari Lucky terus menggesek dan sesekali menerobos lebih kebawah. Membuat Sri meringis dan menjerit kecil.
"Oohh.. baby.. kau binal sekali"
Lucky mempercepat gesekannya. Sri menggeliat dan meremas rambut belakang Lucky gemas. Napasnya semakin memburu. Lucky suka itu. Hingga akhirnya jarinya menancap ke lembah basah istrinya.
"Hhhggghhh..."
Sri menggelepar. Mengejang kaku merasakan tusukan di rongga intinya. Gila! hanya dengan jari Lucky Sri sudah kalang kabut.
"Astaga! aku tidak tahan sayang"
Menarik jarinya lepas. Menyuruh Sri berdiri sebentar, Dan segera melorotkan celana piyamanya sampai ke betis. Lalu segera menarik turun celana pendek sri dengan terburu-buru. Mendudukkan Sri lagi di pangkuannya.
Memegang jagoannya dan menamparkan inti basah istrinya dengan benda hangat itu dengan gemas. Sri terpekik kaget. Menatap mata Lucky gemas. Lucky terkekeh senang.
Perlahan sekali, Lucky meraba kepala jamur itu mencari jalan. Menggesek perlahan lalu menurunkan tepat di mulut hangat yang sudah basah.
Menghujam perlahan dengan penuh perasaan. Membuat Sri menjerit ngeri. Jagoan gemuk sebesar tangan bayi itu menerobos masuk. Napasnya tersendat-sendat seiring gerakan menusuk sedikit demi sedikit.
"M-mmaassss.. aduuhh.."
Lucky mengernyit. Menatap istrinya sengsara.
"Sakit, baby?" tanyanya khawatir.
"Enak mas" desis Sri.
Kecemasan itu menghilang. Berganti senyum senang melihat istrinya keenakan. Makin menghujam lebih dalam. Tapi tiba-tiba Lucky berhenti. Membuat Sri mengernyitkan dahi. Protes kenapa tidak melanjutkan.
"Kenapa mas? Ndak enak?"
Lucky menggeleng. "Tidak bebas di sini sayang. Kursinya sempit"
"Kita pindah ke kamar?"
"Hem" Lucky mengangguk.
"Ya udah. Yuk"
Sri mau bangkit berdiri. Melepas penyatuan mereka. Tapi Lucky menahannya.
"Jangan" sergah Lucky.
"Lho? gimana sih mas? Katanya mau pindah?"
__ADS_1
"Kita pindah sambil begini saja"
š³š±š„¶